Wednesday, February 28, 2007

Nasib Maluku

Putak dari pohon gewang,
bikin melayang-layang,
nasib tak tertahankan.

Ini paceklik mau sampai kapan,
sulit dienyahkan laiknya jembalang.
Malam untuk Tiara

Perbincangkan mati muda,
dalam seteko kopi panas.
Dua orang bersesakan,
berbagi gurih dan gula,
menyisakan gagasan,
di balik keresahan.

untuk Tiara Amalia,
hidup mati muda, sista!

Tuesday, February 27, 2007

Gelisah

Ibu menghibur aku,
bapak mengharu biru,
kakak serba bisu.

Mereka ada untukku,
siapa yang ada untukmu?

Monday, February 26, 2007

Penyakit Otak

Euphoria mu menular!
Tegukan kesekian,
membujurkan tubuh ku,
menyetrum hingga kaki!

Hanya lewat kabel telepon
Ulang Tahun Kawan

berkelana dengan bebasku
mengendarai angin dua malam lalu
tanpa pelana menguret
rahim yang telah lengket

Sunday, February 25, 2007

Pesan Terkirim (Belum Terbalas)

Aku bergurau..
tentang cerah langit,
yang jadi muram,
karna kau enggan berkata.

Mungkin aku harus menunggu,
hingga senja serentak,
menggenangi padang rumput,
mengecat ulang gedung pencakar langit,
mengendap malas di dasar gelas kopiku.

Baru nanti kau mau berkata,
setelah pesanku jauh berlalu.
Bukan Semalam

mungkin aku sudah kembali mati
dan bahkan penuh
dalam kekosongan
ketika kuketahui
diriku tak lebih
dari secarik kertas usang
yang buatmu mual
tercekat menyangkut
bergumpal di balik
kerongkongan
yang memuntahkan
kata cinta
bertintakan alkohol
menguap!
begitu api
membakar
tetes air mata
Cium

Kau mengecup kelopak mata ku,
tanpa perlu tanda tanya.
Membaca geliat hitam di atas putih,
entah mencari apa.

Mereka-reka,
yang tak bisa direla (kan).

Friday, February 23, 2007

Februari Bulan Baru

kuberi hari
pada kosong
yang seru menyerang

kuberi bulan
pada tenang
yang tak terang benderang

kuberi tahun
pada gerbong
yang membawamu pulang

kuberi tanggal
hari bulan tahun
untuk kita
yang tak pernah usai

Thursday, February 22, 2007

Sempuras Rasa

Senja hari ini kuhabiskan penuh khidmat.
Dengan secangkir kopi, ingatan, air mata,
semua berbaris rapih.

Ketiganya saling bersahutan,
dalam tempo yang sudah ditentukan.
Terkadang mereka susul-menyusul,
tanpa perlu ketergesaan.

Biar kopi jadi asin,
ingatan jadi manis,
dan air mata...
pada akhirnya jadi tawar.

Sunday, February 18, 2007

Pertanyaan Sederhana

kalau aku mampu
menghirup kembali
leleran air mata
yang jatuh vertikal
susul menyusul
dengan tubuhku
yang meluncur hancur
bisakah aku terbang
lepas dari guliran detik
yang masih berjalan linier?

Saturday, February 17, 2007

Pesanan : Kopi Tawar

kenyat kenyit hati ini
ada pemuda tanggung tak tahu diri
diberi manis madu malah menggerutu

manis madu..
ma-NIS ma-DU!

nanti kucoba formulasikan lagi
semoga tidak berubah jadi asin
pagi buta begini
terlalu sepi
untuk menyeduh kopimu
tanpa deraian air mata
belajar membaca (rasa)

mataku lelah
panas
tak lagi basah
usai membaca derita
lamat-lamat
yang tak mungkin
jadi sekedar cerita

mataku lelah...
malam ini
aku mau mati
tanpa susah payah

Wednesday, February 14, 2007

Roma - Arabia

lampu candelier
begitu aku selalu menyalakan ingatan
tentang kamu

kutempatkan di bumbungan
biar bau minyak zaitun
minyak dari pokok zaitun
yang bukan milik barat atau timur
melingkupiku

membawaku terbang ke suatu masa
tak jauh dari taman eden
dipenuhi pohon palem
dan anggur dengan sungai deras

mengembalikanku bersih
dalam oase mu
yang tak pernah berkesudahan
Buruan Rindu

sekali saja
aku ingin kau
berlaku jamak

kalau perlu
mengalahkan aggelos
menjadi maha hadir
Lalu Lintas Bercinta

apakah cinta akan cukup
menyebrangi dua arus yang berbeda
belum kanan lagi kiri
dengan muatan yang membludak

apakah cinta akan cukup
menyusuri lorong waktu
memungut detik yang berluruhan
sebelum merembes dalam
dan dijadikan marka jalan

apakah cinta akan cukup
mengembalikan penerangan jalan
agar pejalan kaki yang linglung
pengembara yang gelisah
semua kembali pada jalurnya

apakah cinta akan cukup
apakah cinta akan
apakah cinta (itu)?

Saturday, February 10, 2007

Cerita Roman Berjudul Kita

Laiknya kain sutera, yang tak pernah usai,
dijahitkan saputangan..

Laiknya orkes, yang seragam membaca,
lalu tak pernah memainkan..

Laiknya air mata mengalir deras,
hanya menumbuhkan pohon kayu manis..

Tuesday, February 06, 2007

: TIGA RASA ::

Anggur

Tua-tua keladi,
semakin tua semakin jadi.
Aku sering tertawakan dia,
yang berdiri di seberang cermin,
semakin hari semakin tua saja.

Aku tertawakan dia juga,
semakin terbahak nampaknya.
Jatuh cinta padamu,
kembang terindah di pasar Barito,
dara tercantik yang pernah ada.

Tapi pandai benar kau mainkan kata,
katamu sederetan uban ini karismatik,
buatku seperti anggur putih,
semakin tua semakin pekat.
Dengan kelezatan yang bertambah,
sejalan dengan waktu yang bergulir.

Memang kau perempuan hebat.
Manis raut wajah,
apalagi kata-kata.


Madu

Keras hatiku menyangkut begitu rupa,
bagai batuk tahunan.
Entah kau datang darimana,
dengan teksturmu yang kental,
bisa lembutkan aku.

Kemampuanmu menyerap udara,
nyaris memaksa sekelilingmu,
untuk mati tercekik tanpamu.
Aku tidak pernah heran,
sejak petang itu,
kau mencuri hidup banyak orang.

Setidaknya aku tahu,
terima kasih padamu, manis..
Aku tahu diriku pernah hidup.

Dan kau?
Ah, tidak pernah ada batasan waktu.
Kau tidak pernah sekedar dicipta,
lalu harus berlalu.
Kau, manis...tidak pernah kadaluarsa.


Zaitun

Kalau aku kembali mengusik,
sekumpulan bianglala di sendu matamu,
kau hanya melihatku dengan seutas senyum.

Tidak tahukah kau,
masih belum sadar juga,
kita itu seperti oliva.

Dengan daun kecil menjangat,
bunga yang kuning,
buah pelok membulat telur.

Saat muda kita membawa kesegaran,
dengan warna hijau kekuningan yang khas.
Senja menggeser usia,
rasa kan abadikan kita.
Ekstrak ini tak perlu dicari.
Di Laut Tengah dan bahkan Syria.

Kita adalah oliva,
kau dan aku.

Sunday, February 04, 2007

Kunjungan Surga

Bu, seperti apa itu surga?
Apakah warnanya putih susu,
wangi seperti ibu sehabis mandi,
empuk dan manis mirip gulali?

Surga itu indah, nak..
Baru dua kali menjenguk,
tapi Ibu ingat benar,
rasanya damai.

Yang pertama,
sedikit janggal di awal.
Manis dan hangat,
padahal di luar hujan lebat.
Saat pertama kamu dibuat,
tentu bersama bapakmu.
(ibu dulu masih polos!)

Yang kedua,
dua belas jam tak percuma.
Kau anakku, ditimang lenganku.

Ibu yakin,
surga yang kelak,
adalah langit di atas langit.
Lebih dari yang Ibu ceritakan.

Saturday, February 03, 2007

Air Mata Gelisah

Aku ingin menangis.
Kata-katamu selalu mengeletek luka,
yang tak pernah sembuh karna waktu,
jadikanku fana sebelum abadi itu kubingkai.

Bagaimana aku bisa bermimpi,
sebelum pejamkan mata...
Bernyanyi sebelum menyela nafas,
bercinta sebelum menemukanmu?

Kaulah kepulan asap dari sebuah ceret yang berbunyi nyaring,
keluar dari didihan kata-kata yang kugodok hingga matang,
keluar aslinya, keluar asinnya, serasa dan memang benar,
habis terendam air mata.

Friday, February 02, 2007

Gadis Kecil dan Sepatu Dansa

Aku menyukai gelap malam tanpa bintang,
saat cahya rembulan menyorotmu,
menyulap hamparan rumput jadi lantai dansa,
tak segan kembali memaknai kaki mungilmu.

Romantic waltz dan genteel fox-trot.
Kau tak butuh seorang pendamping,
mungkin angin diam yang mengatur langkahmu,
ataukah buana kembali tunduk atasmu?

Rasa-rasanya aku ingin ikut denganmu,
cukup disampirkan di bahu,
dan dikenakan sewaktu-waktu.

Mungkin tidak malam ini.
Biar gelitik rumput yang menadahmu,
kita masih punya banyak waktu.

Thursday, February 01, 2007

Cze Wan Fan

Kalau ada yang bertanya,
kapan saat yang paling menyenangkan buatku,
mungkin itu jatuh pada makan malam.
Aku menikmati penantian itu denganmu.
Duduk diam dan berkata-kata.
Lima macam makanan pembuka,
kau masih dengan semburat merah di muka.
Sayur, buah, kacang-kacangan,
terkadang aku mampu buatmu tersedak,
entah apa lelucon yang kubicarakan.
(sebenarnya aku juga nyaris hilang akal!)
Menyusul tujuh macam menu utama,
kamu tidak alergi apapun,
itu yang kusuka.
Karena aku tukang makan,
walau kali ini yang makan semua inderaku,
kecuali mulutku.
Daging merah tidak terasa manis,
masih kalah dengan seutas senyummu.
Roti kukus juga tidak menarik lagi,
pipimu itu jauh lebih menggemaskan!
Yu ciu yu youk,
ada arak ada daging.
Kau sudah tenggelamkan aku,
dalam pesona matamu,
aku ini kapal yang limbung,
goncang sudah karnamu.
Tidak perlu bir atau arak,
hanya kamu sebagai kapten kapal.
Aku ingin menenggakmu,
Gan Pei! Biar habis sudah!
Sekali tenggak saja...
Entah kapan kau akan menyambut aku,
dan berkata, "Ching.."