Monday, October 27, 2008

Perjalanan Rindu Antar Kota

aku benci merindukanmu
sambil menyetir sepanjang jalan tol
di bawah jejeran lampu yang sengaja dipadamkan
sekedar untuk penghematan
tanpa memikirkan keselamatan jiwa
hei malam ini saatnya rasa
perduli setan dengan nyawa

aku masih benci merindukanmu
dan selalu gatal untuk bertanya
adakah kau disana
di ujung jalan tol
yang sepertinya mulai terang
setelah berbelas kilometer
dan beberapa kelokan tajam?

aku makin benci merindukanmu
ternyata hanya gardu tol
dengan petugas tol bermuka kantuk
dan tangan yang terulur malas
dua puluh ribu sekian untuk antar kota katanya
memangnya aku ini supir bus
pakai instilah antar kota

itu itu yang buatku benci
bukan sekedar kesal
apalagi aku kembali sendiri
di tengah kota ini
masih saja bodoh untuk merindukanmu
mungkin baru selesai kalau lampu kota ikut dipadamkan..
Diam yang Absah

Terkadang ada luka yang membekas lama,
walau perih baru terasa.

Membuat mulut gamblang berkata,
walau bukan hal yang biasa.

Kata yang tak tertata,
menggunungkan rasa murka,
menghilangkan semua suka.

Haruskah kita tak bicara?
Atau sekedar tak punya wacana?

Cirendeu, Oktober 2008
Today oh Today

Yesterday is late,
tomorrow is too damn far..

Today is right now,
make the right decision,
and be consistent.

Because today is a gift,
that's why we call it PRESENT.

Cirendeu, October 2008

Wednesday, October 15, 2008

! Kemungkinan

Mungkin ada...

setitik,
seberkas,
sekilat.

Seperti kilat,
yang menghabiskan semua,
menyerukan titik!

Dan meninggalkan berkas,
mungkin.

Titik Poentjak (Rasa), Oktober 2008
A Champ is a Man of Wisdom

Getting close is a distance,
getting far is a trial,
with a big possibility you'll win the game.

When you think you already have it,
and you act like one,
that's the point where you're gonna lose it.

Be a winner,
act like one,
but don't get too comfy,
that's a loser's behavior.

Poentjak, Oktober 2008
Cermin Harapan

Dia adalah cermin,
dengan lorong pantul yang panjang,
yang membalas satu kebaikan,
beribu kali lipat..

Yang mengembalikan tunas harapan,
dengan pucuk ranting setinggi tepian langit,
dan tentunya lebat hijau daun.

Tidak seperti manusia,
harapan yang kita letakkan,
seperti nafas yang terlalu dekat dengan cermin,
mengembun dan memburamkan pandang.

Mengandalkan manusia,
adalah suatu pilihan.
Mengandalkan-Nya,
adalah satu-satunya jalan keluar.

Cilandak, Oktober 2008

Friday, October 03, 2008

Usiaku dan Seleramu

Gadis-gadis sekarang,
mati aku bersaing warna,
sesak karna usia tengah hari.

Kegirangan itu sudah berganti,
pijar lampu malam sudah meredup,
bukan karna semangat menghilang,
tapi karna tugas esok pagi.

Masih ada hari-hari lain,
yang bisa diakhiri tawa.
Denting gelas di balik lirikan mata,
senyum simpul dan beberapa persen alkohol.

Nanti kalau kau lelah,
dan ingin berbagi cerita.
Meminta sedikit perspektif dunia,
kita bisa berbagi kesenangan,
dengan cara kita sendiri.

Terbang ke Cilandak, Oktober 2008