Saturday, February 17, 2007

belajar membaca (rasa)

mataku lelah
panas
tak lagi basah
usai membaca derita
lamat-lamat
yang tak mungkin
jadi sekedar cerita

mataku lelah...
malam ini
aku mau mati
tanpa susah payah

Wednesday, February 14, 2007

Roma - Arabia

lampu candelier
begitu aku selalu menyalakan ingatan
tentang kamu

kutempatkan di bumbungan
biar bau minyak zaitun
minyak dari pokok zaitun
yang bukan milik barat atau timur
melingkupiku

membawaku terbang ke suatu masa
tak jauh dari taman eden
dipenuhi pohon palem
dan anggur dengan sungai deras

mengembalikanku bersih
dalam oase mu
yang tak pernah berkesudahan
Buruan Rindu

sekali saja
aku ingin kau
berlaku jamak

kalau perlu
mengalahkan aggelos
menjadi maha hadir
Lalu Lintas Bercinta

apakah cinta akan cukup
menyebrangi dua arus yang berbeda
belum kanan lagi kiri
dengan muatan yang membludak

apakah cinta akan cukup
menyusuri lorong waktu
memungut detik yang berluruhan
sebelum merembes dalam
dan dijadikan marka jalan

apakah cinta akan cukup
mengembalikan penerangan jalan
agar pejalan kaki yang linglung
pengembara yang gelisah
semua kembali pada jalurnya

apakah cinta akan cukup
apakah cinta akan
apakah cinta (itu)?

Saturday, February 10, 2007

Cerita Roman Berjudul Kita

Laiknya kain sutera, yang tak pernah usai,
dijahitkan saputangan..

Laiknya orkes, yang seragam membaca,
lalu tak pernah memainkan..

Laiknya air mata mengalir deras,
hanya menumbuhkan pohon kayu manis..

Tuesday, February 06, 2007

: TIGA RASA ::

Anggur

Tua-tua keladi,
semakin tua semakin jadi.
Aku sering tertawakan dia,
yang berdiri di seberang cermin,
semakin hari semakin tua saja.

Aku tertawakan dia juga,
semakin terbahak nampaknya.
Jatuh cinta padamu,
kembang terindah di pasar Barito,
dara tercantik yang pernah ada.

Tapi pandai benar kau mainkan kata,
katamu sederetan uban ini karismatik,
buatku seperti anggur putih,
semakin tua semakin pekat.
Dengan kelezatan yang bertambah,
sejalan dengan waktu yang bergulir.

Memang kau perempuan hebat.
Manis raut wajah,
apalagi kata-kata.


Madu

Keras hatiku menyangkut begitu rupa,
bagai batuk tahunan.
Entah kau datang darimana,
dengan teksturmu yang kental,
bisa lembutkan aku.

Kemampuanmu menyerap udara,
nyaris memaksa sekelilingmu,
untuk mati tercekik tanpamu.
Aku tidak pernah heran,
sejak petang itu,
kau mencuri hidup banyak orang.

Setidaknya aku tahu,
terima kasih padamu, manis..
Aku tahu diriku pernah hidup.

Dan kau?
Ah, tidak pernah ada batasan waktu.
Kau tidak pernah sekedar dicipta,
lalu harus berlalu.
Kau, manis...tidak pernah kadaluarsa.


Zaitun

Kalau aku kembali mengusik,
sekumpulan bianglala di sendu matamu,
kau hanya melihatku dengan seutas senyum.

Tidak tahukah kau,
masih belum sadar juga,
kita itu seperti oliva.

Dengan daun kecil menjangat,
bunga yang kuning,
buah pelok membulat telur.

Saat muda kita membawa kesegaran,
dengan warna hijau kekuningan yang khas.
Senja menggeser usia,
rasa kan abadikan kita.
Ekstrak ini tak perlu dicari.
Di Laut Tengah dan bahkan Syria.

Kita adalah oliva,
kau dan aku.

Sunday, February 04, 2007

Kunjungan Surga

Bu, seperti apa itu surga?
Apakah warnanya putih susu,
wangi seperti ibu sehabis mandi,
empuk dan manis mirip gulali?

Surga itu indah, nak..
Baru dua kali menjenguk,
tapi Ibu ingat benar,
rasanya damai.

Yang pertama,
sedikit janggal di awal.
Manis dan hangat,
padahal di luar hujan lebat.
Saat pertama kamu dibuat,
tentu bersama bapakmu.
(ibu dulu masih polos!)

Yang kedua,
dua belas jam tak percuma.
Kau anakku, ditimang lenganku.

Ibu yakin,
surga yang kelak,
adalah langit di atas langit.
Lebih dari yang Ibu ceritakan.

Saturday, February 03, 2007

Air Mata Gelisah

Aku ingin menangis.
Kata-katamu selalu mengeletek luka,
yang tak pernah sembuh karna waktu,
jadikanku fana sebelum abadi itu kubingkai.

Bagaimana aku bisa bermimpi,
sebelum pejamkan mata...
Bernyanyi sebelum menyela nafas,
bercinta sebelum menemukanmu?

Kaulah kepulan asap dari sebuah ceret yang berbunyi nyaring,
keluar dari didihan kata-kata yang kugodok hingga matang,
keluar aslinya, keluar asinnya, serasa dan memang benar,
habis terendam air mata.

Friday, February 02, 2007

Gadis Kecil dan Sepatu Dansa

Aku menyukai gelap malam tanpa bintang,
saat cahya rembulan menyorotmu,
menyulap hamparan rumput jadi lantai dansa,
tak segan kembali memaknai kaki mungilmu.

Romantic waltz dan genteel fox-trot.
Kau tak butuh seorang pendamping,
mungkin angin diam yang mengatur langkahmu,
ataukah buana kembali tunduk atasmu?

Rasa-rasanya aku ingin ikut denganmu,
cukup disampirkan di bahu,
dan dikenakan sewaktu-waktu.

Mungkin tidak malam ini.
Biar gelitik rumput yang menadahmu,
kita masih punya banyak waktu.

Thursday, February 01, 2007

Cze Wan Fan

Kalau ada yang bertanya,
kapan saat yang paling menyenangkan buatku,
mungkin itu jatuh pada makan malam.
Aku menikmati penantian itu denganmu.
Duduk diam dan berkata-kata.
Lima macam makanan pembuka,
kau masih dengan semburat merah di muka.
Sayur, buah, kacang-kacangan,
terkadang aku mampu buatmu tersedak,
entah apa lelucon yang kubicarakan.
(sebenarnya aku juga nyaris hilang akal!)
Menyusul tujuh macam menu utama,
kamu tidak alergi apapun,
itu yang kusuka.
Karena aku tukang makan,
walau kali ini yang makan semua inderaku,
kecuali mulutku.
Daging merah tidak terasa manis,
masih kalah dengan seutas senyummu.
Roti kukus juga tidak menarik lagi,
pipimu itu jauh lebih menggemaskan!
Yu ciu yu youk,
ada arak ada daging.
Kau sudah tenggelamkan aku,
dalam pesona matamu,
aku ini kapal yang limbung,
goncang sudah karnamu.
Tidak perlu bir atau arak,
hanya kamu sebagai kapten kapal.
Aku ingin menenggakmu,
Gan Pei! Biar habis sudah!
Sekali tenggak saja...
Entah kapan kau akan menyambut aku,
dan berkata, "Ching.."

Wednesday, January 31, 2007

Catatan Harian

I.
Ada kalung hati berwarna merah,
dengan hiasan besi berbentuk sayap.
Kata Melissa harganya murah,
kataku ini masih akhir bulan.

Untuk caviar, anggur dan bahkan sebuah kalung,
aku jelas bisa menunggu.
Sangat menggelikan kalau untuk pria sepertimu,
aku tidak menghabiskan hari-hariku,
menunggumu.

II.
(berusaha) menikmati sunyi tanpa percakapan radio
lantunan ipod dan panggilan dari telepon selular
(berusaha) menghayati lama kaki harus berdiri
menunggu antrian bank yang lama
(berusaha) sendiri dan tak berkawan sepi

Kau harus tahu,
aku serius tentang hal ini!
semalam suntuk (nyaris mengutuk)

sapaan air hujan di tipis jendelaku
sekarang terasa amat mengganggu
gurauan joko pinurbo akan lagu gereja
hanya menjala senyum seadanya

aku ingin pergi keluar
temani rerumputan dan hujan yang kini menampar
biar semua menghapus sedih
dari sejarah yang sudah-sudah
Dosa Semua Pejuang

Harapan bukanlah pertambahan waktu dalam sepak bola,
yang menyiksa pemain beradu kaki dalam kotor lumpur,
dan peluang seribu banding satu.

Harapan pagi ini kuartikan sebagai hemodialis.
Membasuh dosa yang lekat pada ingatan.
Esensi Hidup

Kalau kau percaya surga,
niscaya perjalanan tegal berliku,
itu yang dijanjikan hidup.

Kerikil dalam sepatu,
lebih dari gunung besar membisu.

Tidak ada manis madu,
yang hadir tanpa ragu.

Karena di hidup yang fana ini,
tidak ada kebahagiaan abadi.

Tuesday, January 30, 2007

cerita mata-mata

aku tengah menggambar dengan hati-hati
garis hitam alis matamu
untuk menaungi silau buana
yang selalu mempesonamu
hingga mengerjapkan bulu mata
(lalu kau berair mata)

aku menggambar sketsa yang sempurna
di hitam alis matamu
untuk menyembunyikan bengkak mata
dan biru lebam karna pilu

Monday, January 29, 2007

Pertanda Sayang

I.
sepi membunuhku
tak lagi rindu

karna kau di sisiku
tapi diam membisu
perkosa aku jadi angin lalu

sepi membunuhku
gejalanya aku tumbuh gagu

sebelum terlambat (lagi)
aku harus gantian membunuhmu

II.
tidak ada lagi puji-pujian
untuk si ikal berkebaya putih
kini ia tampak sama biasanya
dengan marka jalan strip putih
dan sederetan polisi tidur di atasnya

Saturday, January 27, 2007

Dalam Hati

Susah payah menjerat kata 'sayang'
di campur aduk otak ku.
Tidak lagi mampu menjegal keluar
saat kata 'saya..." yang ada di kelu lidahmu.

Ingin mengingat,
kapan terakhir kali,
kau katakannya.
Nudis!

mungkin hanya aku
penyair
yang gemar minuman picisan
macam newport

sama halnya
kata
membuatku mabuk
jatuh terpingkal
berulang kali
karna geli

bahwa di dunia ini
yang kata bulat
pulang pesta
aku cuma pakai cawat

mirip Yesus
berpose di (atas) salib
dikatai narsis
pamer tubuh
karna atletis

Thursday, January 25, 2007

Beli Satu Gratis Satu, Harga Diskon!

Dulu waktu usia tanggung saya harus memilih.
Mau masuk kelas logika, dagang atau bahasa.
Akhirnya saya masuk kelas dagang,
agar bisa jual ini itu, siapa tahu cepat kaya.

Rupanya saya tidak pintar berdagang,
tak seperti Alung yang sekarang bisnis kapal,
atau Ruby yang merintis bengkel ban.

Saya ini lulusan kelas dagang yang jatuh cinta.
Jatuh hati sampai badan dengan kata-kata.
Jadi saya ini lulusan palsu.

Entah saya ini beruntung atau apa,
tidak menukarkan jiwa asli dengan rupiah,
tapi sekarang jadi kebingungan,
kenapa dulu tidak ada kelas pemulung.

Paling tidak makan dua kali sehari,
hasil tukarkan plastik satu per kilo,
dengan 700 rupiah.
Atau alumunium bila mujur,
makan jadi tiga kali,
karna bisa 5000 rupiah dihargai.

Mereka kerja di lahan yang luas.
Lebih dari lapangan bola walau bau tengik,
tapi paling tidak masih bisa dibarterkan.

Kalau saya dikasihani waktu,
terkadang bisa juga buat satu paragraf.
Di kertas yang mudah lecek,
selalu jadi selipan yang terlupa.

Kalau saya diburu waktu,
rasanya kalimat-kalimat hanya main loncat tali.
Dari sisi otak kanan ke kiri,
tanpa keluar dari jeratan mulut.

Bila iseng saya keluar,
ingin mengeletek kata HALAL dari kaleng makanan,
menggabungkan dengan kata CINTA,
dari kartu pos gratisan waktu Valentine.

Biar semua kata cinta bisa laku dikonsumsi,
siapa tahu orang yang miskin hati mencari pelarian,
lalu jadi kastemer setia.

Biar saya jadi penyair,
yang setidaknya bisa bangga hati,
ikut-ikut mereka, yang makan dua kali sehari.

Wednesday, January 24, 2007

Tambahkanlah Pelukan

Kini nona jadi nyonya,
pendek nama jadi panjang,
belum ditambah embel-embel,
padahal belum ada bubur merah putih.

Surat berhenti kerja keluar,
lebih baik di rumah saja.
Toh pangkatnya sudah naik,
wilayah kewenangan pun bertambah.

Ini hebatnya nona yang jadi nyonya.
Bila bersungguh-sungguh hanya dipuji,
dengan sekilas senyuman yang tanggung.

Sehabis bersih-bersih rumah,
jangan lupa mandi,
ganti pakaian sedikit seksi,
mungkin ditambah minyak wangi.

Menunggu tuan pulang,
melanjutkan shift sore dan malam.
Karna tuan pasti lelah,
dengan beban 9 jam kerja.
Hanya Sebuah Tanya Jawab

semua merdu
kini jadi bisu
ramai sudah pergi
ikut pergi dengan mimpi

langkahku tersandung gerimis
belum ada waktu tuk menangis
hujan kian lebat
mencecarku kuat-kuat

petang kemarin sudah berlalu
bahkan satu dua cakap tertimpa debu
tapi rindu ku masih menggerutu

semua merdu
kini sudah bisu
menjegal langkahku
menyurutkan jawabku

semua merdu
kini harus bisu
atas diskusi petang lalu
lanjut nanti kata tuhanku

Thursday, January 18, 2007

kata gubernur dari jepang

disini harus jadi kaya dulu
baru pantai dan sungai bebas sampah

saya tidak mau ikut-ikutan kaya
malahan isi otak banyak sampah
bisa-bisa semua frase jadi sampah

saya harus jadi merdeka dulu
biar tidak takut kehilangan sesuatu

merdeka dari ketakutan
mengambangkan saja harapan
kau saja hidup dengan duniamu

kata teman saya malam ini
dia orang baik
walau jauh dari bijak
hancurlah hidup pria
yang menyiakannya

kata saya malam ini
saya (pernah) jadi bangsat
setingkat dari bejat
terus menerus membuat saya ingat
sama saja membangun hikayat

kata abang saya dahulu kala
taruhlah ingatan di kantong terdepan
kau pikul dengan berat sambil belajar
setelah hafal bisa kau keluarkan
biar ringan bebanmu

Wednesday, January 17, 2007

pembersihan

mengidap penyakit yang lampau
membuat saya banyak maunya

letakkan sebaldi air di hadapan rumah
nyalakan lampu minyak senantiasa
jangan lupa debu suci dan garam

hari ini saya rayakan mimpi-mimpi
yang sudah usai sebelum dimulai

Friday, January 12, 2007

bicara estetika

dua sahabat dan seorang kekasih
bersenda gurau di atas ayunan
yang disangga halaman rumput manila
menyiraminya agar mengkilat
dengan kata-kata yang melekat
sampai kini tak mau copot!
monolog basi

ada yang ingin kutanyakan
pada tiap dering telepon
yang kau biarkan berdendang
selalu tetap mengundang

ada yang ingin kusampaikan
makna-makna ganda
sekaligus turunan
seperti kelinci
dan lusinan anaknya
pada tiap sms
yang memenuhi inboxmu
tanpa pernah terbaca
baju kaos abu-abu

baju kaosmu pucat warna
dengan deras air mata
di tiap potongan bahu

kupindahkan merah mentari
dengan api menari
menjilat baju kaosmu

habis sudah
tutup buku
mari kita belanja

Tuesday, January 09, 2007

Gelitik sebuah foto dan profil

Perempuanku,
tidak ada yang perlu diperdebatkan
cukup sudah dengan adu argumen
perang yang tak terlihat
debu tanpa asap yang membuat kalut
atau bahkan sebuah dongeng murahan
cerita kulit kayu pada pohon
menggelopak dan jatuh rentan

Perempuanku,
menyerahlah
pergilah entah
bangunlah harapmu
di tempat lain

Monday, January 08, 2007

aku ingin kita baik-baik saja

aku kembali berkaca
pada penanggalan
yang kupungut begitu saja
sepertinya ada kamu
tengah berlesatan disana
pada sendja yang entah

penanggalan masih terdiam
tidak tahu harus bicara apa
ataukah tebaran angka dan huruf
hanyalah sekotak ingatan
yang tersimpan
pada sendja yang entah

Sunday, January 07, 2007

telinga yang tak mau mendengar

mungkin di kelopak matamu
tak pernah ada bendera putih
kau menyulut mimpi buruk
secepat rokok kretek menyala
di ujung tarikan nafas
bersender pada bibir
tanpa gegap gempita
yang ingin kunamakan rasa
pesan satu tidak pakai lama!

saya memesan kematian
di kilometer 14,8
tidak usah pakai lampin
saya juga sedang malas bercermin

jangan sampai salah catat
di kilometer 14,8
hapus saja seraut wajah pucat
dengan guyuran air mata lebat

sekali ini tanpa peti mati
dan juga antipati
sudah kubilang saya mau cepat mati
mungkin di pagi hari

Friday, January 05, 2007

Kompas yang Hilang

saatnya membuang kalender lama
untuk dijadikan lap pembersih kaca
atau bungkus pembalut

tahun sudah berganti
entah dengan agenda kali ini
apakah tuhan juga perlu diganti
Badai mu (di tepi pantai)

tertawakan aku dan dunia hari ini
karna tak mudah larut dalam api mu
hancur dalam airmata mu

Thursday, January 04, 2007

tiket yang hilang

ingin kubeli seribu tanda tanya
tentang kereta yang tak pernah hinggap di stasiun mu
ataukah sebuah untaian gelisah yang mengendap
beriringan dengan langkah kakimu
yang mulai meninggalkanku
PULANG

selalu kuselipkan bunga rumput
di balik mawar merah putih kesukaanmu
agar kau tak lupa menjemput
ingatan tentang kampung halaman
yang selalu jujur padamu
tak sekalipun mengisi cerita dengan bualan
senyuman yang bertambah manis

jerawat merah
di tepi atas bibirmu
membuatku bertanya-tanya
adakah tawon salah mengiramu
terpesona dengan bau harum
dan reguk manismu?

Friday, December 29, 2006

rumah ku, mu dan nya

rumahku satu
dengan bilah-bilah kayu
tempatku menggerutu
bercerita pun mengadu

rumahku satu
tempatku bersimpuh
memetik butir rosarioku
banyak berdoa untukmu

rumahku satu
dimana aku selalu bisa pulang
sehabis memberhalakanmu

maaf
karna aku
mencintai dosaku
mengeja sakit di atas cinta

kau mencuri jiwaku
dalam setiap kalimat tajam yang mengiris
lebih dari makian sebilah pisau

pelan-pelan
melalui tiap kesempatan
kau kira aku tidak tahu
kau tengah mengubahku
jadi manusia yang tak berhati
dan kelamaan tak berakal budi

Wednesday, December 27, 2006

rindu yang tak lagi sabar

hujan di luar menabrak rerumputan
tak lagi lembut
walau seiring dengan kabut
hujan tak lagi sabar
kini lakukan hal sederhana
dengan efek yang maha dahsyat
seperti rasa menggedor dada
biar waktu berlalu cepat
(karna aku rindu!)
Tanpa Kompas dan Warna Putih

gelisah ini sedang beradu pacu
dengan langit yang bergemuruh
ada kuat adu keras
siapa cepat siapa meretas

sulit menyandangkan rindu ini
dengan putih salju
dan angin tak berkompas

tak lagi suci
rinduku tersaring dari birahi
tak lagi bebas
rinduku bermuarakan kamu
di seluruh penjuru
yang lagi-lagi tak bernama

semua nyata dalam perihnya
kehilangan yang buatku terhempas
merindu kamu
bisa buatku mati biru
Rekoleksi

Malam sunyi begini, banyak hal yang kuingat.
Apalagi angin sering membawa cerita,
mainkan dengan tempo selagi dia ingat.

Bila cepat, nafasku sering tergagap,
kilasan yang bising seliweran,
di fikir dan hati.

Ada rasa kangen yang merayu,
ragu yang ambigu,
dan juga jeritan pasrah,
yang mau kubuang bersama gelisah.

Bila melambat, aku juga sulit bernafas.
Scan otak sudah tidak bisa lari,
sedikit-sedikit berhenti,
lalu sana sini kembali sepi.

Berkumpulnya hawa dingin dari penjuru rumah,
membuatku merasa lebih baik di luar sana.
Mungkin sampai subuh kembali menyambut.

Kaki telanjang menyapu rerumputan.
Malam yang masih saja sunyi.
Siapa tahu masih ada kepingan cerita lain,
yang bisa kukumpulkan di balik ranting cemara.

Tuesday, December 26, 2006

Untuk Adyaksa..

Abangku sayang,
si pembawa mimpi terbang.
Kata Ibu dia malang,
makanya terus hilang...

Dari lima belas tahun yang lalu,
menjelang tahun baru,
satu, satu, persatu...
tidak ada pinta yang baru.

Hanya ingin dengar sumbang lagu,
yang dinyanyikan asal di depan rumah,
tiap malam hingga kantuk mengajakku lengah.

Suaranya mirip suara abang,
disela batuk yang juga serupa.
Mudah-mudahan itu benar,
ya memang abang.

Sekarang abang sudah pulang.
Diberi nama, cerita dan doa.
Tapi abang masih terbang,
dengan tali di kaki dan asa didulang.

Sampai penghujung tahun ini,
mengikis pinta jadi mimpi.
Tiba-tiba sayap abang jadi sayapku,
berpindah tuan meminta keliling.

Monday, December 25, 2006

Kado Nomor Wahid

Kerlap kerlip kuambil dari bintang,
kali ini yang melekat tak bisa hilang.
Kita menang 1-0 dari waktu.

Pitanya dari kelopak lili,
hijau putih tanpa duri,
bunga kesukaan kamu.

Sayang sekali kau tidak datang,
hingga kini senja menjelang.

Terima kasih untuk kadonya,
aku jadi lebih berani,
menghadapi rasa sakit.
Hari ke -25

Suatu hari di sebuah bulan,
bikin aku jadi punya alasan.
Menciummu di bawah mistletoe!

Sunday, December 24, 2006

Anoda dan Katoda

Baby, gunakan sedikit otakmu.
Kiriman lagu saja tidak akan cukup,
untuk pisahkan elektroda.
Semua adalah Kamu

Bau parfum selewatan milik orang sebelah di bioskop.
Kunang-kunang yang menabrakkan diri pada kaca mobil.
Sinar mercusuar yang mencari aku dalam gelap (atau sebaliknya?).
Seperti kalimat cinta, masih menggantung di ujung lidah.

Saturday, December 23, 2006

Sepotong Kisah di Kamboja

Kalau hidup adalah sungai Chrap Chheam,
apa istimewanya jadi perunggu pun batu,
mematung berlagak budha,
tidak bisa ikut kau bawa pulang,
sehabis esok menjelang.
Sisa Waktu dan Usia

Kau itu seperti nenek saja,
tidak perlu keriput dan kursi goyang,
tapi selalu jahitkan waktu perca,
berikan aku sisa-sisa.

Wednesday, December 20, 2006

Sekumpulan Krayon di Tangan Bidadari

Aku berbincang dengan seorang bidadari.
Berbaju bungabunga warna hitam putih saja.
Tapi senyumnya, binar matanya..
sungguh dia tlah menurunkan pelangi,
mewarnai baju bunganya jadi warnawarni.

for my dearest Deyra..
:: di ruang tunggu dokter ::

Kemarin mimpicinta ingin pindahan,
tapi tidak ada tempat lagi di bagasi mu.
Lalu kusimpan saja di rangka otak ini,
yang turun dan memampatkan hidung.
Kamu itu mirip sinus,
lamalama mengganggu nafas ku.
Sesal di Lintasan Maaf

Aku berlari dengan kaki satu.
Sekencang-kencangnya angin ikut berlalu,
lama nanti baru tumbuh kakiku.
gelas rasa (di tangga kampus)

Carikan aku sendok, tolong dan cepat!
Atau batang serai juga tak masalah.
Biar kuaduk kau larut dalam gelas rasa ini,
dihidangkan selagi dingin walau tak terlalu manis.
Berdua pasti cukup tuk hancurkan hening kaku,
yang dipintal oleh kesalahan dan waktu.
melekatlekat di dinding

Jadi ingat waktu SD dulu,
siapa yang nakal dihukum duduk menghadap sudut.
Sekarang juga ada sudut di depanku,
rasa-rasanya dulu berwarna putih polos,
tapi kini seperti palet cat minyak.
Dengan warna-warna yang tak mau hilang,
dan kilasan frame yang mirip sebuah film.

Monday, December 18, 2006

Amnesia dan Perjalanan Kereta

Kekasihku bergandeng tangan dengan kenangan.
Seketika ini baru kutahu, kereta tlah salah jalan.
Mau tak mau, satu dari tiga harus turun.
Tak bisa lagi seiring sejalan.

Aku dan kau, tanpa kenangan.
Kau turun, tinggal aku dan kenangan.
Aku turun, (mungkin) aku akan dikenang.
resolusi lumpuhkan merahputih

Dua lengan yang menggemuk,
tepat untuk diserbu,
tuduhan-tuduhan menggerutu.

Perut membulat,
mengisi penuh celana,
saku kanan kiri tak terlupa.

Wajar saja dikatakan maju,
wajar saja diratakan serdadu,
wajar saja semua media jadi bisu.
Pikiran adalah Pencahar

Semediku kurang lama di toilet hari ini.
Merenungi legit yang kumakan kemarin,
nampaknya semua habis dimangsa pikiran.
Cerita Berbangsa dan Bernegara

1.
Jakarta yang dulu kukawini,
bukan sekali tapi dua, tiga kali.
Sampai berkali-kali kawin mengawini.

Jakarta lelah, hendak membuang sepah,
tertawa-tawa dengan mulut bau sampah,
tidak lupa sumpah serapah..

Muak sudah dengan tenang yang kucari,
sampai ujung rambut berdiri.

Jakarta raya, menidurkan mimpi-mimpi.
Dengan tatapan dingin, derita tak terperi.

2.
Aspal yang sama, terbentur ban mobil sudah untung,
bila derita, cerita, air mata, itu baru buntung.

Jembatan yang sama, menjembatani fungsinya.
Tentu tuk permudah, bedakan satu dari yang lain.
Yang lewat di atasnya dan yang tinggal di bawahnya.

Taman kota yang sama, hijau berganti coklat,
meranggas siapa yang perduli, dan kini penuh dengan kabut (asap).
Pemulung butuh tempat tinggal,
bangunan rumah pak menteri dari semen dan beton,
tidak bisa dibongkar dan dijadikan gubuk,tuan..!

Sunday, December 17, 2006

tetap terbang tanpa sayap

sayapku patah, kataku.
memang tak tumbuh sebelah, katamu.
marilah sini, berikan tumpangan.
satu kursi sudah cukup, dengan sebuah nomor penerbangan.
ingin cepat pergi, walau tetap tak tahu diri.
satu kursi kuanggap cukup, menyurutkan langkahmu lari.

Saturday, December 16, 2006

e.k.s.t.a.s.e

Malam ini aku mengutuk hari, dimana kesadaran melarikan diri.
Meninggalkanku sendiri, tak berdaya atas apa yang terjadi.

Kamu.
Tatap mata yang membutakan amarah,
menghadirkan jutaan gelisah,
tanpa tahu arah.
Biar rinduku saja yang mengetuk jendela pagi tidurmu. Lalu mimpi datang serampangan dan hadirkan ku hanya tuk datang dan kenakan selimut pada lelapmu. Jangan biarkan nyenyak melenakanmu. Biarkan aku menyusup dalam tidurmu, membangun cerita muskil bersamamu.

Thursday, December 14, 2006

Reffrain Nyanyian Hati

Dari sekian banyak lagu,
kalimat Mario Winnans tak berlalu..

Kembalikan nada pada partitur,
dan kata pada kalimatnya...
lalu aku, pada kenyataan.
Rok mini di awal tahun lalu...

Tadi pagi kutemukan frame yang tlah lalu.
Melekat di lemari baju yang lembam.
Bisa kau tebak apa itu...?
Rok mini berwarna hitam!

Jahitan kaku ingatkan pada imajimu.
Pudar dari hitam warnanya,
ah itu niatmu yang berlengkesa.

Kugoda kau dengan putih pualam,
yang membuatmu mengerling semalaman.

Wednesday, December 13, 2006

Bicara tentang sifat...

Tidak ada itu yang namanya habitus.

Kau hancurkan hidupku,
dan membangunnya kembali.
Hanya dalam semalam.

Sunday, December 10, 2006

Pesan (tidak) terkirim!

Hanya kuminta secarik kabar,
berupa corat-coret ataupun titik,
di kertas karamel, dari kedai kopi sendja tadi...

Sampai-sampai,
aku sudah lelah meminta.

Friday, December 08, 2006

Dear cantik...,
(yang tak kutahu kau iblis)

Maafkan untuk dulu dan dulu,
semua indah yang bercampur baur,
konkuren dengan logikamu.

Dengan saputangan bercorak,
korek api kayu, satu set kartu,
koin, tali dan sendok.

Aku yang iblis, kau lihat cantik.
(mungkin ini yang kau mau)
Atau memang aku iblis yang cantik?

inspired by one hell of a song and arri dkk

Thursday, December 07, 2006

Mari kita (berpikir untuk) berdoa!

Memikirkan tuhan hari ini,
dengan huruf t kecil.
Bisa jadi kamu itu ilham,
wahyu yang diturunkan untuk ku.
Sayangnya aku tak lagi manusia,
yang dapat merasai, membaui mimpi-mimpi.
Hari ini dimasa lampau..

Ingin menyatakan hari ini sama dengan kemarin,
sama dengan sebulan lampau, dan setahun yang lalu.

Memenjarakan logika pasti pada apa yang disebut imanen,
sayangnya aku sudah tenggelam dalam ketidaksadaran.

Tuesday, December 05, 2006

Lingkaran

Karma berbalik terlalu cepat.
Asap membunuhmu,
sebelum kertas yang kau bakar,
habis menjadi abu.
Dermaga itu, titik.

Membaca gemuruh dada dengan gugup.
Tertawa saat telapak bertemu, rasanya geli.
Dirangkum dalam senja, mari kita pulang.

Dermaga itu, kini titik.
Mencoba menyusun kata bosan di sela alismu yang kian menghitam, merujuk pada sepasang mata yang sudah lama menjadi bayang tanpa sinar adanya.
Here, there and everywhere...

Ungu masih melekat di ujung bianglala,
walau nyaris tak pernah menyapa si merah.

Monday, December 04, 2006

Mata Kaca dan Beling Cinta

Maafkan aku, air mata..
Kaca yang jadi beling,
tlah melukai hatimu.
Tak hanya sobek tanganmu.

Kaca yang jadi beling,
mencuciku bersih...
hingga hilang sembilan puluh sembilan,
kepribadian buruk lainnya.
Gubahan tanpa cerita..

Aku yang entah,
kau yang kini terserah.

Katakan caranya,
agar rasa tak pernah punah.
Atau setidaknya kita berhenti bertukar resah.

Tuesday, November 28, 2006

Melihat dan Bertanya

Diberikan anugerah, nyaris seperti diuapi,
dengan mahkota aura yang luar biasa,
agar penglihatan jujur adanya, dan baik.

Untuk memudahkan, dan tak berlaku Tuhan.
Untuk membahagiakan, dan tidak menelanjangi.
Untuk menguasai rasa, dan tidak berburuk sangka.
Untuk mengajak bicara, karna dua arah adalah baik adanya.
Doa Buku Telepon Saku

Hari ini setelah sekian lama aku berdoa,
hanya satu kata yang singkat,
yaitu bahagia.

Untuk Allah,
buat kamu,
dari aku.

Isi doa mirip buku telepon saku magnetik. Pada cover depan, hanya digantungkan satu kata. Tapi begitu kau membukanya, ada satuan..belasan..dan kalau bicara tentang pinta, ya aku maksud puluhan.

Bahagia.
Bila mendungnya hari membuat kau susah.
Bila kopi nikmat disajikan pada gelas styrofoam.
Bila aku ada dan tidak membahagiakanmu.
Bila...bila...bila...

Aku masih berat tuk mengatakan,
Auf Wiedersehen, Lieber.

Friday, November 24, 2006

Dalam hujan renik aku melunturkan air mataku jauh sebelum maskara cokelat karamel terduduk lemas di tepian pipi yang kini sudah jauh dari semu merah seperti saat kita pertama bertemu..

Saturday, November 18, 2006

Semua adalah Anjing

Katanya semua orang itu anjing.
Anjing pada kaki yang mudah berlari,
lidah yang suka menjilat,
gigi tajam yang mampu menggigit,
anjing, anjing, anjing!!

Dan pernah memang ada satu anjing,
yang bersabda bahwa tulang tidak baik.
Untuk kesehatan, apalagi hawa nafsu.

Malam ini teman anjingku yang sama,
bilang dia doyan tulang! Sial!

Wednesday, November 15, 2006

Aku ingin habiskan hari-hariku sampai tua dengan percintaan denganmu. Di dalam cangkir, hangat sudut perapian, lampu neon pada teras rumah, dan kerlingan pohon bambu yang beradu tatap mesra dengan angin malam. Dalam sunyi pun riuh gemuruh, mungkin cinta kita bisa seperti lampu kristal.
Rinduku Semalam

Seperti paruh bulan yang dimakan gelap malam,
sebuah mimpi yang terbang jauh tanpa sayap.
Kamar Lima

Diam saja, jangan bicara cinta.
Sedari tadi kamar merah berceceran kata.
Ada yang menyangkut di bawah pintu,
di kolong sofa, pada kaca jendela,
dan cermin yang nyaris runtuh.

Ada bekasku padanya,
ditulis dengan gincu merah,
diakhiri tanda seru.
Mungkin pangeran tampan dengan kuda peraknya mulai lelah berhenti di ujung gang, karna takut peri malam kan mengubahku jadi semangka lewat tengah malam, yang tak bisa kuakali lagi dengan tali rambut tuk naik ke atas menara.

Kalau kau tahu betapa besar cintaku,
ribuan kastil bisa kau bangun dengannya.
Sayang cintaku tak bisa dinominalkan,
apalagi dibeli.

Saturday, November 11, 2006

Kemeja Pelangi

Pak guruku yang berwarna.
Beda hari beda emosi beda warna kemejanya.

Tempo hari pak guru kenakan biru langit,
yang kutebak dicurinya dari kanvas matari pagi,
diam-diam dengan kecepatan tinggi.

Seminggu yang lalu merah muda warnanya,
seharum gulali di pasar malam dekat rumah,
semesra senyuman gadis perawan dikala jengah.

Hari ini tidak tahu kenapa, pak guruku nampak murung,
bukan hanya warna kemejanya yang abu,
mukanya pun jadi seperti batu.

Tapi tak mengapa,
kata ibuku tidak ada yang lebih menyedihkan,
dari mereka yang berpakaian putih-putih.
Mataku yang tertusuk pulpen menghisapnya dalam hingga mataku yang buta kemudian mengajarkanku tuk menulis dengan pulpen bertinta air mata.
Kamu adalah baris, gerutuan titik dan tanpa tanda tanya.

Friday, November 10, 2006

Kaki Empat Penyaru

Kamar tidurku tidak terlalu kecil,
namun entah kenapa sekarang terlihat mungil.
Ada sebuah tempat tidur yang maha tahu,
yang punya telinga, mata dan mulut dia mengaku.

Subuh aku bangun karna gemerisik,
heran kebingungan lalu semua orang turut menilik.
Atas dasar apa aku terusik.

Malam, pulang karna lelah,
masih saja dia cari celah.
Mengeluarkan bunyi-bunyi aneh.

Tertidur entah posisi apa,
tempat tidurku selalu merasa esa.
Saya paling tahu dia sedang apa,
mimpi apa dan bersama siapa.

Mungkin besok harus kupotong kaki tempat tidurku,
biar kuyakin dia tidak lebih dari benda mati yang menyaru.

Thursday, November 09, 2006

Lirih Ketiga

Ingin jadi kalajengking itu,
yang kau bunuh dengan setengah kaleng baygon.

Tidak ada ruang gerak lagi,
mati terpojok.

Nyatanya hati ini berontak,
masih mau mencintai dengan bebas.

Selamat menikmati,
kita semua menderita.
Kontras

Kalau para pembaca lebih suka foto daripada kata,
padahal mereka bukan penikmat cahya...

Dimana letaknya aku,
yang bisa bercerita tentang lelucon selembar daun,
dalam perseteruan pohon dan ranting,
tanpa harus perlihatkan pagi pun malam?

Aku tidak suka menggambarkan bentuk,
mungkin aku tidak bisa...
aku hanya ingin merasakannya.

Tuesday, November 07, 2006

Tiga Persamaan

Aku temukan kata cinta,
di balik bantal guling,
selimut perca,
dan seprei yang masih hangat.

Aku temukan kalimat rindu,
saat kantuk menyerang,
mata memerah,
dan kuap sesekali menyela perbincangan.

Terakhir dan nyaris sama,
pembicaraan nurani dengan nurani,
di akal yang nyaris mabuk,
oleh segelas campuran nuport.

Kejujuran meluncur begitu saja di balik sumpah serapah.
Dalam aura pagi hari, kantuk malam hari,
dan diri yang setengah sadar karna alkohol.

Terima kasih untuk sebuah kejujuran.
Loncat Pagar

Tidur yang nyenyak.

Ingin bisa gantikan lelah hari ini,
turunkan purnama di sebelah wajahmu,
biar kau tahu hari sudah larut.

Sembari pandangi sinarnya yang jatuh,
menepiskan semua lingkar gelap di bawah mata,
tinggalkan jernih retina yang jadi canduku.

Tidur yang nyenyak,
kalau perlu kubawa pergi matari pagi,
agar tidurmu bisa sedikit tenang.
Request by sms

Mari sini kugantikan lampu kamar mandi mu,
kuhilangkan pegal-pegal setelah kau fitness,
dan kubunuhkan kalajengking yang buatmu takut!

Lalu nanti gantian kau bunuh mimpi-mimpiku,
apa yang seharusnya tidak pernah tumbuh,
tapi kini aku bersyukur memilikinya.

Sunday, November 05, 2006

Empat Keajaiban

Bagaimana melukiskan langit,
dalam kanvas putih kapur?
Dan definisikan oranye senja,
yang mampir di bias matamu?
Separuh Minggu

Tidak ada yang sama lagi.
Bahkan kadar gelisah yang mengganggu,
benar-benar melonjak tinggi,
seperti kolesterol bulan lalu.
Two sides of a coin

Cinta yang membuatku ingin mati muda.
Ingin melepas semua mimpi yang menyiksa bangunku.

Cinta yang menghidupkan,
dan kini sewaktu-waktu bisa membunuhku.

Saturday, November 04, 2006

Kesal dan Sesal

Nyaris tak tertahankan,
aku hampir menuhankan kau,
yang kini tak lebih dari serpihan mimpi,
layaknya remahan di tepi bibirku.
Sayangnya bukan aku yang mengecap,
mengunyah dan nikmatinya.
Satu-Dua

Katakanlah yang benar di atas yang baik,
pun jangan lupakan yang baik di sela benar mu.
Sebuah pelajaran yang menyakitkan buatku.
Pilihan

Mencintai diriku,
berujung kehancuran.
Mencintai dirimu,
memberiku hidup.

Mencintaimu dan bersamamu adalah surga.
Tidak bisa bersamamu adalah neraka,
padahal belum saatku untuk mati.
Sebutan Baru

Adalah suatu hukuman.

Untuk menghirup udara pagi,
dan merasakan panas matari,
yang suam-suam kuku...

Untuk menikmati air hujan,
yang menerpa wajah perlahan,
renik demi renik membasahi kening...

Hari yang tetap menjadi hari,
indah yang selalu indah,
walau kurang esensinya.

Dan aku dipaksa, terpaksa,
menikmatinya sendiri.

Friday, November 03, 2006

Perfect Match

Aku itu seruas buluh yang berlubang,
diam saja tak pergi kian kemari,
menunggu selintasan angin yang bertiup,
hingga BUNYI!
Time After Time

Terlalu banyak tatap mata,
dengan artian sebesar jagad raya.
Terlalu panjang daftar lagu,
yang dijadikan cerminan rasa.

Thursday, November 02, 2006

Cerita Siapa

Dulu aku bercerita tentang gajah meta,
dia mengamuk dan jatuh gila,
karna dibuang oleh kawannya.

Mungkinkah gajah meta tengah berkata,
ada seorang dalang yang digelar oleh wayangnya.

Pementasan yang bodoh,
karna dialah satu-satunya,
yang empunya cerita.
Kejujuran Kalimat Picisan

Dulu aku menunggu hari ini,
dimana temanku hanya lantunan frase,
terngiang-ngiang dan dalam keheningan suara.

Pagi, siang dan malam,
saat tak kurasakan lagi lidah yang ingin mengecap,
rangkum tangan yang ingin memeluk,
dan berharap inilah mati rasa.

Nyatanya aku tetap hidup.
Mungkin compang camping,
kurus kering nantinya,
dan bersin ratusan kali sehari.

Tapi tetap hidup,
untuk (menunggu) kamu.
Sebuah Renungan Bau

Hari ini aku terbangun,
dan nafasku bau kamu.

Masuk ke kamar mandi,
tidak ada lagi bau karbol,
baunya berganti kamu.

Lewat lemari baju,
pewangi melatinya sudah habis.
Tersisa bau kamu.

Mungkin hari ini aku pergi.
Atmosfer mobil masih sama,
dan abu rokokmu yang biasa menempel,
pastinya akan bau kamu.

Tuesday, October 31, 2006

Api dan Air,
tanpa abu

Hitam jelaga,
api yang singkat,
kobaran nan dahsyat...

Ingin gumpalkan awan sesal di benak,
lalu turun luruh jadi hujan di sudut mataku,
hapus sisa abu di wajah dan hatimu,
saat aku memelukmu.
Healing

Tidak akan pernah sama,
bahkan bila benangnya adalah sutera.

Rindu sekali beradu bibir di balik pagar rumahku,
spontanitas percintaan yang meletup-letup.

Senyumanmu, kudambakan sangat!

Monday, October 30, 2006

Adrenalin Tak Henti

Bak kuda yang berpacu kencang,
menuju garis finish yang bergerak terus,
berlawanan dengan angin yang menerpa wajah.
Semua terasa lebih memburu, biru.

Sunday, October 29, 2006

Satu-satu

Tidak usah bicara cinta hari ini,
aku ingin berikanmu nyaman,
setingkat rasanya dengan aman.
Ngilu

Rasa yang kuat ini,
pilu jantungku.
Lebih baik kehilangan diriku,
daripada kehilangan kamu.

Wednesday, October 25, 2006

Kepemilikan

Aku ini pencuri,
sejak enam bulan yang lalu.

Kini tengah membuat NPWP,
supaya tidak ada yang aku-mengaku.
Atau seyogyanya, hak paten itu perlu?

Ah, matilah aku dalam kekhawatiran.
Walk on by...

Entah menahannya dengan apa lagi,
sepertinya lengan ini sudah mau patah.

Berdiri dengan kuda-kuda, sudah.
Menguatkan bisep trisep, sudah.
Memusatkan konsentrasi, sudah.

Pergilah sana, bila ingin.
Sepasang tangan saja tak mampu menopang,
suatu hubungan yang selalu di ambang batas.
Setipis Benang

Tolong berhenti disana,
persis di belakang garis.
Dan tolong berhenti mencintai aku.

Bukan mencintai yang selewatan angin,
atau saat matari sedang indah-indahnya.

Tapi mencintai yang satu paket,
lengkap dengan emosi-emosi ajaib itu.
Aku tidak menyukainya,
sungguh!

Cintai saja seadanya aku,
ala kadarnya, tanpa lebih-lebihan.

Terlalu mencintai aku,
akan menggusurnya menjadi benci,
sewaktu-waktu,
semau-mau kamu!

Monday, October 23, 2006

Nada Kata Rasa

Akan kutuliskan sebuah lagu,
tentang keriap di pagi hari,
tanpa terusik seharian yang menanti,
dalam beragam ketukan mimpi...

Mungkin tidak rapih,
selalu sulit kompak nada,
atau mungkin menggesa.

Hanyalah sebuah tanda,
terkadang alam turut bercanda.

Thursday, October 19, 2006

Finished

Malam ini kutemui mimpimimpi jatuh,
pada tangan yang terbuka lebar,
nyaris memeluk sebuah keajaiban.
Kabar Hari Ini

Bila hidup lebih menakutkan daripada kematian,
hidup tanpamu jauh lebih mengerikan lagi...

Saturday, October 14, 2006

Kalian yang satu...

Coba tolong dengarkan,
sekali ini saja.

Jangan biarkan cerita yang tak utuh mengempa,
sebarkan prasangka dan emosi yang tak bijak.

Dengarkan saja,
hati nurani yang bicara.
Catatan pantai

Kembalikan aku April tahun lalu,
dengan genggaman aroma laut di pangkal hidung,
dan senja yang surut seiring dengan khawatirku.

Wednesday, October 11, 2006

Cinta dan zina

Aku ingin disebut durjana,
satu-satunya yang mencuri tenang,
di kala diam hadirkan degup jantung.
Aku ini durjana yang jatuh cinta,
sungguh tak sama seperti dukana.

Monday, October 09, 2006

Fitnah

Katakan padaku,
apalah arti sebuah penghinaan,
atau malah hanya prasangka,
di atas sebuah foto bukan hitam putih,
satu-satunya firasah aku sedang tersenyum?

Friday, October 06, 2006

Equal

Kalau air mata sama berharganya dengan minyak,
sesak dan pilu akan sama dicarinya seperti kemiri.

Tuesday, October 03, 2006

Beranjak

Aku takut hari-hariku akan segera habis.

Layaknya rokok filter yang tertiup angin,
pun cerutu yang dinyalakan,
dan dibiarkan menahun.

Bulan-bulan yang luar biasa ini,
masih tetap dihitung hari per hari,
dan nyatanya adalah berjalan setahun.

Aku masih belum mendengar bunyi keretamu.

Monday, October 02, 2006

Sebatas senja

Aku ingin cintaku serupa sinar matari.

Yang menyambut pagi tanpa kekesalan kemarin.
Yang undur diri karna tidak ingin merusak kenangan indah.

Yang kau tahu akan tetap ada di luar sana,
walau tengah berlindung di balik payung,
pun awan yang bergerak.

Yang menghangatkan dan cenderung bermusim.
Kadang lembut menyapa bangun pagimu,
kadang pula bisa merah memanas karna emosi.
Story book children

Aku ingin menulis sebuah cerita,
tapi yang indah-indah saja.
Yang tidak tragis, tidak ironis,
walau sedikit miris.

Bila terpaksa, dibuat saja cerita tanpa tanda titik.
Biar tidak ada akhir yang menyedihkan.
Atau tanda koma, yang membuatmu bertanya,
ada apa setelah itu.

Mungkin lebih baik, aku diam saja.
Biar burung gereja yang cerita...
Nanti di suatu pagi, yang aku sebut beruntung.

Thursday, September 28, 2006

...

Tuhan, aku lelah.
Tidak bolehkah aku menyerah,
dan tak sekedar berlaku pasrah?

Tuesday, September 26, 2006

Time after time

Sudah lama aku tidak mengucapkan kikilauan.

Sama seperti kilau lampu di pohon cemara,
bintang jatuh serupa meteor di langit gelap,
dan matamata yang membuatku tersenyum malu.

Monday, September 25, 2006

Semua bisa menulis

I.
Sebutlah karya itu menentukan,
lalu kau boleh menjual lebih dari yang ada,
delapan cerpen dan sepuluh puisi.

Apa itu bunga, jamur dan petir,
yang kau lukiskan diantara kata,
menghias amarah dan sumringah,
di atas sebuah pohon,
(dan masih angin membuaimu).

Maafkan aku yang telah merusak sebuah cerita.
Tapi tolong buatkan tanda titik,
jangan biarkan kata jadi kalimat,
dan terbuang pada kertas buram saja.

II.
Mari hari ini aku berikan waktu,
membaca sebuah buku milikmu.

Mungkinkah ada namanya,
seorang yang mencintaimu sangat,
tapi kau sia-siakan begitu saja?

Saturday, September 23, 2006

Rindu membaui kamu

Nyaris kucium bau hujan,
walau langit gelap tiada merah,
dan keretamu masih lama tiba.

Ataukah itu, air mata yang mengembang,
tak kunjung jatuh hingga nanti?

Friday, September 22, 2006

Prakarya

Tutup saja matamu.
Biar angin membawamu pergi,
merepih mimpi yang tak kunjung usai.

Seharusnya ini malam kita,
merajut bulan dan langit,
bisa juga sekumpulan bintang,
dari bayangan air kolam,
tanpa tepian rumput sekalipun,
tanpa mereka.
I.

Bisakah sekali ini tidak usah pakai meteran,
penggaris, timbangan, dan bahkan pengukur suhu?

Lelah sekali rasanya bila selalu melihat ke cermin.
Mencari aku yang lebih baik disana,
atau pembanding yang tiada pernah surut.

II.

Kamu kan tidak tahu,
ini kerut dekat mata ada karna kau,
membuatku sering tersenyum.
Berat badan naik lima kilo juga karna kau,
bahagia membuatku menelan semuanya.

Kalau nasi sisa kemarin saja jadi enak,
tahu kan betapa mudahnya aku gemuk karna kamu?

Setelah itu, mari kita bicara mengenai kecantikan.
Siapa yang tahu?

Di balik kuning kamboja,
yang indahnya nyaris seperti senja,
kau pastikan itu bukan bunga palsu.

Tercium wangi semerbak,
keningmu lalu berkerut.
Tatap mata bertanya padaku,
apakah hendak membuatmu bersin.
Lupakah aku pada alergimu?

Belum sampai semenit,
aku tahu kau pasti tanyakan.
Apakah itu tulen atau persilangan,
akar tempel atau tanam.

Semua ada untuk dipertanyakan,
entah kenapa juga untuk diragukan.
Sama seperti hati dan perilaku aku.

Wednesday, September 20, 2006

Cerita lain

Jelaskan pada logika,
bagaimana bisa aku terbakar,
dan tak jadi serupa arang.

Asap dan abu sedikit pun tak ada,
padahal aku tahu cerita itu.

Kisah usang rama dan shinta,
yang rupanya bualan belaka.
Api tak melahapnya,
tapi dia tetap terbuang.

Denganku,
rupanya nasib berkata lain.

Saturday, September 16, 2006

Cetusan

Ingin sekali bisa berkata,
tutup mata dan anggaplah ini semua mimpi,
yang indah pada percikan kembang api,
balon udara yang membumbung tinggi,
dan mungkin bau cendana yang merasuk.

Ingin sekali,
bisa berkata...

Aku sudah berhenti mencintaimu.
Tanpa huruf UN

Aku bisa salah kata,
salah ucap, salah aksi,
dan salah waktu.

Tapi tidak mungkin salah rasa.
Memujamu setinggi ayunan bintang di langit!

Saturday, September 09, 2006

[kosong]

Tidak ada tulisan hari ini.

Sebagaimana kamu tidak lagi mengotori dinding kamarku,
dengan bayang muka bayang tubuh bayang rasa,
dan juga suara berat milikmu,
ataukah ini sumpah serapah ku,
yang sudah menyerupai dendangan.

Sebagaimana aku ingin berhenti merindukanmu.
Maka hari ini aku harus konsisten!

Thursday, September 07, 2006

Alokasi

Dimana itu bintang jatuh.
Katamu, tidak pernah ada lagi.

Kau pasti salah.
Maaf sayang, salah ya salah.

Tiap hari ada bintang jatuh,
tepat di tempat tidurku.

Karna tiap malam aku tidur,
berselimutkan mimpi tentang kamu,
dengan lengkung senyum sempurna,
karenamu jua.

Apalagi namanya,
kalau bukan bintang jatuh?
Hari ke 8

Tiap hari kau buatku mati kebingungan,
tak tahu harus menjawab apa.

Tentu hari ini lebih dari kemarin,
lebih manis, lebih berkenan,
lebih lengkap, lebih bahagia,
nyata adanya.

Apa pertanyaan kamu tadi?
Hari mana yang paling indah?

Wednesday, September 06, 2006

Mutlak

Oh, waktu yang licik,
menikamku dari belakang,
dan bahkan dari penjuru arah.

Meninggalkanku lelah,
tak berdaya dan tua,
pada akhirnya.
Hari ini dan nanti..

Selamat siang, Bu...

Aku baru saja pulang.
Katanya hari ini kaos kakiku belang sebelah,
kelerengku tidak genap selusin,
dan bajuku lusuh sekali.

Esok nanti apakah sama Bu,
rok yang kupakai terlalu panjang,
baju ini kekecilan,
make up luntur sebagian,
terutama mannerku berantakan.

Apakah benar Bu,
aku terlahir tak sempurna,
dan mati sama adanya?

Tuesday, September 05, 2006

Shock

Rupanya sudah tidak kuat.
Dada kiri semakin lemah,
entah sisi otak mana yang lalim.
Sembilan dan lima

Maafkan untuk lima meter jarak yang ada.
Tengah mengecilkannya dengan air mata.
Yang entah mengapa enggan mengalir perlahan.

Monday, September 04, 2006

Suara hati(ku)

Ada nyanyian di balik angin,
hembusan sama yang kerap mati,
mungkin karna usia.

Bunyi rindu yang teramat sangat,
sama kencangnya dengan debar jantung,
saat nanti kita bersatu lagi.
p u l a n g

Rindu sekali.
Tak hanya puluhan kali.

Mungkin sama banyaknya,
dengan jumlah pasir di dalam botol,
yang kau beri tempo dulu.

Lelah berhitung,
kukeringkan saja air mata.
Yang dalam perjalanan,
mengering kemudian mengkristal.

Kuletakkan di atas langit,
untuk menjadi pijarmu saat pulang.

Saturday, September 02, 2006

Anekdot yang janggal

Ceritakan aku mimpi burukmu.

Saat hijau tak lagi bersanding dengan rumput,
halus pergi jauh dari kain sutera,
dan semua merepih begitu saja.

Kamu tidak pernah tahu,
aku tertawa diam-diam.

Friday, September 01, 2006

Sebuah balasan

Tinggallah selama yang kau mau,
di bawah temaram alis mataku.

Biar hujan reda barang sejenak,
tak membawamu pergi dari ingatan.

Hentikan sembunyi itu,
tawa ini tidak hadir untuk tutupi rindu.

Biarkan bebas, lepas, berkendara angin,
nikmati waktu yang tersisa.

Wednesday, August 30, 2006

Matari (ku)

Siapa yang mematikan lampu?

Ataukah di luar sana ada gerhana?

Semua tiba-tiba menjadi gelap,
nyata adanya saat kau menutup mata.

Mereka pasti mencari kamu,
karna matari yang kau sembunyikan,
tepat di balik kelopak mata.

Monday, August 28, 2006

I.

Sulit sekali mengeja mu,
ujung rambut hingga kaki,
dirangkum jadi satu nama,
dengan ribuan definisi.

Dan kelas berhitung yang selalu gagal,
dengan angka nol yang luput,
digantikan oleh satu sampai sembilan.

Selalu banyak,
dan melelahkan.

Menghitung gembira ku,
atas mu.

Saturday, August 26, 2006

Runaway tripper

Kamu yang kesepian,
lalu salahkan satu kota bertajuk sepi,
dan membakar-NYA hidup-hidup.

Padahal kamu yang lari dariku,
lengkap dengan satu ransel kekhawatiran.

Memberi KO pada bahagia,
hanya karna masa lalu.
Cinta yang mengkhawatirkan!

Sesuatu yang lebih ajaib dari topi tukang sulap.
Bukan merpati atau kelinci yang meloncat keluar.
Tapi rasa terdalam yang sangat rentan.

Hari ini merah jadi hitam,
esok putih jadi kelabu.

Katanya itu semua gara-gara cinta.

saya mulai berpikir adanya, cinta itu benar-benar tai kucing!

Wednesday, August 23, 2006

Katakan, dimana pentingnya sepasang mata?

Perduli setan dengan lampu merah,
aturan tertulis di belakang kotak obat,
novel percintaan yang terbaik.

Saya tidak butuh mata,
bahkan sepasang mata.

Karna mata hanya datangkan pilu.

Monday, August 21, 2006

Memar

Hati-hatiku entah tertinggal dimana,
mungkin dibalik cucian hari ini,
atau jatuh pada kerlingan mata,
berbulan-bulan yang lampau.

Sunday, August 20, 2006

Pure heart

Putih, bersih, sama saja dengan salju,
karna kamu sendiri adalah kemurnian itu.

Tanpa mata, tanpa telinga,
dan jemari yang mengayun mesra.

Murni dalam fikirku,
lewat mata hatiku saja.
Sebuah hadiah panjang

Bukan hari-hari gemerlap,
suka yang berlebihan,
hingga tumpah ruah,
melebihi kadar seorang saja.

Bukan sehari, seminggu, sebulan,
yang bersinar seperti hiasan pohon natal,
dengan bintang di puncaknya,
bagai sebuah pencapaian.

Aku hanya ingin bersamamu,
walau mungkin jauh dari kerlap-kerlip itu.

Wednesday, August 16, 2006

1.)
Rebahkan sayap imajinasimu,
tancapkan kuat-kuat kesepuluh kuku jemari,
peganglah seluruh dunia tuk bersandar,
tapi rasa itu tlah jauh dan bahkan tlah lama pergi.

2.)
Hari ini kau tanyakan kenapa hujan harus turun,
lalu rumput yang tlah susah payah kau keringkan,
kembali basah dan sedikit kotor.

Itu adalah pembelajaran cuma-cuma dari alam,
agar kau tahu garis lurus dari pensil itu,
bisa dihapus olehNya.

3.)
Bahwa perempuan dan lelaki yang baik-baik,
belum tentu yang terbaik bagi kita,
sungguh pelajaran terakhir yang utama.

sebuah perenungan di bawah langit bandung...