Sunday, April 24, 2005

Manifestasi fisik


Ya, ambillah belati berlumur racun itu,
tancapkan ke jantungku tanpa ragu.
Lalu bilaslah tanganmu dan segera berkemas,
jangan lupa kenakan kasut di kedua kakimu.


Mulailah berjalan dari tarsus hingga memfis,
tuk temukan sungai tigris.
Aku asyera, aku amaris


Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.


Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Indera


Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Insomnia


Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.

Saturday, April 23, 2005

Pasir, hujan dan cinta


Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?


Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.

Thursday, April 21, 2005

Animae dimidium meae


Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Manusia dan kami


Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.


Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.

Wednesday, April 20, 2005

Sebuah nama


Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Catatan kecil


Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Ugahari


Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.

Tuesday, April 19, 2005

Lebih dari cinta


Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.

Monday, April 18, 2005

Menuju gembur


Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.

Sunday, April 17, 2005

Loncatan


Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Tambalan hati


Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Ikebana


Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Kanan dan kiri


Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.

Saturday, April 16, 2005

::tempoe doeloe::


Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Versi


Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.


Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Pria Amerika-ku


Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.


Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.

Thursday, April 14, 2005

Sekarang dan nanti


Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Kuntum


Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.

Tuesday, April 12, 2005

[cinta??]


Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.


Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
2 + 1


Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.


Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.


Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Penanggalan kesepuluh


Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.


Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Ikatan


Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Hanya prolog


Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.
Aku, termangu...


Dia yang satu,
di atas langit biru,
bertitah penuh haru,
akan mereka yang bisu.

Saturday, April 09, 2005

Kosa kata rindu


Kecapiku bermain sempurna,
dalam keluk jemari seorang pecinta.
Tanpa debur jantung yang pasti,
karna disitulah misteri terindah.


Pertautan rindu yang bertahta atas namanya,
terasa lebih mematikan dari genderang perang.
Ditabuh, bertabuh dan menabuhkan,
seirama degup jantung yang lebih dari sekedar bertalu.
Tik tok yang terhenti


Tak pantas kau turutkan ranggas dalam jalinan frase,
karna hangat dan beku datang bersamaan,
dan berulang terus dalam sedetik pertemuan.


Aku yang hangat, kau kecup kau cumbu.
Waktu yang beku, kau jarah, kau repih.
Kita yang masih tetap berjalan,
walau di luar lingkar waktu.
Warna


Sutera jingga di balik perak rembulan,
berubah warna jadi kelabu menghitam.
Seharusnya putih, mungkin sedikit tembus pandang.
Ya, selayaknya itu adalah murni.
Orionku


Purnama nyaris menghilang,
maka kutarik dataran buana,
menumpukan kaki lelah di atasnya,
menyenderkan lengkung punggung,
dan rebahkan diri..


Melihat indahnya langit terjangkau mata batin,
dengan titik bintang yang kurangkai sendiri,
jadi estetika tiada tanding,
kamu.

Wednesday, April 06, 2005

Trilogi


Layangkan pandang pada tubuh,
yang gemetar hingga buluh terasa gempa,
dan semua karna candumu.


Setubuhi aku sebelum terik mengiba,
karena diri ini hanya berisikan kamu,
sampai degup jantung teriakkan namamu.


Lalu setelah itu, tahirkan dengan kecup di pipi,
sebarkan merah dadu yang muncul kala fajar.
Rangkaian intermezzo


Nyeri pada lengan,
yang kian jaga waktu,
tak berontak.
Lemah pada pundak,
yang menopang beban,
sepanjang sejarah.
Letih pada betis,
yang tak henti berlari,
mencari permukaan yang rata.


Aku sudah imun,
tak lagi memaknai derita.
Karena cinta tlah hadir,
atas nama kita.

Monday, April 04, 2005

Indah, tak terucap


Tertera aku,
terlukis kita.


Semakin larutnya kamu,
dan terpenjaranya aku.


Merepih sukar,
sapukan kelikir,
sisakan dahaga rasa,
yang kan terisi nanti.

Sunday, April 03, 2005

Warisan


Suara laut menderu,
begitu tinggi dalam bising.


Keraskan hati,
beratkan telinga,
lekatkan mata,
pupuskan ingin.


Biar aku sembuh dari luka,
yang datang dari pesta pora.
Biar aku bisa berbalik dan pergi,
tinggalkan semua gempita.


Suara laut masih tetap menderu,
tapi aku tak lagi mendengar.
Mercusuar


Menyela kabut, jauh-jauh hari.
Tinggi menjulang dekat semenanjung.
Merah dan putih.


Tidak lebih tinggi dari gedung pencakar langit.
Tidak lebih kuat dari dinding berkubu.
Tidak lebih indah dari istana raja.


Menarikku, mempesonaku,
menerangiku, mengamankanku,
dan kemudian menenangkanku,
hingga akhirnya melelapkanku.
Braile dan namamu


Semalam aku jatuh buta,
tidak karena mati lampu,
ataupun gerhana.


Aku mendadak buta,
karena ujung jariku berbicara,
walau dalam gelap yang kelam.


Satu, dua hingga sepuluh,
memaknai kamu perlahan.
Seakan tengah menyesapmu,
menelusuri namamu dengan huruf Braile!
Linier berulang


Aku dan kamu berkelana,
menapaki lingkar waktu linier,
di atas pelana kuda perkasa.


Kali keseribu dengan pola yang sama,
mungkin ada yang tengah guncangkan buana,
tapi kita tetap melangkah sempurna.


Seakan tak tersentuh cela,
hanya ada tapal yang menipis...

Friday, April 01, 2005

Remah/remeh


Lantunan indahmu terbit,
saat genting datang,
dan kau anggap itu remeh.
Sedangkan buatku itu remah,
yang perlahan membangun,
tak lupa jua meruntuhkan.


Sempatkan waktu,
untuk menggores tinta.
Sederhana perilaku,
yang berakhir sempurna.

Thursday, March 31, 2005

Takarlah bila kau mampu..


Bentang gembiraku takkan cukupi lembaran peta,
bahkan yang terlebar sekalipun,
dengan skala satu banding seribu.


Bintang sunyiku,
kian indah hari-harimu,
dengan kita yang melesak semakin dalam.


Dan lihat, kemarin ada setetes haru.
Meluap dari relung hatimu,
yang kuyakin takkan pernah berdusta.


Lengkung senyum milikmu,
oh sungguh, cukupi lahir batinku,
maka genaplah ransum hidupku!
Masih medio


Pekat yang menyusuri lembaran ini mulai luntur.
Apakah hanya ilusi, atau sungguh debu berterbangan pergi.
Satu dan dua alasan, takkan pernah ada yang percuma.
Bahkan halangan pagar duri setinggi dada!
Puji yang tak pernah surut


Sudahkah kubilang tadi, indahnya kau,
saat berpeluh dalam dekapanku?
Bahkan tandingi kilaunya emas,
di lapisan terakhir pelangi surga.
Mungkin karna rasa yang terpantul,
di bening sepasang matamu.
Tandai adanya aku,
dalam relung hatimu.
Logika rasa


Teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari.
Hati-hati di jalan pulang, sayang..
Kabari aku nanti!


Aku baru menyadari,
kita masing-masing tak pernah pulang.
Bagaimana bisa bila rumah itu,
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?
Percakapan


Cengkerama jantung pada rindu.
Sungguh kau ini merepotkan,
jejali aku dengan tugas yang berat,
tuk memompa lebih aktif dari biasanya.


Bincang rindu pada rasa.
Bukannya gerutu ingin kami sampaikan,
tapi dia lelah dan aku pun penuh harap,
akan sesuatu yang nyaris terluputkan hari ini.


Mereka berceloteh padaku, aku pun teringat.
Lidahku berkeluk, dan terucap lafal...
Aku sayang kamu, dari terbit hingga terbenamnya.
Jangan pernah bosan dengan kalimat itu ya!

Thursday, March 24, 2005

Alkisah usang


Masih redup, belum tiba saatnya,
sinar mentari dalam perjalanan.
Hendak pecahkannya,
bawakan sedikit asa.
Tapi untuk sekarang,
aku hendak nikmati.


Oh, gelora syahdu,
bawakan raut wajah seburam sketsa.
Setetes, dua tetes banyaknya,
yang jenuh dengan bobot perkataan.


Bila nanti kau menimba lafal,
coba kau eja dengan baik.
Takut-takut hatimu tak bisa merasai aku.
Genap hitungan kelam


Sudah kutunggu malam ini.
Malam terang penuh cahya,
berkumpul jadi bulat sempurna.
Diberi nama purnama.


Kukumpulkan mereka disini.
Beruang petarung, beringin kesabaran,
merpati pencinta, teratai kusucian,
pelanduk pemimpi dan padi kebijakan.


Kubawa mereka pada dia,
yang kujadikan tiang totemku.
Pada buanaku yang seluas jagad raya,
dan kusederhanakan atas nama kita.

Wednesday, March 23, 2005

Subur rupamu


Akulah pencocok tanam yang dihujani suka,
saat kulihat tunas yang kusemai tumbuh sempurna.
Pucuk ranum di kiri dan kanan hatimu,
hingga penuh semuanya.


Lalu pada matari dan awan,
kupersembahkan tarian indah nan gemulai.
Untuk sekedar ucapkan syukur,
karena puji-pujian teruntuk kamu seorang!
Kilasan puisi


Mau cemburu,
teriak menggila,
pada ingin yang menggoda!


Tapi pada apa?
Layakkah secarik kertas,
dan tetesan tinta kucemburui?
Atau bahkan a-b-c pada keyboard PC-mu?
Tentu tidak...


Aku hanya begitu cemburu,
pada atmosfer yang fana.
Dan mungkin dia yang entah mana,
yang jadikanmu begitu puitis.


Ah, sungguh putrikah dia,
bahkan di mata dan di sesapmu?
Layaknya kamu di luruhku?

Tuesday, March 22, 2005

Cerita hari sabat


Rupanya malam kurang kelam,
hingga tak selesai semua timbal balik.
Hingga jatuh matari menyapa kecewa,
pada mereka yang berharap percuma.
Meningkap hitungan detik


Tahun-tahun berlari terus,
tanpa kau sadari dia memakan segalanya.
Deo Gratias, pada lemahnya kita,
yang ternyata lekang waktu.
Maujud


Senja berkabut berlian,
luruh dalam tiap gesekan kilat.
Tinggalkan pesonanya melekat erat,
walau tanpa rekonstruksi ingatan.

Sunday, March 20, 2005

Berilah gemuruh tepukan!


Cum laude,
kepada perolehan rasa.
Magna cum laude,
bagi kelaparan asa.
Summa cum laude,
untuk keberhasilan kita!

Saturday, March 19, 2005

Amaris


Kau bisa memikat dara dengan seruling madu,
memanggilnya sedemikian rupa,
dengan keserasian do re mi...


Tapi dia yang datang sukarela,
lalu berdiam dalam perih dan lirih,
tanpa lantunan pelipur pun nyanyian perindu...


Maka dialah yang layak kau sandang,
dalam jenuhnya rasa dan tiap tetesan darah.
Bak percintaan cygnus


Mengambil perisai sesudah terluka,
dan mengacungkan panah yang berdaya.
Sementara rasa sudah terlanjur mekar,
berbunga begitu lebat, tangguhkan musim semi.
Terlambatlah untuk selamatkan aku,
yang memanen suka, hanya karna kerlingan matamu.
Berbaris sebelum lelap


Kau beri spasi pada sukar yang ada,
dan remang pun tak hendak bicara,
terutama saat kau lapangkan cahya.


Bila wajahku adalah cerminan hati,
tentu saat ini aku menjadi terindah,
dari cantik yang pernah tercipta!

Thursday, March 17, 2005

Tertatih dalam jujur


Mengayak aksara dalam keluk lingua,
menampinya sedemikian rupa.
Tidak akan surut asa hidupmu,
selayaknya kisah El Shaddai.
Itulah tanda bijaksana mukim di sukma.

Monday, March 14, 2005

Peridi


Sudah tinggalkan saja,
jangan perdulikan gaduh itu.
Hanya bisingnya mereka,
ia yang bersetubuh dengan waktu,
dalam ruang yang kian membisu.
Tanggalkan semua,
sampai-sampai garis tangan yang membatu.
Oh, jabar!


Pada badai yang menyatakan lingkar merah itu,
ya di keluk lehermu,
ya di gelang tanganmu,
ya di lengkung tapakmu.


Sedikit serpih dalam tiap bulir,
memaksaku urung tuk sembuh.
Persadaku


Aku masih memujamu,
hanya kusiarkan pada dinding tak bertelinga,
yang mampu meredam,
tapi tak kuasa menggemakannya...


Aku masih memujamu,
hanya kubiarkan lirih ini berlarian lepas,
berserak di padang mimpi,
tanpa gembala yang menggiringnya pulang...


Aku memujamu dan masih akan terus,
hanya saja kau tak perlu tahu...

Saturday, March 12, 2005

Khayali


Gambar angan-angan berlompatan,
mengisi lapang di sedikit celah,
tinggalkan semua dalam alkisah.
Masih khatam rupanya...
Silam


Bising otakku,
lemahkan ragaku.
Lari kemanakah mirah delima,
hingga kian meluruh binar matamu?

Wednesday, March 09, 2005

Lontaran fajar


Pada rumput yang hijau,
air yang tenang,
dan badai yang mereda.


Aku tahu pasti berujung dia,
tuk setiap jiwa yang ditahirkan,
dan lembah kekelaman yang disibakkan.
Renta


Dia mencelurkan aku dalam sekejap.
Tinggalkan hatiku menjadi pasir,
hancur luluh di dalam dadaku.
Dayaku pun musnah,
termakan habis sesap mautnya.
Menutuh kelam


Tak pernah terpikir, pun dalam berjenak-jenak.
Tuk menampi pada tiap semilir angin,
berjalan di alur sembarangan.


Anggapan dan layaknya perkataan,
kujadikan poros pegangan.
Seperti aksara yang tak pernah surut,
saat mengeja namamu.
Gema deruji


Sudah suaramu tuk menjerang kemari,
bergulung tanpa henti lingkupi aku.
Ya, aku rasa memang primer.
Lebih dari sekedar aku dan kamu,
bila ingin menghalau semua yang repih.

Friday, March 04, 2005

Syak


Dalil manapun takkan berlaku,
dan dapat dikatakan hangus sudah.
Bila ada yang merangsek merana,
terbakar rasa yang tak kunjung padam.
Swatantra


Belum pernah kutemui dalam tarikh manapun jua,
salju membara dan gurun yang menghijau.
Tak makan dan minum, empat puluh hari lamanya.
Sampai firman diturunkan, sebagai ijin gubahan.
Dua Kata


Terselip pinta yang mungkin tak pantas.
Aku enggan menariknya kembali,
jadi anggap saja itu hanya ranyau.

Monday, February 28, 2005

Maya


Jarak yang sungguh menipu,
karna bola menyala bukanlah matari.
Hampir sama dengan arakan kelabu,
yang tak selalu mega.


Lalu datang sunyi dan sepi,
sisakan serpihan suasana marak.
Jatuh dikala senja tak berwarna jingga,
dan rinai yang mengiringi lazuardi.
Tersiar merata


Seperti ada yang mengerling beku,
pada sudut ruang yang biru.
Mencuri sedikit sinar keemasan,
hingga luruh semua kepantasan.
Wacana rasa


Aku rindu, pada rangkaian kata sederhana,
dijabarkan dengan begitu perkasa,
dan manis yang lebihi nira..
Nama


Tersebutlah mereka semua paksi,
maka tak bebaslah penyair itu dari awan kelabu.
Semata oleh ribuan kepakan sayap,
dan hati yang terluka.
Akur


Kutambahkan do re mi pada seloka.
Agar kau tahu bahwa kau maha indah,
di balik arti bijaknya.
Prolog


Tatapanmu kata,
belaianmu frase,
cumbuanmu kalimat,
penetrasimu tanda seru..


Dalam setiap bincang dan wacana,
sesungguhnya kita telah bercinta!

Thursday, February 24, 2005

365


Cindai sudah mulai lusuh,
dengan warna yang memudar,
dan corak yang usang.
Baru kusadari saat dia terjatuh rentan,
rupanya marak di mataku belum tanggal.

Wednesday, February 23, 2005

Sehelai ambin


Kuharap absah,
untuk sekedar diam.
Akasara kan hilang tertiup bayu,
lembar ingatan kan usang ratusan jenak.
Rasa yang tersimpan beku,
kurasa tidak.
Lepas nadar


Mungkin aku mencandu dirimu.
Pada senyuman yang membius,
dan tatap mata yang menggoda.
Atas lebat alis, coklat kulit,
serta indah lekuk.
Kemarin bertambah satu..
Oleh jatinya dirimu dalam aku,
yang buahkan serentetan orgasme!

Tuesday, February 22, 2005

Putaran keenam


Kau itu syamsu,
dan aku bermuara padamu.
Tak sekedar orbit,
karena nanti akan lelah berputar.
Jadi buang saja lingkaran waktu itu.
Genap


Satu per dua belas kaki,
dua kutub yang berpacu.
Saling bertolak hingga tercipta daya,
dan gaduh yang tandakan netral.
Ada inti yang lebih kuat,
daripada ion sekalipun.

Saturday, February 19, 2005

Kurung tutup


Sahaya duduk merapat,
tanpa hitung penat.
Bernapas seperlunya,
membuka mata bila diminta.
Ingin segera undur diri,
melecut dari derasnya inti.
Astakona


Bila bukan di titik ini,
mungkin nanti di akhir paragraf.
Bisa jadi di penggalan kalimat,
dan juga di sela tarikan nafas.

Friday, February 18, 2005

Harmoni


Kadang aku penat,
bila kagumku terlalu jamak.
Dan apa yang terpantul,
sungguh tak sama rata.


Saat emosiku pasang,
kujajah rasa dengan seberkas ingatan.
Binar matamu yang tak habis dikulum lihatku,
rancangan estetika atas keseluruhanmu,
yang lagi-lagi buatku banjir kata-kata.
Bagas


Mungkin kau belum lepas.
Mungkin kau masih meredam.
Tapi akan aku tunggu,
walau harus membatu disini.
Sampai tibanya kau cintai aku utuh,
dan katakannya dengan lantang.
Seperti kevas yang tegar,
dan mempertahankanku.

Thursday, February 17, 2005

Kita


Melangsi di udara,
aku nyaris tak dapat mendengarnya.
Dengan gerakan secepat kilat,
lapang menyambar disana dan disini,
sungguh tak terbaca.
Hanya dapat dirasa,
jauh terbentuk oleh asa.

Tuesday, February 15, 2005

Dia bercerita..


Tak perlu menilik, sungguh..
Terbaca dengan jelas bukan,
ada kamu yang jati di dalamnya.
Bukan, bukan hanya renjana.
Ya, asa pun turut serta.
Tapi jangan luputkan sang sedu,
karna takut kau berlalu!

Sunday, February 13, 2005

Kalis


Boleh tidak nanti kutukar mirad,
dengan selembar memori tentang kita?
Setelah perai..


Merangkum kamu dalam merdekaku,
seutuh rasa yang terbius tuk pertama kalinya.
Kamu indah, dan teramat indah,
dalam kelangkaanmu..
Utama


Perada yang terbaik selalu untukmu,
entah kau sadari atau tidak.
Demikian pula semua yang merdesa,
tak terhitung berapa banyak.
Kurang jamak


Riuh dalam sepi yang membelenggu,
permainan pikiran yang sungguh suatu trik kuno.
Buat apa menciduk senyum dan tempatkan di bibir?
Masih banyak yang mesti kupikirkan,
di bias mata, di mampatan otak, di nurani terdalam,
masih banyak yang bisa kuisikan senyum..
Trial and error


Jatuh dan terseret,
siapa tahu oleh nasib baik.
Mengubah apa yang telah termaktub,
seiring dengan napas yang terpenggal,
dan memendek.
Malar dalam ingin


Siapa tahu besok tidak ada fajar lagi,
terik meluputkannya seperti secarik derita yang sama.
Jadi nikmati saja apa yang tertera di sini,
tinggi rendahnya angan dan ingin,
sampai tiba batas akhir.

Saturday, February 12, 2005

Spasi


sekerjap,
selintas,
sepenggal,
selembar,
secarik,


asa,
mimpi,
angan,
kisah,
renjana,


aku
kosong...
kamu

Friday, February 11, 2005

View


Dia yang segala saka,
maka kujadikan diri penonton.
Duduk diam nikmati gerak dan laku,
tak ingin sibakkan kelir.
Kelikir


Hujan renikku jadi pendar,
kelilingi rasa yang memudar,
singkirkan semua kelikir..

Wednesday, February 09, 2005

Honesty


Gemilang surya mengendur,
dan aku sibuk menyiasati cahya.
Jatuhkan pilihan pada sang langka,
kejujuran.
Pelakon


Dalam sebuah kisah yang kompleks,
kutemui suatu kejanggalan.
Akan pelakon yang otodidak,
mencanangkan alur yang berbeda,
berlamparan sudah.

Tuesday, February 08, 2005

Kekau


Kekau aku fajar ini,
seperti ada yang melintas hilang..
Ingin mengeriap,
atas perih,
dan lirih
.....
senyap
.....

Sunday, February 06, 2005

Gemertak rasa


Sedikit gemersik,
lalu banyak gemertak..
Disana dan disini,
tinggi dan rendah,
kering dan basah,
semuanya dalam aku..
Peredam lelah


Raga henti menua,
karna tak kupakai hitungan usia..
Untuk aku, kamu dan kita,
waktu tak nyali bergeming..

Thursday, February 03, 2005

Tak muskil


Hatiku sesak, mampat karna kau..
Sosok yang meretas sesuatu yang muskil,
tumbuhkan daya pada lapang yang tandus..
Kau isikan rasa yang utuh padaku..
Sesapan pada orgasme


Sesap dalam khayal pasti yang ternikmat,
itu jauh sebelum aku luruhkan rasa untukmu..
Kini dalam tatap mata yang terjalin,
dan relung yang bertaut,
sungguh ku orgasme!
Gaung


Telah bergeming pilar-pilar angkasa,
karna gaung yang membumi pun dahsyat..
Akan tibanya gema surga dalam tangkapan imaji,
yang kutemukan atas pencapaian terbesarku..
Kamu.

Wednesday, February 02, 2005

Lekap dalam lekang..


Ingin mengudapmu,
telusuri tiap pori yang ada..
Lekapkan aku di rasamu ya,
sampai nanti kita lekang waktu..

Kama, pasti untukmu..


Kamu menyeduh ganjar,
pada tiap kata kama yang kau lontarkan..
Bisikanmu mengumpar sukma,
tinggalkan aku termangu,
dalam haru..

Tuesday, February 01, 2005

Sweet surrender


Penjajahan yang tidak perlu, sayang..
Sudah diberikan sukarela,
sejak berabad-abad yang lalu..
Saat matari sorotkan cahyanya padamu,
yang beri bayang pada yang lain..
Dan kau luruhkan keseluruhanku..
Sepi


Terjentik emosi dalam cakrawala senja ini,
terkelupasnya memori rasa membuatku lirih..
Perih dan teramat sangat dalam,
dengan jejak membiru yang semakin kelam..

Manekin


Manekin yang dihujani kama,
melimpah ruah dengan segala baik yang ada..
Dengan senyum senyata langit biru,
rasanya buyar berserakan..

Sunday, January 30, 2005

Kusam yang minimal..


Tak ada yang minimal,
dalam utuhnya kamu..
Yang kau kira kusam,
nyatanya adalah nirmala..

Saturday, January 29, 2005

Junun


Sebut aku junun,
bergunjing dengan jerih,
bercumbu dengan sukar..


Hanyalah sukma yang meronta,
mengiba dan tak henti mengelik..
Kirai waktu


Ruhku tak bergeming,
mungkin tak bisa,
pun tak ingin..


Biar dihabiskan waktuku saja,
seiring lembaran milik kita,
dengan epilog yang tak bertanda titik..

Thursday, January 27, 2005

Desahan pasir


Penjarakan aku utuh,
dalam riak ombak yang mencumbu pantai,
saat senja aku kan semakin gigih menggapaimu..
Kamu yang sedang berbenturan dengan mayapada,
di sela pasir yang berbisik lirik..
Ataukah ia mendesah?
Frase


Pada kau yang bercumbu begitu mesra pada sepasang telingaku,
susupkan frase yang meliuk-liuk ke ronggaku,
sungguh ku tlah jadikan jejakmu,
membekas, erat, tak lepas..

Wednesday, January 26, 2005

Lukisan imajiku


Gejolak rasa yang teredam pada kanvas,
lengkap dengan sapuan merah meradang,
hanya punya satu tandingan..
Yaitu kamu, yang sempurna dalam lukisan imajiku,
tak luntur oleh guliran waktu..
Lintasan


Mataku lelah,
tapi fikir meronta tuk bicara..
Ia mendesah,
lelah juga berangin-angin,
terbawa lamunan jemu tak henti..


Lalu kutanya,
kau mau apa?
Dan ia menjawab,
jangan jatuhkan pilihan,
terutama berlabuh,
pada mereka yang tak tergapai..
Pegasus


Priaku yang luar biasa,
bagaikan pegasus yang menari,
iringi cahya rembulan..
Semata tuk menjaganya,
bersinar sepanjang malam..

Monday, January 24, 2005

Volume


Jangan takut menjejakkan rasa di lapang dadaku,
sudah kubabat habis lain-lain yang jenuh..
Bilik yang kecil ini sungguh hampir penuh diisikan kamu..
Ringkih


Ingin menggapaimu,
tak terbagi dan utuh..
Tapi rupanya wujudmu masih ringkih,
bisa-bisa nanti kau melayang pergi,
terbawa tiupan bayu..

Sunday, January 23, 2005

missing you..


Kurasakan masih ada sudut relungmu,
mungkin setitik yang belum terjamah rindu,
maka kujaringkan bayu berjengkal-jengkal,
tuk titipkan rasa yang kian menjajah sang senja..
Kata


Pada sebuah janji yang pernah terucap,
detik yang sama kau torehkan nama dan imaji,
pada relung rasa yang takkan pernah luntur..

Saturday, January 22, 2005

Dua baris


Tak ada misteri di balik kelam,
yang ada hanyalah gelap menanti terang..
Aku di tatapmu..


Saat ku masih mereka-reka,
adakah aku di relung rasamu,
terselip di neuron pikirmu,
melayang di alam mimpimu..
Kulihat ku di tatapmu,
setiap kau beranjak tidur,
pun pertama membuka mata..

Friday, January 21, 2005

Waktu


Yang terbilang satu dianggap seribu,
yang terhitung masehi dipastikan detik,
dan nanti aku masih disini,
tak ada yang lebih pasti..
Tear drops


Seperti kelopak yang berat menahan butiran air mata,
pun hati yang kan lega lepaskan bilur yang ada,
langit mendung siapkan renik tuk basahi buana,
dan yang utama tuk penuhi rasa..

Thursday, January 20, 2005

Auf wiedersehen..!!


Biruku yang merah legam,
halusku yang kasar meradang,
indahku yang remuk pun berbekas,
dan rasaku yang patah arang..

Tuesday, January 18, 2005

Dalam hitungan minggu..


Sang pecinta yang luar biasa,
kukira kau hanya memerangkapku,
dalam pesona kepriaan yang tak terbantahkan..
Rupanya kau bekap aku pula,
melalui relung rasa yang teruntuhkan oleh kata-kata..
Mahkota terjatuh untukmu, pertama dan terakhir kali..

Monday, January 17, 2005

Ingatanku


Fajar dengan megah meninggalkan secercah warna,
yang kerap kali ingatkanku padamu..
Sepertinya tadi malam aku benar tertidur,
sembari menahbiskan namamu..
Gerhana


Terik dan mendung tak berjalan beriringan..
Satu sama lain saling mengisi celah awan yang kosong,
berlomba tuk hadirkan getar yang membumi..
Hanya sesekali kau lihat mereka ditengahi atmosfer jingga,
dan itulah senja yang terhitung satu..
Jadi lihatlah mereka yang kan terganti,
bahkan tanpa senja perlu tahu siapa mereka itu..
Karena telah dibuat gerhana total, hanya untukmu!
Rindu senja


Kau yang terlintas di kala senja,
mengisi rindu hingga batas maksimal..
Neuronku tak mampu mencipta kau yang utuh,
dalam satu pun dua rangkaian lembar ingatan..
Rupanya rinduku tlah berbuah dan berlipat ganda..

Tampias duka


Tak dinyana kulihat bunda berkerudung duka,
sekadar memperingan apa yang telah tertera di sana..
Dalam hidup buah hatinya,
yang tak urung terjadi bencana..


Menggiring bayu


Aku lelah dengan permainan menggiring bayu ini,
bertiup kesana kemari, ikuti alur yang tak pasti..
Bila merengkuhmu saja sudah memakan separuh jiwaku,
letih lah aku bila kini kau baru memulainya..
Aku tak ingin menanggung rasa yang tak terbersit,
karena tiada menang pun kalah di dalamnya,
walau rasioku jelas terbinasakan sang rasa mengenaimu..
Asal muaranya..


Telah kuluruhkan keanggunan yang ada tuk kamu,
kulahirkan lengkung senyum termurni dari lubuk rasa,
bahkan tunggal dari yang pernah ada..
Kurasa itu belum cukup dan mungkin tak akan,
sampai jatuhnya guliran yang bermuara di sudut mata..
Kurangkah aku limpahkan rasa padamu?
Kilau


Kerlingan perak rembulan sungguh tak pantas untukmu,
pun ribuan aura langit yang tak sanggup buatmu berpaling..
Lalu untuk apa kau ringankan beban,
pada telaga yang berpantulkan rembulan,
serta lukiskan semburat warna langit?
Sama seperti memberi angin pada sumber mata air..
Torehan rasa


Aku melelehkan gunung es,
menunggunya mengalir setetes demi setetes,
menyusuri lekuk dataran,
dan aku menyatu menjadi air..
Tak pernah terbersit untuk menjadikannya berbeda,
karena ia adalah ia sebagaimana mestinya..
Tapi langit tak berbelas kasih,
runtuhkan terik tanpa henti,
mungkinkah kini ia menguap?

Saturday, January 15, 2005

Siluet


Tak pernah kusangka kau semahir itu,
terutama dalam membaca diriku..
Tapi bisakah kau lihat pantulan di mataku?
Siluetmu sungguh berbalas nirwana..
Seorang matari milikku..


Matariku, seakan ringan bercahaya,
dengan permainan sinar yang hanya perduli waktu..
Terlihat jelas dengan sepasang mataku,
begitu megah dalam jarak terjauh..
Itu sebabnya aku sangat memuja senja,
di balik bukit aku bertemu dengan matari,
yang tak henti meredup jingga..
Tinggalkan aku di suatu masa,
dengan matari yang kutelan bulat-bulat,
dan berakhir di hatiku..
Tanpa tanda titik..


Tak pernah selintasan mimpi ini berhenti merajuk,
menggelitik nurani, membius logika,
semata tuk suburkan rasa..
Apa jadinya nanti sang senja tanpa hujan renik?
Kuharap titik itu takkan pernah tiba..
Mahkota rasa


Pada lubuk rasa yang terkadang lelah bercinta,
tak pernah ada yang singgah begitu mendalam..
Selepas musim berganti, rasa yang dimiliki turut gugur..
Dan itu adalah kenangan bagi si lubuk rasa..


Sampai datang anak kunci yang tunggal,
dengan lekuk yang sempurna dan waktu yang tepat..
Saat itulah segenap jiwa dikerahkan,
untuk mencintai seorang kamu..

Thursday, January 13, 2005

Plot yang pernah tercipta


Aku, jarak, dan kamu..
Waktu lalu menyela masuk,
tinggalkan corat coret disana-sini,
termasuk di relung rasaku..


Aku, jarak, dan kamu..
Masih ingatkah kartu yang kuberi?
Sungguh ingin aku melipat jarak yang terbentang..


Aku, jarak, dan kamu..
Waktu masih terus mengganggu,
mondar-mandir kesana dan kesini,
aku menarik nafas, mencoba tuk bersabar..


Aku, jarak yang mulai bosan, dan kamu..
Ah, terima kasih langit karna sudi turunkan kau..
Hiasi senja indahku dengan renik yang luar biasa..


Aku, jarak yang sudah lari, dan kamu!
Sekarang semua tinggal aku dan kamu..
Lalu muncullah kata kita, dan kita, lalu kita,
selamanya kita..
Tentang kita


Sejurus yang tak pernah jeda,
sabarku yang tak bernihil..
Rupanya sang waktu telah berbaik hati,
membekukan hari-harinya sejenak,
dan membiarkanku tenggelam dalam cerita kita..

Untuk sang pecinta senja..


Kalau ada pahatan yang nyaris sempurna,
teriring di dalamnya sebuah jiwa yang murni,
tak pernah terpikirkan sosok lainnya..
Karena itu semua terwakilkan oleh kau..

Wednesday, January 12, 2005

Beda aku dan mereka..


Carilah sudut terbaik dari keindahannya,
dan tuangkanlah dalam frame yang sempurna..
Tapi hanya aku, dan jadikan selalu aku,
yang tertangkap dalam rasa gemuruh di dadamu..


Monday, January 10, 2005

Seorang hujan renik..


Kau yang hadir di tengah hujan renik,
takkan kubiarkan kau menguap saat matari datang,
terutama setelah kau basahi sekujur poriku..
Aku tak tahu apakah kehadiranmu terencana,
ataukah massa awan yang menggiringmu padaku..
Tapi sungguh kau dapat bernaung padaku,
selama yang kau mau..
Heaven Borrowed


Saat pertama kali melihatmu, mataku perih..
Mungkinkah ada pria yang tercipta begitu sempurna?
Saat mengenalmu, hatiku nyeri..
Melihat jarak yang terbentang dan tak mampu kulipat..
Saat mencintaimu, hatiku bergemuruh..
Akan rasa yang menghidupkanku kembali..
Saat memilikimu, saat ini maksudku..
Tak kuduga surga berada begitu dekat..

Sunday, January 09, 2005

Tiga rangkaian rasa


Pertama,
aku merindukanmu,
tidak tergelitikkah kau disana,
dengan rasa yang menjalar begitu perkasanya?


Kedua,
minutes and hours,
day and night, over and over..
It is all made by human,
but why and why I miss you so much?


Dan ketiga,
memilih adalah sulit,
walau logika dan rasa adalah dua hal yang sama benar!
Putaran waktu


Tiada jarak yang terlalu jauh,
bagi senja untuk menemukan hujan renik..
Dalam putaran waktu semu yang semakin kencang,
disitulah alam kusibak dengan getir yang mendalam..
Just a thought..


Aku cemburu pada duniamu,
pada para pelaku didalamnya,
pada dingin yang menemani lirihmu,
pada hujan yang nyaris meresap di tubuhmu,
dan lucunya..pada lensa kameramu!

Saturday, January 08, 2005

5.00 pm


Kecintaan senja pada hujan renik,
usai sudah dengan pengingkarannya..
Setelah berkali-kali bersatu pada titik kebetulan,
akhirnya senja menemui titik cerah..
Kini senja semakin mendalam,
memberikan lengkung terbaiknya,
tepat saat hujan renik menyentuh permukaan buana..

Friday, January 07, 2005

Senja kah?


Aku ini senja,
yang ingin hadir di hidupmu..
Baik seusai terik yang membakar,
pun sebelum malam yang kelam..
Tapi jangan khawatir,
aku bisa bertransformasi..
Menyulap wujudku menjadi apa pun jua,
dan kapan pun jua..
Karena aku bukanlah aku,
tanpa seorang kamu..
Kisses


Tolong beritahukan bagaimana caranya,
untuk makan melalui telinga,
dan minum melalui hidung..
Aku tak ingin hapuskan kamu,
yang teraroma dan terasa di bibirku..
Beda yang jamak


Kukira ku tiada berbeda,
karena kau yang tiada bercela..
Tapi telah jatuh musim yang berbeda,
yang tunjukkan hasil selontaran doa..