Manifestasi fisik
Ya, ambillah belati berlumur racun itu,
tancapkan ke jantungku tanpa ragu.
Lalu bilaslah tanganmu dan segera berkemas,
jangan lupa kenakan kasut di kedua kakimu.
Mulailah berjalan dari tarsus hingga memfis,
tuk temukan sungai tigris.
Perempuan Senja. Suka menulis sejak mengerti S-P-O-K. Hanya saja sekarang K berganti rupa jadi Kamu. Punya hubungan cinta benci dengan tulisan, rasa dan kenangan.
Sunday, April 24, 2005
Aku asyera, aku amaris
Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.
Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.
Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Indera
Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Insomnia
Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.
Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.
Saturday, April 23, 2005
Pasir, hujan dan cinta
Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?
Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.
Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?
Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.
Thursday, April 21, 2005
Animae dimidium meae
Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Manusia dan kami
Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.
Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.
Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.
Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.
Wednesday, April 20, 2005
Sebuah nama
Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Catatan kecil
Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Ugahari
Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.
Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.
Tuesday, April 19, 2005
Lebih dari cinta
Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.
Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.
Monday, April 18, 2005
Menuju gembur
Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.
Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.
Sunday, April 17, 2005
Loncatan
Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Tambalan hati
Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Ikebana
Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Kanan dan kiri
Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.
Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.
Saturday, April 16, 2005
::tempoe doeloe::
Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Versi
Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.
Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.
Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Pria Amerika-ku
Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.
Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.
Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.
Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.
Thursday, April 14, 2005
Sekarang dan nanti
Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Kuntum
Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.
Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.
Tuesday, April 12, 2005
[cinta??]
Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.
Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.
Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
2 + 1
Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.
Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.
Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.
Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.
Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Penanggalan kesepuluh
Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.
Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.
Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Ikatan
Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Hanya prolog
Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.
Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.
Aku, termangu...
Dia yang satu,
di atas langit biru,
bertitah penuh haru,
akan mereka yang bisu.
Dia yang satu,
di atas langit biru,
bertitah penuh haru,
akan mereka yang bisu.
Saturday, April 09, 2005
Kosa kata rindu
Kecapiku bermain sempurna,
dalam keluk jemari seorang pecinta.
Tanpa debur jantung yang pasti,
karna disitulah misteri terindah.
Pertautan rindu yang bertahta atas namanya,
terasa lebih mematikan dari genderang perang.
Ditabuh, bertabuh dan menabuhkan,
seirama degup jantung yang lebih dari sekedar bertalu.
Kecapiku bermain sempurna,
dalam keluk jemari seorang pecinta.
Tanpa debur jantung yang pasti,
karna disitulah misteri terindah.
Pertautan rindu yang bertahta atas namanya,
terasa lebih mematikan dari genderang perang.
Ditabuh, bertabuh dan menabuhkan,
seirama degup jantung yang lebih dari sekedar bertalu.
Tik tok yang terhenti
Tak pantas kau turutkan ranggas dalam jalinan frase,
karna hangat dan beku datang bersamaan,
dan berulang terus dalam sedetik pertemuan.
Aku yang hangat, kau kecup kau cumbu.
Waktu yang beku, kau jarah, kau repih.
Kita yang masih tetap berjalan,
walau di luar lingkar waktu.
Tak pantas kau turutkan ranggas dalam jalinan frase,
karna hangat dan beku datang bersamaan,
dan berulang terus dalam sedetik pertemuan.
Aku yang hangat, kau kecup kau cumbu.
Waktu yang beku, kau jarah, kau repih.
Kita yang masih tetap berjalan,
walau di luar lingkar waktu.
Warna
Sutera jingga di balik perak rembulan,
berubah warna jadi kelabu menghitam.
Seharusnya putih, mungkin sedikit tembus pandang.
Ya, selayaknya itu adalah murni.
Sutera jingga di balik perak rembulan,
berubah warna jadi kelabu menghitam.
Seharusnya putih, mungkin sedikit tembus pandang.
Ya, selayaknya itu adalah murni.
Orionku
Purnama nyaris menghilang,
maka kutarik dataran buana,
menumpukan kaki lelah di atasnya,
menyenderkan lengkung punggung,
dan rebahkan diri..
Melihat indahnya langit terjangkau mata batin,
dengan titik bintang yang kurangkai sendiri,
jadi estetika tiada tanding,
kamu.
Purnama nyaris menghilang,
maka kutarik dataran buana,
menumpukan kaki lelah di atasnya,
menyenderkan lengkung punggung,
dan rebahkan diri..
Melihat indahnya langit terjangkau mata batin,
dengan titik bintang yang kurangkai sendiri,
jadi estetika tiada tanding,
kamu.
Wednesday, April 06, 2005
Trilogi
Layangkan pandang pada tubuh,
yang gemetar hingga buluh terasa gempa,
dan semua karna candumu.
Setubuhi aku sebelum terik mengiba,
karena diri ini hanya berisikan kamu,
sampai degup jantung teriakkan namamu.
Lalu setelah itu, tahirkan dengan kecup di pipi,
sebarkan merah dadu yang muncul kala fajar.
Layangkan pandang pada tubuh,
yang gemetar hingga buluh terasa gempa,
dan semua karna candumu.
Setubuhi aku sebelum terik mengiba,
karena diri ini hanya berisikan kamu,
sampai degup jantung teriakkan namamu.
Lalu setelah itu, tahirkan dengan kecup di pipi,
sebarkan merah dadu yang muncul kala fajar.
Rangkaian intermezzo
Nyeri pada lengan,
yang kian jaga waktu,
tak berontak.
Lemah pada pundak,
yang menopang beban,
sepanjang sejarah.
Letih pada betis,
yang tak henti berlari,
mencari permukaan yang rata.
Aku sudah imun,
tak lagi memaknai derita.
Karena cinta tlah hadir,
atas nama kita.
Nyeri pada lengan,
yang kian jaga waktu,
tak berontak.
Lemah pada pundak,
yang menopang beban,
sepanjang sejarah.
Letih pada betis,
yang tak henti berlari,
mencari permukaan yang rata.
Aku sudah imun,
tak lagi memaknai derita.
Karena cinta tlah hadir,
atas nama kita.
Monday, April 04, 2005
Indah, tak terucap
Tertera aku,
terlukis kita.
Semakin larutnya kamu,
dan terpenjaranya aku.
Merepih sukar,
sapukan kelikir,
sisakan dahaga rasa,
yang kan terisi nanti.
Tertera aku,
terlukis kita.
Semakin larutnya kamu,
dan terpenjaranya aku.
Merepih sukar,
sapukan kelikir,
sisakan dahaga rasa,
yang kan terisi nanti.
Sunday, April 03, 2005
Warisan
Suara laut menderu,
begitu tinggi dalam bising.
Keraskan hati,
beratkan telinga,
lekatkan mata,
pupuskan ingin.
Biar aku sembuh dari luka,
yang datang dari pesta pora.
Biar aku bisa berbalik dan pergi,
tinggalkan semua gempita.
Suara laut masih tetap menderu,
tapi aku tak lagi mendengar.
Suara laut menderu,
begitu tinggi dalam bising.
Keraskan hati,
beratkan telinga,
lekatkan mata,
pupuskan ingin.
Biar aku sembuh dari luka,
yang datang dari pesta pora.
Biar aku bisa berbalik dan pergi,
tinggalkan semua gempita.
Suara laut masih tetap menderu,
tapi aku tak lagi mendengar.
Mercusuar
Menyela kabut, jauh-jauh hari.
Tinggi menjulang dekat semenanjung.
Merah dan putih.
Tidak lebih tinggi dari gedung pencakar langit.
Tidak lebih kuat dari dinding berkubu.
Tidak lebih indah dari istana raja.
Menarikku, mempesonaku,
menerangiku, mengamankanku,
dan kemudian menenangkanku,
hingga akhirnya melelapkanku.
Menyela kabut, jauh-jauh hari.
Tinggi menjulang dekat semenanjung.
Merah dan putih.
Tidak lebih tinggi dari gedung pencakar langit.
Tidak lebih kuat dari dinding berkubu.
Tidak lebih indah dari istana raja.
Menarikku, mempesonaku,
menerangiku, mengamankanku,
dan kemudian menenangkanku,
hingga akhirnya melelapkanku.
Braile dan namamu
Semalam aku jatuh buta,
tidak karena mati lampu,
ataupun gerhana.
Aku mendadak buta,
karena ujung jariku berbicara,
walau dalam gelap yang kelam.
Satu, dua hingga sepuluh,
memaknai kamu perlahan.
Seakan tengah menyesapmu,
menelusuri namamu dengan huruf Braile!
Semalam aku jatuh buta,
tidak karena mati lampu,
ataupun gerhana.
Aku mendadak buta,
karena ujung jariku berbicara,
walau dalam gelap yang kelam.
Satu, dua hingga sepuluh,
memaknai kamu perlahan.
Seakan tengah menyesapmu,
menelusuri namamu dengan huruf Braile!
Linier berulang
Aku dan kamu berkelana,
menapaki lingkar waktu linier,
di atas pelana kuda perkasa.
Kali keseribu dengan pola yang sama,
mungkin ada yang tengah guncangkan buana,
tapi kita tetap melangkah sempurna.
Seakan tak tersentuh cela,
hanya ada tapal yang menipis...
Aku dan kamu berkelana,
menapaki lingkar waktu linier,
di atas pelana kuda perkasa.
Kali keseribu dengan pola yang sama,
mungkin ada yang tengah guncangkan buana,
tapi kita tetap melangkah sempurna.
Seakan tak tersentuh cela,
hanya ada tapal yang menipis...
Friday, April 01, 2005
Remah/remeh
Lantunan indahmu terbit,
saat genting datang,
dan kau anggap itu remeh.
Sedangkan buatku itu remah,
yang perlahan membangun,
tak lupa jua meruntuhkan.
Sempatkan waktu,
untuk menggores tinta.
Sederhana perilaku,
yang berakhir sempurna.
Lantunan indahmu terbit,
saat genting datang,
dan kau anggap itu remeh.
Sedangkan buatku itu remah,
yang perlahan membangun,
tak lupa jua meruntuhkan.
Sempatkan waktu,
untuk menggores tinta.
Sederhana perilaku,
yang berakhir sempurna.
Thursday, March 31, 2005
Takarlah bila kau mampu..
Bentang gembiraku takkan cukupi lembaran peta,
bahkan yang terlebar sekalipun,
dengan skala satu banding seribu.
Bintang sunyiku,
kian indah hari-harimu,
dengan kita yang melesak semakin dalam.
Dan lihat, kemarin ada setetes haru.
Meluap dari relung hatimu,
yang kuyakin takkan pernah berdusta.
Lengkung senyum milikmu,
oh sungguh, cukupi lahir batinku,
maka genaplah ransum hidupku!
Bentang gembiraku takkan cukupi lembaran peta,
bahkan yang terlebar sekalipun,
dengan skala satu banding seribu.
Bintang sunyiku,
kian indah hari-harimu,
dengan kita yang melesak semakin dalam.
Dan lihat, kemarin ada setetes haru.
Meluap dari relung hatimu,
yang kuyakin takkan pernah berdusta.
Lengkung senyum milikmu,
oh sungguh, cukupi lahir batinku,
maka genaplah ransum hidupku!
Masih medio
Pekat yang menyusuri lembaran ini mulai luntur.
Apakah hanya ilusi, atau sungguh debu berterbangan pergi.
Satu dan dua alasan, takkan pernah ada yang percuma.
Bahkan halangan pagar duri setinggi dada!
Pekat yang menyusuri lembaran ini mulai luntur.
Apakah hanya ilusi, atau sungguh debu berterbangan pergi.
Satu dan dua alasan, takkan pernah ada yang percuma.
Bahkan halangan pagar duri setinggi dada!
Puji yang tak pernah surut
Sudahkah kubilang tadi, indahnya kau,
saat berpeluh dalam dekapanku?
Bahkan tandingi kilaunya emas,
di lapisan terakhir pelangi surga.
Mungkin karna rasa yang terpantul,
di bening sepasang matamu.
Tandai adanya aku,
dalam relung hatimu.
Sudahkah kubilang tadi, indahnya kau,
saat berpeluh dalam dekapanku?
Bahkan tandingi kilaunya emas,
di lapisan terakhir pelangi surga.
Mungkin karna rasa yang terpantul,
di bening sepasang matamu.
Tandai adanya aku,
dalam relung hatimu.
Logika rasa
Teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari.
Hati-hati di jalan pulang, sayang..
Kabari aku nanti!
Aku baru menyadari,
kita masing-masing tak pernah pulang.
Bagaimana bisa bila rumah itu,
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?
Teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari.
Hati-hati di jalan pulang, sayang..
Kabari aku nanti!
Aku baru menyadari,
kita masing-masing tak pernah pulang.
Bagaimana bisa bila rumah itu,
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?
Percakapan
Cengkerama jantung pada rindu.
Sungguh kau ini merepotkan,
jejali aku dengan tugas yang berat,
tuk memompa lebih aktif dari biasanya.
Bincang rindu pada rasa.
Bukannya gerutu ingin kami sampaikan,
tapi dia lelah dan aku pun penuh harap,
akan sesuatu yang nyaris terluputkan hari ini.
Mereka berceloteh padaku, aku pun teringat.
Lidahku berkeluk, dan terucap lafal...
Aku sayang kamu, dari terbit hingga terbenamnya.
Jangan pernah bosan dengan kalimat itu ya!
Cengkerama jantung pada rindu.
Sungguh kau ini merepotkan,
jejali aku dengan tugas yang berat,
tuk memompa lebih aktif dari biasanya.
Bincang rindu pada rasa.
Bukannya gerutu ingin kami sampaikan,
tapi dia lelah dan aku pun penuh harap,
akan sesuatu yang nyaris terluputkan hari ini.
Mereka berceloteh padaku, aku pun teringat.
Lidahku berkeluk, dan terucap lafal...
Aku sayang kamu, dari terbit hingga terbenamnya.
Jangan pernah bosan dengan kalimat itu ya!
Thursday, March 24, 2005
Alkisah usang
Masih redup, belum tiba saatnya,
sinar mentari dalam perjalanan.
Hendak pecahkannya,
bawakan sedikit asa.
Tapi untuk sekarang,
aku hendak nikmati.
Oh, gelora syahdu,
bawakan raut wajah seburam sketsa.
Setetes, dua tetes banyaknya,
yang jenuh dengan bobot perkataan.
Bila nanti kau menimba lafal,
coba kau eja dengan baik.
Takut-takut hatimu tak bisa merasai aku.
Masih redup, belum tiba saatnya,
sinar mentari dalam perjalanan.
Hendak pecahkannya,
bawakan sedikit asa.
Tapi untuk sekarang,
aku hendak nikmati.
Oh, gelora syahdu,
bawakan raut wajah seburam sketsa.
Setetes, dua tetes banyaknya,
yang jenuh dengan bobot perkataan.
Bila nanti kau menimba lafal,
coba kau eja dengan baik.
Takut-takut hatimu tak bisa merasai aku.
Genap hitungan kelam
Sudah kutunggu malam ini.
Malam terang penuh cahya,
berkumpul jadi bulat sempurna.
Diberi nama purnama.
Kukumpulkan mereka disini.
Beruang petarung, beringin kesabaran,
merpati pencinta, teratai kusucian,
pelanduk pemimpi dan padi kebijakan.
Kubawa mereka pada dia,
yang kujadikan tiang totemku.
Pada buanaku yang seluas jagad raya,
dan kusederhanakan atas nama kita.
Sudah kutunggu malam ini.
Malam terang penuh cahya,
berkumpul jadi bulat sempurna.
Diberi nama purnama.
Kukumpulkan mereka disini.
Beruang petarung, beringin kesabaran,
merpati pencinta, teratai kusucian,
pelanduk pemimpi dan padi kebijakan.
Kubawa mereka pada dia,
yang kujadikan tiang totemku.
Pada buanaku yang seluas jagad raya,
dan kusederhanakan atas nama kita.
Wednesday, March 23, 2005
Subur rupamu
Akulah pencocok tanam yang dihujani suka,
saat kulihat tunas yang kusemai tumbuh sempurna.
Pucuk ranum di kiri dan kanan hatimu,
hingga penuh semuanya.
Lalu pada matari dan awan,
kupersembahkan tarian indah nan gemulai.
Untuk sekedar ucapkan syukur,
karena puji-pujian teruntuk kamu seorang!
Akulah pencocok tanam yang dihujani suka,
saat kulihat tunas yang kusemai tumbuh sempurna.
Pucuk ranum di kiri dan kanan hatimu,
hingga penuh semuanya.
Lalu pada matari dan awan,
kupersembahkan tarian indah nan gemulai.
Untuk sekedar ucapkan syukur,
karena puji-pujian teruntuk kamu seorang!
Kilasan puisi
Mau cemburu,
teriak menggila,
pada ingin yang menggoda!
Tapi pada apa?
Layakkah secarik kertas,
dan tetesan tinta kucemburui?
Atau bahkan a-b-c pada keyboard PC-mu?
Tentu tidak...
Aku hanya begitu cemburu,
pada atmosfer yang fana.
Dan mungkin dia yang entah mana,
yang jadikanmu begitu puitis.
Ah, sungguh putrikah dia,
bahkan di mata dan di sesapmu?
Layaknya kamu di luruhku?
Mau cemburu,
teriak menggila,
pada ingin yang menggoda!
Tapi pada apa?
Layakkah secarik kertas,
dan tetesan tinta kucemburui?
Atau bahkan a-b-c pada keyboard PC-mu?
Tentu tidak...
Aku hanya begitu cemburu,
pada atmosfer yang fana.
Dan mungkin dia yang entah mana,
yang jadikanmu begitu puitis.
Ah, sungguh putrikah dia,
bahkan di mata dan di sesapmu?
Layaknya kamu di luruhku?
Tuesday, March 22, 2005
Cerita hari sabat
Rupanya malam kurang kelam,
hingga tak selesai semua timbal balik.
Hingga jatuh matari menyapa kecewa,
pada mereka yang berharap percuma.
Rupanya malam kurang kelam,
hingga tak selesai semua timbal balik.
Hingga jatuh matari menyapa kecewa,
pada mereka yang berharap percuma.
Meningkap hitungan detik
Tahun-tahun berlari terus,
tanpa kau sadari dia memakan segalanya.
Deo Gratias, pada lemahnya kita,
yang ternyata lekang waktu.
Tahun-tahun berlari terus,
tanpa kau sadari dia memakan segalanya.
Deo Gratias, pada lemahnya kita,
yang ternyata lekang waktu.
Maujud
Senja berkabut berlian,
luruh dalam tiap gesekan kilat.
Tinggalkan pesonanya melekat erat,
walau tanpa rekonstruksi ingatan.
Senja berkabut berlian,
luruh dalam tiap gesekan kilat.
Tinggalkan pesonanya melekat erat,
walau tanpa rekonstruksi ingatan.
Sunday, March 20, 2005
Berilah gemuruh tepukan!
Cum laude,
kepada perolehan rasa.
Magna cum laude,
bagi kelaparan asa.
Summa cum laude,
untuk keberhasilan kita!
Cum laude,
kepada perolehan rasa.
Magna cum laude,
bagi kelaparan asa.
Summa cum laude,
untuk keberhasilan kita!
Saturday, March 19, 2005
Amaris
Kau bisa memikat dara dengan seruling madu,
memanggilnya sedemikian rupa,
dengan keserasian do re mi...
Tapi dia yang datang sukarela,
lalu berdiam dalam perih dan lirih,
tanpa lantunan pelipur pun nyanyian perindu...
Maka dialah yang layak kau sandang,
dalam jenuhnya rasa dan tiap tetesan darah.
Kau bisa memikat dara dengan seruling madu,
memanggilnya sedemikian rupa,
dengan keserasian do re mi...
Tapi dia yang datang sukarela,
lalu berdiam dalam perih dan lirih,
tanpa lantunan pelipur pun nyanyian perindu...
Maka dialah yang layak kau sandang,
dalam jenuhnya rasa dan tiap tetesan darah.
Bak percintaan cygnus
Mengambil perisai sesudah terluka,
dan mengacungkan panah yang berdaya.
Sementara rasa sudah terlanjur mekar,
berbunga begitu lebat, tangguhkan musim semi.
Terlambatlah untuk selamatkan aku,
yang memanen suka, hanya karna kerlingan matamu.
Mengambil perisai sesudah terluka,
dan mengacungkan panah yang berdaya.
Sementara rasa sudah terlanjur mekar,
berbunga begitu lebat, tangguhkan musim semi.
Terlambatlah untuk selamatkan aku,
yang memanen suka, hanya karna kerlingan matamu.
Berbaris sebelum lelap
Kau beri spasi pada sukar yang ada,
dan remang pun tak hendak bicara,
terutama saat kau lapangkan cahya.
Bila wajahku adalah cerminan hati,
tentu saat ini aku menjadi terindah,
dari cantik yang pernah tercipta!
Kau beri spasi pada sukar yang ada,
dan remang pun tak hendak bicara,
terutama saat kau lapangkan cahya.
Bila wajahku adalah cerminan hati,
tentu saat ini aku menjadi terindah,
dari cantik yang pernah tercipta!
Thursday, March 17, 2005
Tertatih dalam jujur
Mengayak aksara dalam keluk lingua,
menampinya sedemikian rupa.
Tidak akan surut asa hidupmu,
selayaknya kisah El Shaddai.
Itulah tanda bijaksana mukim di sukma.
Mengayak aksara dalam keluk lingua,
menampinya sedemikian rupa.
Tidak akan surut asa hidupmu,
selayaknya kisah El Shaddai.
Itulah tanda bijaksana mukim di sukma.
Monday, March 14, 2005
Peridi
Sudah tinggalkan saja,
jangan perdulikan gaduh itu.
Hanya bisingnya mereka,
ia yang bersetubuh dengan waktu,
dalam ruang yang kian membisu.
Tanggalkan semua,
sampai-sampai garis tangan yang membatu.
Sudah tinggalkan saja,
jangan perdulikan gaduh itu.
Hanya bisingnya mereka,
ia yang bersetubuh dengan waktu,
dalam ruang yang kian membisu.
Tanggalkan semua,
sampai-sampai garis tangan yang membatu.
Oh, jabar!
Pada badai yang menyatakan lingkar merah itu,
ya di keluk lehermu,
ya di gelang tanganmu,
ya di lengkung tapakmu.
Sedikit serpih dalam tiap bulir,
memaksaku urung tuk sembuh.
Pada badai yang menyatakan lingkar merah itu,
ya di keluk lehermu,
ya di gelang tanganmu,
ya di lengkung tapakmu.
Sedikit serpih dalam tiap bulir,
memaksaku urung tuk sembuh.
Persadaku
Aku masih memujamu,
hanya kusiarkan pada dinding tak bertelinga,
yang mampu meredam,
tapi tak kuasa menggemakannya...
Aku masih memujamu,
hanya kubiarkan lirih ini berlarian lepas,
berserak di padang mimpi,
tanpa gembala yang menggiringnya pulang...
Aku memujamu dan masih akan terus,
hanya saja kau tak perlu tahu...
Aku masih memujamu,
hanya kusiarkan pada dinding tak bertelinga,
yang mampu meredam,
tapi tak kuasa menggemakannya...
Aku masih memujamu,
hanya kubiarkan lirih ini berlarian lepas,
berserak di padang mimpi,
tanpa gembala yang menggiringnya pulang...
Aku memujamu dan masih akan terus,
hanya saja kau tak perlu tahu...
Saturday, March 12, 2005
Khayali
Gambar angan-angan berlompatan,
mengisi lapang di sedikit celah,
tinggalkan semua dalam alkisah.
Masih khatam rupanya...
Gambar angan-angan berlompatan,
mengisi lapang di sedikit celah,
tinggalkan semua dalam alkisah.
Masih khatam rupanya...
Silam
Bising otakku,
lemahkan ragaku.
Lari kemanakah mirah delima,
hingga kian meluruh binar matamu?
Bising otakku,
lemahkan ragaku.
Lari kemanakah mirah delima,
hingga kian meluruh binar matamu?
Wednesday, March 09, 2005
Lontaran fajar
Pada rumput yang hijau,
air yang tenang,
dan badai yang mereda.
Aku tahu pasti berujung dia,
tuk setiap jiwa yang ditahirkan,
dan lembah kekelaman yang disibakkan.
Pada rumput yang hijau,
air yang tenang,
dan badai yang mereda.
Aku tahu pasti berujung dia,
tuk setiap jiwa yang ditahirkan,
dan lembah kekelaman yang disibakkan.
Renta
Dia mencelurkan aku dalam sekejap.
Tinggalkan hatiku menjadi pasir,
hancur luluh di dalam dadaku.
Dayaku pun musnah,
termakan habis sesap mautnya.
Dia mencelurkan aku dalam sekejap.
Tinggalkan hatiku menjadi pasir,
hancur luluh di dalam dadaku.
Dayaku pun musnah,
termakan habis sesap mautnya.
Menutuh kelam
Tak pernah terpikir, pun dalam berjenak-jenak.
Tuk menampi pada tiap semilir angin,
berjalan di alur sembarangan.
Anggapan dan layaknya perkataan,
kujadikan poros pegangan.
Seperti aksara yang tak pernah surut,
saat mengeja namamu.
Tak pernah terpikir, pun dalam berjenak-jenak.
Tuk menampi pada tiap semilir angin,
berjalan di alur sembarangan.
Anggapan dan layaknya perkataan,
kujadikan poros pegangan.
Seperti aksara yang tak pernah surut,
saat mengeja namamu.
Gema deruji
Sudah suaramu tuk menjerang kemari,
bergulung tanpa henti lingkupi aku.
Ya, aku rasa memang primer.
Lebih dari sekedar aku dan kamu,
bila ingin menghalau semua yang repih.
Sudah suaramu tuk menjerang kemari,
bergulung tanpa henti lingkupi aku.
Ya, aku rasa memang primer.
Lebih dari sekedar aku dan kamu,
bila ingin menghalau semua yang repih.
Friday, March 04, 2005
Syak
Dalil manapun takkan berlaku,
dan dapat dikatakan hangus sudah.
Bila ada yang merangsek merana,
terbakar rasa yang tak kunjung padam.
Dalil manapun takkan berlaku,
dan dapat dikatakan hangus sudah.
Bila ada yang merangsek merana,
terbakar rasa yang tak kunjung padam.
Swatantra
Belum pernah kutemui dalam tarikh manapun jua,
salju membara dan gurun yang menghijau.
Tak makan dan minum, empat puluh hari lamanya.
Sampai firman diturunkan, sebagai ijin gubahan.
Belum pernah kutemui dalam tarikh manapun jua,
salju membara dan gurun yang menghijau.
Tak makan dan minum, empat puluh hari lamanya.
Sampai firman diturunkan, sebagai ijin gubahan.
Dua Kata
Terselip pinta yang mungkin tak pantas.
Aku enggan menariknya kembali,
jadi anggap saja itu hanya ranyau.
Terselip pinta yang mungkin tak pantas.
Aku enggan menariknya kembali,
jadi anggap saja itu hanya ranyau.
Monday, February 28, 2005
Maya
Jarak yang sungguh menipu,
karna bola menyala bukanlah matari.
Hampir sama dengan arakan kelabu,
yang tak selalu mega.
Lalu datang sunyi dan sepi,
sisakan serpihan suasana marak.
Jatuh dikala senja tak berwarna jingga,
dan rinai yang mengiringi lazuardi.
Jarak yang sungguh menipu,
karna bola menyala bukanlah matari.
Hampir sama dengan arakan kelabu,
yang tak selalu mega.
Lalu datang sunyi dan sepi,
sisakan serpihan suasana marak.
Jatuh dikala senja tak berwarna jingga,
dan rinai yang mengiringi lazuardi.
Tersiar merata
Seperti ada yang mengerling beku,
pada sudut ruang yang biru.
Mencuri sedikit sinar keemasan,
hingga luruh semua kepantasan.
Seperti ada yang mengerling beku,
pada sudut ruang yang biru.
Mencuri sedikit sinar keemasan,
hingga luruh semua kepantasan.
Wacana rasa
Aku rindu, pada rangkaian kata sederhana,
dijabarkan dengan begitu perkasa,
dan manis yang lebihi nira..
Aku rindu, pada rangkaian kata sederhana,
dijabarkan dengan begitu perkasa,
dan manis yang lebihi nira..
Nama
Tersebutlah mereka semua paksi,
maka tak bebaslah penyair itu dari awan kelabu.
Semata oleh ribuan kepakan sayap,
dan hati yang terluka.
Tersebutlah mereka semua paksi,
maka tak bebaslah penyair itu dari awan kelabu.
Semata oleh ribuan kepakan sayap,
dan hati yang terluka.
Akur
Kutambahkan do re mi pada seloka.
Agar kau tahu bahwa kau maha indah,
di balik arti bijaknya.
Kutambahkan do re mi pada seloka.
Agar kau tahu bahwa kau maha indah,
di balik arti bijaknya.
Prolog
Tatapanmu kata,
belaianmu frase,
cumbuanmu kalimat,
penetrasimu tanda seru..
Dalam setiap bincang dan wacana,
sesungguhnya kita telah bercinta!
Tatapanmu kata,
belaianmu frase,
cumbuanmu kalimat,
penetrasimu tanda seru..
Dalam setiap bincang dan wacana,
sesungguhnya kita telah bercinta!
Thursday, February 24, 2005
365
Cindai sudah mulai lusuh,
dengan warna yang memudar,
dan corak yang usang.
Baru kusadari saat dia terjatuh rentan,
rupanya marak di mataku belum tanggal.
Cindai sudah mulai lusuh,
dengan warna yang memudar,
dan corak yang usang.
Baru kusadari saat dia terjatuh rentan,
rupanya marak di mataku belum tanggal.
Wednesday, February 23, 2005
Sehelai ambin
Kuharap absah,
untuk sekedar diam.
Akasara kan hilang tertiup bayu,
lembar ingatan kan usang ratusan jenak.
Rasa yang tersimpan beku,
kurasa tidak.
Kuharap absah,
untuk sekedar diam.
Akasara kan hilang tertiup bayu,
lembar ingatan kan usang ratusan jenak.
Rasa yang tersimpan beku,
kurasa tidak.
Lepas nadar
Mungkin aku mencandu dirimu.
Pada senyuman yang membius,
dan tatap mata yang menggoda.
Atas lebat alis, coklat kulit,
serta indah lekuk.
Kemarin bertambah satu..
Oleh jatinya dirimu dalam aku,
yang buahkan serentetan orgasme!
Mungkin aku mencandu dirimu.
Pada senyuman yang membius,
dan tatap mata yang menggoda.
Atas lebat alis, coklat kulit,
serta indah lekuk.
Kemarin bertambah satu..
Oleh jatinya dirimu dalam aku,
yang buahkan serentetan orgasme!
Tuesday, February 22, 2005
Putaran keenam
Kau itu syamsu,
dan aku bermuara padamu.
Tak sekedar orbit,
karena nanti akan lelah berputar.
Jadi buang saja lingkaran waktu itu.
Kau itu syamsu,
dan aku bermuara padamu.
Tak sekedar orbit,
karena nanti akan lelah berputar.
Jadi buang saja lingkaran waktu itu.
Genap
Satu per dua belas kaki,
dua kutub yang berpacu.
Saling bertolak hingga tercipta daya,
dan gaduh yang tandakan netral.
Ada inti yang lebih kuat,
daripada ion sekalipun.
Satu per dua belas kaki,
dua kutub yang berpacu.
Saling bertolak hingga tercipta daya,
dan gaduh yang tandakan netral.
Ada inti yang lebih kuat,
daripada ion sekalipun.
Saturday, February 19, 2005
Kurung tutup
Sahaya duduk merapat,
tanpa hitung penat.
Bernapas seperlunya,
membuka mata bila diminta.
Ingin segera undur diri,
melecut dari derasnya inti.
Sahaya duduk merapat,
tanpa hitung penat.
Bernapas seperlunya,
membuka mata bila diminta.
Ingin segera undur diri,
melecut dari derasnya inti.
Astakona
Bila bukan di titik ini,
mungkin nanti di akhir paragraf.
Bisa jadi di penggalan kalimat,
dan juga di sela tarikan nafas.
Bila bukan di titik ini,
mungkin nanti di akhir paragraf.
Bisa jadi di penggalan kalimat,
dan juga di sela tarikan nafas.
Friday, February 18, 2005
Harmoni
Kadang aku penat,
bila kagumku terlalu jamak.
Dan apa yang terpantul,
sungguh tak sama rata.
Saat emosiku pasang,
kujajah rasa dengan seberkas ingatan.
Binar matamu yang tak habis dikulum lihatku,
rancangan estetika atas keseluruhanmu,
yang lagi-lagi buatku banjir kata-kata.
Kadang aku penat,
bila kagumku terlalu jamak.
Dan apa yang terpantul,
sungguh tak sama rata.
Saat emosiku pasang,
kujajah rasa dengan seberkas ingatan.
Binar matamu yang tak habis dikulum lihatku,
rancangan estetika atas keseluruhanmu,
yang lagi-lagi buatku banjir kata-kata.
Bagas
Mungkin kau belum lepas.
Mungkin kau masih meredam.
Tapi akan aku tunggu,
walau harus membatu disini.
Sampai tibanya kau cintai aku utuh,
dan katakannya dengan lantang.
Seperti kevas yang tegar,
dan mempertahankanku.
Mungkin kau belum lepas.
Mungkin kau masih meredam.
Tapi akan aku tunggu,
walau harus membatu disini.
Sampai tibanya kau cintai aku utuh,
dan katakannya dengan lantang.
Seperti kevas yang tegar,
dan mempertahankanku.
Thursday, February 17, 2005
Kita
Melangsi di udara,
aku nyaris tak dapat mendengarnya.
Dengan gerakan secepat kilat,
lapang menyambar disana dan disini,
sungguh tak terbaca.
Hanya dapat dirasa,
jauh terbentuk oleh asa.
Melangsi di udara,
aku nyaris tak dapat mendengarnya.
Dengan gerakan secepat kilat,
lapang menyambar disana dan disini,
sungguh tak terbaca.
Hanya dapat dirasa,
jauh terbentuk oleh asa.
Tuesday, February 15, 2005
Dia bercerita..
Tak perlu menilik, sungguh..
Terbaca dengan jelas bukan,
ada kamu yang jati di dalamnya.
Bukan, bukan hanya renjana.
Ya, asa pun turut serta.
Tapi jangan luputkan sang sedu,
karna takut kau berlalu!
Tak perlu menilik, sungguh..
Terbaca dengan jelas bukan,
ada kamu yang jati di dalamnya.
Bukan, bukan hanya renjana.
Ya, asa pun turut serta.
Tapi jangan luputkan sang sedu,
karna takut kau berlalu!
Sunday, February 13, 2005
Kalis
Boleh tidak nanti kutukar mirad,
dengan selembar memori tentang kita?
Boleh tidak nanti kutukar mirad,
dengan selembar memori tentang kita?
Setelah perai..
Merangkum kamu dalam merdekaku,
seutuh rasa yang terbius tuk pertama kalinya.
Kamu indah, dan teramat indah,
dalam kelangkaanmu..
Merangkum kamu dalam merdekaku,
seutuh rasa yang terbius tuk pertama kalinya.
Kamu indah, dan teramat indah,
dalam kelangkaanmu..
Utama
Perada yang terbaik selalu untukmu,
entah kau sadari atau tidak.
Demikian pula semua yang merdesa,
tak terhitung berapa banyak.
Perada yang terbaik selalu untukmu,
entah kau sadari atau tidak.
Demikian pula semua yang merdesa,
tak terhitung berapa banyak.
Kurang jamak
Riuh dalam sepi yang membelenggu,
permainan pikiran yang sungguh suatu trik kuno.
Buat apa menciduk senyum dan tempatkan di bibir?
Masih banyak yang mesti kupikirkan,
di bias mata, di mampatan otak, di nurani terdalam,
masih banyak yang bisa kuisikan senyum..
Riuh dalam sepi yang membelenggu,
permainan pikiran yang sungguh suatu trik kuno.
Buat apa menciduk senyum dan tempatkan di bibir?
Masih banyak yang mesti kupikirkan,
di bias mata, di mampatan otak, di nurani terdalam,
masih banyak yang bisa kuisikan senyum..
Trial and error
Jatuh dan terseret,
siapa tahu oleh nasib baik.
Mengubah apa yang telah termaktub,
seiring dengan napas yang terpenggal,
dan memendek.
Jatuh dan terseret,
siapa tahu oleh nasib baik.
Mengubah apa yang telah termaktub,
seiring dengan napas yang terpenggal,
dan memendek.
Malar dalam ingin
Siapa tahu besok tidak ada fajar lagi,
terik meluputkannya seperti secarik derita yang sama.
Jadi nikmati saja apa yang tertera di sini,
tinggi rendahnya angan dan ingin,
sampai tiba batas akhir.
Siapa tahu besok tidak ada fajar lagi,
terik meluputkannya seperti secarik derita yang sama.
Jadi nikmati saja apa yang tertera di sini,
tinggi rendahnya angan dan ingin,
sampai tiba batas akhir.
Saturday, February 12, 2005
Spasi
sekerjap,
selintas,
sepenggal,
selembar,
secarik,
asa,
mimpi,
angan,
kisah,
renjana,
aku
kosong...
kamu
sekerjap,
selintas,
sepenggal,
selembar,
secarik,
asa,
mimpi,
angan,
kisah,
renjana,
aku
kosong...
kamu
Friday, February 11, 2005
View
Dia yang segala saka,
maka kujadikan diri penonton.
Duduk diam nikmati gerak dan laku,
tak ingin sibakkan kelir.
Dia yang segala saka,
maka kujadikan diri penonton.
Duduk diam nikmati gerak dan laku,
tak ingin sibakkan kelir.
Kelikir
Hujan renikku jadi pendar,
kelilingi rasa yang memudar,
singkirkan semua kelikir..
Hujan renikku jadi pendar,
kelilingi rasa yang memudar,
singkirkan semua kelikir..
Wednesday, February 09, 2005
Honesty
Gemilang surya mengendur,
dan aku sibuk menyiasati cahya.
Jatuhkan pilihan pada sang langka,
kejujuran.
Gemilang surya mengendur,
dan aku sibuk menyiasati cahya.
Jatuhkan pilihan pada sang langka,
kejujuran.
Pelakon
Dalam sebuah kisah yang kompleks,
kutemui suatu kejanggalan.
Akan pelakon yang otodidak,
mencanangkan alur yang berbeda,
berlamparan sudah.
Dalam sebuah kisah yang kompleks,
kutemui suatu kejanggalan.
Akan pelakon yang otodidak,
mencanangkan alur yang berbeda,
berlamparan sudah.
Tuesday, February 08, 2005
Kekau
Kekau aku fajar ini,
seperti ada yang melintas hilang..
Ingin mengeriap,
atas perih,
dan lirih
.....
senyap
.....
Kekau aku fajar ini,
seperti ada yang melintas hilang..
Ingin mengeriap,
atas perih,
dan lirih
.....
senyap
.....
Sunday, February 06, 2005
Gemertak rasa
Sedikit gemersik,
lalu banyak gemertak..
Disana dan disini,
tinggi dan rendah,
kering dan basah,
semuanya dalam aku..
Sedikit gemersik,
lalu banyak gemertak..
Disana dan disini,
tinggi dan rendah,
kering dan basah,
semuanya dalam aku..
Peredam lelah
Raga henti menua,
karna tak kupakai hitungan usia..
Untuk aku, kamu dan kita,
waktu tak nyali bergeming..
Raga henti menua,
karna tak kupakai hitungan usia..
Untuk aku, kamu dan kita,
waktu tak nyali bergeming..
Thursday, February 03, 2005
Tak muskil
Hatiku sesak, mampat karna kau..
Sosok yang meretas sesuatu yang muskil,
tumbuhkan daya pada lapang yang tandus..
Kau isikan rasa yang utuh padaku..
Hatiku sesak, mampat karna kau..
Sosok yang meretas sesuatu yang muskil,
tumbuhkan daya pada lapang yang tandus..
Kau isikan rasa yang utuh padaku..
Sesapan pada orgasme
Sesap dalam khayal pasti yang ternikmat,
itu jauh sebelum aku luruhkan rasa untukmu..
Kini dalam tatap mata yang terjalin,
dan relung yang bertaut,
sungguh ku orgasme!
Sesap dalam khayal pasti yang ternikmat,
itu jauh sebelum aku luruhkan rasa untukmu..
Kini dalam tatap mata yang terjalin,
dan relung yang bertaut,
sungguh ku orgasme!
Gaung
Telah bergeming pilar-pilar angkasa,
karna gaung yang membumi pun dahsyat..
Akan tibanya gema surga dalam tangkapan imaji,
yang kutemukan atas pencapaian terbesarku..
Kamu.
Telah bergeming pilar-pilar angkasa,
karna gaung yang membumi pun dahsyat..
Akan tibanya gema surga dalam tangkapan imaji,
yang kutemukan atas pencapaian terbesarku..
Kamu.
Wednesday, February 02, 2005
Lekap dalam lekang..
Ingin mengudapmu,
telusuri tiap pori yang ada..
Lekapkan aku di rasamu ya,
sampai nanti kita lekang waktu..
Ingin mengudapmu,
telusuri tiap pori yang ada..
Lekapkan aku di rasamu ya,
sampai nanti kita lekang waktu..
Kama, pasti untukmu..
Kamu menyeduh ganjar,
pada tiap kata kama yang kau lontarkan..
Bisikanmu mengumpar sukma,
tinggalkan aku termangu,
dalam haru..
Kamu menyeduh ganjar,
pada tiap kata kama yang kau lontarkan..
Bisikanmu mengumpar sukma,
tinggalkan aku termangu,
dalam haru..
Tuesday, February 01, 2005
Sweet surrender
Penjajahan yang tidak perlu, sayang..
Sudah diberikan sukarela,
sejak berabad-abad yang lalu..
Saat matari sorotkan cahyanya padamu,
yang beri bayang pada yang lain..
Dan kau luruhkan keseluruhanku..
Penjajahan yang tidak perlu, sayang..
Sudah diberikan sukarela,
sejak berabad-abad yang lalu..
Saat matari sorotkan cahyanya padamu,
yang beri bayang pada yang lain..
Dan kau luruhkan keseluruhanku..
Sepi
Terjentik emosi dalam cakrawala senja ini,
terkelupasnya memori rasa membuatku lirih..
Perih dan teramat sangat dalam,
dengan jejak membiru yang semakin kelam..
Terjentik emosi dalam cakrawala senja ini,
terkelupasnya memori rasa membuatku lirih..
Perih dan teramat sangat dalam,
dengan jejak membiru yang semakin kelam..
Manekin
Manekin yang dihujani kama,
melimpah ruah dengan segala baik yang ada..
Dengan senyum senyata langit biru,
rasanya buyar berserakan..
Manekin yang dihujani kama,
melimpah ruah dengan segala baik yang ada..
Dengan senyum senyata langit biru,
rasanya buyar berserakan..
Sunday, January 30, 2005
Kusam yang minimal..
Tak ada yang minimal,
dalam utuhnya kamu..
Yang kau kira kusam,
nyatanya adalah nirmala..
Tak ada yang minimal,
dalam utuhnya kamu..
Yang kau kira kusam,
nyatanya adalah nirmala..
Saturday, January 29, 2005
Junun
Sebut aku junun,
bergunjing dengan jerih,
bercumbu dengan sukar..
Hanyalah sukma yang meronta,
mengiba dan tak henti mengelik..
Sebut aku junun,
bergunjing dengan jerih,
bercumbu dengan sukar..
Hanyalah sukma yang meronta,
mengiba dan tak henti mengelik..
Kirai waktu
Ruhku tak bergeming,
mungkin tak bisa,
pun tak ingin..
Biar dihabiskan waktuku saja,
seiring lembaran milik kita,
dengan epilog yang tak bertanda titik..
Ruhku tak bergeming,
mungkin tak bisa,
pun tak ingin..
Biar dihabiskan waktuku saja,
seiring lembaran milik kita,
dengan epilog yang tak bertanda titik..
Thursday, January 27, 2005
Desahan pasir
Penjarakan aku utuh,
dalam riak ombak yang mencumbu pantai,
saat senja aku kan semakin gigih menggapaimu..
Kamu yang sedang berbenturan dengan mayapada,
di sela pasir yang berbisik lirik..
Ataukah ia mendesah?
Penjarakan aku utuh,
dalam riak ombak yang mencumbu pantai,
saat senja aku kan semakin gigih menggapaimu..
Kamu yang sedang berbenturan dengan mayapada,
di sela pasir yang berbisik lirik..
Ataukah ia mendesah?
Frase
Pada kau yang bercumbu begitu mesra pada sepasang telingaku,
susupkan frase yang meliuk-liuk ke ronggaku,
sungguh ku tlah jadikan jejakmu,
membekas, erat, tak lepas..
Pada kau yang bercumbu begitu mesra pada sepasang telingaku,
susupkan frase yang meliuk-liuk ke ronggaku,
sungguh ku tlah jadikan jejakmu,
membekas, erat, tak lepas..
Wednesday, January 26, 2005
Lukisan imajiku
Gejolak rasa yang teredam pada kanvas,
lengkap dengan sapuan merah meradang,
hanya punya satu tandingan..
Yaitu kamu, yang sempurna dalam lukisan imajiku,
tak luntur oleh guliran waktu..
Gejolak rasa yang teredam pada kanvas,
lengkap dengan sapuan merah meradang,
hanya punya satu tandingan..
Yaitu kamu, yang sempurna dalam lukisan imajiku,
tak luntur oleh guliran waktu..
Lintasan
Mataku lelah,
tapi fikir meronta tuk bicara..
Ia mendesah,
lelah juga berangin-angin,
terbawa lamunan jemu tak henti..
Lalu kutanya,
kau mau apa?
Dan ia menjawab,
jangan jatuhkan pilihan,
terutama berlabuh,
pada mereka yang tak tergapai..
Mataku lelah,
tapi fikir meronta tuk bicara..
Ia mendesah,
lelah juga berangin-angin,
terbawa lamunan jemu tak henti..
Lalu kutanya,
kau mau apa?
Dan ia menjawab,
jangan jatuhkan pilihan,
terutama berlabuh,
pada mereka yang tak tergapai..
Pegasus
Priaku yang luar biasa,
bagaikan pegasus yang menari,
iringi cahya rembulan..
Semata tuk menjaganya,
bersinar sepanjang malam..
Priaku yang luar biasa,
bagaikan pegasus yang menari,
iringi cahya rembulan..
Semata tuk menjaganya,
bersinar sepanjang malam..
Monday, January 24, 2005
Volume
Jangan takut menjejakkan rasa di lapang dadaku,
sudah kubabat habis lain-lain yang jenuh..
Bilik yang kecil ini sungguh hampir penuh diisikan kamu..
Jangan takut menjejakkan rasa di lapang dadaku,
sudah kubabat habis lain-lain yang jenuh..
Bilik yang kecil ini sungguh hampir penuh diisikan kamu..
Ringkih
Ingin menggapaimu,
tak terbagi dan utuh..
Tapi rupanya wujudmu masih ringkih,
bisa-bisa nanti kau melayang pergi,
terbawa tiupan bayu..
Ingin menggapaimu,
tak terbagi dan utuh..
Tapi rupanya wujudmu masih ringkih,
bisa-bisa nanti kau melayang pergi,
terbawa tiupan bayu..
Sunday, January 23, 2005
missing you..
Kurasakan masih ada sudut relungmu,
mungkin setitik yang belum terjamah rindu,
maka kujaringkan bayu berjengkal-jengkal,
tuk titipkan rasa yang kian menjajah sang senja..
Kurasakan masih ada sudut relungmu,
mungkin setitik yang belum terjamah rindu,
maka kujaringkan bayu berjengkal-jengkal,
tuk titipkan rasa yang kian menjajah sang senja..
Kata
Pada sebuah janji yang pernah terucap,
detik yang sama kau torehkan nama dan imaji,
pada relung rasa yang takkan pernah luntur..
Pada sebuah janji yang pernah terucap,
detik yang sama kau torehkan nama dan imaji,
pada relung rasa yang takkan pernah luntur..
Saturday, January 22, 2005
Dua baris
Tak ada misteri di balik kelam,
yang ada hanyalah gelap menanti terang..
Tak ada misteri di balik kelam,
yang ada hanyalah gelap menanti terang..
Aku di tatapmu..
Saat ku masih mereka-reka,
adakah aku di relung rasamu,
terselip di neuron pikirmu,
melayang di alam mimpimu..
Kulihat ku di tatapmu,
setiap kau beranjak tidur,
pun pertama membuka mata..
Saat ku masih mereka-reka,
adakah aku di relung rasamu,
terselip di neuron pikirmu,
melayang di alam mimpimu..
Kulihat ku di tatapmu,
setiap kau beranjak tidur,
pun pertama membuka mata..
Friday, January 21, 2005
Waktu
Yang terbilang satu dianggap seribu,
yang terhitung masehi dipastikan detik,
dan nanti aku masih disini,
tak ada yang lebih pasti..
Yang terbilang satu dianggap seribu,
yang terhitung masehi dipastikan detik,
dan nanti aku masih disini,
tak ada yang lebih pasti..
Tear drops
Seperti kelopak yang berat menahan butiran air mata,
pun hati yang kan lega lepaskan bilur yang ada,
langit mendung siapkan renik tuk basahi buana,
dan yang utama tuk penuhi rasa..
Seperti kelopak yang berat menahan butiran air mata,
pun hati yang kan lega lepaskan bilur yang ada,
langit mendung siapkan renik tuk basahi buana,
dan yang utama tuk penuhi rasa..
Thursday, January 20, 2005
Auf wiedersehen..!!
Biruku yang merah legam,
halusku yang kasar meradang,
indahku yang remuk pun berbekas,
dan rasaku yang patah arang..
Biruku yang merah legam,
halusku yang kasar meradang,
indahku yang remuk pun berbekas,
dan rasaku yang patah arang..
Tuesday, January 18, 2005
Dalam hitungan minggu..
Sang pecinta yang luar biasa,
kukira kau hanya memerangkapku,
dalam pesona kepriaan yang tak terbantahkan..
Rupanya kau bekap aku pula,
melalui relung rasa yang teruntuhkan oleh kata-kata..
Mahkota terjatuh untukmu, pertama dan terakhir kali..
Sang pecinta yang luar biasa,
kukira kau hanya memerangkapku,
dalam pesona kepriaan yang tak terbantahkan..
Rupanya kau bekap aku pula,
melalui relung rasa yang teruntuhkan oleh kata-kata..
Mahkota terjatuh untukmu, pertama dan terakhir kali..
Monday, January 17, 2005
Ingatanku
Fajar dengan megah meninggalkan secercah warna,
yang kerap kali ingatkanku padamu..
Sepertinya tadi malam aku benar tertidur,
sembari menahbiskan namamu..
Fajar dengan megah meninggalkan secercah warna,
yang kerap kali ingatkanku padamu..
Sepertinya tadi malam aku benar tertidur,
sembari menahbiskan namamu..
Gerhana
Terik dan mendung tak berjalan beriringan..
Satu sama lain saling mengisi celah awan yang kosong,
berlomba tuk hadirkan getar yang membumi..
Hanya sesekali kau lihat mereka ditengahi atmosfer jingga,
dan itulah senja yang terhitung satu..
Jadi lihatlah mereka yang kan terganti,
bahkan tanpa senja perlu tahu siapa mereka itu..
Karena telah dibuat gerhana total, hanya untukmu!
Terik dan mendung tak berjalan beriringan..
Satu sama lain saling mengisi celah awan yang kosong,
berlomba tuk hadirkan getar yang membumi..
Hanya sesekali kau lihat mereka ditengahi atmosfer jingga,
dan itulah senja yang terhitung satu..
Jadi lihatlah mereka yang kan terganti,
bahkan tanpa senja perlu tahu siapa mereka itu..
Karena telah dibuat gerhana total, hanya untukmu!
Rindu senja
Kau yang terlintas di kala senja,
mengisi rindu hingga batas maksimal..
Neuronku tak mampu mencipta kau yang utuh,
dalam satu pun dua rangkaian lembar ingatan..
Rupanya rinduku tlah berbuah dan berlipat ganda..
Kau yang terlintas di kala senja,
mengisi rindu hingga batas maksimal..
Neuronku tak mampu mencipta kau yang utuh,
dalam satu pun dua rangkaian lembar ingatan..
Rupanya rinduku tlah berbuah dan berlipat ganda..
Tampias duka
Tak dinyana kulihat bunda berkerudung duka,
sekadar memperingan apa yang telah tertera di sana..
Dalam hidup buah hatinya,
yang tak urung terjadi bencana..
Tak dinyana kulihat bunda berkerudung duka,
sekadar memperingan apa yang telah tertera di sana..
Dalam hidup buah hatinya,
yang tak urung terjadi bencana..
Menggiring bayu
Aku lelah dengan permainan menggiring bayu ini,
bertiup kesana kemari, ikuti alur yang tak pasti..
Bila merengkuhmu saja sudah memakan separuh jiwaku,
letih lah aku bila kini kau baru memulainya..
Aku tak ingin menanggung rasa yang tak terbersit,
karena tiada menang pun kalah di dalamnya,
walau rasioku jelas terbinasakan sang rasa mengenaimu..
Aku lelah dengan permainan menggiring bayu ini,
bertiup kesana kemari, ikuti alur yang tak pasti..
Bila merengkuhmu saja sudah memakan separuh jiwaku,
letih lah aku bila kini kau baru memulainya..
Aku tak ingin menanggung rasa yang tak terbersit,
karena tiada menang pun kalah di dalamnya,
walau rasioku jelas terbinasakan sang rasa mengenaimu..
Asal muaranya..
Telah kuluruhkan keanggunan yang ada tuk kamu,
kulahirkan lengkung senyum termurni dari lubuk rasa,
bahkan tunggal dari yang pernah ada..
Kurasa itu belum cukup dan mungkin tak akan,
sampai jatuhnya guliran yang bermuara di sudut mata..
Kurangkah aku limpahkan rasa padamu?
Telah kuluruhkan keanggunan yang ada tuk kamu,
kulahirkan lengkung senyum termurni dari lubuk rasa,
bahkan tunggal dari yang pernah ada..
Kurasa itu belum cukup dan mungkin tak akan,
sampai jatuhnya guliran yang bermuara di sudut mata..
Kurangkah aku limpahkan rasa padamu?
Kilau
Kerlingan perak rembulan sungguh tak pantas untukmu,
pun ribuan aura langit yang tak sanggup buatmu berpaling..
Lalu untuk apa kau ringankan beban,
pada telaga yang berpantulkan rembulan,
serta lukiskan semburat warna langit?
Sama seperti memberi angin pada sumber mata air..
Kerlingan perak rembulan sungguh tak pantas untukmu,
pun ribuan aura langit yang tak sanggup buatmu berpaling..
Lalu untuk apa kau ringankan beban,
pada telaga yang berpantulkan rembulan,
serta lukiskan semburat warna langit?
Sama seperti memberi angin pada sumber mata air..
Torehan rasa
Aku melelehkan gunung es,
menunggunya mengalir setetes demi setetes,
menyusuri lekuk dataran,
dan aku menyatu menjadi air..
Tak pernah terbersit untuk menjadikannya berbeda,
karena ia adalah ia sebagaimana mestinya..
Tapi langit tak berbelas kasih,
runtuhkan terik tanpa henti,
mungkinkah kini ia menguap?
Aku melelehkan gunung es,
menunggunya mengalir setetes demi setetes,
menyusuri lekuk dataran,
dan aku menyatu menjadi air..
Tak pernah terbersit untuk menjadikannya berbeda,
karena ia adalah ia sebagaimana mestinya..
Tapi langit tak berbelas kasih,
runtuhkan terik tanpa henti,
mungkinkah kini ia menguap?
Saturday, January 15, 2005
Siluet
Tak pernah kusangka kau semahir itu,
terutama dalam membaca diriku..
Tapi bisakah kau lihat pantulan di mataku?
Siluetmu sungguh berbalas nirwana..
Tak pernah kusangka kau semahir itu,
terutama dalam membaca diriku..
Tapi bisakah kau lihat pantulan di mataku?
Siluetmu sungguh berbalas nirwana..
Seorang matari milikku..
Matariku, seakan ringan bercahaya,
dengan permainan sinar yang hanya perduli waktu..
Terlihat jelas dengan sepasang mataku,
begitu megah dalam jarak terjauh..
Itu sebabnya aku sangat memuja senja,
di balik bukit aku bertemu dengan matari,
yang tak henti meredup jingga..
Tinggalkan aku di suatu masa,
dengan matari yang kutelan bulat-bulat,
dan berakhir di hatiku..
Matariku, seakan ringan bercahaya,
dengan permainan sinar yang hanya perduli waktu..
Terlihat jelas dengan sepasang mataku,
begitu megah dalam jarak terjauh..
Itu sebabnya aku sangat memuja senja,
di balik bukit aku bertemu dengan matari,
yang tak henti meredup jingga..
Tinggalkan aku di suatu masa,
dengan matari yang kutelan bulat-bulat,
dan berakhir di hatiku..
Tanpa tanda titik..
Tak pernah selintasan mimpi ini berhenti merajuk,
menggelitik nurani, membius logika,
semata tuk suburkan rasa..
Apa jadinya nanti sang senja tanpa hujan renik?
Kuharap titik itu takkan pernah tiba..
Tak pernah selintasan mimpi ini berhenti merajuk,
menggelitik nurani, membius logika,
semata tuk suburkan rasa..
Apa jadinya nanti sang senja tanpa hujan renik?
Kuharap titik itu takkan pernah tiba..
Mahkota rasa
Pada lubuk rasa yang terkadang lelah bercinta,
tak pernah ada yang singgah begitu mendalam..
Selepas musim berganti, rasa yang dimiliki turut gugur..
Dan itu adalah kenangan bagi si lubuk rasa..
Sampai datang anak kunci yang tunggal,
dengan lekuk yang sempurna dan waktu yang tepat..
Saat itulah segenap jiwa dikerahkan,
untuk mencintai seorang kamu..
Pada lubuk rasa yang terkadang lelah bercinta,
tak pernah ada yang singgah begitu mendalam..
Selepas musim berganti, rasa yang dimiliki turut gugur..
Dan itu adalah kenangan bagi si lubuk rasa..
Sampai datang anak kunci yang tunggal,
dengan lekuk yang sempurna dan waktu yang tepat..
Saat itulah segenap jiwa dikerahkan,
untuk mencintai seorang kamu..
Thursday, January 13, 2005
Plot yang pernah tercipta
Aku, jarak, dan kamu..
Waktu lalu menyela masuk,
tinggalkan corat coret disana-sini,
termasuk di relung rasaku..
Aku, jarak, dan kamu..
Masih ingatkah kartu yang kuberi?
Sungguh ingin aku melipat jarak yang terbentang..
Aku, jarak, dan kamu..
Waktu masih terus mengganggu,
mondar-mandir kesana dan kesini,
aku menarik nafas, mencoba tuk bersabar..
Aku, jarak yang mulai bosan, dan kamu..
Ah, terima kasih langit karna sudi turunkan kau..
Hiasi senja indahku dengan renik yang luar biasa..
Aku, jarak yang sudah lari, dan kamu!
Sekarang semua tinggal aku dan kamu..
Lalu muncullah kata kita, dan kita, lalu kita,
selamanya kita..
Aku, jarak, dan kamu..
Waktu lalu menyela masuk,
tinggalkan corat coret disana-sini,
termasuk di relung rasaku..
Aku, jarak, dan kamu..
Masih ingatkah kartu yang kuberi?
Sungguh ingin aku melipat jarak yang terbentang..
Aku, jarak, dan kamu..
Waktu masih terus mengganggu,
mondar-mandir kesana dan kesini,
aku menarik nafas, mencoba tuk bersabar..
Aku, jarak yang mulai bosan, dan kamu..
Ah, terima kasih langit karna sudi turunkan kau..
Hiasi senja indahku dengan renik yang luar biasa..
Aku, jarak yang sudah lari, dan kamu!
Sekarang semua tinggal aku dan kamu..
Lalu muncullah kata kita, dan kita, lalu kita,
selamanya kita..
Tentang kita
Sejurus yang tak pernah jeda,
sabarku yang tak bernihil..
Rupanya sang waktu telah berbaik hati,
membekukan hari-harinya sejenak,
dan membiarkanku tenggelam dalam cerita kita..
Sejurus yang tak pernah jeda,
sabarku yang tak bernihil..
Rupanya sang waktu telah berbaik hati,
membekukan hari-harinya sejenak,
dan membiarkanku tenggelam dalam cerita kita..
Untuk sang pecinta senja..
Kalau ada pahatan yang nyaris sempurna,
teriring di dalamnya sebuah jiwa yang murni,
tak pernah terpikirkan sosok lainnya..
Karena itu semua terwakilkan oleh kau..
Kalau ada pahatan yang nyaris sempurna,
teriring di dalamnya sebuah jiwa yang murni,
tak pernah terpikirkan sosok lainnya..
Karena itu semua terwakilkan oleh kau..
Wednesday, January 12, 2005
Beda aku dan mereka..
Carilah sudut terbaik dari keindahannya,
dan tuangkanlah dalam frame yang sempurna..
Tapi hanya aku, dan jadikan selalu aku,
yang tertangkap dalam rasa gemuruh di dadamu..
Carilah sudut terbaik dari keindahannya,
dan tuangkanlah dalam frame yang sempurna..
Tapi hanya aku, dan jadikan selalu aku,
yang tertangkap dalam rasa gemuruh di dadamu..
Monday, January 10, 2005
Seorang hujan renik..
Kau yang hadir di tengah hujan renik,
takkan kubiarkan kau menguap saat matari datang,
terutama setelah kau basahi sekujur poriku..
Aku tak tahu apakah kehadiranmu terencana,
ataukah massa awan yang menggiringmu padaku..
Tapi sungguh kau dapat bernaung padaku,
selama yang kau mau..
Kau yang hadir di tengah hujan renik,
takkan kubiarkan kau menguap saat matari datang,
terutama setelah kau basahi sekujur poriku..
Aku tak tahu apakah kehadiranmu terencana,
ataukah massa awan yang menggiringmu padaku..
Tapi sungguh kau dapat bernaung padaku,
selama yang kau mau..
Heaven Borrowed
Saat pertama kali melihatmu, mataku perih..
Mungkinkah ada pria yang tercipta begitu sempurna?
Saat mengenalmu, hatiku nyeri..
Melihat jarak yang terbentang dan tak mampu kulipat..
Saat mencintaimu, hatiku bergemuruh..
Akan rasa yang menghidupkanku kembali..
Saat memilikimu, saat ini maksudku..
Tak kuduga surga berada begitu dekat..
Saat pertama kali melihatmu, mataku perih..
Mungkinkah ada pria yang tercipta begitu sempurna?
Saat mengenalmu, hatiku nyeri..
Melihat jarak yang terbentang dan tak mampu kulipat..
Saat mencintaimu, hatiku bergemuruh..
Akan rasa yang menghidupkanku kembali..
Saat memilikimu, saat ini maksudku..
Tak kuduga surga berada begitu dekat..
Sunday, January 09, 2005
Tiga rangkaian rasa
Pertama,
aku merindukanmu,
tidak tergelitikkah kau disana,
dengan rasa yang menjalar begitu perkasanya?
Kedua,
minutes and hours,
day and night, over and over..
It is all made by human,
but why and why I miss you so much?
Dan ketiga,
memilih adalah sulit,
walau logika dan rasa adalah dua hal yang sama benar!
Pertama,
aku merindukanmu,
tidak tergelitikkah kau disana,
dengan rasa yang menjalar begitu perkasanya?
Kedua,
minutes and hours,
day and night, over and over..
It is all made by human,
but why and why I miss you so much?
Dan ketiga,
memilih adalah sulit,
walau logika dan rasa adalah dua hal yang sama benar!
Putaran waktu
Tiada jarak yang terlalu jauh,
bagi senja untuk menemukan hujan renik..
Dalam putaran waktu semu yang semakin kencang,
disitulah alam kusibak dengan getir yang mendalam..
Tiada jarak yang terlalu jauh,
bagi senja untuk menemukan hujan renik..
Dalam putaran waktu semu yang semakin kencang,
disitulah alam kusibak dengan getir yang mendalam..
Just a thought..
Aku cemburu pada duniamu,
pada para pelaku didalamnya,
pada dingin yang menemani lirihmu,
pada hujan yang nyaris meresap di tubuhmu,
dan lucunya..pada lensa kameramu!
Aku cemburu pada duniamu,
pada para pelaku didalamnya,
pada dingin yang menemani lirihmu,
pada hujan yang nyaris meresap di tubuhmu,
dan lucunya..pada lensa kameramu!
Saturday, January 08, 2005
5.00 pm
Kecintaan senja pada hujan renik,
usai sudah dengan pengingkarannya..
Setelah berkali-kali bersatu pada titik kebetulan,
akhirnya senja menemui titik cerah..
Kini senja semakin mendalam,
memberikan lengkung terbaiknya,
tepat saat hujan renik menyentuh permukaan buana..
Kecintaan senja pada hujan renik,
usai sudah dengan pengingkarannya..
Setelah berkali-kali bersatu pada titik kebetulan,
akhirnya senja menemui titik cerah..
Kini senja semakin mendalam,
memberikan lengkung terbaiknya,
tepat saat hujan renik menyentuh permukaan buana..
Friday, January 07, 2005
Senja kah?
Aku ini senja,
yang ingin hadir di hidupmu..
Baik seusai terik yang membakar,
pun sebelum malam yang kelam..
Tapi jangan khawatir,
aku bisa bertransformasi..
Menyulap wujudku menjadi apa pun jua,
dan kapan pun jua..
Karena aku bukanlah aku,
tanpa seorang kamu..
Aku ini senja,
yang ingin hadir di hidupmu..
Baik seusai terik yang membakar,
pun sebelum malam yang kelam..
Tapi jangan khawatir,
aku bisa bertransformasi..
Menyulap wujudku menjadi apa pun jua,
dan kapan pun jua..
Karena aku bukanlah aku,
tanpa seorang kamu..
Kisses
Tolong beritahukan bagaimana caranya,
untuk makan melalui telinga,
dan minum melalui hidung..
Aku tak ingin hapuskan kamu,
yang teraroma dan terasa di bibirku..
Tolong beritahukan bagaimana caranya,
untuk makan melalui telinga,
dan minum melalui hidung..
Aku tak ingin hapuskan kamu,
yang teraroma dan terasa di bibirku..
Beda yang jamak
Kukira ku tiada berbeda,
karena kau yang tiada bercela..
Tapi telah jatuh musim yang berbeda,
yang tunjukkan hasil selontaran doa..
Kukira ku tiada berbeda,
karena kau yang tiada bercela..
Tapi telah jatuh musim yang berbeda,
yang tunjukkan hasil selontaran doa..
Subscribe to:
Posts (Atom)