Pasir dan harapan
Adalah merah yang mencapai puncak,
dan putih menua di ujung cakrawala,
saat degup jantung berdebat lebih keras.
Pada tekanan kaki (dan) kaki atas pasir,
juga rebah karna sukarku,
kau rupanya lantang menjawab.
Senja dalam senandung matari terbenam,
adalah derai air mata, yang datang dari hati.
Perempuan Senja. Suka menulis sejak mengerti S-P-O-K. Hanya saja sekarang K berganti rupa jadi Kamu. Punya hubungan cinta benci dengan tulisan, rasa dan kenangan.
Sunday, July 31, 2005
Friday, July 29, 2005
Puisi angin malam
Sulit mengeja huruf per huruf,
apalagi lafalkan satu kata.
Letih tangan menepis angin lalu,
jenuh otak mencerna jutaan alasan,
dan peluh dalam diam pun wicara.
Mereka ramai teriakkan namamu!
Bisa jadi aksara yang kuayak adalah cinta.
Sulit mengeja huruf per huruf,
apalagi lafalkan satu kata.
Letih tangan menepis angin lalu,
jenuh otak mencerna jutaan alasan,
dan peluh dalam diam pun wicara.
Mereka ramai teriakkan namamu!
Bisa jadi aksara yang kuayak adalah cinta.
Cinta bukan strata
Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.
Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..
Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.
Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.
Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...
For my bestfriend, D.S
Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.
Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..
Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.
Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.
Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...
For my bestfriend, D.S
Thursday, July 28, 2005
Selintas lalu
Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.
Mungkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.
Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.
Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.
Mungkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.
Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.
Wednesday, July 27, 2005
Pulang (sekali lagi)
Sekeping saja, disembuhkan sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.
Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.
Indah buah rasamu, hidupkan aku kembali.
Karna janjimu, yang tetap ada dan cintaiku,
di kenangan akan kita...
Sekeping saja, disembuhkan sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.
Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.
Indah buah rasamu, hidupkan aku kembali.
Karna janjimu, yang tetap ada dan cintaiku,
di kenangan akan kita...
Dejavu
Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.
Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.
Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, mataku basah..
Sematkan ini pada telinga kananmu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.
Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.
Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.
Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, mataku basah..
Sematkan ini pada telinga kananmu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.
Esensi manusia
Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.
Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.
Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.
Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.
Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.
Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.
Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.
Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.
Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.
Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.
Tinggal diam
Aku rindu penjajahan oleh waktu,
serakahnya detik mencumbui usia.
Kita tak pernah beranjak, hanya nikmati hari.
Menjaring tiap fajar dan senja yang berpamitan,
dengan satu, dua semburat bertanggalan.
Membeku, seperti batu,
gravitasi bahkan tak berlaku.
Aku rindu penjajahan oleh waktu,
serakahnya detik mencumbui usia.
Kita tak pernah beranjak, hanya nikmati hari.
Menjaring tiap fajar dan senja yang berpamitan,
dengan satu, dua semburat bertanggalan.
Membeku, seperti batu,
gravitasi bahkan tak berlaku.
Friday, July 22, 2005
Malaikat dalam frame
Lembar menguning, dengan hiasan buram.
Mungkin debu selamatkannya dari ngengat.
Butuh lebih dari belasan tahun,
atau bisa jadi gegar otak ringan,
agar aku lupa akan figurmu.
Ajaran yang tak pernah usang,
dan kompas penunjuk arah paling tepat.
Kau lekat permanen dalam benak dan hati,
bersanding dekat nuraniku.
Dedicated to B.W,
my grandfather.
Lembar menguning, dengan hiasan buram.
Mungkin debu selamatkannya dari ngengat.
Butuh lebih dari belasan tahun,
atau bisa jadi gegar otak ringan,
agar aku lupa akan figurmu.
Ajaran yang tak pernah usang,
dan kompas penunjuk arah paling tepat.
Kau lekat permanen dalam benak dan hati,
bersanding dekat nuraniku.
Dedicated to B.W,
my grandfather.
Finale
Sumbu yang terakhir,
aku adalah satu antara tiga.
Kujaga baik-baik terangnya,
karna ini rumah tuanku.
Berbilik kecil dengan bau harum,
wangi bersahaja melati putih.
Rupa sederhana nyaris tertutup kilau,
yang tak lain dari remah-remah mimpi.
Aku adalah satu antara tiga,
pertahankan sampai redup menjelang,
walau gelap memangsaku perlahan.
Karna dua lain adalah angin,
dan benih prasangka.
Sumbu yang terakhir,
aku adalah satu antara tiga.
Kujaga baik-baik terangnya,
karna ini rumah tuanku.
Berbilik kecil dengan bau harum,
wangi bersahaja melati putih.
Rupa sederhana nyaris tertutup kilau,
yang tak lain dari remah-remah mimpi.
Aku adalah satu antara tiga,
pertahankan sampai redup menjelang,
walau gelap memangsaku perlahan.
Karna dua lain adalah angin,
dan benih prasangka.
Thursday, July 21, 2005
Limitasi
Benang sari dan putik,
kumpulan rumput liar,
kau petik satu persatu,
dari purnama semalam...
Kau manjakan aku,
dengan deras kata,
yang dulu pernah kupinta,
dalam tiap untaian doa...
Benang sari dan putik,
kumpulan rumput liar,
kau petik satu persatu,
dari purnama semalam...
Kau manjakan aku,
dengan deras kata,
yang dulu pernah kupinta,
dalam tiap untaian doa...
Monday, July 18, 2005
Putaran rasa
Keluhan rutin pada hari-hari hujan,
betapa kami benci pada kilat,
yang awali serentetan larangan.
Berlari ke balik punggung bunda,
berlindung dari gaduh guntur,
diakhiri dengan lebat hujan.
Beberapa jenak tuntas sudah tangis langit,
tinggalkan becek lumpur tuk bermain.
Kau pun menyambarku bagai kilat,
sekelibatan mata namun dahsyat.
Dalam hitungan detik aku terpaku,
singkat kemudian hatiku digedor kuat.
Nanti kita kan berlari kecil saat hujan renik,
berteduh di kala lebat, nikmati indah bianglala,
dan jejakkan kaki telanjang di rumput yang basah.
Begitulah dunia, ikatan ini,
dan keseluruhan dinamika.
Kita jelang sama rata,
sampai nafas tak lagi sama.
Keluhan rutin pada hari-hari hujan,
betapa kami benci pada kilat,
yang awali serentetan larangan.
Berlari ke balik punggung bunda,
berlindung dari gaduh guntur,
diakhiri dengan lebat hujan.
Beberapa jenak tuntas sudah tangis langit,
tinggalkan becek lumpur tuk bermain.
Kau pun menyambarku bagai kilat,
sekelibatan mata namun dahsyat.
Dalam hitungan detik aku terpaku,
singkat kemudian hatiku digedor kuat.
Nanti kita kan berlari kecil saat hujan renik,
berteduh di kala lebat, nikmati indah bianglala,
dan jejakkan kaki telanjang di rumput yang basah.
Begitulah dunia, ikatan ini,
dan keseluruhan dinamika.
Kita jelang sama rata,
sampai nafas tak lagi sama.
Benih pikiran
Sekali lagi mencoba tuk erat,
tenggelam dalam rasa.
Dimana pelabuhan sejuta rona,
tak mampu sadarkan kita.
Aku hanya ingin satu, lekat.
Tak sekedar mengenang,
masturbasi imajinasi,
setubuhi rasa yang kosong..
Sekali lagi mencoba tuk erat,
tenggelam dalam rasa.
Dimana pelabuhan sejuta rona,
tak mampu sadarkan kita.
Aku hanya ingin satu, lekat.
Tak sekedar mengenang,
masturbasi imajinasi,
setubuhi rasa yang kosong..
Saturday, July 16, 2005
Vows
Pucat wajahmu tak redupkan aura,
genggaman tangan dan tautan rasa lekat,
mengusung frase batas usia,
tenggelamkan di dasar samudera.
Keringat basahi keningmu,
lengkapi sekotak nyeri di hatiku.
Kupungut sejumlah asa baik-baik,
tanpa satu yang tertinggal.
To have and to hold,
from this day forward,
for better, for worse,
for richer, for poorer,
in sickness and in health,
to love and to cherish...
Pucat wajahmu tak redupkan aura,
genggaman tangan dan tautan rasa lekat,
mengusung frase batas usia,
tenggelamkan di dasar samudera.
Keringat basahi keningmu,
lengkapi sekotak nyeri di hatiku.
Kupungut sejumlah asa baik-baik,
tanpa satu yang tertinggal.
To have and to hold,
from this day forward,
for better, for worse,
for richer, for poorer,
in sickness and in health,
to love and to cherish...
Friday, July 15, 2005
My call
Ada denyut yang tertunda,
detak yang berganda,
dan nafas yang terus memburu...
Aku, kau,
dan kita...
Ada denyut yang tertunda,
detak yang berganda,
dan nafas yang terus memburu...
Aku, kau,
dan kita...
Titisan
Siapa kau?
Panjang rambut, jernih mata,
tinggi badan dan putih kulit,
kau yang kini,
aku asing.
Ah, kau rupawan,
menitis angsa ketika purnama,
tanggal kostum dan lekatkan indah.
Hanya saja sinar matamu beda,
tak lagi menghujam bertabur renjana,
siap luluhkan aku habis-habisan...
Kita hilang kekang,
akan serbuan waktu,
tinggalkan jemu,
dan candu.
Siapa kau?
Panjang rambut, jernih mata,
tinggi badan dan putih kulit,
kau yang kini,
aku asing.
Ah, kau rupawan,
menitis angsa ketika purnama,
tanggal kostum dan lekatkan indah.
Hanya saja sinar matamu beda,
tak lagi menghujam bertabur renjana,
siap luluhkan aku habis-habisan...
Kita hilang kekang,
akan serbuan waktu,
tinggalkan jemu,
dan candu.
Wednesday, July 13, 2005
Utuh
Beku atmosfer malam itu,
kau membakarku.
Ingin mencampakkan segera,
semua basa basi itu,
dan selimut yang menutupimu..
Masuki labirin sunyi,
entah kaki-mu atau -ku,
terlalu gemetar,
kita buat gaduh saja..
Malam terusik, gelap melindap,
sinar matari agak jengah,
mengintip malu-malu..
Fajar itu,
kita satu.
Beku atmosfer malam itu,
kau membakarku.
Ingin mencampakkan segera,
semua basa basi itu,
dan selimut yang menutupimu..
Masuki labirin sunyi,
entah kaki-mu atau -ku,
terlalu gemetar,
kita buat gaduh saja..
Malam terusik, gelap melindap,
sinar matari agak jengah,
mengintip malu-malu..
Fajar itu,
kita satu.
Wednesday, July 06, 2005
4/4 dan staccato
Pianoku uzur penuh debu,
esok kan kukibas bersama kelu tangan,
sudah lama kaku,
terlalu.
Perlahan jari satu hingga lima,
kanan dan kiri ketukkan tempo baru.
Mainkan lagu cinta dengan nada riang,
sedikit staccato disana sini.
Buyar sudah birama yang tersusun rapih,
perduli tak aku pada kaku garis batas,
hadirnya mereka hanya tuk jenuh.
Dan rasa tak kenal kata itu,
jabat tangan tak pernah mereka lakukan.
Pianoku uzur penuh debu,
esok kan kukibas bersama kelu tangan,
sudah lama kaku,
terlalu.
Perlahan jari satu hingga lima,
kanan dan kiri ketukkan tempo baru.
Mainkan lagu cinta dengan nada riang,
sedikit staccato disana sini.
Buyar sudah birama yang tersusun rapih,
perduli tak aku pada kaku garis batas,
hadirnya mereka hanya tuk jenuh.
Dan rasa tak kenal kata itu,
jabat tangan tak pernah mereka lakukan.
Monday, July 04, 2005
Manisnya rasa
Kubangun harga manusia dari janji.
Bagaimana lekuk lidah muntahkan frase,
kubangun puri megah dari kata per kata.
Walau ringkihnya bagai pasir,
tetap perisai kokoh milikku.
Diri ini, sepanjang jengkal tubuh,
utuh milikmu.
Bernafaslah dengan janjiku,
selama ruh melekat di raga,
aku setia pada rasa ini.
Kubangun harga manusia dari janji.
Bagaimana lekuk lidah muntahkan frase,
kubangun puri megah dari kata per kata.
Walau ringkihnya bagai pasir,
tetap perisai kokoh milikku.
Diri ini, sepanjang jengkal tubuh,
utuh milikmu.
Bernafaslah dengan janjiku,
selama ruh melekat di raga,
aku setia pada rasa ini.
Sunday, June 26, 2005
Sinonim
Lingkup gerikmu, luruh langkahku,
dalam bentengi hasrat, sebut gejolak itu cinta!
Lingkup gerikmu, luruh langkahku,
dalam bentengi hasrat, sebut gejolak itu cinta!
Kami adalah saya
Kursi sutradara itu untuk kau,
bukan untuk si manis berambut ikal,
dengan kostum minimnya.
Bukan pula punguk perindu rembulan,
yang lengkapi fabel pengantar tidur dari bunda.
Aku dan mereka hanyalah figuran,
kalaupun masih adu pendapat,
paling tidak kami hanya bisa ikuti skenario.
Karna kaulah sang sutradara,
pencanang semua adegan,
dari titik dan koma,
hingga mati ekspresi.
Daya minimal ini,
kami hanya bisa maksimal.
Kursi sutradara itu untuk kau,
bukan untuk si manis berambut ikal,
dengan kostum minimnya.
Bukan pula punguk perindu rembulan,
yang lengkapi fabel pengantar tidur dari bunda.
Aku dan mereka hanyalah figuran,
kalaupun masih adu pendapat,
paling tidak kami hanya bisa ikuti skenario.
Karna kaulah sang sutradara,
pencanang semua adegan,
dari titik dan koma,
hingga mati ekspresi.
Daya minimal ini,
kami hanya bisa maksimal.
Vibrasi
Getar itu masih sama,
terkurung dalam kotak,
dari tiap pijar imaji.
Resah digenggam,
buat khawatir asa kecilku.
Mataku merangkum seorang,
yang tak pernah lari,
dari mimpi di malam sepi.
Getar itu masih sama,
pada kelopak mata, pada bibir,
pada lemah jemari, pada degup jantung,
padaku, karnamu.
Getar itu masih sama,
terkurung dalam kotak,
dari tiap pijar imaji.
Resah digenggam,
buat khawatir asa kecilku.
Mataku merangkum seorang,
yang tak pernah lari,
dari mimpi di malam sepi.
Getar itu masih sama,
pada kelopak mata, pada bibir,
pada lemah jemari, pada degup jantung,
padaku, karnamu.
Saturday, June 25, 2005
Penulisan Ulang
Loteng tua berdebu,
tinggi dalam sendiri dan sepi,
bertahan pada jingkatan kaki,
telanjang tanpa kasut.
Tirai selubungi lantai kayu,
tenggelamkannya dalam suram.
Indah kisah jadi lapuk kayu.
Hingga waktu hadirkan rapuh,
dan koyak membuka tabir.
Entah bagaimana dengan nasib,
yang selalu permainkan kita.
Loteng tua berdebu,
tinggi dalam sendiri dan sepi,
bertahan pada jingkatan kaki,
telanjang tanpa kasut.
Tirai selubungi lantai kayu,
tenggelamkannya dalam suram.
Indah kisah jadi lapuk kayu.
Hingga waktu hadirkan rapuh,
dan koyak membuka tabir.
Entah bagaimana dengan nasib,
yang selalu permainkan kita.
Kelahiran Asa
Pada air mata yang nyaris menetes,
di petang yang begitu mendung,
kuseka dengan keratan mantel lusuh,
yang penuh bercak mimpi...
Tuk menyesap perih,
agar tak mengalir dalam vena,
dan rupanya berujung pada asa,
yang kau jatuhkan dalam genggamanku.
Kembali,
ya kembali.
Pada air mata yang nyaris menetes,
di petang yang begitu mendung,
kuseka dengan keratan mantel lusuh,
yang penuh bercak mimpi...
Tuk menyesap perih,
agar tak mengalir dalam vena,
dan rupanya berujung pada asa,
yang kau jatuhkan dalam genggamanku.
Kembali,
ya kembali.
Tuesday, June 21, 2005
Stepping stone
Menuding waktu,
memoles ego,
dan salahkan aku.
Nanti kau rasakan,
sepinya sampai di sebrang,
dan tak bisa kembali.
Menuding waktu,
memoles ego,
dan salahkan aku.
Nanti kau rasakan,
sepinya sampai di sebrang,
dan tak bisa kembali.
Definisikan ini!
Partitur yang rapih,
dengan garis dan spasi,
petakan do sampai si...
Selalu ada cerita di balik itu,
milik belasan kertas buram,
yang diremas dan dicampakkan...
Partitur yang rapih,
dengan garis dan spasi,
petakan do sampai si...
Selalu ada cerita di balik itu,
milik belasan kertas buram,
yang diremas dan dicampakkan...
Sunday, June 19, 2005
Seharian sendja
Aku pamit,
tanpa cium di kening,
peluk hangat abaikan hasrat,
dan ikat kain di pergelangan tangan.
Aku pamit,
tanpa cium di kening,
peluk hangat abaikan hasrat,
dan ikat kain di pergelangan tangan.
Tuesday, June 07, 2005
Sembilu
Rembulanku kau guyur warna pucat,
mengusir kerlip perak di seantero langit,
kau teriak mati, mati dan mati!
Percuma sekali, karna sudah ribuan kali,
dan maaf baru kukatakan padamu malam ini.
Telah kau turunkan indah nyata bulan,
dan panas terang matari.
Kau rotasikan semaumu,
pada pucuk kepala hingga tapak kaki.
Rembulanku kau guyur warna pucat,
mengusir kerlip perak di seantero langit,
kau teriak mati, mati dan mati!
Percuma sekali, karna sudah ribuan kali,
dan maaf baru kukatakan padamu malam ini.
Telah kau turunkan indah nyata bulan,
dan panas terang matari.
Kau rotasikan semaumu,
pada pucuk kepala hingga tapak kaki.
Tanggal
Menghitung singgungku...
Setelah ratusan jam kudaki terjal bukit,
sampai hilang panjang rambutku,
berkikisan dengan angin lereng...
Ah, memang aku salah menembus kabut,
yang gelap sandarkan pada limbungku,
hingga aku mengaku manusia,
padahal mereka mengaku aku..
Perih karna sedih, tawa karna suka,
manusiawi sekali, siklus kehidupan.
Tapi kan kucari merah meradang,
dalam tiap susuran pilu per meter,
karna mudahnya pengajaranmu.
Menghitung singgungku...
Setelah ratusan jam kudaki terjal bukit,
sampai hilang panjang rambutku,
berkikisan dengan angin lereng...
Ah, memang aku salah menembus kabut,
yang gelap sandarkan pada limbungku,
hingga aku mengaku manusia,
padahal mereka mengaku aku..
Perih karna sedih, tawa karna suka,
manusiawi sekali, siklus kehidupan.
Tapi kan kucari merah meradang,
dalam tiap susuran pilu per meter,
karna mudahnya pengajaranmu.
Sunday, June 05, 2005
Akirih
Letakkan sebelah kiri perlahan,
dengan deras dan hening suara,
tanpa perlu mengusik sebelah kanan.
Aku bermakam bukan karna lirih,
hanya kaca gerutuan kirik pada ngilu,
di sela hujan bertalu dalam bisu.
Gelap gulita suarakan kata rumah,
dalam pelukannya, tanpa kata pulang.
Letakkan sebelah kiri perlahan,
dengan deras dan hening suara,
tanpa perlu mengusik sebelah kanan.
Aku bermakam bukan karna lirih,
hanya kaca gerutuan kirik pada ngilu,
di sela hujan bertalu dalam bisu.
Gelap gulita suarakan kata rumah,
dalam pelukannya, tanpa kata pulang.
Saturday, June 04, 2005
jeda lari jeda
Kita salah kolom,
seharusnya garis titik garis stop,
dan bukan sebaliknya.
Entah mata hati yang tumpul,
atau suryakanta yang bias,
rupanya memang harus diganti.
Titik garis titik stop
jeda lari jeda kosong
Kita salah kolom,
seharusnya garis titik garis stop,
dan bukan sebaliknya.
Entah mata hati yang tumpul,
atau suryakanta yang bias,
rupanya memang harus diganti.
Titik garis titik stop
jeda lari jeda kosong
Wednesday, June 01, 2005
Prolog dan epilog
Malam singgah pada kelopak mata,
menyulap letup harapan embun pagi.
Tak mengubah adanya fajar di suatu masa,
dengan gulungan cerita yang nihil tanda titik.
Malam singgah pada kelopak mata,
menyulap letup harapan embun pagi.
Tak mengubah adanya fajar di suatu masa,
dengan gulungan cerita yang nihil tanda titik.
Akhir Mei
Gelarkan mimpi,
berbahan perca memori,
dengan ratusan payet,
berwarna perada,
sebagai pemanis resah,
dari tusukan ilalang liar,
yang jauh terserak,
di dasar fondasi kata kita.
Gelarkan mimpi,
berbahan perca memori,
dengan ratusan payet,
berwarna perada,
sebagai pemanis resah,
dari tusukan ilalang liar,
yang jauh terserak,
di dasar fondasi kata kita.
Friday, May 27, 2005
Makam sebuah dongeng
Menggubah lirih malam,
lengkap dengan notasi,
jadi soneta peluruh sukma.
Dahaga sepanjang sahara,
jadi dataran es tak bertepi,
dengan musim semi di tengah.
Kau, menghuni lubuk hati,
tertera pada ratusan lembar ingatan,
tanpa bisa kucoret dengan darah.
Menggubah lirih malam,
lengkap dengan notasi,
jadi soneta peluruh sukma.
Dahaga sepanjang sahara,
jadi dataran es tak bertepi,
dengan musim semi di tengah.
Kau, menghuni lubuk hati,
tertera pada ratusan lembar ingatan,
tanpa bisa kucoret dengan darah.
Bersenyawa
Menyerap sari,
mendaulat peluh,
dan noda senggama.
Dalam hujan tak lagi renik,
bercampur lumpur tanah,
disela rumput hijau.
Kita,
menautkan jemari,
seraya bertukar ruh.
Menyerap sari,
mendaulat peluh,
dan noda senggama.
Dalam hujan tak lagi renik,
bercampur lumpur tanah,
disela rumput hijau.
Kita,
menautkan jemari,
seraya bertukar ruh.
Wednesday, May 25, 2005
Simponi duka cita
Malam labu pakai kostum,
bawa topeng lalu berandai-andai.
Aku ini apolo, tak kalah tanding dengan idas,
atau setidaknya aku bersenjatakan lira...
Malam labu pakai kostum,
bawa topeng lalu berandai-andai.
Aku ini apolo, tak kalah tanding dengan idas,
atau setidaknya aku bersenjatakan lira...
Malam dan Merah
Dua kali aku tidur bergincu merah jambu,
dengan kilap ulasan senyum masih merona.
Malam ini merah darah, dalam lelapku.
Kenapa harus gigi gemertak menahan pedih,
mencabik dan buahkan tangis...
Dua kali aku tidur bergincu merah jambu,
dengan kilap ulasan senyum masih merona.
Malam ini merah darah, dalam lelapku.
Kenapa harus gigi gemertak menahan pedih,
mencabik dan buahkan tangis...
Tuesday, May 17, 2005
Kosong
Dinding tembaga,
yakin dirinya absah,
benar pada tiap tarikan karat,
tak pudar dalam bejana besar.
Ia punya mata juga telinga,
dan mungkin hati, seabad yang lalu.
Nurani dan insting tuk mencinta,
sebelum semua direnggut usia.
Dinding tembaga,
yakin dirinya absah,
benar pada tiap tarikan karat,
tak pudar dalam bejana besar.
Ia punya mata juga telinga,
dan mungkin hati, seabad yang lalu.
Nurani dan insting tuk mencinta,
sebelum semua direnggut usia.
Nos poma natamus
Mekar dan berkembang,
rupawan juga cantik satu masa.
Bunga nantinya kan layu,
gugur lalu jatuh ke tanah.
Entah mengapa mereka melafalkan,
kerendahan diri sebagai awan kecil.
Mekar dan berkembang,
rupawan juga cantik satu masa.
Bunga nantinya kan layu,
gugur lalu jatuh ke tanah.
Entah mengapa mereka melafalkan,
kerendahan diri sebagai awan kecil.
Monday, May 16, 2005
Aksara dari rasa
Seakan kehabisan vokal dan konsonan.
Rupanya tidak, endapan memori masih kental.
Alam menolak, kegusaran terbilas bersih.
Hanya rasa yang begitu tulus,
hinggap dan tak terbang lagi.
Seakan kehabisan vokal dan konsonan.
Rupanya tidak, endapan memori masih kental.
Alam menolak, kegusaran terbilas bersih.
Hanya rasa yang begitu tulus,
hinggap dan tak terbang lagi.
Awal
Penanggalan beban punggungku,
tak ada lagi yang perkosaku setubuhi tanah.
Kini kujunjung rasa yang mesra,
dengan gelegak berdaya musnah,
terhadap semua ketidakjujuran yang terjal.
Penanggalan beban punggungku,
tak ada lagi yang perkosaku setubuhi tanah.
Kini kujunjung rasa yang mesra,
dengan gelegak berdaya musnah,
terhadap semua ketidakjujuran yang terjal.
Sunday, May 15, 2005
Persevero
Dayung dan layar,
sampai terbit suria,
habis pula tenaga,
tapi tidak jiwa ini.
Dayung dan layar,
tunjukkan dayaku manusia,
berlarian menutur cerita,
tak meleset dari suratan.
Dayung dan layar,
sampai terbit suria,
habis pula tenaga,
tapi tidak jiwa ini.
Dayung dan layar,
tunjukkan dayaku manusia,
berlarian menutur cerita,
tak meleset dari suratan.
Mata hati
Sinarlah yang membedakan warna,
beri wahyu pada sepasang mata,
tuk meresapi tiap semburat,
putih, kuning, dan merah hati.
Demikian pula aku,
bisa menjelma kasih,
bertindak ikhlas dan mencinta,
karena kau.
Sinarlah yang membedakan warna,
beri wahyu pada sepasang mata,
tuk meresapi tiap semburat,
putih, kuning, dan merah hati.
Demikian pula aku,
bisa menjelma kasih,
bertindak ikhlas dan mencinta,
karena kau.
Rasa yang murni
Dia, dia ataupun dia,
tidak dapat merampas cinta,
yang kukenakan sebagai jubah,
penutup tubuh..
Karena sebelum memasuki arena,
telah kutanggalkan kasut keangkuhan,
dan semeter setengah kain keegoisan.
Apakah yang mereka dapat ambil,
dari aku yang telanjang?
Kau telah masuk ke dalam hati,
melalui pori-pori.
Dia, dia ataupun dia,
tidak dapat merampas cinta,
yang kukenakan sebagai jubah,
penutup tubuh..
Karena sebelum memasuki arena,
telah kutanggalkan kasut keangkuhan,
dan semeter setengah kain keegoisan.
Apakah yang mereka dapat ambil,
dari aku yang telanjang?
Kau telah masuk ke dalam hati,
melalui pori-pori.
Saturday, May 14, 2005
Warna dan rasa
Parafrasekan cerita kita,
habislah kertas dalam buku,
dan aksara dalam diksi.
Pijaran kita terlalu indah,
untuk mengenal eufemisme,
dan berjabat tangan dengan degradatif.
Parafrasekan cerita kita,
habislah kertas dalam buku,
dan aksara dalam diksi.
Pijaran kita terlalu indah,
untuk mengenal eufemisme,
dan berjabat tangan dengan degradatif.
Sunday, May 08, 2005
Habis nafas, lelah raga
Lari dari setapak yang berkerikil halus,
jatuhkan diri pada secercah yang tersisa,
hijau pada awalnya dan nanti kecoklatan.
Halilintar yang bodoh,
entah apa yang kita takuti.
Lari dari setapak yang berkerikil halus,
jatuhkan diri pada secercah yang tersisa,
hijau pada awalnya dan nanti kecoklatan.
Halilintar yang bodoh,
entah apa yang kita takuti.
Saturday, May 07, 2005
Sub rosa
Mereka tidak perlu tahu,
degup jantung yang berpacu,
birahi yang tak tertata,
dalam setiap tatap mata.
Cerita kita milik berdua,
dalam meja pertemuan ini,
setelah nanti kusematkan,
bunga mawar di depan pintu.
Mereka tidak perlu tahu,
degup jantung yang berpacu,
birahi yang tak tertata,
dalam setiap tatap mata.
Cerita kita milik berdua,
dalam meja pertemuan ini,
setelah nanti kusematkan,
bunga mawar di depan pintu.
Lapisan ketiga
Jambak tangan pada rambutku,
disimpul mati pada kekang.
Kesepuluh kuku tangan patah,
beradu dinding batu,
darah merah,
daging putih,
beku.
Sudah kau jarah,
dengan cumbu dan rayu.
Kau perkosa,
dengan peluh dan air mata.
Sampai dehidrasi kurasa,
res ad triarios rediit.
Jambak tangan pada rambutku,
disimpul mati pada kekang.
Kesepuluh kuku tangan patah,
beradu dinding batu,
darah merah,
daging putih,
beku.
Sudah kau jarah,
dengan cumbu dan rayu.
Kau perkosa,
dengan peluh dan air mata.
Sampai dehidrasi kurasa,
res ad triarios rediit.
Friday, May 06, 2005
Aspirin
Kutuangkan sejuta bintang dari langit,
memberi cahya sekedarnya pada alam mimpi,
dimana kau tengah terlelap kuatkan raga,
yang rupanya sedikit terzalimi.
Mereka kan tuntun kamu padaku,
hangat dalam pelukan rindu,
dimana aku pun belum tuntas,
isi penuh lengkung senyum batinmu.
Kutuangkan sejuta bintang dari langit,
memberi cahya sekedarnya pada alam mimpi,
dimana kau tengah terlelap kuatkan raga,
yang rupanya sedikit terzalimi.
Mereka kan tuntun kamu padaku,
hangat dalam pelukan rindu,
dimana aku pun belum tuntas,
isi penuh lengkung senyum batinmu.
Penutup hari
Terperangkap kita dalam gurihnya euforia bercinta,
mereguk tiap klimaks dalam lengkung senyum,
tawa dan tentunya di sela tetesan air mata.
Waktu yang semu telah membeku,
dan kita tentu kan semakin larut.
Terperangkap kita dalam gurihnya euforia bercinta,
mereguk tiap klimaks dalam lengkung senyum,
tawa dan tentunya di sela tetesan air mata.
Waktu yang semu telah membeku,
dan kita tentu kan semakin larut.
Tuesday, May 03, 2005
Rotasi
Lirih fajar sudah terdengar sayup-sayup.
Kau yang lalu, kini dan akan datang adalah sama,
dalam bingkai kesempurnaan dua sisi.
Kau sungguh dicintai gravitasi bumi,
yang buatku berporos padamu.
Dari terbitnya matari, hingga 24 jam laluinya.
Lirih fajar sudah terdengar sayup-sayup.
Kau yang lalu, kini dan akan datang adalah sama,
dalam bingkai kesempurnaan dua sisi.
Kau sungguh dicintai gravitasi bumi,
yang buatku berporos padamu.
Dari terbitnya matari, hingga 24 jam laluinya.
Hitungan menit
Mencintaimu berawal dari rela,
dan akan beriringan dengan darma.
Karna gembur mimpi-mimpi itu,
telah diperanakkan oleh waktu.
Mencintaimu berawal dari rela,
dan akan beriringan dengan darma.
Karna gembur mimpi-mimpi itu,
telah diperanakkan oleh waktu.
Tangis yang menguap
Menderam langit pada hitungan ketujuh,
mengebumikan riuh dalam satu detik hening.
Perlahan mendung awan bermunculan,
membaurkan hujan renik di tengah air mata.
Seketika langit menjadi megah dalam terang.
Menderam langit pada hitungan ketujuh,
mengebumikan riuh dalam satu detik hening.
Perlahan mendung awan bermunculan,
membaurkan hujan renik di tengah air mata.
Seketika langit menjadi megah dalam terang.
Lanjutan cerita
Meregat ribuan jalan panjang,
perciki air di muka lapak yang semakin kebal.
Larikan semua pada cinta yang takkan reda,
merebak haru di sesaknya aral.
Meregat ribuan jalan panjang,
perciki air di muka lapak yang semakin kebal.
Larikan semua pada cinta yang takkan reda,
merebak haru di sesaknya aral.
Abadi
Saat lidah kelu mengucap lafal,
dan raga menjerang letih,
kau tetap ada dalam aku.
Walau fajar kusebut kelam,
dan dingin keliru jadi bara.
Kau adalah kau, terindah untukku.
Saat lidah kelu mengucap lafal,
dan raga menjerang letih,
kau tetap ada dalam aku.
Walau fajar kusebut kelam,
dan dingin keliru jadi bara.
Kau adalah kau, terindah untukku.
Bukan percintaan biasa
Mata telanjang kita terpana,
akan awan dan bulan yang senggama.
Maka layaklah sepasang mata bersinar cemburu,
kala kita bercinta hingga bersimbah peluh.
Walau hanya desah dan lenguh kata,
dengan kasih sebagai bumbu utama.
Mata telanjang kita terpana,
akan awan dan bulan yang senggama.
Maka layaklah sepasang mata bersinar cemburu,
kala kita bercinta hingga bersimbah peluh.
Walau hanya desah dan lenguh kata,
dengan kasih sebagai bumbu utama.
Monday, May 02, 2005
Penulis catatan kaki
Aku beranjak tidur,
tetapi tidak ruhku.
Pun hati yang kutitipkan,
jauh-jauh hari padamu.
Priaku yang menyolok mata,
bahkan diantara selaksa orang,
padamkan kobaran amarah,
dan tinggalkan bunga api rindu.
Aku beranjak tidur,
tetapi tidak ruhku.
Pun hati yang kutitipkan,
jauh-jauh hari padamu.
Priaku yang menyolok mata,
bahkan diantara selaksa orang,
padamkan kobaran amarah,
dan tinggalkan bunga api rindu.
Perempuan senja
Perempuan itu jatuh cinta,
pada pria yang tak perlu bernama.
Dengan pijakan strata rasa,
dan hanya punya hati.
Kemudian mereka membuat menara,
dengan fondasi sederhana.
Berstruktur cinta, cinta dan cinta,
yang tak pernah ada habisnya.
Perempuan itu jatuh cinta,
pada pria yang tak perlu bernama.
Dengan pijakan strata rasa,
dan hanya punya hati.
Kemudian mereka membuat menara,
dengan fondasi sederhana.
Berstruktur cinta, cinta dan cinta,
yang tak pernah ada habisnya.
Pertama dan terakhir
Soneta lama dengan warna cerah,
kuanggapnya usang dan hitam putih.
Mereka adalah satire, tenggelamkan nyata.
Dengan kita yang berkecukupan cinta,
sebuah intermezzo tak perlu hadir.
Soneta lama dengan warna cerah,
kuanggapnya usang dan hitam putih.
Mereka adalah satire, tenggelamkan nyata.
Dengan kita yang berkecukupan cinta,
sebuah intermezzo tak perlu hadir.
Pelakon utama
Bicara remang yang terabaikan,
saat terang mengawali benderang.
Pun tegaknya pohon cemara,
di tengah rimbunan mawar,
yang semerbak dan merah darah.
Kau mencuri sorot lampu,
dalam sandiwara itu.
Tuntun mataku,
mengarah padamu.
Bicara remang yang terabaikan,
saat terang mengawali benderang.
Pun tegaknya pohon cemara,
di tengah rimbunan mawar,
yang semerbak dan merah darah.
Kau mencuri sorot lampu,
dalam sandiwara itu.
Tuntun mataku,
mengarah padamu.
Balui
Kau gandengkan senyum dengan enggan,
jarak beku sebagai tali kekang.
Nurani tak lagi ingin berperang.
Secarik kain putih tlah kujadikan serbet,
bahkan sedari awal, pada kemarau itu.
Tarik dan hembuskan nafas,
matilah aku tak dapat keduanya.
Kau gandengkan senyum dengan enggan,
jarak beku sebagai tali kekang.
Nurani tak lagi ingin berperang.
Secarik kain putih tlah kujadikan serbet,
bahkan sedari awal, pada kemarau itu.
Tarik dan hembuskan nafas,
matilah aku tak dapat keduanya.
Sunday, May 01, 2005
Jejak
Lisut-lisut pada telapak,
bukan kulit dan juga dahi,
pikir aku tak butuh petang ini.
Sepasang yang menapak,
bersisian tanpa adu pacu,
tak hilang dijilati ombak.
Lisut-lisut pada telapak,
bukan kulit dan juga dahi,
pikir aku tak butuh petang ini.
Sepasang yang menapak,
bersisian tanpa adu pacu,
tak hilang dijilati ombak.
Sunday, April 24, 2005
Manifestasi fisik
Ya, ambillah belati berlumur racun itu,
tancapkan ke jantungku tanpa ragu.
Lalu bilaslah tanganmu dan segera berkemas,
jangan lupa kenakan kasut di kedua kakimu.
Mulailah berjalan dari tarsus hingga memfis,
tuk temukan sungai tigris.
Ya, ambillah belati berlumur racun itu,
tancapkan ke jantungku tanpa ragu.
Lalu bilaslah tanganmu dan segera berkemas,
jangan lupa kenakan kasut di kedua kakimu.
Mulailah berjalan dari tarsus hingga memfis,
tuk temukan sungai tigris.
Aku asyera, aku amaris
Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.
Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.
Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Indera
Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Insomnia
Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.
Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.
Saturday, April 23, 2005
Pasir, hujan dan cinta
Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?
Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.
Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?
Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.
Thursday, April 21, 2005
Animae dimidium meae
Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Manusia dan kami
Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.
Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.
Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.
Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.
Wednesday, April 20, 2005
Sebuah nama
Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Catatan kecil
Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Ugahari
Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.
Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.
Tuesday, April 19, 2005
Lebih dari cinta
Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.
Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.
Monday, April 18, 2005
Menuju gembur
Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.
Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.
Sunday, April 17, 2005
Loncatan
Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Tambalan hati
Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Ikebana
Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Kanan dan kiri
Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.
Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.
Saturday, April 16, 2005
::tempoe doeloe::
Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Versi
Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.
Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.
Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Pria Amerika-ku
Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.
Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.
Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.
Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.
Thursday, April 14, 2005
Sekarang dan nanti
Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Kuntum
Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.
Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.
Tuesday, April 12, 2005
[cinta??]
Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.
Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.
Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
2 + 1
Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.
Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.
Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.
Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.
Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Penanggalan kesepuluh
Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.
Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.
Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Ikatan
Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Hanya prolog
Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.
Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.
Aku, termangu...
Dia yang satu,
di atas langit biru,
bertitah penuh haru,
akan mereka yang bisu.
Dia yang satu,
di atas langit biru,
bertitah penuh haru,
akan mereka yang bisu.
Saturday, April 09, 2005
Kosa kata rindu
Kecapiku bermain sempurna,
dalam keluk jemari seorang pecinta.
Tanpa debur jantung yang pasti,
karna disitulah misteri terindah.
Pertautan rindu yang bertahta atas namanya,
terasa lebih mematikan dari genderang perang.
Ditabuh, bertabuh dan menabuhkan,
seirama degup jantung yang lebih dari sekedar bertalu.
Kecapiku bermain sempurna,
dalam keluk jemari seorang pecinta.
Tanpa debur jantung yang pasti,
karna disitulah misteri terindah.
Pertautan rindu yang bertahta atas namanya,
terasa lebih mematikan dari genderang perang.
Ditabuh, bertabuh dan menabuhkan,
seirama degup jantung yang lebih dari sekedar bertalu.
Tik tok yang terhenti
Tak pantas kau turutkan ranggas dalam jalinan frase,
karna hangat dan beku datang bersamaan,
dan berulang terus dalam sedetik pertemuan.
Aku yang hangat, kau kecup kau cumbu.
Waktu yang beku, kau jarah, kau repih.
Kita yang masih tetap berjalan,
walau di luar lingkar waktu.
Tak pantas kau turutkan ranggas dalam jalinan frase,
karna hangat dan beku datang bersamaan,
dan berulang terus dalam sedetik pertemuan.
Aku yang hangat, kau kecup kau cumbu.
Waktu yang beku, kau jarah, kau repih.
Kita yang masih tetap berjalan,
walau di luar lingkar waktu.
Warna
Sutera jingga di balik perak rembulan,
berubah warna jadi kelabu menghitam.
Seharusnya putih, mungkin sedikit tembus pandang.
Ya, selayaknya itu adalah murni.
Sutera jingga di balik perak rembulan,
berubah warna jadi kelabu menghitam.
Seharusnya putih, mungkin sedikit tembus pandang.
Ya, selayaknya itu adalah murni.
Orionku
Purnama nyaris menghilang,
maka kutarik dataran buana,
menumpukan kaki lelah di atasnya,
menyenderkan lengkung punggung,
dan rebahkan diri..
Melihat indahnya langit terjangkau mata batin,
dengan titik bintang yang kurangkai sendiri,
jadi estetika tiada tanding,
kamu.
Purnama nyaris menghilang,
maka kutarik dataran buana,
menumpukan kaki lelah di atasnya,
menyenderkan lengkung punggung,
dan rebahkan diri..
Melihat indahnya langit terjangkau mata batin,
dengan titik bintang yang kurangkai sendiri,
jadi estetika tiada tanding,
kamu.
Wednesday, April 06, 2005
Trilogi
Layangkan pandang pada tubuh,
yang gemetar hingga buluh terasa gempa,
dan semua karna candumu.
Setubuhi aku sebelum terik mengiba,
karena diri ini hanya berisikan kamu,
sampai degup jantung teriakkan namamu.
Lalu setelah itu, tahirkan dengan kecup di pipi,
sebarkan merah dadu yang muncul kala fajar.
Layangkan pandang pada tubuh,
yang gemetar hingga buluh terasa gempa,
dan semua karna candumu.
Setubuhi aku sebelum terik mengiba,
karena diri ini hanya berisikan kamu,
sampai degup jantung teriakkan namamu.
Lalu setelah itu, tahirkan dengan kecup di pipi,
sebarkan merah dadu yang muncul kala fajar.
Rangkaian intermezzo
Nyeri pada lengan,
yang kian jaga waktu,
tak berontak.
Lemah pada pundak,
yang menopang beban,
sepanjang sejarah.
Letih pada betis,
yang tak henti berlari,
mencari permukaan yang rata.
Aku sudah imun,
tak lagi memaknai derita.
Karena cinta tlah hadir,
atas nama kita.
Nyeri pada lengan,
yang kian jaga waktu,
tak berontak.
Lemah pada pundak,
yang menopang beban,
sepanjang sejarah.
Letih pada betis,
yang tak henti berlari,
mencari permukaan yang rata.
Aku sudah imun,
tak lagi memaknai derita.
Karena cinta tlah hadir,
atas nama kita.
Monday, April 04, 2005
Indah, tak terucap
Tertera aku,
terlukis kita.
Semakin larutnya kamu,
dan terpenjaranya aku.
Merepih sukar,
sapukan kelikir,
sisakan dahaga rasa,
yang kan terisi nanti.
Tertera aku,
terlukis kita.
Semakin larutnya kamu,
dan terpenjaranya aku.
Merepih sukar,
sapukan kelikir,
sisakan dahaga rasa,
yang kan terisi nanti.
Sunday, April 03, 2005
Warisan
Suara laut menderu,
begitu tinggi dalam bising.
Keraskan hati,
beratkan telinga,
lekatkan mata,
pupuskan ingin.
Biar aku sembuh dari luka,
yang datang dari pesta pora.
Biar aku bisa berbalik dan pergi,
tinggalkan semua gempita.
Suara laut masih tetap menderu,
tapi aku tak lagi mendengar.
Suara laut menderu,
begitu tinggi dalam bising.
Keraskan hati,
beratkan telinga,
lekatkan mata,
pupuskan ingin.
Biar aku sembuh dari luka,
yang datang dari pesta pora.
Biar aku bisa berbalik dan pergi,
tinggalkan semua gempita.
Suara laut masih tetap menderu,
tapi aku tak lagi mendengar.
Mercusuar
Menyela kabut, jauh-jauh hari.
Tinggi menjulang dekat semenanjung.
Merah dan putih.
Tidak lebih tinggi dari gedung pencakar langit.
Tidak lebih kuat dari dinding berkubu.
Tidak lebih indah dari istana raja.
Menarikku, mempesonaku,
menerangiku, mengamankanku,
dan kemudian menenangkanku,
hingga akhirnya melelapkanku.
Menyela kabut, jauh-jauh hari.
Tinggi menjulang dekat semenanjung.
Merah dan putih.
Tidak lebih tinggi dari gedung pencakar langit.
Tidak lebih kuat dari dinding berkubu.
Tidak lebih indah dari istana raja.
Menarikku, mempesonaku,
menerangiku, mengamankanku,
dan kemudian menenangkanku,
hingga akhirnya melelapkanku.
Braile dan namamu
Semalam aku jatuh buta,
tidak karena mati lampu,
ataupun gerhana.
Aku mendadak buta,
karena ujung jariku berbicara,
walau dalam gelap yang kelam.
Satu, dua hingga sepuluh,
memaknai kamu perlahan.
Seakan tengah menyesapmu,
menelusuri namamu dengan huruf Braile!
Semalam aku jatuh buta,
tidak karena mati lampu,
ataupun gerhana.
Aku mendadak buta,
karena ujung jariku berbicara,
walau dalam gelap yang kelam.
Satu, dua hingga sepuluh,
memaknai kamu perlahan.
Seakan tengah menyesapmu,
menelusuri namamu dengan huruf Braile!
Linier berulang
Aku dan kamu berkelana,
menapaki lingkar waktu linier,
di atas pelana kuda perkasa.
Kali keseribu dengan pola yang sama,
mungkin ada yang tengah guncangkan buana,
tapi kita tetap melangkah sempurna.
Seakan tak tersentuh cela,
hanya ada tapal yang menipis...
Aku dan kamu berkelana,
menapaki lingkar waktu linier,
di atas pelana kuda perkasa.
Kali keseribu dengan pola yang sama,
mungkin ada yang tengah guncangkan buana,
tapi kita tetap melangkah sempurna.
Seakan tak tersentuh cela,
hanya ada tapal yang menipis...
Friday, April 01, 2005
Remah/remeh
Lantunan indahmu terbit,
saat genting datang,
dan kau anggap itu remeh.
Sedangkan buatku itu remah,
yang perlahan membangun,
tak lupa jua meruntuhkan.
Sempatkan waktu,
untuk menggores tinta.
Sederhana perilaku,
yang berakhir sempurna.
Lantunan indahmu terbit,
saat genting datang,
dan kau anggap itu remeh.
Sedangkan buatku itu remah,
yang perlahan membangun,
tak lupa jua meruntuhkan.
Sempatkan waktu,
untuk menggores tinta.
Sederhana perilaku,
yang berakhir sempurna.
Thursday, March 31, 2005
Takarlah bila kau mampu..
Bentang gembiraku takkan cukupi lembaran peta,
bahkan yang terlebar sekalipun,
dengan skala satu banding seribu.
Bintang sunyiku,
kian indah hari-harimu,
dengan kita yang melesak semakin dalam.
Dan lihat, kemarin ada setetes haru.
Meluap dari relung hatimu,
yang kuyakin takkan pernah berdusta.
Lengkung senyum milikmu,
oh sungguh, cukupi lahir batinku,
maka genaplah ransum hidupku!
Bentang gembiraku takkan cukupi lembaran peta,
bahkan yang terlebar sekalipun,
dengan skala satu banding seribu.
Bintang sunyiku,
kian indah hari-harimu,
dengan kita yang melesak semakin dalam.
Dan lihat, kemarin ada setetes haru.
Meluap dari relung hatimu,
yang kuyakin takkan pernah berdusta.
Lengkung senyum milikmu,
oh sungguh, cukupi lahir batinku,
maka genaplah ransum hidupku!
Masih medio
Pekat yang menyusuri lembaran ini mulai luntur.
Apakah hanya ilusi, atau sungguh debu berterbangan pergi.
Satu dan dua alasan, takkan pernah ada yang percuma.
Bahkan halangan pagar duri setinggi dada!
Pekat yang menyusuri lembaran ini mulai luntur.
Apakah hanya ilusi, atau sungguh debu berterbangan pergi.
Satu dan dua alasan, takkan pernah ada yang percuma.
Bahkan halangan pagar duri setinggi dada!
Puji yang tak pernah surut
Sudahkah kubilang tadi, indahnya kau,
saat berpeluh dalam dekapanku?
Bahkan tandingi kilaunya emas,
di lapisan terakhir pelangi surga.
Mungkin karna rasa yang terpantul,
di bening sepasang matamu.
Tandai adanya aku,
dalam relung hatimu.
Sudahkah kubilang tadi, indahnya kau,
saat berpeluh dalam dekapanku?
Bahkan tandingi kilaunya emas,
di lapisan terakhir pelangi surga.
Mungkin karna rasa yang terpantul,
di bening sepasang matamu.
Tandai adanya aku,
dalam relung hatimu.
Logika rasa
Teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari.
Hati-hati di jalan pulang, sayang..
Kabari aku nanti!
Aku baru menyadari,
kita masing-masing tak pernah pulang.
Bagaimana bisa bila rumah itu,
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?
Teringat salam perpisahan,
pada tiap penghujung hari.
Hati-hati di jalan pulang, sayang..
Kabari aku nanti!
Aku baru menyadari,
kita masing-masing tak pernah pulang.
Bagaimana bisa bila rumah itu,
sesungguhnya ada dalam aku dan juga kau?
Percakapan
Cengkerama jantung pada rindu.
Sungguh kau ini merepotkan,
jejali aku dengan tugas yang berat,
tuk memompa lebih aktif dari biasanya.
Bincang rindu pada rasa.
Bukannya gerutu ingin kami sampaikan,
tapi dia lelah dan aku pun penuh harap,
akan sesuatu yang nyaris terluputkan hari ini.
Mereka berceloteh padaku, aku pun teringat.
Lidahku berkeluk, dan terucap lafal...
Aku sayang kamu, dari terbit hingga terbenamnya.
Jangan pernah bosan dengan kalimat itu ya!
Cengkerama jantung pada rindu.
Sungguh kau ini merepotkan,
jejali aku dengan tugas yang berat,
tuk memompa lebih aktif dari biasanya.
Bincang rindu pada rasa.
Bukannya gerutu ingin kami sampaikan,
tapi dia lelah dan aku pun penuh harap,
akan sesuatu yang nyaris terluputkan hari ini.
Mereka berceloteh padaku, aku pun teringat.
Lidahku berkeluk, dan terucap lafal...
Aku sayang kamu, dari terbit hingga terbenamnya.
Jangan pernah bosan dengan kalimat itu ya!
Thursday, March 24, 2005
Alkisah usang
Masih redup, belum tiba saatnya,
sinar mentari dalam perjalanan.
Hendak pecahkannya,
bawakan sedikit asa.
Tapi untuk sekarang,
aku hendak nikmati.
Oh, gelora syahdu,
bawakan raut wajah seburam sketsa.
Setetes, dua tetes banyaknya,
yang jenuh dengan bobot perkataan.
Bila nanti kau menimba lafal,
coba kau eja dengan baik.
Takut-takut hatimu tak bisa merasai aku.
Masih redup, belum tiba saatnya,
sinar mentari dalam perjalanan.
Hendak pecahkannya,
bawakan sedikit asa.
Tapi untuk sekarang,
aku hendak nikmati.
Oh, gelora syahdu,
bawakan raut wajah seburam sketsa.
Setetes, dua tetes banyaknya,
yang jenuh dengan bobot perkataan.
Bila nanti kau menimba lafal,
coba kau eja dengan baik.
Takut-takut hatimu tak bisa merasai aku.
Genap hitungan kelam
Sudah kutunggu malam ini.
Malam terang penuh cahya,
berkumpul jadi bulat sempurna.
Diberi nama purnama.
Kukumpulkan mereka disini.
Beruang petarung, beringin kesabaran,
merpati pencinta, teratai kusucian,
pelanduk pemimpi dan padi kebijakan.
Kubawa mereka pada dia,
yang kujadikan tiang totemku.
Pada buanaku yang seluas jagad raya,
dan kusederhanakan atas nama kita.
Sudah kutunggu malam ini.
Malam terang penuh cahya,
berkumpul jadi bulat sempurna.
Diberi nama purnama.
Kukumpulkan mereka disini.
Beruang petarung, beringin kesabaran,
merpati pencinta, teratai kusucian,
pelanduk pemimpi dan padi kebijakan.
Kubawa mereka pada dia,
yang kujadikan tiang totemku.
Pada buanaku yang seluas jagad raya,
dan kusederhanakan atas nama kita.
Wednesday, March 23, 2005
Subur rupamu
Akulah pencocok tanam yang dihujani suka,
saat kulihat tunas yang kusemai tumbuh sempurna.
Pucuk ranum di kiri dan kanan hatimu,
hingga penuh semuanya.
Lalu pada matari dan awan,
kupersembahkan tarian indah nan gemulai.
Untuk sekedar ucapkan syukur,
karena puji-pujian teruntuk kamu seorang!
Akulah pencocok tanam yang dihujani suka,
saat kulihat tunas yang kusemai tumbuh sempurna.
Pucuk ranum di kiri dan kanan hatimu,
hingga penuh semuanya.
Lalu pada matari dan awan,
kupersembahkan tarian indah nan gemulai.
Untuk sekedar ucapkan syukur,
karena puji-pujian teruntuk kamu seorang!
Kilasan puisi
Mau cemburu,
teriak menggila,
pada ingin yang menggoda!
Tapi pada apa?
Layakkah secarik kertas,
dan tetesan tinta kucemburui?
Atau bahkan a-b-c pada keyboard PC-mu?
Tentu tidak...
Aku hanya begitu cemburu,
pada atmosfer yang fana.
Dan mungkin dia yang entah mana,
yang jadikanmu begitu puitis.
Ah, sungguh putrikah dia,
bahkan di mata dan di sesapmu?
Layaknya kamu di luruhku?
Mau cemburu,
teriak menggila,
pada ingin yang menggoda!
Tapi pada apa?
Layakkah secarik kertas,
dan tetesan tinta kucemburui?
Atau bahkan a-b-c pada keyboard PC-mu?
Tentu tidak...
Aku hanya begitu cemburu,
pada atmosfer yang fana.
Dan mungkin dia yang entah mana,
yang jadikanmu begitu puitis.
Ah, sungguh putrikah dia,
bahkan di mata dan di sesapmu?
Layaknya kamu di luruhku?
Tuesday, March 22, 2005
Cerita hari sabat
Rupanya malam kurang kelam,
hingga tak selesai semua timbal balik.
Hingga jatuh matari menyapa kecewa,
pada mereka yang berharap percuma.
Rupanya malam kurang kelam,
hingga tak selesai semua timbal balik.
Hingga jatuh matari menyapa kecewa,
pada mereka yang berharap percuma.
Meningkap hitungan detik
Tahun-tahun berlari terus,
tanpa kau sadari dia memakan segalanya.
Deo Gratias, pada lemahnya kita,
yang ternyata lekang waktu.
Tahun-tahun berlari terus,
tanpa kau sadari dia memakan segalanya.
Deo Gratias, pada lemahnya kita,
yang ternyata lekang waktu.
Maujud
Senja berkabut berlian,
luruh dalam tiap gesekan kilat.
Tinggalkan pesonanya melekat erat,
walau tanpa rekonstruksi ingatan.
Senja berkabut berlian,
luruh dalam tiap gesekan kilat.
Tinggalkan pesonanya melekat erat,
walau tanpa rekonstruksi ingatan.
Sunday, March 20, 2005
Berilah gemuruh tepukan!
Cum laude,
kepada perolehan rasa.
Magna cum laude,
bagi kelaparan asa.
Summa cum laude,
untuk keberhasilan kita!
Cum laude,
kepada perolehan rasa.
Magna cum laude,
bagi kelaparan asa.
Summa cum laude,
untuk keberhasilan kita!
Saturday, March 19, 2005
Amaris
Kau bisa memikat dara dengan seruling madu,
memanggilnya sedemikian rupa,
dengan keserasian do re mi...
Tapi dia yang datang sukarela,
lalu berdiam dalam perih dan lirih,
tanpa lantunan pelipur pun nyanyian perindu...
Maka dialah yang layak kau sandang,
dalam jenuhnya rasa dan tiap tetesan darah.
Kau bisa memikat dara dengan seruling madu,
memanggilnya sedemikian rupa,
dengan keserasian do re mi...
Tapi dia yang datang sukarela,
lalu berdiam dalam perih dan lirih,
tanpa lantunan pelipur pun nyanyian perindu...
Maka dialah yang layak kau sandang,
dalam jenuhnya rasa dan tiap tetesan darah.
Bak percintaan cygnus
Mengambil perisai sesudah terluka,
dan mengacungkan panah yang berdaya.
Sementara rasa sudah terlanjur mekar,
berbunga begitu lebat, tangguhkan musim semi.
Terlambatlah untuk selamatkan aku,
yang memanen suka, hanya karna kerlingan matamu.
Mengambil perisai sesudah terluka,
dan mengacungkan panah yang berdaya.
Sementara rasa sudah terlanjur mekar,
berbunga begitu lebat, tangguhkan musim semi.
Terlambatlah untuk selamatkan aku,
yang memanen suka, hanya karna kerlingan matamu.
Berbaris sebelum lelap
Kau beri spasi pada sukar yang ada,
dan remang pun tak hendak bicara,
terutama saat kau lapangkan cahya.
Bila wajahku adalah cerminan hati,
tentu saat ini aku menjadi terindah,
dari cantik yang pernah tercipta!
Kau beri spasi pada sukar yang ada,
dan remang pun tak hendak bicara,
terutama saat kau lapangkan cahya.
Bila wajahku adalah cerminan hati,
tentu saat ini aku menjadi terindah,
dari cantik yang pernah tercipta!
Thursday, March 17, 2005
Tertatih dalam jujur
Mengayak aksara dalam keluk lingua,
menampinya sedemikian rupa.
Tidak akan surut asa hidupmu,
selayaknya kisah El Shaddai.
Itulah tanda bijaksana mukim di sukma.
Mengayak aksara dalam keluk lingua,
menampinya sedemikian rupa.
Tidak akan surut asa hidupmu,
selayaknya kisah El Shaddai.
Itulah tanda bijaksana mukim di sukma.
Monday, March 14, 2005
Peridi
Sudah tinggalkan saja,
jangan perdulikan gaduh itu.
Hanya bisingnya mereka,
ia yang bersetubuh dengan waktu,
dalam ruang yang kian membisu.
Tanggalkan semua,
sampai-sampai garis tangan yang membatu.
Sudah tinggalkan saja,
jangan perdulikan gaduh itu.
Hanya bisingnya mereka,
ia yang bersetubuh dengan waktu,
dalam ruang yang kian membisu.
Tanggalkan semua,
sampai-sampai garis tangan yang membatu.
Oh, jabar!
Pada badai yang menyatakan lingkar merah itu,
ya di keluk lehermu,
ya di gelang tanganmu,
ya di lengkung tapakmu.
Sedikit serpih dalam tiap bulir,
memaksaku urung tuk sembuh.
Pada badai yang menyatakan lingkar merah itu,
ya di keluk lehermu,
ya di gelang tanganmu,
ya di lengkung tapakmu.
Sedikit serpih dalam tiap bulir,
memaksaku urung tuk sembuh.
Persadaku
Aku masih memujamu,
hanya kusiarkan pada dinding tak bertelinga,
yang mampu meredam,
tapi tak kuasa menggemakannya...
Aku masih memujamu,
hanya kubiarkan lirih ini berlarian lepas,
berserak di padang mimpi,
tanpa gembala yang menggiringnya pulang...
Aku memujamu dan masih akan terus,
hanya saja kau tak perlu tahu...
Aku masih memujamu,
hanya kusiarkan pada dinding tak bertelinga,
yang mampu meredam,
tapi tak kuasa menggemakannya...
Aku masih memujamu,
hanya kubiarkan lirih ini berlarian lepas,
berserak di padang mimpi,
tanpa gembala yang menggiringnya pulang...
Aku memujamu dan masih akan terus,
hanya saja kau tak perlu tahu...
Saturday, March 12, 2005
Khayali
Gambar angan-angan berlompatan,
mengisi lapang di sedikit celah,
tinggalkan semua dalam alkisah.
Masih khatam rupanya...
Gambar angan-angan berlompatan,
mengisi lapang di sedikit celah,
tinggalkan semua dalam alkisah.
Masih khatam rupanya...
Silam
Bising otakku,
lemahkan ragaku.
Lari kemanakah mirah delima,
hingga kian meluruh binar matamu?
Bising otakku,
lemahkan ragaku.
Lari kemanakah mirah delima,
hingga kian meluruh binar matamu?
Wednesday, March 09, 2005
Lontaran fajar
Pada rumput yang hijau,
air yang tenang,
dan badai yang mereda.
Aku tahu pasti berujung dia,
tuk setiap jiwa yang ditahirkan,
dan lembah kekelaman yang disibakkan.
Pada rumput yang hijau,
air yang tenang,
dan badai yang mereda.
Aku tahu pasti berujung dia,
tuk setiap jiwa yang ditahirkan,
dan lembah kekelaman yang disibakkan.
Renta
Dia mencelurkan aku dalam sekejap.
Tinggalkan hatiku menjadi pasir,
hancur luluh di dalam dadaku.
Dayaku pun musnah,
termakan habis sesap mautnya.
Dia mencelurkan aku dalam sekejap.
Tinggalkan hatiku menjadi pasir,
hancur luluh di dalam dadaku.
Dayaku pun musnah,
termakan habis sesap mautnya.
Menutuh kelam
Tak pernah terpikir, pun dalam berjenak-jenak.
Tuk menampi pada tiap semilir angin,
berjalan di alur sembarangan.
Anggapan dan layaknya perkataan,
kujadikan poros pegangan.
Seperti aksara yang tak pernah surut,
saat mengeja namamu.
Tak pernah terpikir, pun dalam berjenak-jenak.
Tuk menampi pada tiap semilir angin,
berjalan di alur sembarangan.
Anggapan dan layaknya perkataan,
kujadikan poros pegangan.
Seperti aksara yang tak pernah surut,
saat mengeja namamu.
Gema deruji
Sudah suaramu tuk menjerang kemari,
bergulung tanpa henti lingkupi aku.
Ya, aku rasa memang primer.
Lebih dari sekedar aku dan kamu,
bila ingin menghalau semua yang repih.
Sudah suaramu tuk menjerang kemari,
bergulung tanpa henti lingkupi aku.
Ya, aku rasa memang primer.
Lebih dari sekedar aku dan kamu,
bila ingin menghalau semua yang repih.
Friday, March 04, 2005
Syak
Dalil manapun takkan berlaku,
dan dapat dikatakan hangus sudah.
Bila ada yang merangsek merana,
terbakar rasa yang tak kunjung padam.
Dalil manapun takkan berlaku,
dan dapat dikatakan hangus sudah.
Bila ada yang merangsek merana,
terbakar rasa yang tak kunjung padam.
Swatantra
Belum pernah kutemui dalam tarikh manapun jua,
salju membara dan gurun yang menghijau.
Tak makan dan minum, empat puluh hari lamanya.
Sampai firman diturunkan, sebagai ijin gubahan.
Belum pernah kutemui dalam tarikh manapun jua,
salju membara dan gurun yang menghijau.
Tak makan dan minum, empat puluh hari lamanya.
Sampai firman diturunkan, sebagai ijin gubahan.
Dua Kata
Terselip pinta yang mungkin tak pantas.
Aku enggan menariknya kembali,
jadi anggap saja itu hanya ranyau.
Terselip pinta yang mungkin tak pantas.
Aku enggan menariknya kembali,
jadi anggap saja itu hanya ranyau.
Monday, February 28, 2005
Maya
Jarak yang sungguh menipu,
karna bola menyala bukanlah matari.
Hampir sama dengan arakan kelabu,
yang tak selalu mega.
Lalu datang sunyi dan sepi,
sisakan serpihan suasana marak.
Jatuh dikala senja tak berwarna jingga,
dan rinai yang mengiringi lazuardi.
Jarak yang sungguh menipu,
karna bola menyala bukanlah matari.
Hampir sama dengan arakan kelabu,
yang tak selalu mega.
Lalu datang sunyi dan sepi,
sisakan serpihan suasana marak.
Jatuh dikala senja tak berwarna jingga,
dan rinai yang mengiringi lazuardi.
Tersiar merata
Seperti ada yang mengerling beku,
pada sudut ruang yang biru.
Mencuri sedikit sinar keemasan,
hingga luruh semua kepantasan.
Seperti ada yang mengerling beku,
pada sudut ruang yang biru.
Mencuri sedikit sinar keemasan,
hingga luruh semua kepantasan.
Wacana rasa
Aku rindu, pada rangkaian kata sederhana,
dijabarkan dengan begitu perkasa,
dan manis yang lebihi nira..
Aku rindu, pada rangkaian kata sederhana,
dijabarkan dengan begitu perkasa,
dan manis yang lebihi nira..
Nama
Tersebutlah mereka semua paksi,
maka tak bebaslah penyair itu dari awan kelabu.
Semata oleh ribuan kepakan sayap,
dan hati yang terluka.
Tersebutlah mereka semua paksi,
maka tak bebaslah penyair itu dari awan kelabu.
Semata oleh ribuan kepakan sayap,
dan hati yang terluka.
Akur
Kutambahkan do re mi pada seloka.
Agar kau tahu bahwa kau maha indah,
di balik arti bijaknya.
Kutambahkan do re mi pada seloka.
Agar kau tahu bahwa kau maha indah,
di balik arti bijaknya.
Prolog
Tatapanmu kata,
belaianmu frase,
cumbuanmu kalimat,
penetrasimu tanda seru..
Dalam setiap bincang dan wacana,
sesungguhnya kita telah bercinta!
Tatapanmu kata,
belaianmu frase,
cumbuanmu kalimat,
penetrasimu tanda seru..
Dalam setiap bincang dan wacana,
sesungguhnya kita telah bercinta!
Thursday, February 24, 2005
365
Cindai sudah mulai lusuh,
dengan warna yang memudar,
dan corak yang usang.
Baru kusadari saat dia terjatuh rentan,
rupanya marak di mataku belum tanggal.
Cindai sudah mulai lusuh,
dengan warna yang memudar,
dan corak yang usang.
Baru kusadari saat dia terjatuh rentan,
rupanya marak di mataku belum tanggal.
Wednesday, February 23, 2005
Sehelai ambin
Kuharap absah,
untuk sekedar diam.
Akasara kan hilang tertiup bayu,
lembar ingatan kan usang ratusan jenak.
Rasa yang tersimpan beku,
kurasa tidak.
Kuharap absah,
untuk sekedar diam.
Akasara kan hilang tertiup bayu,
lembar ingatan kan usang ratusan jenak.
Rasa yang tersimpan beku,
kurasa tidak.
Lepas nadar
Mungkin aku mencandu dirimu.
Pada senyuman yang membius,
dan tatap mata yang menggoda.
Atas lebat alis, coklat kulit,
serta indah lekuk.
Kemarin bertambah satu..
Oleh jatinya dirimu dalam aku,
yang buahkan serentetan orgasme!
Mungkin aku mencandu dirimu.
Pada senyuman yang membius,
dan tatap mata yang menggoda.
Atas lebat alis, coklat kulit,
serta indah lekuk.
Kemarin bertambah satu..
Oleh jatinya dirimu dalam aku,
yang buahkan serentetan orgasme!
Tuesday, February 22, 2005
Putaran keenam
Kau itu syamsu,
dan aku bermuara padamu.
Tak sekedar orbit,
karena nanti akan lelah berputar.
Jadi buang saja lingkaran waktu itu.
Kau itu syamsu,
dan aku bermuara padamu.
Tak sekedar orbit,
karena nanti akan lelah berputar.
Jadi buang saja lingkaran waktu itu.
Genap
Satu per dua belas kaki,
dua kutub yang berpacu.
Saling bertolak hingga tercipta daya,
dan gaduh yang tandakan netral.
Ada inti yang lebih kuat,
daripada ion sekalipun.
Satu per dua belas kaki,
dua kutub yang berpacu.
Saling bertolak hingga tercipta daya,
dan gaduh yang tandakan netral.
Ada inti yang lebih kuat,
daripada ion sekalipun.
Saturday, February 19, 2005
Kurung tutup
Sahaya duduk merapat,
tanpa hitung penat.
Bernapas seperlunya,
membuka mata bila diminta.
Ingin segera undur diri,
melecut dari derasnya inti.
Sahaya duduk merapat,
tanpa hitung penat.
Bernapas seperlunya,
membuka mata bila diminta.
Ingin segera undur diri,
melecut dari derasnya inti.
Astakona
Bila bukan di titik ini,
mungkin nanti di akhir paragraf.
Bisa jadi di penggalan kalimat,
dan juga di sela tarikan nafas.
Bila bukan di titik ini,
mungkin nanti di akhir paragraf.
Bisa jadi di penggalan kalimat,
dan juga di sela tarikan nafas.
Friday, February 18, 2005
Harmoni
Kadang aku penat,
bila kagumku terlalu jamak.
Dan apa yang terpantul,
sungguh tak sama rata.
Saat emosiku pasang,
kujajah rasa dengan seberkas ingatan.
Binar matamu yang tak habis dikulum lihatku,
rancangan estetika atas keseluruhanmu,
yang lagi-lagi buatku banjir kata-kata.
Kadang aku penat,
bila kagumku terlalu jamak.
Dan apa yang terpantul,
sungguh tak sama rata.
Saat emosiku pasang,
kujajah rasa dengan seberkas ingatan.
Binar matamu yang tak habis dikulum lihatku,
rancangan estetika atas keseluruhanmu,
yang lagi-lagi buatku banjir kata-kata.
Bagas
Mungkin kau belum lepas.
Mungkin kau masih meredam.
Tapi akan aku tunggu,
walau harus membatu disini.
Sampai tibanya kau cintai aku utuh,
dan katakannya dengan lantang.
Seperti kevas yang tegar,
dan mempertahankanku.
Mungkin kau belum lepas.
Mungkin kau masih meredam.
Tapi akan aku tunggu,
walau harus membatu disini.
Sampai tibanya kau cintai aku utuh,
dan katakannya dengan lantang.
Seperti kevas yang tegar,
dan mempertahankanku.
Thursday, February 17, 2005
Kita
Melangsi di udara,
aku nyaris tak dapat mendengarnya.
Dengan gerakan secepat kilat,
lapang menyambar disana dan disini,
sungguh tak terbaca.
Hanya dapat dirasa,
jauh terbentuk oleh asa.
Melangsi di udara,
aku nyaris tak dapat mendengarnya.
Dengan gerakan secepat kilat,
lapang menyambar disana dan disini,
sungguh tak terbaca.
Hanya dapat dirasa,
jauh terbentuk oleh asa.
Tuesday, February 15, 2005
Dia bercerita..
Tak perlu menilik, sungguh..
Terbaca dengan jelas bukan,
ada kamu yang jati di dalamnya.
Bukan, bukan hanya renjana.
Ya, asa pun turut serta.
Tapi jangan luputkan sang sedu,
karna takut kau berlalu!
Tak perlu menilik, sungguh..
Terbaca dengan jelas bukan,
ada kamu yang jati di dalamnya.
Bukan, bukan hanya renjana.
Ya, asa pun turut serta.
Tapi jangan luputkan sang sedu,
karna takut kau berlalu!
Sunday, February 13, 2005
Kalis
Boleh tidak nanti kutukar mirad,
dengan selembar memori tentang kita?
Boleh tidak nanti kutukar mirad,
dengan selembar memori tentang kita?
Setelah perai..
Merangkum kamu dalam merdekaku,
seutuh rasa yang terbius tuk pertama kalinya.
Kamu indah, dan teramat indah,
dalam kelangkaanmu..
Merangkum kamu dalam merdekaku,
seutuh rasa yang terbius tuk pertama kalinya.
Kamu indah, dan teramat indah,
dalam kelangkaanmu..
Utama
Perada yang terbaik selalu untukmu,
entah kau sadari atau tidak.
Demikian pula semua yang merdesa,
tak terhitung berapa banyak.
Perada yang terbaik selalu untukmu,
entah kau sadari atau tidak.
Demikian pula semua yang merdesa,
tak terhitung berapa banyak.
Subscribe to:
Posts (Atom)