Wednesday, October 26, 2005

Bernada saja


Eulogi untuk masa,
atas sebuah titik,
dan juga akhirnya.


Tidak perlu renyah nada,
cukup merangkum indera,
kau adalah efeufoni telingaku.
Satu testamen


Ibu suka membuang tatap,
dan ayah tertawa kecil,
waktu aku bicara tentang mati.


Disain nisan dengan hiasan di sudut,
bernuansa abu tapi jangan terlihat muram.
Kita semua pasti mati kan?


Jangan lupa kau ambil testamen,
sepucuk surat dalam brankas.
Tertera namamu di amplop.


Bukan kepada yang terhormat suamiku,
tapi untuk yang tercinta bekas pacarku.
Kalimat pendek


Ego menyusun kata,
lalu merangkai kalimat.


Bila aku adalah masa lalu,
siapa lah aku yang sekarang.
Waktu dan ruang


Sekarang sayap mengepak,
dan senyum diterpa angin,
begitu bebas.


Hanya saja aku rindu satu kata,
perbendaharaanmu seorang,
'pulang'.

Monday, October 24, 2005

Bukan surat cinta


Penaku patah, tintanya buyar,
dan sisanya menguap entah kemana.


Imajinasiku tumpul,
lembar kata berlepasan,
mungkin aku impoten.


Hanya karna kata,
tak pernah cukup.
Tak juga kabut mata,
teriak dan keringat.


Manik jiwa masih menanti,
dengan waktu yang semakin menipis.

Saturday, October 22, 2005

Demam sebutan


Jangan samakan rusa dengan karibu,
hampir serupa bukan berarti sejenis.


Juga gandewa dan gandi,
yang sama-sama busur panah,
tapi jelas beda karna aksara.


Lalu apa jadinya bila nanti,
brahma bertitah malam itu siang,
dan awal itu akhir.


Aku tertawakan kau,
kau pada mereka,
dan mereka karna kita.

Tuesday, October 18, 2005

Pencarian


Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.


Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.


Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?
Idan idan iking rat


Dia sudah ada,
sebelum aku ada,
bahkan juga sebelum kau.


Pada susah dan beban,
kau hendak kelanakan diri.
Tundukkan kepala,
tengadahkan telapak,
cari mencari kemana-mana.


Tidakkah kau tahu,
Tuhan sudah mati.


Kau tidak temukan dia saat kau hidup,
tuk sekedar jawab semua tanya.
Dia mati saat kita hidup,
jadi kau tidak dapat temukan Tuhan.

Saturday, October 15, 2005

Kekuatan rasa


Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kau,
dan dunia kembali berwarna.


Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.


Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.


Yang memang ampuh,
untuk semua kecuali satu,
dan itu urusan vertikal.
Anak harapanku


Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.


Terlalu penuh sesak,
asa tak lagi leluasa.
Tak cukup banyak oksigen,
untuk bilik harap yang kecil.
Manusia hari ini


Lelap, rebahkan syak,
sinar matari pasti datang,
itulah pagi yang kutahu.


Menyesakkan nafas,
hawa yang terlalu panas,
ah..siang hari yang wajar.


Senja, dengan merah-ungu,
heningkan fikir,
sejenak dan dua.


Lalu malam,
kembali lagi,
senyap dan sepi.


Aku begitu mengenalmu,
sama seperti empat cuaca,
pada panjang hariku.


Bahkan seperti garis tangan,
jumlah helai rambut putih,
dan gelisah milikku.

Thursday, October 13, 2005

Independensi


Alur mundur,
sepertinya tepat.


Biar wacana tak lagi bicara,
dan semuanya jadi bisu.
Tak lagi kata,
bunyi dan suara.


Agar semua neuron efektif,
menjelmakan inti masing-masing,
tak sekedar menghirup uap,
yang kebetulan lewat.
Sebuah keluh kesah


Bayu daksina terlampau kencang,
menggulung semangatku serta,
dengan resah, debu, pilu...

Tuesday, October 11, 2005

Get well soon, champ!


Ingin berada disana,
menyeka peluh dan nyeri,
dengan saputanganku,
yang dirajut dari asa,
berbordir kesturi.


Kutiup sakitmu jauh,
hinggap saja di aku,
bila perlu.
Lafal, terlalu


Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.


Pengarang bunga kata,
karamkan jantung hati.

Monday, October 10, 2005

Sudut


Terang terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.


Matari jatuh,
kau sembunyikan cahya,
di kantung celana,
semua masih terang terang laras.

Sunday, October 09, 2005

Sadagati


Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak berotak.


Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.
Samara


Sempurnakan strategi,
buat seribu alasan untukmu.
Dari terik hingga senyap,
embun sampai resah.
Kau (juga) sebuah mimpi


Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.


Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
Rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.


Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.
Panggung air sungai


Linang, berkilau-kilau.
Bulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.
Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.

Friday, October 07, 2005

Purnama dan aku


Seribu malam kau tunggu bintang jatuh,
dan satu akhirnya tiba,
dengan kedua lengan mendekap.


Kau tata sinar perak,
serupa tiara di kepala,
resapi arti indahnya,
sebelum hari beranjak terang.

Wednesday, October 05, 2005

Beberapa untuk satu


Ingat kesan pertama itu?
Begitu dingin, tak tersentuh.
Sampai detail wajah terlupa,
nama lalu jadi ingatan tunggal.


Waktu bisa menelan kebekuan,
dan juga buyarkan mimpi.
Lupakan itu, kau lah mimpiku,
yang kurajut dengan kesabaran.
Buruknya kemegahan


Masih sama, lensa cekung di matamu,
jadikan ulat itu kupu-kupu,
jauh sebelum waktunya.


Dimana tak disusuri halus aspal,
warna mega tak terhalang gedung,
membuatmu bernafas lega.


Indahkah aku di bias lensa cekungmu,
atau burukkah aku dipantulkan disana?
Sekalimat janji


Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.
Kutemui sepasang telinga di baliknya,
kudekati dengan debar jantung berlomba.


Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.


Itu mimpi kita,
milik kita.

Monday, October 03, 2005

Melukis langit


Seharian ini hujan tak jadi mampir,
sekedar renik di ujung rumput pun tidak.
Bisa jadi senyum dan tawa kita bergema,
dipantulkan dan diperkuat oleh awan.


Mendung ditiup angin,
disapu biru muda,
tak hanya di kanvas langit.
Untuk penulisku


Jika memori dapat membunuh,
dia dapat hidupkanku lagi,
bahkan ratusan kali,
karna indah ingatan tentangmu.

Sunday, October 02, 2005

Natural


Mencintaimu apa adanya,
semudah terbangun di pagi hari,
karna matari yang mulai mengusik,
menerpa berat kelopak,
dengan sejuk butiran embun.


Sama alaminya dengan malam hari,
yang pusatkan dingin di sekeliling,
membuat kita ciut seketika.


Begitulah terjal, diinginkanmu,
dimilikimu, dan dicintaimu,
apa adanya aku.
Tujuh samskara


Samskara, inginku dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
Mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang lebih-lebihan.


Kau mimpiku,
jadi bolehkah aku lelap,
dan bermimpi lagi?

Thursday, September 29, 2005

Tiket satu arah


Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.


Di suatu fajar, entah di bukit yang mana,
di suatu senja, entah di semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah di khayal atau bukan.
Penghormatan


Aku merindumu,
juga pernik kecil darimu,
yang kusematkan pada topi,
buatku merunduk,
dan bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.
Langit kosong


Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
Semua kecuali satu.


Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.

Tuesday, September 27, 2005

Rindu yang sederhana

Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.


Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.


Aku rindukan kau,
sesederhana itu.
Abhiniwesa

Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau tlah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.

Monday, September 26, 2005

Bagi dua

Masukkan citarasaku dalam papir di sakumu.
Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.


Bernafaslah dengan lega, dariku.
Mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.
Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.

Friday, September 23, 2005

Refleksi oasis


Masih ingat di suatu fajar,
saat kubiarkan kau membilas penat,
hamburkan mimpi tentang kita?
Rasanya tak ingin beranjak,
hangatkan saja dengan mayarupa.
Dekapan resah masih terlalu dingin.

Saturday, September 17, 2005

Malam bagi kita


Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.


Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.


Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.

Wednesday, September 14, 2005

Asamadhi


Buyarkan sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.


Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas.


Semadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.
Terang, sinar bulan


Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.


Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.


Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.

Saturday, September 10, 2005

Delapan putaran bulan


Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.

Thursday, September 08, 2005

Humor


Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.


Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.


Aku mulai merindu,
masih kau dan populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.


Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.

Wednesday, September 07, 2005

Jari jemari


Aku benci telunjuk kananmu,
main tuding sana sini,
ikuti letupan emosi sesaat,
dan licinnya kata karna lingua.


Mungkin tidak telunjuk kirimu,
yang saling silang, enggan nodai janji.
Kukira nanti kita kan beralih posisi,
pada hati yang tak lagi merasa.

Mata kanan dan kiri


Menyapa kerinduan yang bergulir masuk,

lebih cepat dari terbilasnya perih,

dan sisa gulatan imaji.


Bahkan saat detik meretas menit,

kita kian dirunut beku,

pada diam yang tak bisa lagi bisu.

Daya Buana


Dunia berputar,
tanpa pedulikan keriangan dalam,
kericuhan bahkan,
dan pembantaian hingga.


Dunia berputar,
hanya melewatiku.

Monday, August 29, 2005

Dearest champ...


Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kau yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.


Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
Dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta medali.
Rasionalitas bercinta


Sebidang angan masih tepat di jantung hati,
masih gembur dan siap tuk ditanami.
Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.
Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.


Sedetik, dua tuk lengkung senyum,
menit dengan gerik perlahan dan tawa,
hitungan jam larut dalam hangat pelukan,
yang kesemuanya dilalui bersama.


Hanya frame-frame milik kita berdua,
dan itu satu-satunya yang penting buatku.

Friday, August 26, 2005

RIP; for perversion


Aku jatuh cinta,
pada tatapan yang tajam,
menusuk hati, sebuah hanya,
koyakkan daging dari tulang,
campakkannya.


Sekejap aku tak mampu berdiri,
kehilangan penopang,
lebih dari sekedar kruk kaki,
masih karna sepasang mata,
piawai mencabut sukma kah?

Thursday, August 25, 2005

Dua puluh enam


Pertaruhkan semua isi kantung,
sampai secarik yang melekat akhir.
Untuk satu kesempatan.


Takkan kusesali, takkan kupungkiri,
sakit membuatku lebih dalam,
disetubuhi perih kata setia.


Sudah lewatkah kereta itu?
Kenapa aku masih tetap bernafas?
Menjawab [...]


Hampir lupa rasanya perih ini,
kita semua memang pelakon belaka.


How could you?!

Wednesday, August 24, 2005

Satu, satu


Aku baru saja jatuh tuli,
lorong buntu tak bervibrasi,
pada gendang telingaku.


Dan kini sadar bertanggalan,
dalam utuhnya tongkat jalanku,
sarungkan aku dalam hampa.

Monday, August 22, 2005

Luka dalam diam


Mematuk langkah,
hentikan ucap dan laku.


Sungguh definisi yang salah,
karena sepasang ini masih terus menjejak,
bahkan tak hanya berderap, tidak lagi.


Percikan kecil muncul dan membesar,
karna senyawa bagian hawa ini dan dunia.


Aku berlari, dan masih akan terus,
walau sadar betul rasa hampir tak sanggupi,
bersamaan dengan raga yang telah rontok.

Thursday, August 18, 2005

Esok


Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan kristal yang mengering,
di sudut matamu...
Percakapan dan malu


Mengetuk pintu tuk sekedar menyapa,
bukan hanya menjenguk hingga mata bertemu mata,
dibatasi jingkatan pada jendela berkusen kayu...


Apa kabar kamu hari ini?
Kau rindukan aku?


Hanya ingin curi beku pada waktu,
telusuri retinamu yang berkobar api,
dan dia tak mampu membakar,
tidak untuk sekarang.


Ciptakan alasan lain pada petang nanti,
mungkin sekedar mengatakan,
"Lihat, sayang..hari telah senja,
kali ini kau kalahkan guyuran malu-malu matari,
pada kuncup bunga setaman..."

Monday, August 15, 2005

Proletarian


Kita berdiri di persimpangan jalan,
di bawah temaram lampu,
di sela ricuh lautan pejalan kaki.


Suara kita tak terdengar,
hanya berdecap-decap,
tertelan bising bunyi mesin mobil,
serta knalpot dan rongrongan vespa butut.


Mulut ku dan mu bergerak,
buka dan tutup,
mata dan jemari bertaut,
suara kita masih tak terdengar.


Sampai sepi nanti,
bulan ditelan gelap malam,
jalanan tiba lengang,
kita masih disini,
tak berkata-kata.
Waktu dan aku


Kau dan kata-kata,
luluh lantak aku dibuatnya.


Kau dan frame, refleksi,
dan jangan lupakan bayangan,
parafrasekan aku sebagai maharani.


Kau dan waktu,
untuk yang satu ini,
aku tak bisa kompromi...

Friday, August 12, 2005

Hening yang kubenci


Sebut mereka sederhana,
dalam senyap yang lengkapi suara jangkrik,
telah lelap tertidur di atas dipan,
berselimutkan simpul di bibirnya.


Malam ini kita kembali diam,
semata lelah berargumen.
Hanya kerudung ingatan yang lingkupi,
satukan kita di dalamnya, masih bisu.

Thursday, August 11, 2005

Dilema


Kau menyemat rindu di telinga kanan,
selusin hari lamanya kita tak jumpa.
Malam ini hujan badai rupanya,
gemerisik tawa miris mencuri start,
cumbui yang sebelah kiri!

Tuesday, August 09, 2005

Rumah dan pulang


Kucari kau kemana-mana,
pagi saat kulelap tak sambut matari,
malam kian kentara kubaru terjaga.


Kucari kau kemana-mana,
bahkan dalam dekap kicau kenari,
yang kukenal hampir belasan tahun,
nyaris seusang sepatu tua di sudut kamar.

Sunday, August 07, 2005

Soliter


Rintik di sudut mata,
menghambur begitu saja.
Rupanya duka dan suka cinta,
seiring sejalan dalam tiap tarikan nafas.


Terang sebelum mendung,
renik sebelum lebat,
sepanjang jalan.
Akhir persinggahan


Kumulai dengan sederhana,
bahkan dalam yang tak terkira.


Pada hal remeh yang dibuang mereka,
daun yang disiakan pohon yang semakin menua.
Ah, perjalanan yang melegakan,
di suatu sore hari, masih terik.


Terdengar ricuh di ujung gang,
arak-arakan semalam suntuk,
lampion warna jingga sayup-sayup cahaya.


Mungkin akan menghibur, tapi jelas tak melarutkan.
Masih mencintaimu, dalam hati,
di tempat kenangan kita.


untuk sahabat-sahabatku...

Saturday, August 06, 2005

Putih kebiruan


Deras air menyelak bebatuan,
mata ku bertemu mata mu.


Menjalin percakapan tanpa berlemparan kata,
bukan keheningan yang ingin dipecahkan.

Thursday, August 04, 2005

Diam


Gerhana tak kunjung datang,
rotasimu salah hitungan...


Dan aku, tak bisa berkata-kata.
Dua dalam satu, Bercinta


Gombal gambil dengan kata,
mereka adalah mati,
tak sisakan debat kusir,
bahkan bila nyawa bertahta.


Teriak spontan pada kertas buram,
coret dan tambahkan awalan,
maka kini resmi kita tlah pisah.


Ah, bukan frase sesendok teh,
pun segunung kalimat retoris banyaknya.


Karna kita adalah kita!
Tak pernah merasa dikalahkan,
apalagi merasa menang mutlak,
pun bersyarat.


Cinta adalah rasa,
yang tak bernominal.
Satu-satunya di dunia (ku),
paling tidak.

Sunday, July 31, 2005

Pasir dan harapan


Adalah merah yang mencapai puncak,
dan putih menua di ujung cakrawala,
saat degup jantung berdebat lebih keras.


Pada tekanan kaki (dan) kaki atas pasir,
juga rebah karna sukarku,
kau rupanya lantang menjawab.


Senja dalam senandung matari terbenam,
adalah derai air mata, yang datang dari hati.

Friday, July 29, 2005

Puisi angin malam


Sulit mengeja huruf per huruf,
apalagi lafalkan satu kata.


Letih tangan menepis angin lalu,
jenuh otak mencerna jutaan alasan,
dan peluh dalam diam pun wicara.
Mereka ramai teriakkan namamu!


Bisa jadi aksara yang kuayak adalah cinta.
Cinta bukan strata


Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.


Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..


Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.


Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.
Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...


For my bestfriend, D.S

Thursday, July 28, 2005

Selintas lalu


Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.


Mungkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.


Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.

Wednesday, July 27, 2005

Pulang (sekali lagi)


Sekeping saja, disembuhkan sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.


Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.


Indah buah rasamu, hidupkan aku kembali.
Karna janjimu, yang tetap ada dan cintaiku,
di kenangan akan kita...
Dejavu


Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.


Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.


Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, mataku basah..


Sematkan ini pada telinga kananmu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.
Esensi manusia


Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.


Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.


Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.


Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.


Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.
Tinggal diam


Aku rindu penjajahan oleh waktu,
serakahnya detik mencumbui usia.


Kita tak pernah beranjak, hanya nikmati hari.
Menjaring tiap fajar dan senja yang berpamitan,
dengan satu, dua semburat bertanggalan.


Membeku, seperti batu,
gravitasi bahkan tak berlaku.

Friday, July 22, 2005

Malaikat dalam frame


Lembar menguning, dengan hiasan buram.
Mungkin debu selamatkannya dari ngengat.


Butuh lebih dari belasan tahun,
atau bisa jadi gegar otak ringan,
agar aku lupa akan figurmu.


Ajaran yang tak pernah usang,
dan kompas penunjuk arah paling tepat.


Kau lekat permanen dalam benak dan hati,
bersanding dekat nuraniku.


Dedicated to B.W,
my grandfather.
Finale


Sumbu yang terakhir,
aku adalah satu antara tiga.


Kujaga baik-baik terangnya,
karna ini rumah tuanku.


Berbilik kecil dengan bau harum,
wangi bersahaja melati putih.
Rupa sederhana nyaris tertutup kilau,
yang tak lain dari remah-remah mimpi.


Aku adalah satu antara tiga,
pertahankan sampai redup menjelang,
walau gelap memangsaku perlahan.


Karna dua lain adalah angin,
dan benih prasangka.

Thursday, July 21, 2005

Limitasi


Benang sari dan putik,
kumpulan rumput liar,
kau petik satu persatu,
dari purnama semalam...


Kau manjakan aku,
dengan deras kata,
yang dulu pernah kupinta,
dalam tiap untaian doa...

Monday, July 18, 2005

Putaran rasa


Keluhan rutin pada hari-hari hujan,
betapa kami benci pada kilat,
yang awali serentetan larangan.


Berlari ke balik punggung bunda,
berlindung dari gaduh guntur,
diakhiri dengan lebat hujan.


Beberapa jenak tuntas sudah tangis langit,
tinggalkan becek lumpur tuk bermain.


Kau pun menyambarku bagai kilat,
sekelibatan mata namun dahsyat.
Dalam hitungan detik aku terpaku,
singkat kemudian hatiku digedor kuat.


Nanti kita kan berlari kecil saat hujan renik,
berteduh di kala lebat, nikmati indah bianglala,
dan jejakkan kaki telanjang di rumput yang basah.


Begitulah dunia, ikatan ini,
dan keseluruhan dinamika.
Kita jelang sama rata,
sampai nafas tak lagi sama.
Benih pikiran


Sekali lagi mencoba tuk erat,
tenggelam dalam rasa.
Dimana pelabuhan sejuta rona,
tak mampu sadarkan kita.


Aku hanya ingin satu, lekat.
Tak sekedar mengenang,
masturbasi imajinasi,
setubuhi rasa yang kosong..

Saturday, July 16, 2005

Vows


Pucat wajahmu tak redupkan aura,
genggaman tangan dan tautan rasa lekat,
mengusung frase batas usia,
tenggelamkan di dasar samudera.


Keringat basahi keningmu,
lengkapi sekotak nyeri di hatiku.
Kupungut sejumlah asa baik-baik,
tanpa satu yang tertinggal.


To have and to hold,
from this day forward,
for better, for worse,
for richer, for poorer,
in sickness and in health,

to love and to cherish...

Friday, July 15, 2005

My call


Ada denyut yang tertunda,
detak yang berganda,
dan nafas yang terus memburu...


Aku, kau,
dan kita...
Titisan


Siapa kau?
Panjang rambut, jernih mata,
tinggi badan dan putih kulit,
kau yang kini,
aku asing.


Ah, kau rupawan,
menitis angsa ketika purnama,
tanggal kostum dan lekatkan indah.


Hanya saja sinar matamu beda,
tak lagi menghujam bertabur renjana,
siap luluhkan aku habis-habisan...


Kita hilang kekang,
akan serbuan waktu,
tinggalkan jemu,
dan candu.

Wednesday, July 13, 2005

Utuh


Beku atmosfer malam itu,
kau membakarku.


Ingin mencampakkan segera,
semua basa basi itu,
dan selimut yang menutupimu..


Masuki labirin sunyi,
entah kaki-mu atau -ku,
terlalu gemetar,
kita buat gaduh saja..


Malam terusik, gelap melindap,
sinar matari agak jengah,
mengintip malu-malu..


Fajar itu,
kita satu.

Wednesday, July 06, 2005

4/4 dan staccato


Pianoku uzur penuh debu,
esok kan kukibas bersama kelu tangan,
sudah lama kaku,
terlalu.


Perlahan jari satu hingga lima,
kanan dan kiri ketukkan tempo baru.
Mainkan lagu cinta dengan nada riang,
sedikit staccato disana sini.


Buyar sudah birama yang tersusun rapih,
perduli tak aku pada kaku garis batas,
hadirnya mereka hanya tuk jenuh.


Dan rasa tak kenal kata itu,
jabat tangan tak pernah mereka lakukan.

Monday, July 04, 2005

Manisnya rasa


Kubangun harga manusia dari janji.


Bagaimana lekuk lidah muntahkan frase,
kubangun puri megah dari kata per kata.
Walau ringkihnya bagai pasir,
tetap perisai kokoh milikku.


Diri ini, sepanjang jengkal tubuh,
utuh milikmu.


Bernafaslah dengan janjiku,
selama ruh melekat di raga,
aku setia pada rasa ini.

Sunday, June 26, 2005

Sinonim


Lingkup gerikmu, luruh langkahku,
dalam bentengi hasrat, sebut gejolak itu cinta!
Kami adalah saya


Kursi sutradara itu untuk kau,
bukan untuk si manis berambut ikal,
dengan kostum minimnya.


Bukan pula punguk perindu rembulan,
yang lengkapi fabel pengantar tidur dari bunda.


Aku dan mereka hanyalah figuran,
kalaupun masih adu pendapat,
paling tidak kami hanya bisa ikuti skenario.


Karna kaulah sang sutradara,
pencanang semua adegan,
dari titik dan koma,
hingga mati ekspresi.


Daya minimal ini,
kami hanya bisa maksimal.
Vibrasi


Getar itu masih sama,
terkurung dalam kotak,
dari tiap pijar imaji.


Resah digenggam,
buat khawatir asa kecilku.


Mataku merangkum seorang,
yang tak pernah lari,
dari mimpi di malam sepi.


Getar itu masih sama,
pada kelopak mata, pada bibir,
pada lemah jemari, pada degup jantung,
padaku, karnamu.

Saturday, June 25, 2005

Penulisan Ulang


Loteng tua berdebu,
tinggi dalam sendiri dan sepi,
bertahan pada jingkatan kaki,
telanjang tanpa kasut.


Tirai selubungi lantai kayu,
tenggelamkannya dalam suram.
Indah kisah jadi lapuk kayu.


Hingga waktu hadirkan rapuh,
dan koyak membuka tabir.


Entah bagaimana dengan nasib,
yang selalu permainkan kita.
Kelahiran Asa


Pada air mata yang nyaris menetes,
di petang yang begitu mendung,
kuseka dengan keratan mantel lusuh,
yang penuh bercak mimpi...


Tuk menyesap perih,
agar tak mengalir dalam vena,
dan rupanya berujung pada asa,
yang kau jatuhkan dalam genggamanku.


Kembali,
ya kembali.

Tuesday, June 21, 2005

Stepping stone


Menuding waktu,
memoles ego,
dan salahkan aku.


Nanti kau rasakan,
sepinya sampai di sebrang,
dan tak bisa kembali.
Definisikan ini!


Partitur yang rapih,
dengan garis dan spasi,
petakan do sampai si...


Selalu ada cerita di balik itu,
milik belasan kertas buram,
yang diremas dan dicampakkan...

Sunday, June 19, 2005

Seharian sendja


Aku pamit,
tanpa cium di kening,
peluk hangat abaikan hasrat,
dan ikat kain di pergelangan tangan.

Tuesday, June 07, 2005

Sembilu


Rembulanku kau guyur warna pucat,
mengusir kerlip perak di seantero langit,
kau teriak mati, mati dan mati!


Percuma sekali, karna sudah ribuan kali,
dan maaf baru kukatakan padamu malam ini.
Telah kau turunkan indah nyata bulan,
dan panas terang matari.
Kau rotasikan semaumu,
pada pucuk kepala hingga tapak kaki.
Tanggal


Menghitung singgungku...
Setelah ratusan jam kudaki terjal bukit,
sampai hilang panjang rambutku,
berkikisan dengan angin lereng...


Ah, memang aku salah menembus kabut,
yang gelap sandarkan pada limbungku,
hingga aku mengaku manusia,
padahal mereka mengaku aku..


Perih karna sedih, tawa karna suka,
manusiawi sekali, siklus kehidupan.
Tapi kan kucari merah meradang,
dalam tiap susuran pilu per meter,
karna mudahnya pengajaranmu.

Sunday, June 05, 2005

Akirih


Letakkan sebelah kiri perlahan,
dengan deras dan hening suara,
tanpa perlu mengusik sebelah kanan.


Aku bermakam bukan karna lirih,
hanya kaca gerutuan kirik pada ngilu,
di sela hujan bertalu dalam bisu.


Gelap gulita suarakan kata rumah,
dalam pelukannya, tanpa kata pulang.

Saturday, June 04, 2005

jeda lari jeda


Kita salah kolom,
seharusnya garis titik garis stop,
dan bukan sebaliknya.


Entah mata hati yang tumpul,
atau suryakanta yang bias,
rupanya memang harus diganti.


Titik garis titik stop
jeda lari jeda kosong

Wednesday, June 01, 2005

Prolog dan epilog


Malam singgah pada kelopak mata,
menyulap letup harapan embun pagi.
Tak mengubah adanya fajar di suatu masa,
dengan gulungan cerita yang nihil tanda titik.
Akhir Mei


Gelarkan mimpi,
berbahan perca memori,
dengan ratusan payet,
berwarna perada,
sebagai pemanis resah,
dari tusukan ilalang liar,
yang jauh terserak,
di dasar fondasi kata kita.

Friday, May 27, 2005

Makam sebuah dongeng


Menggubah lirih malam,
lengkap dengan notasi,
jadi soneta peluruh sukma.


Dahaga sepanjang sahara,
jadi dataran es tak bertepi,
dengan musim semi di tengah.


Kau, menghuni lubuk hati,
tertera pada ratusan lembar ingatan,
tanpa bisa kucoret dengan darah.
Bersenyawa


Menyerap sari,
mendaulat peluh,
dan noda senggama.


Dalam hujan tak lagi renik,
bercampur lumpur tanah,
disela rumput hijau.


Kita,
menautkan jemari,
seraya bertukar ruh.

Wednesday, May 25, 2005

Simponi duka cita


Malam labu pakai kostum,
bawa topeng lalu berandai-andai.


Aku ini apolo, tak kalah tanding dengan idas,
atau setidaknya aku bersenjatakan lira...
Malam dan Merah


Dua kali aku tidur bergincu merah jambu,
dengan kilap ulasan senyum masih merona.


Malam ini merah darah, dalam lelapku.
Kenapa harus gigi gemertak menahan pedih,
mencabik dan buahkan tangis...

Tuesday, May 17, 2005

Kosong


Dinding tembaga,
yakin dirinya absah,
benar pada tiap tarikan karat,
tak pudar dalam bejana besar.


Ia punya mata juga telinga,
dan mungkin hati, seabad yang lalu.
Nurani dan insting tuk mencinta,
sebelum semua direnggut usia.
Nos poma natamus


Mekar dan berkembang,
rupawan juga cantik satu masa.
Bunga nantinya kan layu,
gugur lalu jatuh ke tanah.


Entah mengapa mereka melafalkan,
kerendahan diri sebagai awan kecil.

Monday, May 16, 2005

Aksara dari rasa


Seakan kehabisan vokal dan konsonan.
Rupanya tidak, endapan memori masih kental.
Alam menolak, kegusaran terbilas bersih.
Hanya rasa yang begitu tulus,
hinggap dan tak terbang lagi.
Awal


Penanggalan beban punggungku,
tak ada lagi yang perkosaku setubuhi tanah.
Kini kujunjung rasa yang mesra,
dengan gelegak berdaya musnah,
terhadap semua ketidakjujuran yang terjal.

Sunday, May 15, 2005

Persevero


Dayung dan layar,
sampai terbit suria,
habis pula tenaga,
tapi tidak jiwa ini.


Dayung dan layar,
tunjukkan dayaku manusia,
berlarian menutur cerita,
tak meleset dari suratan.
Mata hati


Sinarlah yang membedakan warna,
beri wahyu pada sepasang mata,
tuk meresapi tiap semburat,
putih, kuning, dan merah hati.


Demikian pula aku,
bisa menjelma kasih,
bertindak ikhlas dan mencinta,
karena kau.
Rasa yang murni


Dia, dia ataupun dia,
tidak dapat merampas cinta,
yang kukenakan sebagai jubah,
penutup tubuh..


Karena sebelum memasuki arena,
telah kutanggalkan kasut keangkuhan,
dan semeter setengah kain keegoisan.


Apakah yang mereka dapat ambil,
dari aku yang telanjang?


Kau telah masuk ke dalam hati,
melalui pori-pori.

Saturday, May 14, 2005

Warna dan rasa


Parafrasekan cerita kita,
habislah kertas dalam buku,
dan aksara dalam diksi.


Pijaran kita terlalu indah,
untuk mengenal eufemisme,
dan berjabat tangan dengan degradatif.

Sunday, May 08, 2005

Habis nafas, lelah raga


Lari dari setapak yang berkerikil halus,
jatuhkan diri pada secercah yang tersisa,
hijau pada awalnya dan nanti kecoklatan.


Halilintar yang bodoh,
entah apa yang kita takuti.

Saturday, May 07, 2005

Sub rosa


Mereka tidak perlu tahu,
degup jantung yang berpacu,
birahi yang tak tertata,
dalam setiap tatap mata.


Cerita kita milik berdua,
dalam meja pertemuan ini,
setelah nanti kusematkan,
bunga mawar di depan pintu.
Lapisan ketiga


Jambak tangan pada rambutku,
disimpul mati pada kekang.


Kesepuluh kuku tangan patah,
beradu dinding batu,
darah merah,
daging putih,
beku.


Sudah kau jarah,
dengan cumbu dan rayu.


Kau perkosa,
dengan peluh dan air mata.


Sampai dehidrasi kurasa,
res ad triarios rediit.

Friday, May 06, 2005

Aspirin


Kutuangkan sejuta bintang dari langit,
memberi cahya sekedarnya pada alam mimpi,
dimana kau tengah terlelap kuatkan raga,
yang rupanya sedikit terzalimi.


Mereka kan tuntun kamu padaku,
hangat dalam pelukan rindu,
dimana aku pun belum tuntas,
isi penuh lengkung senyum batinmu.
Penutup hari


Terperangkap kita dalam gurihnya euforia bercinta,
mereguk tiap klimaks dalam lengkung senyum,
tawa dan tentunya di sela tetesan air mata.


Waktu yang semu telah membeku,
dan kita tentu kan semakin larut.

Tuesday, May 03, 2005

Rotasi


Lirih fajar sudah terdengar sayup-sayup.
Kau yang lalu, kini dan akan datang adalah sama,
dalam bingkai kesempurnaan dua sisi.


Kau sungguh dicintai gravitasi bumi,
yang buatku berporos padamu.
Dari terbitnya matari, hingga 24 jam laluinya.
Hitungan menit


Mencintaimu berawal dari rela,
dan akan beriringan dengan darma.
Karna gembur mimpi-mimpi itu,
telah diperanakkan oleh waktu.
Tangis yang menguap


Menderam langit pada hitungan ketujuh,
mengebumikan riuh dalam satu detik hening.
Perlahan mendung awan bermunculan,
membaurkan hujan renik di tengah air mata.
Seketika langit menjadi megah dalam terang.
Lanjutan cerita


Meregat ribuan jalan panjang,
perciki air di muka lapak yang semakin kebal.
Larikan semua pada cinta yang takkan reda,
merebak haru di sesaknya aral.
Abadi


Saat lidah kelu mengucap lafal,
dan raga menjerang letih,
kau tetap ada dalam aku.


Walau fajar kusebut kelam,
dan dingin keliru jadi bara.
Kau adalah kau, terindah untukku.
Bukan percintaan biasa


Mata telanjang kita terpana,
akan awan dan bulan yang senggama.
Maka layaklah sepasang mata bersinar cemburu,
kala kita bercinta hingga bersimbah peluh.
Walau hanya desah dan lenguh kata,
dengan kasih sebagai bumbu utama.

Monday, May 02, 2005

Penulis catatan kaki


Aku beranjak tidur,
tetapi tidak ruhku.
Pun hati yang kutitipkan,
jauh-jauh hari padamu.


Priaku yang menyolok mata,
bahkan diantara selaksa orang,
padamkan kobaran amarah,
dan tinggalkan bunga api rindu.
Perempuan senja


Perempuan itu jatuh cinta,
pada pria yang tak perlu bernama.
Dengan pijakan strata rasa,
dan hanya punya hati.


Kemudian mereka membuat menara,
dengan fondasi sederhana.
Berstruktur cinta, cinta dan cinta,
yang tak pernah ada habisnya.
Pertama dan terakhir


Soneta lama dengan warna cerah,
kuanggapnya usang dan hitam putih.
Mereka adalah satire, tenggelamkan nyata.
Dengan kita yang berkecukupan cinta,
sebuah intermezzo tak perlu hadir.
Pelakon utama


Bicara remang yang terabaikan,
saat terang mengawali benderang.
Pun tegaknya pohon cemara,
di tengah rimbunan mawar,
yang semerbak dan merah darah.


Kau mencuri sorot lampu,
dalam sandiwara itu.
Tuntun mataku,
mengarah padamu.
Balui


Kau gandengkan senyum dengan enggan,
jarak beku sebagai tali kekang.
Nurani tak lagi ingin berperang.
Secarik kain putih tlah kujadikan serbet,
bahkan sedari awal, pada kemarau itu.


Tarik dan hembuskan nafas,
matilah aku tak dapat keduanya.

Sunday, May 01, 2005

Jejak


Lisut-lisut pada telapak,
bukan kulit dan juga dahi,
pikir aku tak butuh petang ini.


Sepasang yang menapak,
bersisian tanpa adu pacu,
tak hilang dijilati ombak.

Sunday, April 24, 2005

Manifestasi fisik


Ya, ambillah belati berlumur racun itu,
tancapkan ke jantungku tanpa ragu.
Lalu bilaslah tanganmu dan segera berkemas,
jangan lupa kenakan kasut di kedua kakimu.


Mulailah berjalan dari tarsus hingga memfis,
tuk temukan sungai tigris.
Aku asyera, aku amaris


Masih kulihat gambaran sempurna,
pinggang dan buah dada yang penuh,
wajah molek dengan kulit sutra,
bibir merah menggoda.


Puji-pujian untuknya,
mengawan ke langit sana,
terbawa bayu timur dan selatan,
tetap dia bukan asyera.
Indera


Telinga itu menguji kata-kata,
tapi hatilah yang menampinya.
Partikel keruh sekecil apapun,
takkan mampu lewati bilik kanan dan kiri.
Kau harus leburkan rasa menjadi utuh,
sebelum berkata cinta,
atau cinta berkata.
Insomnia


Adalah penipu yang berdiam diri,
atas gelisah yang memakan jaringan sel hatiku.
Tapi aku pun penipu yang jatuh cinta,
pada ia yang terbius panah lelah,
dan tengah tertidur pulas.

Saturday, April 23, 2005

Pasir, hujan dan cinta


Pasir di pantai dan dasar lautan,
tetes hujan dalam massa awan,
hingga yang menyentuh buana,
siapa gerangan dapat membilangnya?


Namun mereka tetap nyata,
membawa rasa yang luar biasa,
tanpa perlu ditakar pun dimiliki,
sama halnya cinta dalam hati.

Thursday, April 21, 2005

Animae dimidium meae


Aku ada karna aku mencinta.
Dalam hitungan masehi,
yang berlari cepat,
saat kau dekat.
Dalam kilasan detik,
yang lamban bergeser,
saat kau jauh.
Manusia dan kami


Langit berputar,
kami masih terikat tanah,
menunggu siang untuk jemawa,
dan malam untuk tekur.


Saat kami kira cinta di atas maut,
maut berada di bawahMu.

Wednesday, April 20, 2005

Sebuah nama


Jangan panggil aku puteri,
aku sungguh tak layak.
Setahun telah mazul,
lepas dari manis anggur,
bunga pacar dan narwastu.
Bila nanti kau menyuntingku,
jadilah aku belahan jiwamu.
Seorang maharani pun,
masih rendah makamnya.
Catatan kecil


Kau titip cinta dan kejujuran,
tentu kan kujaga dengan matang.
Karna sudah dari semula hingga nanti,
tak ada habisnya rasa kasih yang kuberi,
maujud dalam hatimu.
Ugahari


Aku merindu jauh sebelum fajar ini.
Saat lengkung punggungmu begitu sempurna,
mendekap aku dalam basahnya rinai.

Tuesday, April 19, 2005

Lebih dari cinta


Dalam rajut pori malam ini,
disela besi pagar yang beradu rel,
kulontarkan belasan degup rasa,
lewat sinar mata cokelatku.

Monday, April 18, 2005

Menuju gembur


Menggasak terang dengan keruh matamu,
seketika sunyi, seluruh alam dalam relungku.
Lambukkan dengan tarikan sendi dan gerak otot,
entah pijakan mana yang kita tengah gemburkan.

Sunday, April 17, 2005

Loncatan


Berjeda dari banjar yang ada,
selangkah dua langkah hingga tepi.
Bisa jadi ini jagat raya yang keliru,
kita rapih sebelum berjelum.
Tambalan hati


Jelujurmu kurang rapat,
masih miring barang seinci.
Jelatik masih bisa lolos,
apalagi pedih dan perih ini.
Ikebana


Menggait bunga beranjak subuh,
sampirkan sedikit embun,
menggubah sedemikian rupa,
takkan seindah berakar dalam tanah.
Kanan dan kiri


Melapiki telapak kaki kanan, sedikit bergegas.
Terompah yang tertinggal, kujinjing di tangan kiri.
Walau pasti tak sama tinggi, bobot tetap seimbang.

Saturday, April 16, 2005

::tempoe doeloe::


Masih teringat akan senja terindah itu,
yang lalu namun takkan pernah usai.
Pamitnya matari memantik arakan awan,
hingga pada muka perak rembulan.
Hadirnya kau pada lembar baruku,
nyatanya tlah direstui.
Versi


Saputangan bunga menutup mataku,
jantungku bertalu, aku gugup!
Kau mendekapku lalu berbisik,
warna belah langit yang luar biasa,
indah berpendaran bagai kristal.


Untuk apa kau susah payah berkata,
gambaranmu masih kurang sempurna,
aku tlah temukan klimaks bias dalammu,
dan dibalik saputangan bunga,
aku tidaklah buta.
Pria Amerika-ku


Flanel usang kotak-kotak,
cukuran yang masih baru,
hawa segar rerumputan,
lengan kokoh kecoklatan.


Beberapa jenak takkan menelanmu,
pun luntur dari ingatan ujung jemariku,
dekap lengan serta pelukku,
sepasang mata dan satu rasa.

Thursday, April 14, 2005

Sekarang dan nanti


Tambahkanlah umurku,
walau kita tak butuh penanggalan.
Bertahun-tahun, berpuluh bahkan,
agar jujur rasa dan sikap berbuah.
Puaskan ujung hasrat yang murni,
dan nanti kita pun pergi bersama,
bersemayam padaNya.
Kuntum


Gaharu dan cendana,
langkahmu membawa mereka.
Entah angin bersekutu dengan siapa,
sibakkan aroma dari desir sutera indahmu.

Tuesday, April 12, 2005

[cinta??]


Aku sebagai subjek,
dan kamu juga subjek.
Kaidah yang salah,
tata bahasa yang kacau.


Dengan penyempurnaan,
semoga dapat dibenarkan.
Bila kata cinta tanpa imbuhan,
menjadi kata penghubung.
2 + 1


Dua mata, mereka sepasang.
Awas melihat kamu, sedari awal.
Pahatan terindah, wadah ruh tersuci.


Sekiranya mata ketiga hadir,
sebelum detik penentuan,
hipotesa akan tetap sama.


Kamu, satu-satunya pilihan.
Terbaik dari yang terbaik.
Penanggalan kesepuluh


Belum genap sepuluh putaran,
purnama yang mungkin sama singgah.
Ganjil sudah hitungan keseratus,
untuk aku mengantar malam dengan pinta,
dan landaskan fajar dengan doa.


Semua tentang kita,
dan tiada yang terlepas dari kita.
Suburlah rasa tunggal yang majemuk,
karna disinari rembulannya suria.
Ikatan


Bersenggama,
hitam atas putih.
Buat kontrak mati,
dalam hidup kali ini,
kau dan aku abadi.
Hanya prolog


Ya, lelahkan saja neuronku.
Hingga teriakan jiwa tak mengumpan,
lalu kucampakkan impotennya.
Tulang merepuh, tinggalkan aku,
keras-keras dalam lelehku.