Saturday, February 25, 2006

Dots in spot

Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.

Friday, February 24, 2006

Obrolan senja hari

Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.

Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.

thanks to badai..
Empty room

Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.

Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.

Thursday, February 23, 2006

Pasir dalam mata

Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.

Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.

Wednesday, February 15, 2006

Minimum

Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.

Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.
Sebuah papan selancar

Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.

Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.

Monday, February 06, 2006

Tidak beranjak

Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.

Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.
class; 21:05

Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.

Tuesday, January 31, 2006

Gurauan sebuah lagu

Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.

Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.

Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.

Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.

Saturday, January 28, 2006

Part III

Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.

Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.
Part II

Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.

Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.
Part I

Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.

Sunday, January 22, 2006

Foreplay

Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.

Wednesday, January 18, 2006

Spasi

Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.

Wednesday, January 11, 2006

Duple

Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.

Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.

Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.

Thursday, January 05, 2006

i don't know!

Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.


Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).

Wednesday, January 04, 2006

eyes for you

Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.

Monday, January 02, 2006

Dini hari

Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.
Seluas langit

Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.

Wednesday, December 28, 2005

Untuk indera

Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.

Tuesday, December 27, 2005

White Christmas

Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.

Thursday, December 22, 2005

Beda yang indah!

Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.

Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...

Wednesday, December 21, 2005

Twins

Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.

Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.

Sunday, December 18, 2005

Isi cerita sebuah rumah

Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.

Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.

Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.

Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?

Thursday, December 15, 2005

Pararel

Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.

Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.

Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.
Moon River

Dream maker,
you're heart breaker...

Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.

Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.

Tuesday, December 13, 2005

Bulan bulanan

Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.

Monday, December 12, 2005

piracy

Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...

Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.

Thursday, December 08, 2005

Cinta Sabun Cuci

Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?

Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.

Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.

Wednesday, December 07, 2005

Ah, bullshit!

Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...

Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...

Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.

Tuesday, December 06, 2005

Ingatan tak pernah larut

Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?

Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.

Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.

Monday, December 05, 2005

Alkisah Mahaguru


Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?


Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.


Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?


Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.

Sunday, December 04, 2005

Pada hidup kali ini


Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.

Monday, November 28, 2005

Zat fikir (bukan zat hijau)


Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.


Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.


Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.


Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.

Sunday, November 20, 2005

Cook Book


Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,


"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu


Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.

Thursday, November 17, 2005

Re-learning


Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.


Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.


Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.


Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.

Monday, November 14, 2005

Fixed!


Puluhan ribu kaki,
jarak merekatkan kita.


Dan kini, di bawah satu atap,
kita bersiteru dengan senada.


Aku, kamu, aku, kamu,
dan tidak pernah kita!
Lebih ini dan itu, lalu nanti..
apapun juga, tetap bukan kita.

Wednesday, November 09, 2005

"..."


Coba carikan alasan yang lebih baik,
kalau sudah bosan menatap senja,
yang sampai kapan warnanya tetap oranye.

Sunday, November 06, 2005

Primer


Cukup kirim sms,
atau angkat telpon,
minta ini dan itu,
lalu kau dapat teman,
berangkulan suka di luar sana.


Tapi yang sulit adalah rasa itu,
tepat pada (se)orang,
hanya sepasang tangan,
dan cukup sebuah hati,
untuk turut berdiam di rumah.

Wednesday, November 02, 2005

Santap sederhana


Seribu siang aku bertemu.
Dengan seribu lebih dan juga tawa.
Silih berganti tetap menyimpan malam,
tapi kemudian membuang kelam.


Hitungan satu jatuh padamu,
dan kan selalu untukmu.
Lalu bintang dan bulan jadi santap malam,
kita berdua di meja dengan tikar rumput hijau.
Kanan kiri


Aku sudah minta,
pada malaikat tak berkelamin.
Agar yang pria menjaga kemudi mu,
dan puan merawat dek mu.


Nanti kita kemudikan bersama,
dengan bisik ku di telinga mu.

Tuesday, November 01, 2005

Ara dan api


Bunga api,
tak sembarang.


Bunga api,
dari api unggun,
yang disisakan hangat malam,
walau matari datang menyapu.


Bunga api,
hiru biru hati.

Wednesday, October 26, 2005

Bernada saja


Eulogi untuk masa,
atas sebuah titik,
dan juga akhirnya.


Tidak perlu renyah nada,
cukup merangkum indera,
kau adalah efeufoni telingaku.
Satu testamen


Ibu suka membuang tatap,
dan ayah tertawa kecil,
waktu aku bicara tentang mati.


Disain nisan dengan hiasan di sudut,
bernuansa abu tapi jangan terlihat muram.
Kita semua pasti mati kan?


Jangan lupa kau ambil testamen,
sepucuk surat dalam brankas.
Tertera namamu di amplop.


Bukan kepada yang terhormat suamiku,
tapi untuk yang tercinta bekas pacarku.
Kalimat pendek


Ego menyusun kata,
lalu merangkai kalimat.


Bila aku adalah masa lalu,
siapa lah aku yang sekarang.
Waktu dan ruang


Sekarang sayap mengepak,
dan senyum diterpa angin,
begitu bebas.


Hanya saja aku rindu satu kata,
perbendaharaanmu seorang,
'pulang'.

Monday, October 24, 2005

Bukan surat cinta


Penaku patah, tintanya buyar,
dan sisanya menguap entah kemana.


Imajinasiku tumpul,
lembar kata berlepasan,
mungkin aku impoten.


Hanya karna kata,
tak pernah cukup.
Tak juga kabut mata,
teriak dan keringat.


Manik jiwa masih menanti,
dengan waktu yang semakin menipis.

Saturday, October 22, 2005

Demam sebutan


Jangan samakan rusa dengan karibu,
hampir serupa bukan berarti sejenis.


Juga gandewa dan gandi,
yang sama-sama busur panah,
tapi jelas beda karna aksara.


Lalu apa jadinya bila nanti,
brahma bertitah malam itu siang,
dan awal itu akhir.


Aku tertawakan kau,
kau pada mereka,
dan mereka karna kita.

Tuesday, October 18, 2005

Pencarian


Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.


Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.


Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?
Idan idan iking rat


Dia sudah ada,
sebelum aku ada,
bahkan juga sebelum kau.


Pada susah dan beban,
kau hendak kelanakan diri.
Tundukkan kepala,
tengadahkan telapak,
cari mencari kemana-mana.


Tidakkah kau tahu,
Tuhan sudah mati.


Kau tidak temukan dia saat kau hidup,
tuk sekedar jawab semua tanya.
Dia mati saat kita hidup,
jadi kau tidak dapat temukan Tuhan.

Saturday, October 15, 2005

Kekuatan rasa


Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kau,
dan dunia kembali berwarna.


Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.


Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.


Yang memang ampuh,
untuk semua kecuali satu,
dan itu urusan vertikal.
Anak harapanku


Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.


Terlalu penuh sesak,
asa tak lagi leluasa.
Tak cukup banyak oksigen,
untuk bilik harap yang kecil.
Manusia hari ini


Lelap, rebahkan syak,
sinar matari pasti datang,
itulah pagi yang kutahu.


Menyesakkan nafas,
hawa yang terlalu panas,
ah..siang hari yang wajar.


Senja, dengan merah-ungu,
heningkan fikir,
sejenak dan dua.


Lalu malam,
kembali lagi,
senyap dan sepi.


Aku begitu mengenalmu,
sama seperti empat cuaca,
pada panjang hariku.


Bahkan seperti garis tangan,
jumlah helai rambut putih,
dan gelisah milikku.

Thursday, October 13, 2005

Independensi


Alur mundur,
sepertinya tepat.


Biar wacana tak lagi bicara,
dan semuanya jadi bisu.
Tak lagi kata,
bunyi dan suara.


Agar semua neuron efektif,
menjelmakan inti masing-masing,
tak sekedar menghirup uap,
yang kebetulan lewat.
Sebuah keluh kesah


Bayu daksina terlampau kencang,
menggulung semangatku serta,
dengan resah, debu, pilu...

Tuesday, October 11, 2005

Get well soon, champ!


Ingin berada disana,
menyeka peluh dan nyeri,
dengan saputanganku,
yang dirajut dari asa,
berbordir kesturi.


Kutiup sakitmu jauh,
hinggap saja di aku,
bila perlu.
Lafal, terlalu


Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.


Pengarang bunga kata,
karamkan jantung hati.

Monday, October 10, 2005

Sudut


Terang terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.


Matari jatuh,
kau sembunyikan cahya,
di kantung celana,
semua masih terang terang laras.

Sunday, October 09, 2005

Sadagati


Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak berotak.


Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.
Samara


Sempurnakan strategi,
buat seribu alasan untukmu.
Dari terik hingga senyap,
embun sampai resah.
Kau (juga) sebuah mimpi


Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.


Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
Rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.


Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.
Panggung air sungai


Linang, berkilau-kilau.
Bulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.
Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.

Friday, October 07, 2005

Purnama dan aku


Seribu malam kau tunggu bintang jatuh,
dan satu akhirnya tiba,
dengan kedua lengan mendekap.


Kau tata sinar perak,
serupa tiara di kepala,
resapi arti indahnya,
sebelum hari beranjak terang.

Wednesday, October 05, 2005

Beberapa untuk satu


Ingat kesan pertama itu?
Begitu dingin, tak tersentuh.
Sampai detail wajah terlupa,
nama lalu jadi ingatan tunggal.


Waktu bisa menelan kebekuan,
dan juga buyarkan mimpi.
Lupakan itu, kau lah mimpiku,
yang kurajut dengan kesabaran.
Buruknya kemegahan


Masih sama, lensa cekung di matamu,
jadikan ulat itu kupu-kupu,
jauh sebelum waktunya.


Dimana tak disusuri halus aspal,
warna mega tak terhalang gedung,
membuatmu bernafas lega.


Indahkah aku di bias lensa cekungmu,
atau burukkah aku dipantulkan disana?
Sekalimat janji


Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.
Kutemui sepasang telinga di baliknya,
kudekati dengan debar jantung berlomba.


Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.


Itu mimpi kita,
milik kita.

Monday, October 03, 2005

Melukis langit


Seharian ini hujan tak jadi mampir,
sekedar renik di ujung rumput pun tidak.
Bisa jadi senyum dan tawa kita bergema,
dipantulkan dan diperkuat oleh awan.


Mendung ditiup angin,
disapu biru muda,
tak hanya di kanvas langit.
Untuk penulisku


Jika memori dapat membunuh,
dia dapat hidupkanku lagi,
bahkan ratusan kali,
karna indah ingatan tentangmu.

Sunday, October 02, 2005

Natural


Mencintaimu apa adanya,
semudah terbangun di pagi hari,
karna matari yang mulai mengusik,
menerpa berat kelopak,
dengan sejuk butiran embun.


Sama alaminya dengan malam hari,
yang pusatkan dingin di sekeliling,
membuat kita ciut seketika.


Begitulah terjal, diinginkanmu,
dimilikimu, dan dicintaimu,
apa adanya aku.
Tujuh samskara


Samskara, inginku dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
Mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang lebih-lebihan.


Kau mimpiku,
jadi bolehkah aku lelap,
dan bermimpi lagi?

Thursday, September 29, 2005

Tiket satu arah


Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.


Di suatu fajar, entah di bukit yang mana,
di suatu senja, entah di semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah di khayal atau bukan.
Penghormatan


Aku merindumu,
juga pernik kecil darimu,
yang kusematkan pada topi,
buatku merunduk,
dan bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.
Langit kosong


Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
Semua kecuali satu.


Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.

Tuesday, September 27, 2005

Rindu yang sederhana

Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.


Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.


Aku rindukan kau,
sesederhana itu.
Abhiniwesa

Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau tlah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.

Monday, September 26, 2005

Bagi dua

Masukkan citarasaku dalam papir di sakumu.
Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.


Bernafaslah dengan lega, dariku.
Mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.
Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.

Friday, September 23, 2005

Refleksi oasis


Masih ingat di suatu fajar,
saat kubiarkan kau membilas penat,
hamburkan mimpi tentang kita?
Rasanya tak ingin beranjak,
hangatkan saja dengan mayarupa.
Dekapan resah masih terlalu dingin.

Saturday, September 17, 2005

Malam bagi kita


Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.


Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.


Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.

Wednesday, September 14, 2005

Asamadhi


Buyarkan sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.


Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas.


Semadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.
Terang, sinar bulan


Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.


Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.


Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.

Saturday, September 10, 2005

Delapan putaran bulan


Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.

Thursday, September 08, 2005

Humor


Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.


Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.


Aku mulai merindu,
masih kau dan populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.


Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.

Wednesday, September 07, 2005

Jari jemari


Aku benci telunjuk kananmu,
main tuding sana sini,
ikuti letupan emosi sesaat,
dan licinnya kata karna lingua.


Mungkin tidak telunjuk kirimu,
yang saling silang, enggan nodai janji.
Kukira nanti kita kan beralih posisi,
pada hati yang tak lagi merasa.

Mata kanan dan kiri


Menyapa kerinduan yang bergulir masuk,

lebih cepat dari terbilasnya perih,

dan sisa gulatan imaji.


Bahkan saat detik meretas menit,

kita kian dirunut beku,

pada diam yang tak bisa lagi bisu.

Daya Buana


Dunia berputar,
tanpa pedulikan keriangan dalam,
kericuhan bahkan,
dan pembantaian hingga.


Dunia berputar,
hanya melewatiku.

Monday, August 29, 2005

Dearest champ...


Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kau yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.


Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
Dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta medali.
Rasionalitas bercinta


Sebidang angan masih tepat di jantung hati,
masih gembur dan siap tuk ditanami.
Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.
Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.


Sedetik, dua tuk lengkung senyum,
menit dengan gerik perlahan dan tawa,
hitungan jam larut dalam hangat pelukan,
yang kesemuanya dilalui bersama.


Hanya frame-frame milik kita berdua,
dan itu satu-satunya yang penting buatku.

Friday, August 26, 2005

RIP; for perversion


Aku jatuh cinta,
pada tatapan yang tajam,
menusuk hati, sebuah hanya,
koyakkan daging dari tulang,
campakkannya.


Sekejap aku tak mampu berdiri,
kehilangan penopang,
lebih dari sekedar kruk kaki,
masih karna sepasang mata,
piawai mencabut sukma kah?

Thursday, August 25, 2005

Dua puluh enam


Pertaruhkan semua isi kantung,
sampai secarik yang melekat akhir.
Untuk satu kesempatan.


Takkan kusesali, takkan kupungkiri,
sakit membuatku lebih dalam,
disetubuhi perih kata setia.


Sudah lewatkah kereta itu?
Kenapa aku masih tetap bernafas?
Menjawab [...]


Hampir lupa rasanya perih ini,
kita semua memang pelakon belaka.


How could you?!

Wednesday, August 24, 2005

Satu, satu


Aku baru saja jatuh tuli,
lorong buntu tak bervibrasi,
pada gendang telingaku.


Dan kini sadar bertanggalan,
dalam utuhnya tongkat jalanku,
sarungkan aku dalam hampa.

Monday, August 22, 2005

Luka dalam diam


Mematuk langkah,
hentikan ucap dan laku.


Sungguh definisi yang salah,
karena sepasang ini masih terus menjejak,
bahkan tak hanya berderap, tidak lagi.


Percikan kecil muncul dan membesar,
karna senyawa bagian hawa ini dan dunia.


Aku berlari, dan masih akan terus,
walau sadar betul rasa hampir tak sanggupi,
bersamaan dengan raga yang telah rontok.

Thursday, August 18, 2005

Esok


Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan kristal yang mengering,
di sudut matamu...
Percakapan dan malu


Mengetuk pintu tuk sekedar menyapa,
bukan hanya menjenguk hingga mata bertemu mata,
dibatasi jingkatan pada jendela berkusen kayu...


Apa kabar kamu hari ini?
Kau rindukan aku?


Hanya ingin curi beku pada waktu,
telusuri retinamu yang berkobar api,
dan dia tak mampu membakar,
tidak untuk sekarang.


Ciptakan alasan lain pada petang nanti,
mungkin sekedar mengatakan,
"Lihat, sayang..hari telah senja,
kali ini kau kalahkan guyuran malu-malu matari,
pada kuncup bunga setaman..."

Monday, August 15, 2005

Proletarian


Kita berdiri di persimpangan jalan,
di bawah temaram lampu,
di sela ricuh lautan pejalan kaki.


Suara kita tak terdengar,
hanya berdecap-decap,
tertelan bising bunyi mesin mobil,
serta knalpot dan rongrongan vespa butut.


Mulut ku dan mu bergerak,
buka dan tutup,
mata dan jemari bertaut,
suara kita masih tak terdengar.


Sampai sepi nanti,
bulan ditelan gelap malam,
jalanan tiba lengang,
kita masih disini,
tak berkata-kata.
Waktu dan aku


Kau dan kata-kata,
luluh lantak aku dibuatnya.


Kau dan frame, refleksi,
dan jangan lupakan bayangan,
parafrasekan aku sebagai maharani.


Kau dan waktu,
untuk yang satu ini,
aku tak bisa kompromi...

Friday, August 12, 2005

Hening yang kubenci


Sebut mereka sederhana,
dalam senyap yang lengkapi suara jangkrik,
telah lelap tertidur di atas dipan,
berselimutkan simpul di bibirnya.


Malam ini kita kembali diam,
semata lelah berargumen.
Hanya kerudung ingatan yang lingkupi,
satukan kita di dalamnya, masih bisu.

Thursday, August 11, 2005

Dilema


Kau menyemat rindu di telinga kanan,
selusin hari lamanya kita tak jumpa.
Malam ini hujan badai rupanya,
gemerisik tawa miris mencuri start,
cumbui yang sebelah kiri!

Tuesday, August 09, 2005

Rumah dan pulang


Kucari kau kemana-mana,
pagi saat kulelap tak sambut matari,
malam kian kentara kubaru terjaga.


Kucari kau kemana-mana,
bahkan dalam dekap kicau kenari,
yang kukenal hampir belasan tahun,
nyaris seusang sepatu tua di sudut kamar.

Sunday, August 07, 2005

Soliter


Rintik di sudut mata,
menghambur begitu saja.
Rupanya duka dan suka cinta,
seiring sejalan dalam tiap tarikan nafas.


Terang sebelum mendung,
renik sebelum lebat,
sepanjang jalan.
Akhir persinggahan


Kumulai dengan sederhana,
bahkan dalam yang tak terkira.


Pada hal remeh yang dibuang mereka,
daun yang disiakan pohon yang semakin menua.
Ah, perjalanan yang melegakan,
di suatu sore hari, masih terik.


Terdengar ricuh di ujung gang,
arak-arakan semalam suntuk,
lampion warna jingga sayup-sayup cahaya.


Mungkin akan menghibur, tapi jelas tak melarutkan.
Masih mencintaimu, dalam hati,
di tempat kenangan kita.


untuk sahabat-sahabatku...

Saturday, August 06, 2005

Putih kebiruan


Deras air menyelak bebatuan,
mata ku bertemu mata mu.


Menjalin percakapan tanpa berlemparan kata,
bukan keheningan yang ingin dipecahkan.

Thursday, August 04, 2005

Diam


Gerhana tak kunjung datang,
rotasimu salah hitungan...


Dan aku, tak bisa berkata-kata.
Dua dalam satu, Bercinta


Gombal gambil dengan kata,
mereka adalah mati,
tak sisakan debat kusir,
bahkan bila nyawa bertahta.


Teriak spontan pada kertas buram,
coret dan tambahkan awalan,
maka kini resmi kita tlah pisah.


Ah, bukan frase sesendok teh,
pun segunung kalimat retoris banyaknya.


Karna kita adalah kita!
Tak pernah merasa dikalahkan,
apalagi merasa menang mutlak,
pun bersyarat.


Cinta adalah rasa,
yang tak bernominal.
Satu-satunya di dunia (ku),
paling tidak.

Sunday, July 31, 2005

Pasir dan harapan


Adalah merah yang mencapai puncak,
dan putih menua di ujung cakrawala,
saat degup jantung berdebat lebih keras.


Pada tekanan kaki (dan) kaki atas pasir,
juga rebah karna sukarku,
kau rupanya lantang menjawab.


Senja dalam senandung matari terbenam,
adalah derai air mata, yang datang dari hati.

Friday, July 29, 2005

Puisi angin malam


Sulit mengeja huruf per huruf,
apalagi lafalkan satu kata.


Letih tangan menepis angin lalu,
jenuh otak mencerna jutaan alasan,
dan peluh dalam diam pun wicara.
Mereka ramai teriakkan namamu!


Bisa jadi aksara yang kuayak adalah cinta.
Cinta bukan strata


Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.


Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..


Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.


Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.
Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...


For my bestfriend, D.S

Thursday, July 28, 2005

Selintas lalu


Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.


Mungkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.


Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.

Wednesday, July 27, 2005

Pulang (sekali lagi)


Sekeping saja, disembuhkan sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.


Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.


Indah buah rasamu, hidupkan aku kembali.
Karna janjimu, yang tetap ada dan cintaiku,
di kenangan akan kita...
Dejavu


Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.


Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.


Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, mataku basah..


Sematkan ini pada telinga kananmu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.
Esensi manusia


Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.


Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.


Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.


Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.


Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.
Tinggal diam


Aku rindu penjajahan oleh waktu,
serakahnya detik mencumbui usia.


Kita tak pernah beranjak, hanya nikmati hari.
Menjaring tiap fajar dan senja yang berpamitan,
dengan satu, dua semburat bertanggalan.


Membeku, seperti batu,
gravitasi bahkan tak berlaku.

Friday, July 22, 2005

Malaikat dalam frame


Lembar menguning, dengan hiasan buram.
Mungkin debu selamatkannya dari ngengat.


Butuh lebih dari belasan tahun,
atau bisa jadi gegar otak ringan,
agar aku lupa akan figurmu.


Ajaran yang tak pernah usang,
dan kompas penunjuk arah paling tepat.


Kau lekat permanen dalam benak dan hati,
bersanding dekat nuraniku.


Dedicated to B.W,
my grandfather.
Finale


Sumbu yang terakhir,
aku adalah satu antara tiga.


Kujaga baik-baik terangnya,
karna ini rumah tuanku.


Berbilik kecil dengan bau harum,
wangi bersahaja melati putih.
Rupa sederhana nyaris tertutup kilau,
yang tak lain dari remah-remah mimpi.


Aku adalah satu antara tiga,
pertahankan sampai redup menjelang,
walau gelap memangsaku perlahan.


Karna dua lain adalah angin,
dan benih prasangka.

Thursday, July 21, 2005

Limitasi


Benang sari dan putik,
kumpulan rumput liar,
kau petik satu persatu,
dari purnama semalam...


Kau manjakan aku,
dengan deras kata,
yang dulu pernah kupinta,
dalam tiap untaian doa...

Monday, July 18, 2005

Putaran rasa


Keluhan rutin pada hari-hari hujan,
betapa kami benci pada kilat,
yang awali serentetan larangan.


Berlari ke balik punggung bunda,
berlindung dari gaduh guntur,
diakhiri dengan lebat hujan.


Beberapa jenak tuntas sudah tangis langit,
tinggalkan becek lumpur tuk bermain.


Kau pun menyambarku bagai kilat,
sekelibatan mata namun dahsyat.
Dalam hitungan detik aku terpaku,
singkat kemudian hatiku digedor kuat.


Nanti kita kan berlari kecil saat hujan renik,
berteduh di kala lebat, nikmati indah bianglala,
dan jejakkan kaki telanjang di rumput yang basah.


Begitulah dunia, ikatan ini,
dan keseluruhan dinamika.
Kita jelang sama rata,
sampai nafas tak lagi sama.
Benih pikiran


Sekali lagi mencoba tuk erat,
tenggelam dalam rasa.
Dimana pelabuhan sejuta rona,
tak mampu sadarkan kita.


Aku hanya ingin satu, lekat.
Tak sekedar mengenang,
masturbasi imajinasi,
setubuhi rasa yang kosong..

Saturday, July 16, 2005

Vows


Pucat wajahmu tak redupkan aura,
genggaman tangan dan tautan rasa lekat,
mengusung frase batas usia,
tenggelamkan di dasar samudera.


Keringat basahi keningmu,
lengkapi sekotak nyeri di hatiku.
Kupungut sejumlah asa baik-baik,
tanpa satu yang tertinggal.


To have and to hold,
from this day forward,
for better, for worse,
for richer, for poorer,
in sickness and in health,

to love and to cherish...

Friday, July 15, 2005

My call


Ada denyut yang tertunda,
detak yang berganda,
dan nafas yang terus memburu...


Aku, kau,
dan kita...
Titisan


Siapa kau?
Panjang rambut, jernih mata,
tinggi badan dan putih kulit,
kau yang kini,
aku asing.


Ah, kau rupawan,
menitis angsa ketika purnama,
tanggal kostum dan lekatkan indah.


Hanya saja sinar matamu beda,
tak lagi menghujam bertabur renjana,
siap luluhkan aku habis-habisan...


Kita hilang kekang,
akan serbuan waktu,
tinggalkan jemu,
dan candu.

Wednesday, July 13, 2005

Utuh


Beku atmosfer malam itu,
kau membakarku.


Ingin mencampakkan segera,
semua basa basi itu,
dan selimut yang menutupimu..


Masuki labirin sunyi,
entah kaki-mu atau -ku,
terlalu gemetar,
kita buat gaduh saja..


Malam terusik, gelap melindap,
sinar matari agak jengah,
mengintip malu-malu..


Fajar itu,
kita satu.

Wednesday, July 06, 2005

4/4 dan staccato


Pianoku uzur penuh debu,
esok kan kukibas bersama kelu tangan,
sudah lama kaku,
terlalu.


Perlahan jari satu hingga lima,
kanan dan kiri ketukkan tempo baru.
Mainkan lagu cinta dengan nada riang,
sedikit staccato disana sini.


Buyar sudah birama yang tersusun rapih,
perduli tak aku pada kaku garis batas,
hadirnya mereka hanya tuk jenuh.


Dan rasa tak kenal kata itu,
jabat tangan tak pernah mereka lakukan.

Monday, July 04, 2005

Manisnya rasa


Kubangun harga manusia dari janji.


Bagaimana lekuk lidah muntahkan frase,
kubangun puri megah dari kata per kata.
Walau ringkihnya bagai pasir,
tetap perisai kokoh milikku.


Diri ini, sepanjang jengkal tubuh,
utuh milikmu.


Bernafaslah dengan janjiku,
selama ruh melekat di raga,
aku setia pada rasa ini.

Sunday, June 26, 2005

Sinonim


Lingkup gerikmu, luruh langkahku,
dalam bentengi hasrat, sebut gejolak itu cinta!
Kami adalah saya


Kursi sutradara itu untuk kau,
bukan untuk si manis berambut ikal,
dengan kostum minimnya.


Bukan pula punguk perindu rembulan,
yang lengkapi fabel pengantar tidur dari bunda.


Aku dan mereka hanyalah figuran,
kalaupun masih adu pendapat,
paling tidak kami hanya bisa ikuti skenario.


Karna kaulah sang sutradara,
pencanang semua adegan,
dari titik dan koma,
hingga mati ekspresi.


Daya minimal ini,
kami hanya bisa maksimal.
Vibrasi


Getar itu masih sama,
terkurung dalam kotak,
dari tiap pijar imaji.


Resah digenggam,
buat khawatir asa kecilku.


Mataku merangkum seorang,
yang tak pernah lari,
dari mimpi di malam sepi.


Getar itu masih sama,
pada kelopak mata, pada bibir,
pada lemah jemari, pada degup jantung,
padaku, karnamu.

Saturday, June 25, 2005

Penulisan Ulang


Loteng tua berdebu,
tinggi dalam sendiri dan sepi,
bertahan pada jingkatan kaki,
telanjang tanpa kasut.


Tirai selubungi lantai kayu,
tenggelamkannya dalam suram.
Indah kisah jadi lapuk kayu.


Hingga waktu hadirkan rapuh,
dan koyak membuka tabir.


Entah bagaimana dengan nasib,
yang selalu permainkan kita.
Kelahiran Asa


Pada air mata yang nyaris menetes,
di petang yang begitu mendung,
kuseka dengan keratan mantel lusuh,
yang penuh bercak mimpi...


Tuk menyesap perih,
agar tak mengalir dalam vena,
dan rupanya berujung pada asa,
yang kau jatuhkan dalam genggamanku.


Kembali,
ya kembali.

Tuesday, June 21, 2005

Stepping stone


Menuding waktu,
memoles ego,
dan salahkan aku.


Nanti kau rasakan,
sepinya sampai di sebrang,
dan tak bisa kembali.
Definisikan ini!


Partitur yang rapih,
dengan garis dan spasi,
petakan do sampai si...


Selalu ada cerita di balik itu,
milik belasan kertas buram,
yang diremas dan dicampakkan...

Sunday, June 19, 2005

Seharian sendja


Aku pamit,
tanpa cium di kening,
peluk hangat abaikan hasrat,
dan ikat kain di pergelangan tangan.

Tuesday, June 07, 2005

Sembilu


Rembulanku kau guyur warna pucat,
mengusir kerlip perak di seantero langit,
kau teriak mati, mati dan mati!


Percuma sekali, karna sudah ribuan kali,
dan maaf baru kukatakan padamu malam ini.
Telah kau turunkan indah nyata bulan,
dan panas terang matari.
Kau rotasikan semaumu,
pada pucuk kepala hingga tapak kaki.
Tanggal


Menghitung singgungku...
Setelah ratusan jam kudaki terjal bukit,
sampai hilang panjang rambutku,
berkikisan dengan angin lereng...


Ah, memang aku salah menembus kabut,
yang gelap sandarkan pada limbungku,
hingga aku mengaku manusia,
padahal mereka mengaku aku..


Perih karna sedih, tawa karna suka,
manusiawi sekali, siklus kehidupan.
Tapi kan kucari merah meradang,
dalam tiap susuran pilu per meter,
karna mudahnya pengajaranmu.

Sunday, June 05, 2005

Akirih


Letakkan sebelah kiri perlahan,
dengan deras dan hening suara,
tanpa perlu mengusik sebelah kanan.


Aku bermakam bukan karna lirih,
hanya kaca gerutuan kirik pada ngilu,
di sela hujan bertalu dalam bisu.


Gelap gulita suarakan kata rumah,
dalam pelukannya, tanpa kata pulang.

Saturday, June 04, 2005

jeda lari jeda


Kita salah kolom,
seharusnya garis titik garis stop,
dan bukan sebaliknya.


Entah mata hati yang tumpul,
atau suryakanta yang bias,
rupanya memang harus diganti.


Titik garis titik stop
jeda lari jeda kosong

Wednesday, June 01, 2005

Prolog dan epilog


Malam singgah pada kelopak mata,
menyulap letup harapan embun pagi.
Tak mengubah adanya fajar di suatu masa,
dengan gulungan cerita yang nihil tanda titik.
Akhir Mei


Gelarkan mimpi,
berbahan perca memori,
dengan ratusan payet,
berwarna perada,
sebagai pemanis resah,
dari tusukan ilalang liar,
yang jauh terserak,
di dasar fondasi kata kita.

Friday, May 27, 2005

Makam sebuah dongeng


Menggubah lirih malam,
lengkap dengan notasi,
jadi soneta peluruh sukma.


Dahaga sepanjang sahara,
jadi dataran es tak bertepi,
dengan musim semi di tengah.


Kau, menghuni lubuk hati,
tertera pada ratusan lembar ingatan,
tanpa bisa kucoret dengan darah.
Bersenyawa


Menyerap sari,
mendaulat peluh,
dan noda senggama.


Dalam hujan tak lagi renik,
bercampur lumpur tanah,
disela rumput hijau.


Kita,
menautkan jemari,
seraya bertukar ruh.

Wednesday, May 25, 2005

Simponi duka cita


Malam labu pakai kostum,
bawa topeng lalu berandai-andai.


Aku ini apolo, tak kalah tanding dengan idas,
atau setidaknya aku bersenjatakan lira...
Malam dan Merah


Dua kali aku tidur bergincu merah jambu,
dengan kilap ulasan senyum masih merona.


Malam ini merah darah, dalam lelapku.
Kenapa harus gigi gemertak menahan pedih,
mencabik dan buahkan tangis...

Tuesday, May 17, 2005

Kosong


Dinding tembaga,
yakin dirinya absah,
benar pada tiap tarikan karat,
tak pudar dalam bejana besar.


Ia punya mata juga telinga,
dan mungkin hati, seabad yang lalu.
Nurani dan insting tuk mencinta,
sebelum semua direnggut usia.
Nos poma natamus


Mekar dan berkembang,
rupawan juga cantik satu masa.
Bunga nantinya kan layu,
gugur lalu jatuh ke tanah.


Entah mengapa mereka melafalkan,
kerendahan diri sebagai awan kecil.

Monday, May 16, 2005

Aksara dari rasa


Seakan kehabisan vokal dan konsonan.
Rupanya tidak, endapan memori masih kental.
Alam menolak, kegusaran terbilas bersih.
Hanya rasa yang begitu tulus,
hinggap dan tak terbang lagi.
Awal


Penanggalan beban punggungku,
tak ada lagi yang perkosaku setubuhi tanah.
Kini kujunjung rasa yang mesra,
dengan gelegak berdaya musnah,
terhadap semua ketidakjujuran yang terjal.

Sunday, May 15, 2005

Persevero


Dayung dan layar,
sampai terbit suria,
habis pula tenaga,
tapi tidak jiwa ini.


Dayung dan layar,
tunjukkan dayaku manusia,
berlarian menutur cerita,
tak meleset dari suratan.
Mata hati


Sinarlah yang membedakan warna,
beri wahyu pada sepasang mata,
tuk meresapi tiap semburat,
putih, kuning, dan merah hati.


Demikian pula aku,
bisa menjelma kasih,
bertindak ikhlas dan mencinta,
karena kau.
Rasa yang murni


Dia, dia ataupun dia,
tidak dapat merampas cinta,
yang kukenakan sebagai jubah,
penutup tubuh..


Karena sebelum memasuki arena,
telah kutanggalkan kasut keangkuhan,
dan semeter setengah kain keegoisan.


Apakah yang mereka dapat ambil,
dari aku yang telanjang?


Kau telah masuk ke dalam hati,
melalui pori-pori.

Saturday, May 14, 2005

Warna dan rasa


Parafrasekan cerita kita,
habislah kertas dalam buku,
dan aksara dalam diksi.


Pijaran kita terlalu indah,
untuk mengenal eufemisme,
dan berjabat tangan dengan degradatif.

Sunday, May 08, 2005

Habis nafas, lelah raga


Lari dari setapak yang berkerikil halus,
jatuhkan diri pada secercah yang tersisa,
hijau pada awalnya dan nanti kecoklatan.


Halilintar yang bodoh,
entah apa yang kita takuti.