Di langit bintang
Komet kembar yang berpacu bersama,
tengah berlarian kalahkan matari,
nyaris muskil dengan kecepatan cahaya.
Lewati satu titik, belasan bulan,
dan titik lagi, belasan tahun,
hingga titik lagi, sebuah ikatan,
yang tak dilingkari hitungan jarak.
Perempuan Senja. Suka menulis sejak mengerti S-P-O-K. Hanya saja sekarang K berganti rupa jadi Kamu. Punya hubungan cinta benci dengan tulisan, rasa dan kenangan.
Friday, June 30, 2006
m a t i k a n waktu
Waktu luangku tak kuisi dengan kamu,
tidak pula dengan pikiran tentang kamu.
Denganmu, sang detik kalah pamor,
dan menit jadi kurang percaya diri,
atas hitungan jam yang mati,
berhenti total atas rotasi padamu.
Waktu luangku tak kuisi dengan kamu,
tidak pula dengan pikiran tentang kamu.
Denganmu, sang detik kalah pamor,
dan menit jadi kurang percaya diri,
atas hitungan jam yang mati,
berhenti total atas rotasi padamu.
Tuesday, June 27, 2006
Cerita
Pegasusku ketukkan langkah di ujung pelangi,
hentikan waktu pun detiknya yang bergulir,
pindahkan mejikuhibiniu pada surai menjuntai,
tinggalkan aku merasai mimpi siang hari ini.
Pegasusku ketukkan langkah di ujung pelangi,
hentikan waktu pun detiknya yang bergulir,
pindahkan mejikuhibiniu pada surai menjuntai,
tinggalkan aku merasai mimpi siang hari ini.
Saturday, June 24, 2006
Barter
Mata kaki yang lecet,
macaroni yang hangus,
hati yang nyaris compang camping,
adalah sepadan bila kita bersama,
nanti.
Mata kaki yang lecet,
macaroni yang hangus,
hati yang nyaris compang camping,
adalah sepadan bila kita bersama,
nanti.
Thursday, June 22, 2006
Lagu dansa
Mari berdansa,
lengkap dengan alunan hening,
biar aku yang berkata-kata.
Pelan kubisikkan,
seirama kaki kanan dan kiri,
tentang matari yang mencuri sinarmu,
dan bintang yang leluasa sembunyikanmu.
Hingga pagi datang mengusik,
dan kosa kata menipis,
aku masih bicara.
Bahkan lantai yang penuh,
tapak di atas kata-kata,
oh biar saja.
Semua tengah berhamburan,
dari benaknya rasa, melewati lingua,
berlarian keluar lewat frase dan kalimat.
Nanti lantai dansa kan dibersihkan,
bahkan sampai titik koma yang sulit hilang
(sudah tidak ada tanda baca yang tersisa)
Mari berdansa,
lengkap dengan alunan hening,
biar aku yang berkata-kata.
Pelan kubisikkan,
seirama kaki kanan dan kiri,
tentang matari yang mencuri sinarmu,
dan bintang yang leluasa sembunyikanmu.
Hingga pagi datang mengusik,
dan kosa kata menipis,
aku masih bicara.
Bahkan lantai yang penuh,
tapak di atas kata-kata,
oh biar saja.
Semua tengah berhamburan,
dari benaknya rasa, melewati lingua,
berlarian keluar lewat frase dan kalimat.
Nanti lantai dansa kan dibersihkan,
bahkan sampai titik koma yang sulit hilang
(sudah tidak ada tanda baca yang tersisa)
Monday, June 12, 2006
Pelangi
Kukenakan pelangi di hak sepatuku,
kuning, coklat hingga oranye.
Sampai nanti kupinjamkan untukmu,
sabar-sabar saja kau di atas sana.
Isi penuh dulu mimpi-mimpiku.
Kukenakan pelangi di hak sepatuku,
kuning, coklat hingga oranye.
Sampai nanti kupinjamkan untukmu,
sabar-sabar saja kau di atas sana.
Isi penuh dulu mimpi-mimpiku.
Friday, June 09, 2006
Toples warna-warni
Tolong kemarikan yang itu,
yang bundar dengan tutup plastik.
Memang tidak kedap udara,
tapi pasti anti aging.
Satu lagi kumasukkan ke dalamnya,
atas malam kerlip dan langit teduh yang kau cipta.
Selembar bahagia kusimpan baik-baik,
dalam toples warna-warni.
Tolong kemarikan yang itu,
yang bundar dengan tutup plastik.
Memang tidak kedap udara,
tapi pasti anti aging.
Satu lagi kumasukkan ke dalamnya,
atas malam kerlip dan langit teduh yang kau cipta.
Selembar bahagia kusimpan baik-baik,
dalam toples warna-warni.
Monday, May 15, 2006
Tawa untuk malam nanti
Malam nanti kuharap lebih,
dari hangat genggam tangan.
Warnai saja atmosfer suara,
belah langit yang sempurna itu,
dengan cabikan tawa mu.
Gembirakan aku malam nanti,
tanpa usungan mimpi buruk,
dan hymne duka cita.
Malam nanti kuharap lebih,
dari hangat genggam tangan.
Warnai saja atmosfer suara,
belah langit yang sempurna itu,
dengan cabikan tawa mu.
Gembirakan aku malam nanti,
tanpa usungan mimpi buruk,
dan hymne duka cita.
Wednesday, May 10, 2006
Percaya tidak percaya
Boleh kau percaya,
pada sejuknya embun pagi,
teriknya siang hari,
dan malam yang membutakan.
Karena kau pernah disana,
pernah melihat, merasa,
dan dirasai.
Kau pernah juga tahu bahwa api itu panas,
saat es batu di genggaman mulai meleleh,
dan tanganmu nyaris ikut terbakar.
Tapi bagaimana bisa kuminta kau percaya?
Bahwa apa yang ada di hati ini adalah nyata,
saat kau tak bisa memegangnya?
Dan ketika kata-kata tidak absolut lagi,
bahkan yang hitam di atas putih,
bagaimana bisa aku tega,
sekedar buatmu percaya?
Aku tidak mau berjanji,
karena aku tidak bisa.
Aku hanya minta kau percaya,
pada detik ini saja.
Bahwa aku benar-benar cinta.
Boleh kau percaya,
pada sejuknya embun pagi,
teriknya siang hari,
dan malam yang membutakan.
Karena kau pernah disana,
pernah melihat, merasa,
dan dirasai.
Kau pernah juga tahu bahwa api itu panas,
saat es batu di genggaman mulai meleleh,
dan tanganmu nyaris ikut terbakar.
Tapi bagaimana bisa kuminta kau percaya?
Bahwa apa yang ada di hati ini adalah nyata,
saat kau tak bisa memegangnya?
Dan ketika kata-kata tidak absolut lagi,
bahkan yang hitam di atas putih,
bagaimana bisa aku tega,
sekedar buatmu percaya?
Aku tidak mau berjanji,
karena aku tidak bisa.
Aku hanya minta kau percaya,
pada detik ini saja.
Bahwa aku benar-benar cinta.
Saturday, May 06, 2006
Hebatnya rasa
Tidak ingin meniti awan,
menebak ringan tubuh hingga nanti.
Enggan bernafas dari celah lapisan air tanah,
terlindungi dan bebas dari mahkluk besar saja.
Hanya mau stabil,
biasa-biasa saja,
jadi manusia normal.
Tidak ingin meniti awan,
menebak ringan tubuh hingga nanti.
Enggan bernafas dari celah lapisan air tanah,
terlindungi dan bebas dari mahkluk besar saja.
Hanya mau stabil,
biasa-biasa saja,
jadi manusia normal.
Friday, May 05, 2006
Bermain layangan
Tidak perlu kau tunggu bayu,
langkahkan kaki ke atas bukit,
sebisa mungkin saat senja.
Tak perlu juga kau tabung amal,
harap-harap cemas kan capai surga.
Hari ini juga, aku berikan layang-layang.
Bukan yang di ujungnya beragam,
dengan jenis bebean, pecuk, atau janggan.
Hanya dengan surga di ujung layangan.
Kutarik hingga rapat ke bumi,
dalam pelukanmu.
Tidak perlu kau tunggu bayu,
langkahkan kaki ke atas bukit,
sebisa mungkin saat senja.
Tak perlu juga kau tabung amal,
harap-harap cemas kan capai surga.
Hari ini juga, aku berikan layang-layang.
Bukan yang di ujungnya beragam,
dengan jenis bebean, pecuk, atau janggan.
Hanya dengan surga di ujung layangan.
Kutarik hingga rapat ke bumi,
dalam pelukanmu.
Thursday, May 04, 2006
Tanpa helaian
Dimana kamu?
Yang bisa meyakinkan,
adalah tidak apa-apa,
tidur hanya berselimutkan langit.
Menerpa dingin dengan semangat esok,
dan jadikan tanah tumpuan yang kokoh.
Dimana kamu?
Yang bisa meyakinkan,
adalah tidak apa-apa,
tidur hanya berselimutkan langit.
Menerpa dingin dengan semangat esok,
dan jadikan tanah tumpuan yang kokoh.
Tuesday, May 02, 2006
Mimpi-mimpi
Ada mimpi,
di telinga kiri.
Bekas semalam,
saat cerita disulam.
Kubisikkan,
pelan saja.
Masih tersisa,
lelerannya pada dagu,
atau di sudut bibir tepatnya.
Yang datang darimu,
dan mampir di mulutku.
Kubisikkan,
cukup pelan saja.
Ada mimpi,
di telinga kiri.
Bekas semalam,
saat cerita disulam.
Kubisikkan,
pelan saja.
Masih tersisa,
lelerannya pada dagu,
atau di sudut bibir tepatnya.
Yang datang darimu,
dan mampir di mulutku.
Kubisikkan,
cukup pelan saja.
Monday, May 01, 2006
Kini
Tidak perlu ada lama dan baru.
Dahulu dan sekarang,
lalu buanglah penanggalan.
Semua tak penting,
apalagi yang tak pasti,
kalau sekarang ada kamu.
Tepat di pelukku,
di rangkum mata hatiku.
Tidak perlu ada lama dan baru.
Dahulu dan sekarang,
lalu buanglah penanggalan.
Semua tak penting,
apalagi yang tak pasti,
kalau sekarang ada kamu.
Tepat di pelukku,
di rangkum mata hatiku.
Sunday, April 30, 2006
Janggal
Ada yang tersiksa.
Pada tiap ingin yang tercekat,
bahkan belum sampai kelu lidah.
Bukannya kau tak bisa,
tapi kau tak mau.
Ada yang tersiksa.
Pada tiap ingin yang tercekat,
bahkan belum sampai kelu lidah.
Bukannya kau tak bisa,
tapi kau tak mau.
Saturday, April 29, 2006
Ajaib
Ingin sekali bisa merangkum kamu,
dalam satu pelukan dan ribuan ciuman.
Yang ceritakan perjalanan singkat,
kalahkan empat musim sekaligus.
Ingin sekali bisa merangkum kamu,
dalam satu pelukan dan ribuan ciuman.
Yang ceritakan perjalanan singkat,
kalahkan empat musim sekaligus.
Thursday, April 27, 2006
Pelihara hujan
Masih kurasa basah,
tidak pada pelupuk mata.
Tetap sama resah,
dengan gemerisik air mata.
Ku pelihara hujan,
dalam benak.
Sekedarnya.
Masih kurasa basah,
tidak pada pelupuk mata.
Tetap sama resah,
dengan gemerisik air mata.
Ku pelihara hujan,
dalam benak.
Sekedarnya.
Pembatas
Carikan aku penjara,
yang lebih dari kolong meja,
lubang di tanah,
dan spasi di bulan.
Bukan karena malu,
atau harus mengaku salah.
Aku tidak ingin menahan,
atau tepatnya tak bisa menahan.
Merindu mu, mengingini kamu.
Carikan aku penjara,
yang lebih dari kolong meja,
lubang di tanah,
dan spasi di bulan.
Bukan karena malu,
atau harus mengaku salah.
Aku tidak ingin menahan,
atau tepatnya tak bisa menahan.
Merindu mu, mengingini kamu.
Wednesday, April 26, 2006
Kartu absen
Pada vibrasi handphone,
pertanda sms dan telepon masuk.
Pada pagi yang berganti siang,
agar cepat senja lalu malam.
Hingga menu-menu makanan,
kembali digantikan kamu.
Pada tiap pikiran di alam sadar,
bawah sadar dan tak sadar.
Ah, sungguh ketergantungan itu,
benar-benar telah hadir.
Pada vibrasi handphone,
pertanda sms dan telepon masuk.
Pada pagi yang berganti siang,
agar cepat senja lalu malam.
Hingga menu-menu makanan,
kembali digantikan kamu.
Pada tiap pikiran di alam sadar,
bawah sadar dan tak sadar.
Ah, sungguh ketergantungan itu,
benar-benar telah hadir.
Sunday, April 23, 2006
Natural instant-nity
Merindukan mu,
sampai titik koma kata,
dan keringat dingin ku.
Begitu kilat dan natural,
serupa gejala alam.
Yang mendobrak hening langit.
Merindukan mu,
sampai titik koma kata,
dan keringat dingin ku.
Begitu kilat dan natural,
serupa gejala alam.
Yang mendobrak hening langit.
Daya tarik mu
Gravitasi bumi itu jelas ada.
Menarikku kesana dan kesini,
kian kemari dan tak henti.
Tapi dia adalah seorang,
yang dilahirkan, tumbuh mengagumkan,
dan kini memutarbalikkan duniaku!
Gravitasi bumi itu jelas ada.
Menarikku kesana dan kesini,
kian kemari dan tak henti.
Tapi dia adalah seorang,
yang dilahirkan, tumbuh mengagumkan,
dan kini memutarbalikkan duniaku!
Saturday, April 22, 2006
Discovery
Mencoba melacak kebosanan.
Pada tebal alis dan merah bibir,
putih kulit dan seluruhmu.
Kembali pada raut muka dan mata,
namun masih tak ada yang nyata.
Mencoba melacak kebosanan.
Pada tebal alis dan merah bibir,
putih kulit dan seluruhmu.
Kembali pada raut muka dan mata,
namun masih tak ada yang nyata.
Taman khayalan
Hanya disini,
sebuah cafe disulap jadi taman.
Lengkap semua,
hanya tanpa kupu-kupu.
Dengan sepasang aku dan kau,
yang duduk di sudut ruang.
Tak hanya diam, kita berpolusi.
Rupanya terlalu banyak khayal,
yang melompat dari benak.
Membuat mereka sibuk menangkapnya,
dengan jaring kupu-kupu.
Hanya disini,
sebuah cafe disulap jadi taman.
Lengkap semua,
hanya tanpa kupu-kupu.
Dengan sepasang aku dan kau,
yang duduk di sudut ruang.
Tak hanya diam, kita berpolusi.
Rupanya terlalu banyak khayal,
yang melompat dari benak.
Membuat mereka sibuk menangkapnya,
dengan jaring kupu-kupu.
Friday, April 21, 2006
Bicara hujan
Hujan,
gemerisik yang menggoyah konsentrasi,
sedikit mengganggu telinga,
tapi tidak basah.
Hujan,
dingin di balik kaca jendela,
menggetarkan jemari yang bersandar,
masih tidak basah.
Adalah menyatu,
saat ku menginjak rumput,
biarkan ratusan tetes mendentam kepala.
Mencuci habis semua khawatir ini.
Hingga basah.
Akhirnya.
Hujan,
gemerisik yang menggoyah konsentrasi,
sedikit mengganggu telinga,
tapi tidak basah.
Hujan,
dingin di balik kaca jendela,
menggetarkan jemari yang bersandar,
masih tidak basah.
Adalah menyatu,
saat ku menginjak rumput,
biarkan ratusan tetes mendentam kepala.
Mencuci habis semua khawatir ini.
Hingga basah.
Akhirnya.
Thursday, April 20, 2006
Dialog mata
Waktu masih malu-malu,
kita jarang bicara.
Hanya ada tatap mata.
Sekarang masih sama.
Seakan tidak ada yang saingi,
pembicaraan tanpa kata itu.
Mungkin bila semua dicatat,
kita sudah bisa buat trilogi buku,
hanya dari dialog dua pasang mata!
Waktu masih malu-malu,
kita jarang bicara.
Hanya ada tatap mata.
Sekarang masih sama.
Seakan tidak ada yang saingi,
pembicaraan tanpa kata itu.
Mungkin bila semua dicatat,
kita sudah bisa buat trilogi buku,
hanya dari dialog dua pasang mata!
Scent II
Pagi menyambut dengan aroma embun,
dan malam dengan sejuknya rumput basah.
Bisa ditambahkan bau selembar toast,
coklat hangat di mug tanah liat,
atau mungkin nanti sabun mandi,
yang menggelitik hidung dengan kesegaran.
Tapi aku masih kebingungan,
karna cinnamon jelas bukan,
kopi juga kurang kentara.
Bisa jadi bau alami kamu,
ya tidak lain dari rumah.
Lengkap dengan halaman rumput,
pagar kayu warna putih setinggi pinggang,
dan perapian yang selalu hangat.
Pagi menyambut dengan aroma embun,
dan malam dengan sejuknya rumput basah.
Bisa ditambahkan bau selembar toast,
coklat hangat di mug tanah liat,
atau mungkin nanti sabun mandi,
yang menggelitik hidung dengan kesegaran.
Tapi aku masih kebingungan,
karna cinnamon jelas bukan,
kopi juga kurang kentara.
Bisa jadi bau alami kamu,
ya tidak lain dari rumah.
Lengkap dengan halaman rumput,
pagar kayu warna putih setinggi pinggang,
dan perapian yang selalu hangat.
Scent I
Kemarin seperti butuh tidur yang panjang,
atau malahan tidak sama sekali.
Rupanya sekarang xanax berbentuk aroma,
melekat disana sini mu.
Atau bisa jadi telah larut dalam saliva.
Kemarin seperti butuh tidur yang panjang,
atau malahan tidak sama sekali.
Rupanya sekarang xanax berbentuk aroma,
melekat disana sini mu.
Atau bisa jadi telah larut dalam saliva.
Satu warna
Tiga hari yang lalu,
aku berkebaya hijau,
di sebuah mimpi tengah malam.
Merah, kuning,
biru, jingga,
dan hitam sekalipun.
Tapi mungkin takkan pernah,
dalam balutan putih,
dan yang ini mimpi siang hariku.
Tiga hari yang lalu,
aku berkebaya hijau,
di sebuah mimpi tengah malam.
Merah, kuning,
biru, jingga,
dan hitam sekalipun.
Tapi mungkin takkan pernah,
dalam balutan putih,
dan yang ini mimpi siang hariku.
Wednesday, April 19, 2006
Ingatan akan sudut
Astakona,
keluar istilah itu.
Terlalu banyak sudut di bibir kamu,
belum sampai di ujung,
aku sudah lupa rasa di titik awal.
Atau mungkin kesalahan di neuron.
Amnesia selektif yang menyenangkan.
Jadinya aku harus kembali mengulang.
Dan lagi....dan lagi.....
Astakona,
keluar istilah itu.
Terlalu banyak sudut di bibir kamu,
belum sampai di ujung,
aku sudah lupa rasa di titik awal.
Atau mungkin kesalahan di neuron.
Amnesia selektif yang menyenangkan.
Jadinya aku harus kembali mengulang.
Dan lagi....dan lagi.....
Si bulan
Sepasang malam ini,
yang hadir si bulan separuh.
Sisi yang satu berselimutkan awan,
dan yang lain mencuri terangnya bintang.
Mungkin untuk ingatkan,
ada aku tapi juga ada dia.
Dan tetap,
indah merajai malam.
Sepasang malam ini,
yang hadir si bulan separuh.
Sisi yang satu berselimutkan awan,
dan yang lain mencuri terangnya bintang.
Mungkin untuk ingatkan,
ada aku tapi juga ada dia.
Dan tetap,
indah merajai malam.
Tuesday, April 18, 2006
Bibir rasa kopi karamel
Hanya karna kamu,
starbucks bisa tutup.
Pernah dengar kampanyenya?
Lip locking love of caramel,
savor the gooey,
buttery sweet...
Kalimat ajaib itu jadi basi,
habis sudah kamu tandingi.
Untung cuma aku yang tahu.
Hanya karna kamu,
starbucks bisa tutup.
Pernah dengar kampanyenya?
Lip locking love of caramel,
savor the gooey,
buttery sweet...
Kalimat ajaib itu jadi basi,
habis sudah kamu tandingi.
Untung cuma aku yang tahu.
Monday, April 17, 2006
Hanya diam
Malam ini aku ingin tidur tenang.
Tanpa harus menautkan jari,
lima jadi sepuluh.
Mau mimpi indah,
tidak pakai taman bunga,
hanya ada kedamaian.
Malam ini aku ingin tidur tenang.
Tanpa harus menautkan jari,
lima jadi sepuluh.
Mau mimpi indah,
tidak pakai taman bunga,
hanya ada kedamaian.
Sunday, April 16, 2006
Insomnia
Mulai merindukan insomnia itu.
Bukan, tentu bukan padaku.
Melainkan padamu,
yang kerap menggangguku,
tengah malam saja.
Tidak ada keengganan,
pengusik tidur di awal,
hanya ada pembuahan rindu di akhir.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih sakit?
Sepertinya aku,
yang mencari-cari kamu.
Mulai merindukan insomnia itu.
Bukan, tentu bukan padaku.
Melainkan padamu,
yang kerap menggangguku,
tengah malam saja.
Tidak ada keengganan,
pengusik tidur di awal,
hanya ada pembuahan rindu di akhir.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih sakit?
Sepertinya aku,
yang mencari-cari kamu.
Saturday, April 15, 2006
rindu hari ini
ada kamu pada tiap kata kata
kata di dinding putih
dinding merah hangat
dinding yang dekat pintu
dinding pembatas rindu
untuk meluruhkan itu
pasti sedikit sulit
apalagi di tanggalan merah begini
aku bisa saja mengelupas semua cat
bisa jadi nanti sampai semennya
dan tetap tidak habis rasa rasa itu
tapi kan malam harus sudah jadi lagi
apa itu rumah lalu kamar dan aku tanpa dinding
pasti mati kedinginan nanti
kecuali ada kamu disini..
ada kamu pada tiap kata kata
kata di dinding putih
dinding merah hangat
dinding yang dekat pintu
dinding pembatas rindu
untuk meluruhkan itu
pasti sedikit sulit
apalagi di tanggalan merah begini
aku bisa saja mengelupas semua cat
bisa jadi nanti sampai semennya
dan tetap tidak habis rasa rasa itu
tapi kan malam harus sudah jadi lagi
apa itu rumah lalu kamar dan aku tanpa dinding
pasti mati kedinginan nanti
kecuali ada kamu disini..
Super sonic out of you!
Semua kegilaan ini,
roller coaster tiket terusan,
sampai terlontar ke atas,
dan nyaris tak kembali.
Bawa pulang jutaan bintang,
hingga langit turunkan pagi,
karna kehilangan hiasan malamnya.
Semua kegilaan ini,
roller coaster tiket terusan,
sampai terlontar ke atas,
dan nyaris tak kembali.
Bawa pulang jutaan bintang,
hingga langit turunkan pagi,
karna kehilangan hiasan malamnya.
Sunday, April 09, 2006
Di suatu senja
Nanti saja.
Bukan tak lelah otak ini,
sama halnya pegal betis.
Hampir semua,
dan mungkin sudah semua.
Sampai-sampai hilang semua.
Tapi belum ada senja yang cukup indah,
tuk hentikan langkah kecil ini.
Dengan kehebatan rangkum mata,
dan selembar saja papan tuk rebahkan beban.
Nanti saja.
Bukan tak lelah otak ini,
sama halnya pegal betis.
Hampir semua,
dan mungkin sudah semua.
Sampai-sampai hilang semua.
Tapi belum ada senja yang cukup indah,
tuk hentikan langkah kecil ini.
Dengan kehebatan rangkum mata,
dan selembar saja papan tuk rebahkan beban.
Friday, April 07, 2006
Warna
Mirah merah matamu,
ingatkan haru biru hatiku,
hingga palsu jadi beku.
Mirah merah matamu,
ingatkan haru biru hatiku,
hingga palsu jadi beku.
Wednesday, April 05, 2006
Berbagi langit
Setelah malam ini,
kita pasti jadi buron.
Seenaknya membagi dua langit,
lengkap dengan bintang dan arakan awan.
Diliputi nafas setipis angin mati.
Untuk kamu disana dan aku disini.
Tinggal rindu yang hangatkan kita.
Setelah malam ini,
kita pasti jadi buron.
Seenaknya membagi dua langit,
lengkap dengan bintang dan arakan awan.
Diliputi nafas setipis angin mati.
Untuk kamu disana dan aku disini.
Tinggal rindu yang hangatkan kita.
Tuesday, April 04, 2006
Frame senja-mu
Seperti aku,
dengan sepasang mata,
jemari dan lensa.
Bagaimana bisa,
kau ciptakan sempurna itu,
sungguh adanya dalam rekaman otak.
Frame yang luar biasa, sayang.
Luruh semua sisakan bangga untukmu.
Seperti aku sendiri saja...
Seperti aku,
dengan sepasang mata,
jemari dan lensa.
Bagaimana bisa,
kau ciptakan sempurna itu,
sungguh adanya dalam rekaman otak.
Frame yang luar biasa, sayang.
Luruh semua sisakan bangga untukmu.
Seperti aku sendiri saja...
Saturday, April 01, 2006
Zoentjes
Ada hangat di balik renik hujan yang mengganas,
nyaris selembut awan yang kutarik jadi kapas,
dan kecup rindu jadi sayang jadi lepas...
Ada hangat di balik renik hujan yang mengganas,
nyaris selembut awan yang kutarik jadi kapas,
dan kecup rindu jadi sayang jadi lepas...
Thursday, March 30, 2006
Ciuman senja
Gurat merah di langit senja,
sedari awal bukan sandyakala.
Hanya bisa dijabarkan perlahan,
bukan sekedar aksara yang terserak,
dari nama seorang kamu.
Gurat merah di langit senja,
sedari awal bukan sandyakala.
Hanya bisa dijabarkan perlahan,
bukan sekedar aksara yang terserak,
dari nama seorang kamu.
Tuesday, March 28, 2006
Apa yang bersisa
Menulis kata beraroma cinta,
dengan ujung jemari,
dan juga tinta.
Tapi tidak lagi dengan hati,
tidak untuk malam hari ini.
Menulis kata beraroma cinta,
dengan ujung jemari,
dan juga tinta.
Tapi tidak lagi dengan hati,
tidak untuk malam hari ini.
Monday, March 27, 2006
Kata bermakna
Semua bisa tidur beralaskan kantuk,
tapi tidak bertangan kosong.
Karna tajam lidah siap sedia,
berdaya musnah pada harap seketika,
terutama saat bangun tidur.
Semua bisa tidur beralaskan kantuk,
tapi tidak bertangan kosong.
Karna tajam lidah siap sedia,
berdaya musnah pada harap seketika,
terutama saat bangun tidur.
Sunday, March 26, 2006
Gila dan cinta
Seperti gajah meta,
yang jatuh gila,
karna tersingkir,
dari kawanannya.
Dan kamu,
adalah se kawan ku,
satu-satunya.
Seperti gajah meta,
yang jatuh gila,
karna tersingkir,
dari kawanannya.
Dan kamu,
adalah se kawan ku,
satu-satunya.
Friday, March 24, 2006
Akhir yang menetap
Pada tiap qafiyah,
yang kutulis dan kau baca...
Biar lega menetap, karna hangatnya hati,
hindarkan malam pada pagi.
Pada tiap qafiyah,
yang kutulis dan kau baca...
Biar lega menetap, karna hangatnya hati,
hindarkan malam pada pagi.
Wednesday, March 22, 2006
Dejavu
Ingin kembali meramu masa depan,
dengan tawa, tangis, dan peluh asa.
Denganmu di tiap senja yang usai,
dan malam yang kian merajuk.
Rupanya aku jatuh cinta lagi,
padamu seorang.
Ingin kembali meramu masa depan,
dengan tawa, tangis, dan peluh asa.
Denganmu di tiap senja yang usai,
dan malam yang kian merajuk.
Rupanya aku jatuh cinta lagi,
padamu seorang.
Tuesday, March 21, 2006
Bias lama perempuan
Membakar dunia,
sepertinya percuma.
Dari dulu sudah penuh asap,
polusi dari kekayaan duniawi,
yang katanya dikerubuti perempuan.
Kamu hidup di duniamu sendiri,
yang rupanya jauh dari kesadaran.
Membakar dunia,
sepertinya percuma.
Dari dulu sudah penuh asap,
polusi dari kekayaan duniawi,
yang katanya dikerubuti perempuan.
Kamu hidup di duniamu sendiri,
yang rupanya jauh dari kesadaran.
Monday, March 20, 2006
Pilih dan jumlah empat
Pilih bobot,
gajah saja kalah,
mata yang merangkum semua.
Pilih kasih,
masih ada bunda,
yang tak pernah turun tahta.
Pilih tandhing,
siapa pula yang wicara,
lebih baik ku jadi penengah.
Pilih lalab,
paras rupawan bukan jaminan,
ranum usia masih bualan,
sepertinya butuh novena 7 x 7 !
Pilih bobot,
gajah saja kalah,
mata yang merangkum semua.
Pilih kasih,
masih ada bunda,
yang tak pernah turun tahta.
Pilih tandhing,
siapa pula yang wicara,
lebih baik ku jadi penengah.
Pilih lalab,
paras rupawan bukan jaminan,
ranum usia masih bualan,
sepertinya butuh novena 7 x 7 !
Thursday, March 16, 2006
Kini dan lalu
Kenapa turun hujan malam itu,
tanpa gemerisik daun menyela hening,
tidak penting lagi bagiku.
Semua telah basah,
benar-benar basah,
sedalam-dalamnya.
Kenapa turun hujan malam itu,
tanpa gemerisik daun menyela hening,
tidak penting lagi bagiku.
Semua telah basah,
benar-benar basah,
sedalam-dalamnya.
2 in 1
Kalau sudah habis tertawa,
sampai mengering air mata,
segera tarik nafas.
Dua hal yang penuh kesadaran,
dan satunya lagi sebuah kebiasaan.
Kalau sudah habis tertawa,
sampai mengering air mata,
segera tarik nafas.
Dua hal yang penuh kesadaran,
dan satunya lagi sebuah kebiasaan.
Saturday, March 11, 2006
Titik koma
Dia terus saja berlari,
sembunyi di dalam saku kemeja,
di balik lidah sepatu boot ayah,
menyatu padu di bawah lembaran karpet.
Dia terus saja berlari,
sembunyi di dalam saku kemeja,
di balik lidah sepatu boot ayah,
menyatu padu di bawah lembaran karpet.
Saturday, March 04, 2006
Up and Down
Seperti perjalanan balon udara,
yang ada di iklan-iklan.
Adrenalin naik seiring mengudara,
harum putik tertiup angin senja,
silau matari sedikit pedihkan mata.
Ah, ataukah itu embun di mata,
yang tak kuakukan air mata?
Hangat dekapmu ada,
saat telapak kaki kembali ke gelitik rumput.
Dan aku sudah belajar,
tidak ada masa depan yang pasti.
for my dearest Andry Dilindra
Seperti perjalanan balon udara,
yang ada di iklan-iklan.
Adrenalin naik seiring mengudara,
harum putik tertiup angin senja,
silau matari sedikit pedihkan mata.
Ah, ataukah itu embun di mata,
yang tak kuakukan air mata?
Hangat dekapmu ada,
saat telapak kaki kembali ke gelitik rumput.
Dan aku sudah belajar,
tidak ada masa depan yang pasti.
for my dearest Andry Dilindra
Masa depan
Untuk apa buang tenaga,
bergulat dengan ngeri,
untuk jatuh karna berlari,
sedang berjalan saja,
aku belum bisa.
Untuk apa buang tenaga,
bergulat dengan ngeri,
untuk jatuh karna berlari,
sedang berjalan saja,
aku belum bisa.
Kamu dalam pikiranku
Rontok rambutku,
komedo membandel di kelopak mata,
sembelit yang tak kunjung menghilang.
Itu kamu,
atau hanya pikiranku tentang kamu?
Yang awalnya begitu menyenangkan,
dan semakin dalam,
masih menyenangkan,
dan semakin dalam,
puncak menyenangkan,
dan semakin dalam,
hingga efeknya berbalik,
dan yang semakin dalam itu,
menjadi sedahsyat kanker!
Rontok rambutku,
komedo membandel di kelopak mata,
sembelit yang tak kunjung menghilang.
Itu kamu,
atau hanya pikiranku tentang kamu?
Yang awalnya begitu menyenangkan,
dan semakin dalam,
masih menyenangkan,
dan semakin dalam,
puncak menyenangkan,
dan semakin dalam,
hingga efeknya berbalik,
dan yang semakin dalam itu,
menjadi sedahsyat kanker!
Saturday, February 25, 2006
Dots in spot
Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.
Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.
Friday, February 24, 2006
Obrolan senja hari
Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.
Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.
thanks to badai..
Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.
Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.
thanks to badai..
Empty room
Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.
Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.
Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.
Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.
Thursday, February 23, 2006
Pasir dalam mata
Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.
Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.
Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.
Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.
Wednesday, February 15, 2006
Minimum
Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.
Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.
Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.
Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.
Sebuah papan selancar
Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.
Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.
Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.
Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.
Monday, February 06, 2006
Tidak beranjak
Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.
Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.
Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.
Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.
class; 21:05
Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.
Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.
Tuesday, January 31, 2006
Gurauan sebuah lagu
Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.
Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.
Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.
Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.
Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.
Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.
Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.
Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.
Saturday, January 28, 2006
Part III
Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.
Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.
Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.
Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.
Part II
Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.
Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.
Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.
Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.
Part I
Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.
Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.
Sunday, January 22, 2006
Foreplay
Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.
Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.
Wednesday, January 18, 2006
Spasi
Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.
Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.
Wednesday, January 11, 2006
Duple
Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.
Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.
Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.
Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.
Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.
Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.
Thursday, January 05, 2006
i don't know!
Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.
Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).
Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.
Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).
Wednesday, January 04, 2006
eyes for you
Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.
Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.
Monday, January 02, 2006
Dini hari
Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.
Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.
Seluas langit
Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.
Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.
Wednesday, December 28, 2005
Untuk indera
Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.
Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.
Tuesday, December 27, 2005
White Christmas
Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.
Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.
Thursday, December 22, 2005
Beda yang indah!
Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.
Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...
Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.
Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...
Wednesday, December 21, 2005
Twins
Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.
Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.
Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.
Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.
Sunday, December 18, 2005
Isi cerita sebuah rumah
Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.
Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.
Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.
Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?
Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.
Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.
Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.
Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?
Thursday, December 15, 2005
Pararel
Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.
Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.
Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.
Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.
Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.
Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.
Moon River
Dream maker,
you're heart breaker...
Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.
Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.
Dream maker,
you're heart breaker...
Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.
Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.
Tuesday, December 13, 2005
Bulan bulanan
Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.
Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.
Monday, December 12, 2005
piracy
Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...
Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.
Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...
Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.
Thursday, December 08, 2005
Cinta Sabun Cuci
Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?
Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.
Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.
Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?
Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.
Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.
Wednesday, December 07, 2005
Ah, bullshit!
Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...
Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...
Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.
Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...
Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...
Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.
Tuesday, December 06, 2005
Ingatan tak pernah larut
Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?
Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.
Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.
Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?
Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.
Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.
Monday, December 05, 2005
Alkisah Mahaguru
Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?
Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.
Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?
Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.
Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?
Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.
Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?
Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.
Sunday, December 04, 2005
Pada hidup kali ini
Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.
Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.
Monday, November 28, 2005
Zat fikir (bukan zat hijau)
Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.
Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.
Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.
Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.
Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.
Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.
Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.
Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.
Sunday, November 20, 2005
Cook Book
Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,
"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu
Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.
Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,
"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu
Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.
Thursday, November 17, 2005
Re-learning
Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.
Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.
Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.
Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.
Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.
Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.
Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.
Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.
Monday, November 14, 2005
Fixed!
Puluhan ribu kaki,
jarak merekatkan kita.
Dan kini, di bawah satu atap,
kita bersiteru dengan senada.
Aku, kamu, aku, kamu,
dan tidak pernah kita!
Lebih ini dan itu, lalu nanti..
apapun juga, tetap bukan kita.
Puluhan ribu kaki,
jarak merekatkan kita.
Dan kini, di bawah satu atap,
kita bersiteru dengan senada.
Aku, kamu, aku, kamu,
dan tidak pernah kita!
Lebih ini dan itu, lalu nanti..
apapun juga, tetap bukan kita.
Wednesday, November 09, 2005
"..."
Coba carikan alasan yang lebih baik,
kalau sudah bosan menatap senja,
yang sampai kapan warnanya tetap oranye.
Coba carikan alasan yang lebih baik,
kalau sudah bosan menatap senja,
yang sampai kapan warnanya tetap oranye.
Sunday, November 06, 2005
Primer
Cukup kirim sms,
atau angkat telpon,
minta ini dan itu,
lalu kau dapat teman,
berangkulan suka di luar sana.
Tapi yang sulit adalah rasa itu,
tepat pada (se)orang,
hanya sepasang tangan,
dan cukup sebuah hati,
untuk turut berdiam di rumah.
Cukup kirim sms,
atau angkat telpon,
minta ini dan itu,
lalu kau dapat teman,
berangkulan suka di luar sana.
Tapi yang sulit adalah rasa itu,
tepat pada (se)orang,
hanya sepasang tangan,
dan cukup sebuah hati,
untuk turut berdiam di rumah.
Wednesday, November 02, 2005
Santap sederhana
Seribu siang aku bertemu.
Dengan seribu lebih dan juga tawa.
Silih berganti tetap menyimpan malam,
tapi kemudian membuang kelam.
Hitungan satu jatuh padamu,
dan kan selalu untukmu.
Lalu bintang dan bulan jadi santap malam,
kita berdua di meja dengan tikar rumput hijau.
Seribu siang aku bertemu.
Dengan seribu lebih dan juga tawa.
Silih berganti tetap menyimpan malam,
tapi kemudian membuang kelam.
Hitungan satu jatuh padamu,
dan kan selalu untukmu.
Lalu bintang dan bulan jadi santap malam,
kita berdua di meja dengan tikar rumput hijau.
Kanan kiri
Aku sudah minta,
pada malaikat tak berkelamin.
Agar yang pria menjaga kemudi mu,
dan puan merawat dek mu.
Nanti kita kemudikan bersama,
dengan bisik ku di telinga mu.
Aku sudah minta,
pada malaikat tak berkelamin.
Agar yang pria menjaga kemudi mu,
dan puan merawat dek mu.
Nanti kita kemudikan bersama,
dengan bisik ku di telinga mu.
Tuesday, November 01, 2005
Ara dan api
Bunga api,
tak sembarang.
Bunga api,
dari api unggun,
yang disisakan hangat malam,
walau matari datang menyapu.
Bunga api,
hiru biru hati.
Bunga api,
tak sembarang.
Bunga api,
dari api unggun,
yang disisakan hangat malam,
walau matari datang menyapu.
Bunga api,
hiru biru hati.
Wednesday, October 26, 2005
Bernada saja
Eulogi untuk masa,
atas sebuah titik,
dan juga akhirnya.
Tidak perlu renyah nada,
cukup merangkum indera,
kau adalah efeufoni telingaku.
Eulogi untuk masa,
atas sebuah titik,
dan juga akhirnya.
Tidak perlu renyah nada,
cukup merangkum indera,
kau adalah efeufoni telingaku.
Satu testamen
Ibu suka membuang tatap,
dan ayah tertawa kecil,
waktu aku bicara tentang mati.
Disain nisan dengan hiasan di sudut,
bernuansa abu tapi jangan terlihat muram.
Kita semua pasti mati kan?
Jangan lupa kau ambil testamen,
sepucuk surat dalam brankas.
Tertera namamu di amplop.
Bukan kepada yang terhormat suamiku,
tapi untuk yang tercinta bekas pacarku.
Ibu suka membuang tatap,
dan ayah tertawa kecil,
waktu aku bicara tentang mati.
Disain nisan dengan hiasan di sudut,
bernuansa abu tapi jangan terlihat muram.
Kita semua pasti mati kan?
Jangan lupa kau ambil testamen,
sepucuk surat dalam brankas.
Tertera namamu di amplop.
Bukan kepada yang terhormat suamiku,
tapi untuk yang tercinta bekas pacarku.
Kalimat pendek
Ego menyusun kata,
lalu merangkai kalimat.
Bila aku adalah masa lalu,
siapa lah aku yang sekarang.
Ego menyusun kata,
lalu merangkai kalimat.
Bila aku adalah masa lalu,
siapa lah aku yang sekarang.
Waktu dan ruang
Sekarang sayap mengepak,
dan senyum diterpa angin,
begitu bebas.
Hanya saja aku rindu satu kata,
perbendaharaanmu seorang,
'pulang'.
Sekarang sayap mengepak,
dan senyum diterpa angin,
begitu bebas.
Hanya saja aku rindu satu kata,
perbendaharaanmu seorang,
'pulang'.
Monday, October 24, 2005
Bukan surat cinta
Penaku patah, tintanya buyar,
dan sisanya menguap entah kemana.
Imajinasiku tumpul,
lembar kata berlepasan,
mungkin aku impoten.
Hanya karna kata,
tak pernah cukup.
Tak juga kabut mata,
teriak dan keringat.
Manik jiwa masih menanti,
dengan waktu yang semakin menipis.
Penaku patah, tintanya buyar,
dan sisanya menguap entah kemana.
Imajinasiku tumpul,
lembar kata berlepasan,
mungkin aku impoten.
Hanya karna kata,
tak pernah cukup.
Tak juga kabut mata,
teriak dan keringat.
Manik jiwa masih menanti,
dengan waktu yang semakin menipis.
Saturday, October 22, 2005
Demam sebutan
Jangan samakan rusa dengan karibu,
hampir serupa bukan berarti sejenis.
Juga gandewa dan gandi,
yang sama-sama busur panah,
tapi jelas beda karna aksara.
Lalu apa jadinya bila nanti,
brahma bertitah malam itu siang,
dan awal itu akhir.
Aku tertawakan kau,
kau pada mereka,
dan mereka karna kita.
Jangan samakan rusa dengan karibu,
hampir serupa bukan berarti sejenis.
Juga gandewa dan gandi,
yang sama-sama busur panah,
tapi jelas beda karna aksara.
Lalu apa jadinya bila nanti,
brahma bertitah malam itu siang,
dan awal itu akhir.
Aku tertawakan kau,
kau pada mereka,
dan mereka karna kita.
Tuesday, October 18, 2005
Pencarian
Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.
Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.
Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?
Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.
Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.
Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?
Idan idan iking rat
Dia sudah ada,
sebelum aku ada,
bahkan juga sebelum kau.
Pada susah dan beban,
kau hendak kelanakan diri.
Tundukkan kepala,
tengadahkan telapak,
cari mencari kemana-mana.
Tidakkah kau tahu,
Tuhan sudah mati.
Kau tidak temukan dia saat kau hidup,
tuk sekedar jawab semua tanya.
Dia mati saat kita hidup,
jadi kau tidak dapat temukan Tuhan.
Dia sudah ada,
sebelum aku ada,
bahkan juga sebelum kau.
Pada susah dan beban,
kau hendak kelanakan diri.
Tundukkan kepala,
tengadahkan telapak,
cari mencari kemana-mana.
Tidakkah kau tahu,
Tuhan sudah mati.
Kau tidak temukan dia saat kau hidup,
tuk sekedar jawab semua tanya.
Dia mati saat kita hidup,
jadi kau tidak dapat temukan Tuhan.
Saturday, October 15, 2005
Kekuatan rasa
Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kau,
dan dunia kembali berwarna.
Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.
Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.
Yang memang ampuh,
untuk semua kecuali satu,
dan itu urusan vertikal.
Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kau,
dan dunia kembali berwarna.
Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.
Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.
Yang memang ampuh,
untuk semua kecuali satu,
dan itu urusan vertikal.
Anak harapanku
Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.
Terlalu penuh sesak,
asa tak lagi leluasa.
Tak cukup banyak oksigen,
untuk bilik harap yang kecil.
Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.
Terlalu penuh sesak,
asa tak lagi leluasa.
Tak cukup banyak oksigen,
untuk bilik harap yang kecil.
Manusia hari ini
Lelap, rebahkan syak,
sinar matari pasti datang,
itulah pagi yang kutahu.
Menyesakkan nafas,
hawa yang terlalu panas,
ah..siang hari yang wajar.
Senja, dengan merah-ungu,
heningkan fikir,
sejenak dan dua.
Lalu malam,
kembali lagi,
senyap dan sepi.
Aku begitu mengenalmu,
sama seperti empat cuaca,
pada panjang hariku.
Bahkan seperti garis tangan,
jumlah helai rambut putih,
dan gelisah milikku.
Lelap, rebahkan syak,
sinar matari pasti datang,
itulah pagi yang kutahu.
Menyesakkan nafas,
hawa yang terlalu panas,
ah..siang hari yang wajar.
Senja, dengan merah-ungu,
heningkan fikir,
sejenak dan dua.
Lalu malam,
kembali lagi,
senyap dan sepi.
Aku begitu mengenalmu,
sama seperti empat cuaca,
pada panjang hariku.
Bahkan seperti garis tangan,
jumlah helai rambut putih,
dan gelisah milikku.
Thursday, October 13, 2005
Independensi
Alur mundur,
sepertinya tepat.
Biar wacana tak lagi bicara,
dan semuanya jadi bisu.
Tak lagi kata,
bunyi dan suara.
Agar semua neuron efektif,
menjelmakan inti masing-masing,
tak sekedar menghirup uap,
yang kebetulan lewat.
Alur mundur,
sepertinya tepat.
Biar wacana tak lagi bicara,
dan semuanya jadi bisu.
Tak lagi kata,
bunyi dan suara.
Agar semua neuron efektif,
menjelmakan inti masing-masing,
tak sekedar menghirup uap,
yang kebetulan lewat.
Sebuah keluh kesah
Bayu daksina terlampau kencang,
menggulung semangatku serta,
dengan resah, debu, pilu...
Bayu daksina terlampau kencang,
menggulung semangatku serta,
dengan resah, debu, pilu...
Tuesday, October 11, 2005
Get well soon, champ!
Ingin berada disana,
menyeka peluh dan nyeri,
dengan saputanganku,
yang dirajut dari asa,
berbordir kesturi.
Kutiup sakitmu jauh,
hinggap saja di aku,
bila perlu.
Ingin berada disana,
menyeka peluh dan nyeri,
dengan saputanganku,
yang dirajut dari asa,
berbordir kesturi.
Kutiup sakitmu jauh,
hinggap saja di aku,
bila perlu.
Lafal, terlalu
Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.
Pengarang bunga kata,
karamkan jantung hati.
Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.
Pengarang bunga kata,
karamkan jantung hati.
Monday, October 10, 2005
Sudut
Terang terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.
Matari jatuh,
kau sembunyikan cahya,
di kantung celana,
semua masih terang terang laras.
Terang terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.
Matari jatuh,
kau sembunyikan cahya,
di kantung celana,
semua masih terang terang laras.
Sunday, October 09, 2005
Sadagati
Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak berotak.
Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.
Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak berotak.
Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.
Samara
Sempurnakan strategi,
buat seribu alasan untukmu.
Dari terik hingga senyap,
embun sampai resah.
Sempurnakan strategi,
buat seribu alasan untukmu.
Dari terik hingga senyap,
embun sampai resah.
Kau (juga) sebuah mimpi
Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.
Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
Rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.
Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.
Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.
Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
Rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.
Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.
Panggung air sungai
Linang, berkilau-kilau.
Bulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.
Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.
Linang, berkilau-kilau.
Bulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.
Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.
Friday, October 07, 2005
Purnama dan aku
Seribu malam kau tunggu bintang jatuh,
dan satu akhirnya tiba,
dengan kedua lengan mendekap.
Kau tata sinar perak,
serupa tiara di kepala,
resapi arti indahnya,
sebelum hari beranjak terang.
Seribu malam kau tunggu bintang jatuh,
dan satu akhirnya tiba,
dengan kedua lengan mendekap.
Kau tata sinar perak,
serupa tiara di kepala,
resapi arti indahnya,
sebelum hari beranjak terang.
Wednesday, October 05, 2005
Beberapa untuk satu
Ingat kesan pertama itu?
Begitu dingin, tak tersentuh.
Sampai detail wajah terlupa,
nama lalu jadi ingatan tunggal.
Waktu bisa menelan kebekuan,
dan juga buyarkan mimpi.
Lupakan itu, kau lah mimpiku,
yang kurajut dengan kesabaran.
Ingat kesan pertama itu?
Begitu dingin, tak tersentuh.
Sampai detail wajah terlupa,
nama lalu jadi ingatan tunggal.
Waktu bisa menelan kebekuan,
dan juga buyarkan mimpi.
Lupakan itu, kau lah mimpiku,
yang kurajut dengan kesabaran.
Buruknya kemegahan
Masih sama, lensa cekung di matamu,
jadikan ulat itu kupu-kupu,
jauh sebelum waktunya.
Dimana tak disusuri halus aspal,
warna mega tak terhalang gedung,
membuatmu bernafas lega.
Indahkah aku di bias lensa cekungmu,
atau burukkah aku dipantulkan disana?
Masih sama, lensa cekung di matamu,
jadikan ulat itu kupu-kupu,
jauh sebelum waktunya.
Dimana tak disusuri halus aspal,
warna mega tak terhalang gedung,
membuatmu bernafas lega.
Indahkah aku di bias lensa cekungmu,
atau burukkah aku dipantulkan disana?
Sekalimat janji
Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.
Kutemui sepasang telinga di baliknya,
kudekati dengan debar jantung berlomba.
Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.
Itu mimpi kita,
milik kita.
Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.
Kutemui sepasang telinga di baliknya,
kudekati dengan debar jantung berlomba.
Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.
Itu mimpi kita,
milik kita.
Monday, October 03, 2005
Melukis langit
Seharian ini hujan tak jadi mampir,
sekedar renik di ujung rumput pun tidak.
Bisa jadi senyum dan tawa kita bergema,
dipantulkan dan diperkuat oleh awan.
Mendung ditiup angin,
disapu biru muda,
tak hanya di kanvas langit.
Seharian ini hujan tak jadi mampir,
sekedar renik di ujung rumput pun tidak.
Bisa jadi senyum dan tawa kita bergema,
dipantulkan dan diperkuat oleh awan.
Mendung ditiup angin,
disapu biru muda,
tak hanya di kanvas langit.
Untuk penulisku
Jika memori dapat membunuh,
dia dapat hidupkanku lagi,
bahkan ratusan kali,
karna indah ingatan tentangmu.
Jika memori dapat membunuh,
dia dapat hidupkanku lagi,
bahkan ratusan kali,
karna indah ingatan tentangmu.
Sunday, October 02, 2005
Natural
Mencintaimu apa adanya,
semudah terbangun di pagi hari,
karna matari yang mulai mengusik,
menerpa berat kelopak,
dengan sejuk butiran embun.
Sama alaminya dengan malam hari,
yang pusatkan dingin di sekeliling,
membuat kita ciut seketika.
Begitulah terjal, diinginkanmu,
dimilikimu, dan dicintaimu,
apa adanya aku.
Mencintaimu apa adanya,
semudah terbangun di pagi hari,
karna matari yang mulai mengusik,
menerpa berat kelopak,
dengan sejuk butiran embun.
Sama alaminya dengan malam hari,
yang pusatkan dingin di sekeliling,
membuat kita ciut seketika.
Begitulah terjal, diinginkanmu,
dimilikimu, dan dicintaimu,
apa adanya aku.
Tujuh samskara
Samskara, inginku dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
Mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang lebih-lebihan.
Kau mimpiku,
jadi bolehkah aku lelap,
dan bermimpi lagi?
Samskara, inginku dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
Mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang lebih-lebihan.
Kau mimpiku,
jadi bolehkah aku lelap,
dan bermimpi lagi?
Thursday, September 29, 2005
Tiket satu arah
Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.
Di suatu fajar, entah di bukit yang mana,
di suatu senja, entah di semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah di khayal atau bukan.
Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.
Di suatu fajar, entah di bukit yang mana,
di suatu senja, entah di semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah di khayal atau bukan.
Penghormatan
Aku merindumu,
juga pernik kecil darimu,
yang kusematkan pada topi,
buatku merunduk,
dan bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.
Aku merindumu,
juga pernik kecil darimu,
yang kusematkan pada topi,
buatku merunduk,
dan bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.
Langit kosong
Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
Semua kecuali satu.
Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.
Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
Semua kecuali satu.
Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.
Tuesday, September 27, 2005
Rindu yang sederhana
Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.
Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.
Aku rindukan kau,
sesederhana itu.
Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.
Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.
Aku rindukan kau,
sesederhana itu.
Abhiniwesa
Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau tlah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.
Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau tlah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.
Monday, September 26, 2005
Bagi dua
Masukkan citarasaku dalam papir di sakumu.
Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.
Bernafaslah dengan lega, dariku.
Mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.
Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.
Masukkan citarasaku dalam papir di sakumu.
Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.
Bernafaslah dengan lega, dariku.
Mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.
Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.
Friday, September 23, 2005
Refleksi oasis
Masih ingat di suatu fajar,
saat kubiarkan kau membilas penat,
hamburkan mimpi tentang kita?
Rasanya tak ingin beranjak,
hangatkan saja dengan mayarupa.
Dekapan resah masih terlalu dingin.
Masih ingat di suatu fajar,
saat kubiarkan kau membilas penat,
hamburkan mimpi tentang kita?
Rasanya tak ingin beranjak,
hangatkan saja dengan mayarupa.
Dekapan resah masih terlalu dingin.
Saturday, September 17, 2005
Malam bagi kita
Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.
Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.
Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.
Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.
Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.
Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.
Wednesday, September 14, 2005
Asamadhi
Buyarkan sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.
Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas.
Semadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.
Buyarkan sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.
Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas.
Semadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.
Terang, sinar bulan
Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.
Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.
Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.
Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.
Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.
Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.
Saturday, September 10, 2005
Delapan putaran bulan
Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.
Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.
Thursday, September 08, 2005
Humor
Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.
Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.
Aku mulai merindu,
masih kau dan populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.
Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.
Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.
Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.
Aku mulai merindu,
masih kau dan populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.
Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.
Wednesday, September 07, 2005
Jari jemari
Aku benci telunjuk kananmu,
main tuding sana sini,
ikuti letupan emosi sesaat,
dan licinnya kata karna lingua.
Mungkin tidak telunjuk kirimu,
yang saling silang, enggan nodai janji.
Kukira nanti kita kan beralih posisi,
pada hati yang tak lagi merasa.
Aku benci telunjuk kananmu,
main tuding sana sini,
ikuti letupan emosi sesaat,
dan licinnya kata karna lingua.
Mungkin tidak telunjuk kirimu,
yang saling silang, enggan nodai janji.
Kukira nanti kita kan beralih posisi,
pada hati yang tak lagi merasa.
Mata kanan dan kiri
Menyapa kerinduan yang bergulir masuk,
lebih cepat dari terbilasnya perih,
dan sisa gulatan imaji.
Bahkan saat detik meretas menit,
kita kian dirunut beku,
pada diam yang tak bisa lagi bisu.
Daya Buana
Dunia berputar,
tanpa pedulikan keriangan dalam,
kericuhan bahkan,
dan pembantaian hingga.
Dunia berputar,
hanya melewatiku.
Dunia berputar,
tanpa pedulikan keriangan dalam,
kericuhan bahkan,
dan pembantaian hingga.
Dunia berputar,
hanya melewatiku.
Monday, August 29, 2005
Dearest champ...
Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kau yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.
Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
Dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta medali.
Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kau yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.
Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
Dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta medali.
Rasionalitas bercinta
Sebidang angan masih tepat di jantung hati,
masih gembur dan siap tuk ditanami.
Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.
Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.
Sedetik, dua tuk lengkung senyum,
menit dengan gerik perlahan dan tawa,
hitungan jam larut dalam hangat pelukan,
yang kesemuanya dilalui bersama.
Hanya frame-frame milik kita berdua,
dan itu satu-satunya yang penting buatku.
Sebidang angan masih tepat di jantung hati,
masih gembur dan siap tuk ditanami.
Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.
Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.
Sedetik, dua tuk lengkung senyum,
menit dengan gerik perlahan dan tawa,
hitungan jam larut dalam hangat pelukan,
yang kesemuanya dilalui bersama.
Hanya frame-frame milik kita berdua,
dan itu satu-satunya yang penting buatku.
Friday, August 26, 2005
RIP; for perversion
Aku jatuh cinta,
pada tatapan yang tajam,
menusuk hati, sebuah hanya,
koyakkan daging dari tulang,
campakkannya.
Sekejap aku tak mampu berdiri,
kehilangan penopang,
lebih dari sekedar kruk kaki,
masih karna sepasang mata,
piawai mencabut sukma kah?
Aku jatuh cinta,
pada tatapan yang tajam,
menusuk hati, sebuah hanya,
koyakkan daging dari tulang,
campakkannya.
Sekejap aku tak mampu berdiri,
kehilangan penopang,
lebih dari sekedar kruk kaki,
masih karna sepasang mata,
piawai mencabut sukma kah?
Thursday, August 25, 2005
Dua puluh enam
Pertaruhkan semua isi kantung,
sampai secarik yang melekat akhir.
Untuk satu kesempatan.
Takkan kusesali, takkan kupungkiri,
sakit membuatku lebih dalam,
disetubuhi perih kata setia.
Sudah lewatkah kereta itu?
Kenapa aku masih tetap bernafas?
Pertaruhkan semua isi kantung,
sampai secarik yang melekat akhir.
Untuk satu kesempatan.
Takkan kusesali, takkan kupungkiri,
sakit membuatku lebih dalam,
disetubuhi perih kata setia.
Sudah lewatkah kereta itu?
Kenapa aku masih tetap bernafas?
Menjawab [...]
Hampir lupa rasanya perih ini,
kita semua memang pelakon belaka.
How could you?!
Hampir lupa rasanya perih ini,
kita semua memang pelakon belaka.
How could you?!
Wednesday, August 24, 2005
Satu, satu
Aku baru saja jatuh tuli,
lorong buntu tak bervibrasi,
pada gendang telingaku.
Dan kini sadar bertanggalan,
dalam utuhnya tongkat jalanku,
sarungkan aku dalam hampa.
Aku baru saja jatuh tuli,
lorong buntu tak bervibrasi,
pada gendang telingaku.
Dan kini sadar bertanggalan,
dalam utuhnya tongkat jalanku,
sarungkan aku dalam hampa.
Monday, August 22, 2005
Luka dalam diam
Mematuk langkah,
hentikan ucap dan laku.
Sungguh definisi yang salah,
karena sepasang ini masih terus menjejak,
bahkan tak hanya berderap, tidak lagi.
Percikan kecil muncul dan membesar,
karna senyawa bagian hawa ini dan dunia.
Aku berlari, dan masih akan terus,
walau sadar betul rasa hampir tak sanggupi,
bersamaan dengan raga yang telah rontok.
Mematuk langkah,
hentikan ucap dan laku.
Sungguh definisi yang salah,
karena sepasang ini masih terus menjejak,
bahkan tak hanya berderap, tidak lagi.
Percikan kecil muncul dan membesar,
karna senyawa bagian hawa ini dan dunia.
Aku berlari, dan masih akan terus,
walau sadar betul rasa hampir tak sanggupi,
bersamaan dengan raga yang telah rontok.
Thursday, August 18, 2005
Esok
Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan kristal yang mengering,
di sudut matamu...
Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan kristal yang mengering,
di sudut matamu...
Percakapan dan malu
Mengetuk pintu tuk sekedar menyapa,
bukan hanya menjenguk hingga mata bertemu mata,
dibatasi jingkatan pada jendela berkusen kayu...
Apa kabar kamu hari ini?
Kau rindukan aku?
Hanya ingin curi beku pada waktu,
telusuri retinamu yang berkobar api,
dan dia tak mampu membakar,
tidak untuk sekarang.
Ciptakan alasan lain pada petang nanti,
mungkin sekedar mengatakan,
"Lihat, sayang..hari telah senja,
kali ini kau kalahkan guyuran malu-malu matari,
pada kuncup bunga setaman..."
Mengetuk pintu tuk sekedar menyapa,
bukan hanya menjenguk hingga mata bertemu mata,
dibatasi jingkatan pada jendela berkusen kayu...
Apa kabar kamu hari ini?
Kau rindukan aku?
Hanya ingin curi beku pada waktu,
telusuri retinamu yang berkobar api,
dan dia tak mampu membakar,
tidak untuk sekarang.
Ciptakan alasan lain pada petang nanti,
mungkin sekedar mengatakan,
"Lihat, sayang..hari telah senja,
kali ini kau kalahkan guyuran malu-malu matari,
pada kuncup bunga setaman..."
Monday, August 15, 2005
Proletarian
Kita berdiri di persimpangan jalan,
di bawah temaram lampu,
di sela ricuh lautan pejalan kaki.
Suara kita tak terdengar,
hanya berdecap-decap,
tertelan bising bunyi mesin mobil,
serta knalpot dan rongrongan vespa butut.
Mulut ku dan mu bergerak,
buka dan tutup,
mata dan jemari bertaut,
suara kita masih tak terdengar.
Sampai sepi nanti,
bulan ditelan gelap malam,
jalanan tiba lengang,
kita masih disini,
tak berkata-kata.
Kita berdiri di persimpangan jalan,
di bawah temaram lampu,
di sela ricuh lautan pejalan kaki.
Suara kita tak terdengar,
hanya berdecap-decap,
tertelan bising bunyi mesin mobil,
serta knalpot dan rongrongan vespa butut.
Mulut ku dan mu bergerak,
buka dan tutup,
mata dan jemari bertaut,
suara kita masih tak terdengar.
Sampai sepi nanti,
bulan ditelan gelap malam,
jalanan tiba lengang,
kita masih disini,
tak berkata-kata.
Waktu dan aku
Kau dan kata-kata,
luluh lantak aku dibuatnya.
Kau dan frame, refleksi,
dan jangan lupakan bayangan,
parafrasekan aku sebagai maharani.
Kau dan waktu,
untuk yang satu ini,
aku tak bisa kompromi...
Kau dan kata-kata,
luluh lantak aku dibuatnya.
Kau dan frame, refleksi,
dan jangan lupakan bayangan,
parafrasekan aku sebagai maharani.
Kau dan waktu,
untuk yang satu ini,
aku tak bisa kompromi...
Subscribe to:
Posts (Atom)