Api dan Air,
tanpa abu
Hitam jelaga,
api yang singkat,
kobaran nan dahsyat...
Ingin gumpalkan awan sesal di benak,
lalu turun luruh jadi hujan di sudut mataku,
hapus sisa abu di wajah dan hatimu,
saat aku memelukmu.
Perempuan Senja. Suka menulis sejak mengerti S-P-O-K. Hanya saja sekarang K berganti rupa jadi Kamu. Punya hubungan cinta benci dengan tulisan, rasa dan kenangan.
Tuesday, October 31, 2006
Healing
Tidak akan pernah sama,
bahkan bila benangnya adalah sutera.
Rindu sekali beradu bibir di balik pagar rumahku,
spontanitas percintaan yang meletup-letup.
Senyumanmu, kudambakan sangat!
Tidak akan pernah sama,
bahkan bila benangnya adalah sutera.
Rindu sekali beradu bibir di balik pagar rumahku,
spontanitas percintaan yang meletup-letup.
Senyumanmu, kudambakan sangat!
Monday, October 30, 2006
Adrenalin Tak Henti
Bak kuda yang berpacu kencang,
menuju garis finish yang bergerak terus,
berlawanan dengan angin yang menerpa wajah.
Semua terasa lebih memburu, biru.
Bak kuda yang berpacu kencang,
menuju garis finish yang bergerak terus,
berlawanan dengan angin yang menerpa wajah.
Semua terasa lebih memburu, biru.
Sunday, October 29, 2006
Satu-satu
Tidak usah bicara cinta hari ini,
aku ingin berikanmu nyaman,
setingkat rasanya dengan aman.
Tidak usah bicara cinta hari ini,
aku ingin berikanmu nyaman,
setingkat rasanya dengan aman.
Ngilu
Rasa yang kuat ini,
pilu jantungku.
Lebih baik kehilangan diriku,
daripada kehilangan kamu.
Rasa yang kuat ini,
pilu jantungku.
Lebih baik kehilangan diriku,
daripada kehilangan kamu.
Wednesday, October 25, 2006
Kepemilikan
Aku ini pencuri,
sejak enam bulan yang lalu.
Kini tengah membuat NPWP,
supaya tidak ada yang aku-mengaku.
Atau seyogyanya, hak paten itu perlu?
Ah, matilah aku dalam kekhawatiran.
Aku ini pencuri,
sejak enam bulan yang lalu.
Kini tengah membuat NPWP,
supaya tidak ada yang aku-mengaku.
Atau seyogyanya, hak paten itu perlu?
Ah, matilah aku dalam kekhawatiran.
Walk on by...
Entah menahannya dengan apa lagi,
sepertinya lengan ini sudah mau patah.
Berdiri dengan kuda-kuda, sudah.
Menguatkan bisep trisep, sudah.
Memusatkan konsentrasi, sudah.
Pergilah sana, bila ingin.
Sepasang tangan saja tak mampu menopang,
suatu hubungan yang selalu di ambang batas.
Entah menahannya dengan apa lagi,
sepertinya lengan ini sudah mau patah.
Berdiri dengan kuda-kuda, sudah.
Menguatkan bisep trisep, sudah.
Memusatkan konsentrasi, sudah.
Pergilah sana, bila ingin.
Sepasang tangan saja tak mampu menopang,
suatu hubungan yang selalu di ambang batas.
Setipis Benang
Tolong berhenti disana,
persis di belakang garis.
Dan tolong berhenti mencintai aku.
Bukan mencintai yang selewatan angin,
atau saat matari sedang indah-indahnya.
Tapi mencintai yang satu paket,
lengkap dengan emosi-emosi ajaib itu.
Aku tidak menyukainya,
sungguh!
Cintai saja seadanya aku,
ala kadarnya, tanpa lebih-lebihan.
Terlalu mencintai aku,
akan menggusurnya menjadi benci,
sewaktu-waktu,
semau-mau kamu!
Tolong berhenti disana,
persis di belakang garis.
Dan tolong berhenti mencintai aku.
Bukan mencintai yang selewatan angin,
atau saat matari sedang indah-indahnya.
Tapi mencintai yang satu paket,
lengkap dengan emosi-emosi ajaib itu.
Aku tidak menyukainya,
sungguh!
Cintai saja seadanya aku,
ala kadarnya, tanpa lebih-lebihan.
Terlalu mencintai aku,
akan menggusurnya menjadi benci,
sewaktu-waktu,
semau-mau kamu!
Monday, October 23, 2006
Nada Kata Rasa
Akan kutuliskan sebuah lagu,
tentang keriap di pagi hari,
tanpa terusik seharian yang menanti,
dalam beragam ketukan mimpi...
Mungkin tidak rapih,
selalu sulit kompak nada,
atau mungkin menggesa.
Hanyalah sebuah tanda,
terkadang alam turut bercanda.
Akan kutuliskan sebuah lagu,
tentang keriap di pagi hari,
tanpa terusik seharian yang menanti,
dalam beragam ketukan mimpi...
Mungkin tidak rapih,
selalu sulit kompak nada,
atau mungkin menggesa.
Hanyalah sebuah tanda,
terkadang alam turut bercanda.
Thursday, October 19, 2006
Finished
Malam ini kutemui mimpimimpi jatuh,
pada tangan yang terbuka lebar,
nyaris memeluk sebuah keajaiban.
Malam ini kutemui mimpimimpi jatuh,
pada tangan yang terbuka lebar,
nyaris memeluk sebuah keajaiban.
Kabar Hari Ini
Bila hidup lebih menakutkan daripada kematian,
hidup tanpamu jauh lebih mengerikan lagi...
Bila hidup lebih menakutkan daripada kematian,
hidup tanpamu jauh lebih mengerikan lagi...
Saturday, October 14, 2006
Kalian yang satu...
Coba tolong dengarkan,
sekali ini saja.
Jangan biarkan cerita yang tak utuh mengempa,
sebarkan prasangka dan emosi yang tak bijak.
Dengarkan saja,
hati nurani yang bicara.
Coba tolong dengarkan,
sekali ini saja.
Jangan biarkan cerita yang tak utuh mengempa,
sebarkan prasangka dan emosi yang tak bijak.
Dengarkan saja,
hati nurani yang bicara.
Catatan pantai
Kembalikan aku April tahun lalu,
dengan genggaman aroma laut di pangkal hidung,
dan senja yang surut seiring dengan khawatirku.
Kembalikan aku April tahun lalu,
dengan genggaman aroma laut di pangkal hidung,
dan senja yang surut seiring dengan khawatirku.
Wednesday, October 11, 2006
Cinta dan zina
Aku ingin disebut durjana,
satu-satunya yang mencuri tenang,
di kala diam hadirkan degup jantung.
Aku ini durjana yang jatuh cinta,
sungguh tak sama seperti dukana.
Aku ingin disebut durjana,
satu-satunya yang mencuri tenang,
di kala diam hadirkan degup jantung.
Aku ini durjana yang jatuh cinta,
sungguh tak sama seperti dukana.
Monday, October 09, 2006
Fitnah
Katakan padaku,
apalah arti sebuah penghinaan,
atau malah hanya prasangka,
di atas sebuah foto bukan hitam putih,
satu-satunya firasah aku sedang tersenyum?
Katakan padaku,
apalah arti sebuah penghinaan,
atau malah hanya prasangka,
di atas sebuah foto bukan hitam putih,
satu-satunya firasah aku sedang tersenyum?
Friday, October 06, 2006
Equal
Kalau air mata sama berharganya dengan minyak,
sesak dan pilu akan sama dicarinya seperti kemiri.
Kalau air mata sama berharganya dengan minyak,
sesak dan pilu akan sama dicarinya seperti kemiri.
Tuesday, October 03, 2006
Beranjak
Aku takut hari-hariku akan segera habis.
Layaknya rokok filter yang tertiup angin,
pun cerutu yang dinyalakan,
dan dibiarkan menahun.
Bulan-bulan yang luar biasa ini,
masih tetap dihitung hari per hari,
dan nyatanya adalah berjalan setahun.
Aku masih belum mendengar bunyi keretamu.
Aku takut hari-hariku akan segera habis.
Layaknya rokok filter yang tertiup angin,
pun cerutu yang dinyalakan,
dan dibiarkan menahun.
Bulan-bulan yang luar biasa ini,
masih tetap dihitung hari per hari,
dan nyatanya adalah berjalan setahun.
Aku masih belum mendengar bunyi keretamu.
Monday, October 02, 2006
Sebatas senja
Aku ingin cintaku serupa sinar matari.
Yang menyambut pagi tanpa kekesalan kemarin.
Yang undur diri karna tidak ingin merusak kenangan indah.
Yang kau tahu akan tetap ada di luar sana,
walau tengah berlindung di balik payung,
pun awan yang bergerak.
Yang menghangatkan dan cenderung bermusim.
Kadang lembut menyapa bangun pagimu,
kadang pula bisa merah memanas karna emosi.
Aku ingin cintaku serupa sinar matari.
Yang menyambut pagi tanpa kekesalan kemarin.
Yang undur diri karna tidak ingin merusak kenangan indah.
Yang kau tahu akan tetap ada di luar sana,
walau tengah berlindung di balik payung,
pun awan yang bergerak.
Yang menghangatkan dan cenderung bermusim.
Kadang lembut menyapa bangun pagimu,
kadang pula bisa merah memanas karna emosi.
Story book children
Aku ingin menulis sebuah cerita,
tapi yang indah-indah saja.
Yang tidak tragis, tidak ironis,
walau sedikit miris.
Bila terpaksa, dibuat saja cerita tanpa tanda titik.
Biar tidak ada akhir yang menyedihkan.
Atau tanda koma, yang membuatmu bertanya,
ada apa setelah itu.
Mungkin lebih baik, aku diam saja.
Biar burung gereja yang cerita...
Nanti di suatu pagi, yang aku sebut beruntung.
Aku ingin menulis sebuah cerita,
tapi yang indah-indah saja.
Yang tidak tragis, tidak ironis,
walau sedikit miris.
Bila terpaksa, dibuat saja cerita tanpa tanda titik.
Biar tidak ada akhir yang menyedihkan.
Atau tanda koma, yang membuatmu bertanya,
ada apa setelah itu.
Mungkin lebih baik, aku diam saja.
Biar burung gereja yang cerita...
Nanti di suatu pagi, yang aku sebut beruntung.
Thursday, September 28, 2006
...
Tuhan, aku lelah.
Tidak bolehkah aku menyerah,
dan tak sekedar berlaku pasrah?
Tuhan, aku lelah.
Tidak bolehkah aku menyerah,
dan tak sekedar berlaku pasrah?
Tuesday, September 26, 2006
Time after time
Sudah lama aku tidak mengucapkan kikilauan.
Sama seperti kilau lampu di pohon cemara,
bintang jatuh serupa meteor di langit gelap,
dan matamata yang membuatku tersenyum malu.
Sudah lama aku tidak mengucapkan kikilauan.
Sama seperti kilau lampu di pohon cemara,
bintang jatuh serupa meteor di langit gelap,
dan matamata yang membuatku tersenyum malu.
Monday, September 25, 2006
Semua bisa menulis
I.
Sebutlah karya itu menentukan,
lalu kau boleh menjual lebih dari yang ada,
delapan cerpen dan sepuluh puisi.
Apa itu bunga, jamur dan petir,
yang kau lukiskan diantara kata,
menghias amarah dan sumringah,
di atas sebuah pohon,
(dan masih angin membuaimu).
Maafkan aku yang telah merusak sebuah cerita.
Tapi tolong buatkan tanda titik,
jangan biarkan kata jadi kalimat,
dan terbuang pada kertas buram saja.
II.
Mari hari ini aku berikan waktu,
membaca sebuah buku milikmu.
Mungkinkah ada namanya,
seorang yang mencintaimu sangat,
tapi kau sia-siakan begitu saja?
I.
Sebutlah karya itu menentukan,
lalu kau boleh menjual lebih dari yang ada,
delapan cerpen dan sepuluh puisi.
Apa itu bunga, jamur dan petir,
yang kau lukiskan diantara kata,
menghias amarah dan sumringah,
di atas sebuah pohon,
(dan masih angin membuaimu).
Maafkan aku yang telah merusak sebuah cerita.
Tapi tolong buatkan tanda titik,
jangan biarkan kata jadi kalimat,
dan terbuang pada kertas buram saja.
II.
Mari hari ini aku berikan waktu,
membaca sebuah buku milikmu.
Mungkinkah ada namanya,
seorang yang mencintaimu sangat,
tapi kau sia-siakan begitu saja?
Saturday, September 23, 2006
Rindu membaui kamu
Nyaris kucium bau hujan,
walau langit gelap tiada merah,
dan keretamu masih lama tiba.
Ataukah itu, air mata yang mengembang,
tak kunjung jatuh hingga nanti?
Nyaris kucium bau hujan,
walau langit gelap tiada merah,
dan keretamu masih lama tiba.
Ataukah itu, air mata yang mengembang,
tak kunjung jatuh hingga nanti?
Friday, September 22, 2006
Prakarya
Tutup saja matamu.
Biar angin membawamu pergi,
merepih mimpi yang tak kunjung usai.
Seharusnya ini malam kita,
merajut bulan dan langit,
bisa juga sekumpulan bintang,
dari bayangan air kolam,
tanpa tepian rumput sekalipun,
tanpa mereka.
Tutup saja matamu.
Biar angin membawamu pergi,
merepih mimpi yang tak kunjung usai.
Seharusnya ini malam kita,
merajut bulan dan langit,
bisa juga sekumpulan bintang,
dari bayangan air kolam,
tanpa tepian rumput sekalipun,
tanpa mereka.
I.
Bisakah sekali ini tidak usah pakai meteran,
penggaris, timbangan, dan bahkan pengukur suhu?
Lelah sekali rasanya bila selalu melihat ke cermin.
Mencari aku yang lebih baik disana,
atau pembanding yang tiada pernah surut.
II.
Kamu kan tidak tahu,
ini kerut dekat mata ada karna kau,
membuatku sering tersenyum.
Berat badan naik lima kilo juga karna kau,
bahagia membuatku menelan semuanya.
Kalau nasi sisa kemarin saja jadi enak,
tahu kan betapa mudahnya aku gemuk karna kamu?
Setelah itu, mari kita bicara mengenai kecantikan.
Bisakah sekali ini tidak usah pakai meteran,
penggaris, timbangan, dan bahkan pengukur suhu?
Lelah sekali rasanya bila selalu melihat ke cermin.
Mencari aku yang lebih baik disana,
atau pembanding yang tiada pernah surut.
II.
Kamu kan tidak tahu,
ini kerut dekat mata ada karna kau,
membuatku sering tersenyum.
Berat badan naik lima kilo juga karna kau,
bahagia membuatku menelan semuanya.
Kalau nasi sisa kemarin saja jadi enak,
tahu kan betapa mudahnya aku gemuk karna kamu?
Setelah itu, mari kita bicara mengenai kecantikan.
Siapa yang tahu?
Di balik kuning kamboja,
yang indahnya nyaris seperti senja,
kau pastikan itu bukan bunga palsu.
Tercium wangi semerbak,
keningmu lalu berkerut.
Tatap mata bertanya padaku,
apakah hendak membuatmu bersin.
Lupakah aku pada alergimu?
Belum sampai semenit,
aku tahu kau pasti tanyakan.
Apakah itu tulen atau persilangan,
akar tempel atau tanam.
Semua ada untuk dipertanyakan,
entah kenapa juga untuk diragukan.
Sama seperti hati dan perilaku aku.
Di balik kuning kamboja,
yang indahnya nyaris seperti senja,
kau pastikan itu bukan bunga palsu.
Tercium wangi semerbak,
keningmu lalu berkerut.
Tatap mata bertanya padaku,
apakah hendak membuatmu bersin.
Lupakah aku pada alergimu?
Belum sampai semenit,
aku tahu kau pasti tanyakan.
Apakah itu tulen atau persilangan,
akar tempel atau tanam.
Semua ada untuk dipertanyakan,
entah kenapa juga untuk diragukan.
Sama seperti hati dan perilaku aku.
Wednesday, September 20, 2006
Cerita lain
Jelaskan pada logika,
bagaimana bisa aku terbakar,
dan tak jadi serupa arang.
Asap dan abu sedikit pun tak ada,
padahal aku tahu cerita itu.
Kisah usang rama dan shinta,
yang rupanya bualan belaka.
Api tak melahapnya,
tapi dia tetap terbuang.
Denganku,
rupanya nasib berkata lain.
Jelaskan pada logika,
bagaimana bisa aku terbakar,
dan tak jadi serupa arang.
Asap dan abu sedikit pun tak ada,
padahal aku tahu cerita itu.
Kisah usang rama dan shinta,
yang rupanya bualan belaka.
Api tak melahapnya,
tapi dia tetap terbuang.
Denganku,
rupanya nasib berkata lain.
Saturday, September 16, 2006
Cetusan
Ingin sekali bisa berkata,
tutup mata dan anggaplah ini semua mimpi,
yang indah pada percikan kembang api,
balon udara yang membumbung tinggi,
dan mungkin bau cendana yang merasuk.
Ingin sekali,
bisa berkata...
Aku sudah berhenti mencintaimu.
Ingin sekali bisa berkata,
tutup mata dan anggaplah ini semua mimpi,
yang indah pada percikan kembang api,
balon udara yang membumbung tinggi,
dan mungkin bau cendana yang merasuk.
Ingin sekali,
bisa berkata...
Aku sudah berhenti mencintaimu.
Tanpa huruf UN
Aku bisa salah kata,
salah ucap, salah aksi,
dan salah waktu.
Tapi tidak mungkin salah rasa.
Memujamu setinggi ayunan bintang di langit!
Aku bisa salah kata,
salah ucap, salah aksi,
dan salah waktu.
Tapi tidak mungkin salah rasa.
Memujamu setinggi ayunan bintang di langit!
Saturday, September 09, 2006
[kosong]
Tidak ada tulisan hari ini.
Sebagaimana kamu tidak lagi mengotori dinding kamarku,
dengan bayang muka bayang tubuh bayang rasa,
dan juga suara berat milikmu,
ataukah ini sumpah serapah ku,
yang sudah menyerupai dendangan.
Sebagaimana aku ingin berhenti merindukanmu.
Maka hari ini aku harus konsisten!
Tidak ada tulisan hari ini.
Sebagaimana kamu tidak lagi mengotori dinding kamarku,
dengan bayang muka bayang tubuh bayang rasa,
dan juga suara berat milikmu,
ataukah ini sumpah serapah ku,
yang sudah menyerupai dendangan.
Sebagaimana aku ingin berhenti merindukanmu.
Maka hari ini aku harus konsisten!
Thursday, September 07, 2006
Alokasi
Dimana itu bintang jatuh.
Katamu, tidak pernah ada lagi.
Kau pasti salah.
Maaf sayang, salah ya salah.
Tiap hari ada bintang jatuh,
tepat di tempat tidurku.
Karna tiap malam aku tidur,
berselimutkan mimpi tentang kamu,
dengan lengkung senyum sempurna,
karenamu jua.
Apalagi namanya,
kalau bukan bintang jatuh?
Dimana itu bintang jatuh.
Katamu, tidak pernah ada lagi.
Kau pasti salah.
Maaf sayang, salah ya salah.
Tiap hari ada bintang jatuh,
tepat di tempat tidurku.
Karna tiap malam aku tidur,
berselimutkan mimpi tentang kamu,
dengan lengkung senyum sempurna,
karenamu jua.
Apalagi namanya,
kalau bukan bintang jatuh?
Hari ke 8
Tiap hari kau buatku mati kebingungan,
tak tahu harus menjawab apa.
Tentu hari ini lebih dari kemarin,
lebih manis, lebih berkenan,
lebih lengkap, lebih bahagia,
nyata adanya.
Apa pertanyaan kamu tadi?
Hari mana yang paling indah?
Tiap hari kau buatku mati kebingungan,
tak tahu harus menjawab apa.
Tentu hari ini lebih dari kemarin,
lebih manis, lebih berkenan,
lebih lengkap, lebih bahagia,
nyata adanya.
Apa pertanyaan kamu tadi?
Hari mana yang paling indah?
Wednesday, September 06, 2006
Mutlak
Oh, waktu yang licik,
menikamku dari belakang,
dan bahkan dari penjuru arah.
Meninggalkanku lelah,
tak berdaya dan tua,
pada akhirnya.
Oh, waktu yang licik,
menikamku dari belakang,
dan bahkan dari penjuru arah.
Meninggalkanku lelah,
tak berdaya dan tua,
pada akhirnya.
Hari ini dan nanti..
Selamat siang, Bu...
Aku baru saja pulang.
Katanya hari ini kaos kakiku belang sebelah,
kelerengku tidak genap selusin,
dan bajuku lusuh sekali.
Esok nanti apakah sama Bu,
rok yang kupakai terlalu panjang,
baju ini kekecilan,
make up luntur sebagian,
terutama mannerku berantakan.
Apakah benar Bu,
aku terlahir tak sempurna,
dan mati sama adanya?
Selamat siang, Bu...
Aku baru saja pulang.
Katanya hari ini kaos kakiku belang sebelah,
kelerengku tidak genap selusin,
dan bajuku lusuh sekali.
Esok nanti apakah sama Bu,
rok yang kupakai terlalu panjang,
baju ini kekecilan,
make up luntur sebagian,
terutama mannerku berantakan.
Apakah benar Bu,
aku terlahir tak sempurna,
dan mati sama adanya?
Tuesday, September 05, 2006
Shock
Rupanya sudah tidak kuat.
Dada kiri semakin lemah,
entah sisi otak mana yang lalim.
Rupanya sudah tidak kuat.
Dada kiri semakin lemah,
entah sisi otak mana yang lalim.
Sembilan dan lima
Maafkan untuk lima meter jarak yang ada.
Tengah mengecilkannya dengan air mata.
Yang entah mengapa enggan mengalir perlahan.
Maafkan untuk lima meter jarak yang ada.
Tengah mengecilkannya dengan air mata.
Yang entah mengapa enggan mengalir perlahan.
Monday, September 04, 2006
Suara hati(ku)
Ada nyanyian di balik angin,
hembusan sama yang kerap mati,
mungkin karna usia.
Bunyi rindu yang teramat sangat,
sama kencangnya dengan debar jantung,
saat nanti kita bersatu lagi.
Ada nyanyian di balik angin,
hembusan sama yang kerap mati,
mungkin karna usia.
Bunyi rindu yang teramat sangat,
sama kencangnya dengan debar jantung,
saat nanti kita bersatu lagi.
p u l a n g
Rindu sekali.
Tak hanya puluhan kali.
Mungkin sama banyaknya,
dengan jumlah pasir di dalam botol,
yang kau beri tempo dulu.
Lelah berhitung,
kukeringkan saja air mata.
Yang dalam perjalanan,
mengering kemudian mengkristal.
Kuletakkan di atas langit,
untuk menjadi pijarmu saat pulang.
Rindu sekali.
Tak hanya puluhan kali.
Mungkin sama banyaknya,
dengan jumlah pasir di dalam botol,
yang kau beri tempo dulu.
Lelah berhitung,
kukeringkan saja air mata.
Yang dalam perjalanan,
mengering kemudian mengkristal.
Kuletakkan di atas langit,
untuk menjadi pijarmu saat pulang.
Saturday, September 02, 2006
Anekdot yang janggal
Ceritakan aku mimpi burukmu.
Saat hijau tak lagi bersanding dengan rumput,
halus pergi jauh dari kain sutera,
dan semua merepih begitu saja.
Kamu tidak pernah tahu,
aku tertawa diam-diam.
Ceritakan aku mimpi burukmu.
Saat hijau tak lagi bersanding dengan rumput,
halus pergi jauh dari kain sutera,
dan semua merepih begitu saja.
Kamu tidak pernah tahu,
aku tertawa diam-diam.
Friday, September 01, 2006
Sebuah balasan
Tinggallah selama yang kau mau,
di bawah temaram alis mataku.
Biar hujan reda barang sejenak,
tak membawamu pergi dari ingatan.
Hentikan sembunyi itu,
tawa ini tidak hadir untuk tutupi rindu.
Biarkan bebas, lepas, berkendara angin,
nikmati waktu yang tersisa.
Tinggallah selama yang kau mau,
di bawah temaram alis mataku.
Biar hujan reda barang sejenak,
tak membawamu pergi dari ingatan.
Hentikan sembunyi itu,
tawa ini tidak hadir untuk tutupi rindu.
Biarkan bebas, lepas, berkendara angin,
nikmati waktu yang tersisa.
Wednesday, August 30, 2006
Matari (ku)
Siapa yang mematikan lampu?
Ataukah di luar sana ada gerhana?
Semua tiba-tiba menjadi gelap,
nyata adanya saat kau menutup mata.
Mereka pasti mencari kamu,
karna matari yang kau sembunyikan,
tepat di balik kelopak mata.
Siapa yang mematikan lampu?
Ataukah di luar sana ada gerhana?
Semua tiba-tiba menjadi gelap,
nyata adanya saat kau menutup mata.
Mereka pasti mencari kamu,
karna matari yang kau sembunyikan,
tepat di balik kelopak mata.
Monday, August 28, 2006
I.
Sulit sekali mengeja mu,
ujung rambut hingga kaki,
dirangkum jadi satu nama,
dengan ribuan definisi.
Dan kelas berhitung yang selalu gagal,
dengan angka nol yang luput,
digantikan oleh satu sampai sembilan.
Selalu banyak,
dan melelahkan.
Menghitung gembira ku,
atas mu.
Sulit sekali mengeja mu,
ujung rambut hingga kaki,
dirangkum jadi satu nama,
dengan ribuan definisi.
Dan kelas berhitung yang selalu gagal,
dengan angka nol yang luput,
digantikan oleh satu sampai sembilan.
Selalu banyak,
dan melelahkan.
Menghitung gembira ku,
atas mu.
Saturday, August 26, 2006
Runaway tripper
Kamu yang kesepian,
lalu salahkan satu kota bertajuk sepi,
dan membakar-NYA hidup-hidup.
Padahal kamu yang lari dariku,
lengkap dengan satu ransel kekhawatiran.
Memberi KO pada bahagia,
hanya karna masa lalu.
Kamu yang kesepian,
lalu salahkan satu kota bertajuk sepi,
dan membakar-NYA hidup-hidup.
Padahal kamu yang lari dariku,
lengkap dengan satu ransel kekhawatiran.
Memberi KO pada bahagia,
hanya karna masa lalu.
Cinta yang mengkhawatirkan!
Sesuatu yang lebih ajaib dari topi tukang sulap.
Bukan merpati atau kelinci yang meloncat keluar.
Tapi rasa terdalam yang sangat rentan.
Hari ini merah jadi hitam,
esok putih jadi kelabu.
Katanya itu semua gara-gara cinta.
saya mulai berpikir adanya, cinta itu benar-benar tai kucing!
Sesuatu yang lebih ajaib dari topi tukang sulap.
Bukan merpati atau kelinci yang meloncat keluar.
Tapi rasa terdalam yang sangat rentan.
Hari ini merah jadi hitam,
esok putih jadi kelabu.
Katanya itu semua gara-gara cinta.
saya mulai berpikir adanya, cinta itu benar-benar tai kucing!
Wednesday, August 23, 2006
Katakan, dimana pentingnya sepasang mata?
Perduli setan dengan lampu merah,
aturan tertulis di belakang kotak obat,
novel percintaan yang terbaik.
Saya tidak butuh mata,
bahkan sepasang mata.
Karna mata hanya datangkan pilu.
Perduli setan dengan lampu merah,
aturan tertulis di belakang kotak obat,
novel percintaan yang terbaik.
Saya tidak butuh mata,
bahkan sepasang mata.
Karna mata hanya datangkan pilu.
Monday, August 21, 2006
Memar
Hati-hatiku entah tertinggal dimana,
mungkin dibalik cucian hari ini,
atau jatuh pada kerlingan mata,
berbulan-bulan yang lampau.
Hati-hatiku entah tertinggal dimana,
mungkin dibalik cucian hari ini,
atau jatuh pada kerlingan mata,
berbulan-bulan yang lampau.
Sunday, August 20, 2006
Pure heart
Putih, bersih, sama saja dengan salju,
karna kamu sendiri adalah kemurnian itu.
Tanpa mata, tanpa telinga,
dan jemari yang mengayun mesra.
Murni dalam fikirku,
lewat mata hatiku saja.
Putih, bersih, sama saja dengan salju,
karna kamu sendiri adalah kemurnian itu.
Tanpa mata, tanpa telinga,
dan jemari yang mengayun mesra.
Murni dalam fikirku,
lewat mata hatiku saja.
Sebuah hadiah panjang
Bukan hari-hari gemerlap,
suka yang berlebihan,
hingga tumpah ruah,
melebihi kadar seorang saja.
Bukan sehari, seminggu, sebulan,
yang bersinar seperti hiasan pohon natal,
dengan bintang di puncaknya,
bagai sebuah pencapaian.
Aku hanya ingin bersamamu,
walau mungkin jauh dari kerlap-kerlip itu.
Bukan hari-hari gemerlap,
suka yang berlebihan,
hingga tumpah ruah,
melebihi kadar seorang saja.
Bukan sehari, seminggu, sebulan,
yang bersinar seperti hiasan pohon natal,
dengan bintang di puncaknya,
bagai sebuah pencapaian.
Aku hanya ingin bersamamu,
walau mungkin jauh dari kerlap-kerlip itu.
Wednesday, August 16, 2006
1.)
Rebahkan sayap imajinasimu,
tancapkan kuat-kuat kesepuluh kuku jemari,
peganglah seluruh dunia tuk bersandar,
tapi rasa itu tlah jauh dan bahkan tlah lama pergi.
2.)
Hari ini kau tanyakan kenapa hujan harus turun,
lalu rumput yang tlah susah payah kau keringkan,
kembali basah dan sedikit kotor.
Itu adalah pembelajaran cuma-cuma dari alam,
agar kau tahu garis lurus dari pensil itu,
bisa dihapus olehNya.
3.)
Bahwa perempuan dan lelaki yang baik-baik,
belum tentu yang terbaik bagi kita,
sungguh pelajaran terakhir yang utama.
sebuah perenungan di bawah langit bandung...
Rebahkan sayap imajinasimu,
tancapkan kuat-kuat kesepuluh kuku jemari,
peganglah seluruh dunia tuk bersandar,
tapi rasa itu tlah jauh dan bahkan tlah lama pergi.
2.)
Hari ini kau tanyakan kenapa hujan harus turun,
lalu rumput yang tlah susah payah kau keringkan,
kembali basah dan sedikit kotor.
Itu adalah pembelajaran cuma-cuma dari alam,
agar kau tahu garis lurus dari pensil itu,
bisa dihapus olehNya.
3.)
Bahwa perempuan dan lelaki yang baik-baik,
belum tentu yang terbaik bagi kita,
sungguh pelajaran terakhir yang utama.
sebuah perenungan di bawah langit bandung...
Wednesday, August 09, 2006
Probabilitas esok
Mungkin pelangi esok takkan muncul tujuh lapis,
matari terbit sekenanya dari utara,
dan semua indah menjadi berkurang,
sedikit pun banyak.
Mungkin.
Mungkin pelangi esok takkan muncul tujuh lapis,
matari terbit sekenanya dari utara,
dan semua indah menjadi berkurang,
sedikit pun banyak.
Mungkin.
You can run, but..
Bersembunyi di balik missed call,
menghapus sms tanpa membalasnya.
Rupanya tidak mengubah rasa,
yang semakin nyata saja.
Bersembunyi di balik missed call,
menghapus sms tanpa membalasnya.
Rupanya tidak mengubah rasa,
yang semakin nyata saja.
Kebenaran ekspresi
Aku ingin menangis yang bukan menangis,
tanpa tetesan air mata karna sudah tak ada lagi,
hingga berubah menjadi darah kata,
yang tidak dapat sembuh melalui operasi.
Aku ingin tertawa yang benar tertawa,
bukan meringis dengan segukan pedih perih,
dan perut sedikit kram karena kontraksi,
bukan karna maag yang parah melanda.
Aku ingin tidak merasa ini.
Entah....maka kemari lah,
kembali lah!
Aku ingin menangis yang bukan menangis,
tanpa tetesan air mata karna sudah tak ada lagi,
hingga berubah menjadi darah kata,
yang tidak dapat sembuh melalui operasi.
Aku ingin tertawa yang benar tertawa,
bukan meringis dengan segukan pedih perih,
dan perut sedikit kram karena kontraksi,
bukan karna maag yang parah melanda.
Aku ingin tidak merasa ini.
Entah....maka kemari lah,
kembali lah!
Sunday, August 06, 2006
Tidak berpulang
Mengikhtisarkan pilihan,
sampai detik hilang dibilas resah.
Dan hujan renik tidak tentu arah,
sebagaimana angin belum ada di tempat.
Mengikhtisarkan pilihan,
sampai detik hilang dibilas resah.
Dan hujan renik tidak tentu arah,
sebagaimana angin belum ada di tempat.
Sunday, July 23, 2006
Who's turn?
Hitam dibalik jadi putih,
dan putih menggeser hitam,
berganti warna, bertambah sesak.
Mungkin sudah bukan giliranmu.
Sudahlah sana, mengaku kalah.
Walau ini bukan sekedar permainan domino.
Hitam dibalik jadi putih,
dan putih menggeser hitam,
berganti warna, bertambah sesak.
Mungkin sudah bukan giliranmu.
Sudahlah sana, mengaku kalah.
Walau ini bukan sekedar permainan domino.
Banyak mata
Dia mendaki langit per lapisan,
dari tangga pepohonan hijau,
dan menggali hingga air tanah,
yang menyambung hingga muara.
Mencoba berbagai gatra,
atau apa yang disebut orang aspek,
tak lain dari sudut pandang.
Bagaimana bisa lemah adanya,
mengungguli sempurna nampaknya?
Dia mendaki langit per lapisan,
dari tangga pepohonan hijau,
dan menggali hingga air tanah,
yang menyambung hingga muara.
Mencoba berbagai gatra,
atau apa yang disebut orang aspek,
tak lain dari sudut pandang.
Bagaimana bisa lemah adanya,
mengungguli sempurna nampaknya?
Saturday, July 22, 2006
Learn and try to understand
Belajarlah pada padi yang nampak terlalu sederhana,
atau teratai yang selalu terlihat kumuh...
Dan mungkin saja pada kismis,
sebuah transformasi alami,
yang menaikkan nilai pribadi.
Pelajari saja,
apa yang tak terdapat pada not balok,
dan untaian nada klasik.
Siapa tahu kali ini berguna.
Belajarlah pada padi yang nampak terlalu sederhana,
atau teratai yang selalu terlihat kumuh...
Dan mungkin saja pada kismis,
sebuah transformasi alami,
yang menaikkan nilai pribadi.
Pelajari saja,
apa yang tak terdapat pada not balok,
dan untaian nada klasik.
Siapa tahu kali ini berguna.
Dia yang mengaku nasib
Rupanya perempuan itu dinamai nasib,
yang hendak memburuku kesana kemari.
Menguntitku laiknya bayangan,
menyerupaiku pada bidang putih,
yang tak mungkin hitam.
Tidak tahukah engkau?
Bunga dinamai tak hanya karna warna,
harum, penempatan, kekaguman,
dan pemujaan gadis-gadis padanya?
Mimpi sudah kau manusia ciptakan bunga,
lebih dari sebatas silang menyilang,
walau kau telah adopsi bentuk dan rupa,
bau yang nyaris sama dari pewangi paling mutakhir.
Sayangku, nasibku tercinta...
kau boleh mengaku bunga,
hujankan perhatian,
dan ucapkan kalimat resah,
dalam nada yang terindah...
Tapi kau bukanlah aku,
sebagaimana kata adalah nafasku,
dan bukan untuk menguasai mayapada.
Satu hal yang tak bisa kau curi,
tak bisa kau tiru,
duniamu mencintaiku,
apa adanya aku!
Rupanya perempuan itu dinamai nasib,
yang hendak memburuku kesana kemari.
Menguntitku laiknya bayangan,
menyerupaiku pada bidang putih,
yang tak mungkin hitam.
Tidak tahukah engkau?
Bunga dinamai tak hanya karna warna,
harum, penempatan, kekaguman,
dan pemujaan gadis-gadis padanya?
Mimpi sudah kau manusia ciptakan bunga,
lebih dari sebatas silang menyilang,
walau kau telah adopsi bentuk dan rupa,
bau yang nyaris sama dari pewangi paling mutakhir.
Sayangku, nasibku tercinta...
kau boleh mengaku bunga,
hujankan perhatian,
dan ucapkan kalimat resah,
dalam nada yang terindah...
Tapi kau bukanlah aku,
sebagaimana kata adalah nafasku,
dan bukan untuk menguasai mayapada.
Satu hal yang tak bisa kau curi,
tak bisa kau tiru,
duniamu mencintaiku,
apa adanya aku!
Thursday, July 13, 2006
Foto bicara
Kini bicara tentang kelamnya malam,
yang benar-benar surut terang bintang.
Hanya karna binar mata penuh cahya,
dua pasang dalam sebuah frame hitam putih.
Kini bicara tentang kelamnya malam,
yang benar-benar surut terang bintang.
Hanya karna binar mata penuh cahya,
dua pasang dalam sebuah frame hitam putih.
Monday, July 10, 2006
Spektrum warna baru
Sebut saja hitam muda,
putih tua dan ungu silver.
Selalu diciptakan dalam kita.
Sebuah spektrum warna baru,
dari tiada yang ada,
hingga terbaca nyata.
Sebut saja hitam muda,
putih tua dan ungu silver.
Selalu diciptakan dalam kita.
Sebuah spektrum warna baru,
dari tiada yang ada,
hingga terbaca nyata.
Tuesday, July 04, 2006
Singkat dan padat
Kau sederhanakanku.
Untuk menyebut gelap yang berbulan,
atau sesekali berbintang,
dengan sebutan malam.
Tapi entah mengapa,
24 jam ini sungguh tak sederhana,
bila dipenuhi denganmu.
Yang lebih kaya dari ledakan jutaan meteor.
Kau sederhanakanku.
Untuk menyebut gelap yang berbulan,
atau sesekali berbintang,
dengan sebutan malam.
Tapi entah mengapa,
24 jam ini sungguh tak sederhana,
bila dipenuhi denganmu.
Yang lebih kaya dari ledakan jutaan meteor.
Friday, June 30, 2006
Di langit bintang
Komet kembar yang berpacu bersama,
tengah berlarian kalahkan matari,
nyaris muskil dengan kecepatan cahaya.
Lewati satu titik, belasan bulan,
dan titik lagi, belasan tahun,
hingga titik lagi, sebuah ikatan,
yang tak dilingkari hitungan jarak.
Komet kembar yang berpacu bersama,
tengah berlarian kalahkan matari,
nyaris muskil dengan kecepatan cahaya.
Lewati satu titik, belasan bulan,
dan titik lagi, belasan tahun,
hingga titik lagi, sebuah ikatan,
yang tak dilingkari hitungan jarak.
m a t i k a n waktu
Waktu luangku tak kuisi dengan kamu,
tidak pula dengan pikiran tentang kamu.
Denganmu, sang detik kalah pamor,
dan menit jadi kurang percaya diri,
atas hitungan jam yang mati,
berhenti total atas rotasi padamu.
Waktu luangku tak kuisi dengan kamu,
tidak pula dengan pikiran tentang kamu.
Denganmu, sang detik kalah pamor,
dan menit jadi kurang percaya diri,
atas hitungan jam yang mati,
berhenti total atas rotasi padamu.
Tuesday, June 27, 2006
Cerita
Pegasusku ketukkan langkah di ujung pelangi,
hentikan waktu pun detiknya yang bergulir,
pindahkan mejikuhibiniu pada surai menjuntai,
tinggalkan aku merasai mimpi siang hari ini.
Pegasusku ketukkan langkah di ujung pelangi,
hentikan waktu pun detiknya yang bergulir,
pindahkan mejikuhibiniu pada surai menjuntai,
tinggalkan aku merasai mimpi siang hari ini.
Saturday, June 24, 2006
Barter
Mata kaki yang lecet,
macaroni yang hangus,
hati yang nyaris compang camping,
adalah sepadan bila kita bersama,
nanti.
Mata kaki yang lecet,
macaroni yang hangus,
hati yang nyaris compang camping,
adalah sepadan bila kita bersama,
nanti.
Thursday, June 22, 2006
Lagu dansa
Mari berdansa,
lengkap dengan alunan hening,
biar aku yang berkata-kata.
Pelan kubisikkan,
seirama kaki kanan dan kiri,
tentang matari yang mencuri sinarmu,
dan bintang yang leluasa sembunyikanmu.
Hingga pagi datang mengusik,
dan kosa kata menipis,
aku masih bicara.
Bahkan lantai yang penuh,
tapak di atas kata-kata,
oh biar saja.
Semua tengah berhamburan,
dari benaknya rasa, melewati lingua,
berlarian keluar lewat frase dan kalimat.
Nanti lantai dansa kan dibersihkan,
bahkan sampai titik koma yang sulit hilang
(sudah tidak ada tanda baca yang tersisa)
Mari berdansa,
lengkap dengan alunan hening,
biar aku yang berkata-kata.
Pelan kubisikkan,
seirama kaki kanan dan kiri,
tentang matari yang mencuri sinarmu,
dan bintang yang leluasa sembunyikanmu.
Hingga pagi datang mengusik,
dan kosa kata menipis,
aku masih bicara.
Bahkan lantai yang penuh,
tapak di atas kata-kata,
oh biar saja.
Semua tengah berhamburan,
dari benaknya rasa, melewati lingua,
berlarian keluar lewat frase dan kalimat.
Nanti lantai dansa kan dibersihkan,
bahkan sampai titik koma yang sulit hilang
(sudah tidak ada tanda baca yang tersisa)
Monday, June 12, 2006
Pelangi
Kukenakan pelangi di hak sepatuku,
kuning, coklat hingga oranye.
Sampai nanti kupinjamkan untukmu,
sabar-sabar saja kau di atas sana.
Isi penuh dulu mimpi-mimpiku.
Kukenakan pelangi di hak sepatuku,
kuning, coklat hingga oranye.
Sampai nanti kupinjamkan untukmu,
sabar-sabar saja kau di atas sana.
Isi penuh dulu mimpi-mimpiku.
Friday, June 09, 2006
Toples warna-warni
Tolong kemarikan yang itu,
yang bundar dengan tutup plastik.
Memang tidak kedap udara,
tapi pasti anti aging.
Satu lagi kumasukkan ke dalamnya,
atas malam kerlip dan langit teduh yang kau cipta.
Selembar bahagia kusimpan baik-baik,
dalam toples warna-warni.
Tolong kemarikan yang itu,
yang bundar dengan tutup plastik.
Memang tidak kedap udara,
tapi pasti anti aging.
Satu lagi kumasukkan ke dalamnya,
atas malam kerlip dan langit teduh yang kau cipta.
Selembar bahagia kusimpan baik-baik,
dalam toples warna-warni.
Monday, May 15, 2006
Tawa untuk malam nanti
Malam nanti kuharap lebih,
dari hangat genggam tangan.
Warnai saja atmosfer suara,
belah langit yang sempurna itu,
dengan cabikan tawa mu.
Gembirakan aku malam nanti,
tanpa usungan mimpi buruk,
dan hymne duka cita.
Malam nanti kuharap lebih,
dari hangat genggam tangan.
Warnai saja atmosfer suara,
belah langit yang sempurna itu,
dengan cabikan tawa mu.
Gembirakan aku malam nanti,
tanpa usungan mimpi buruk,
dan hymne duka cita.
Wednesday, May 10, 2006
Percaya tidak percaya
Boleh kau percaya,
pada sejuknya embun pagi,
teriknya siang hari,
dan malam yang membutakan.
Karena kau pernah disana,
pernah melihat, merasa,
dan dirasai.
Kau pernah juga tahu bahwa api itu panas,
saat es batu di genggaman mulai meleleh,
dan tanganmu nyaris ikut terbakar.
Tapi bagaimana bisa kuminta kau percaya?
Bahwa apa yang ada di hati ini adalah nyata,
saat kau tak bisa memegangnya?
Dan ketika kata-kata tidak absolut lagi,
bahkan yang hitam di atas putih,
bagaimana bisa aku tega,
sekedar buatmu percaya?
Aku tidak mau berjanji,
karena aku tidak bisa.
Aku hanya minta kau percaya,
pada detik ini saja.
Bahwa aku benar-benar cinta.
Boleh kau percaya,
pada sejuknya embun pagi,
teriknya siang hari,
dan malam yang membutakan.
Karena kau pernah disana,
pernah melihat, merasa,
dan dirasai.
Kau pernah juga tahu bahwa api itu panas,
saat es batu di genggaman mulai meleleh,
dan tanganmu nyaris ikut terbakar.
Tapi bagaimana bisa kuminta kau percaya?
Bahwa apa yang ada di hati ini adalah nyata,
saat kau tak bisa memegangnya?
Dan ketika kata-kata tidak absolut lagi,
bahkan yang hitam di atas putih,
bagaimana bisa aku tega,
sekedar buatmu percaya?
Aku tidak mau berjanji,
karena aku tidak bisa.
Aku hanya minta kau percaya,
pada detik ini saja.
Bahwa aku benar-benar cinta.
Saturday, May 06, 2006
Hebatnya rasa
Tidak ingin meniti awan,
menebak ringan tubuh hingga nanti.
Enggan bernafas dari celah lapisan air tanah,
terlindungi dan bebas dari mahkluk besar saja.
Hanya mau stabil,
biasa-biasa saja,
jadi manusia normal.
Tidak ingin meniti awan,
menebak ringan tubuh hingga nanti.
Enggan bernafas dari celah lapisan air tanah,
terlindungi dan bebas dari mahkluk besar saja.
Hanya mau stabil,
biasa-biasa saja,
jadi manusia normal.
Friday, May 05, 2006
Bermain layangan
Tidak perlu kau tunggu bayu,
langkahkan kaki ke atas bukit,
sebisa mungkin saat senja.
Tak perlu juga kau tabung amal,
harap-harap cemas kan capai surga.
Hari ini juga, aku berikan layang-layang.
Bukan yang di ujungnya beragam,
dengan jenis bebean, pecuk, atau janggan.
Hanya dengan surga di ujung layangan.
Kutarik hingga rapat ke bumi,
dalam pelukanmu.
Tidak perlu kau tunggu bayu,
langkahkan kaki ke atas bukit,
sebisa mungkin saat senja.
Tak perlu juga kau tabung amal,
harap-harap cemas kan capai surga.
Hari ini juga, aku berikan layang-layang.
Bukan yang di ujungnya beragam,
dengan jenis bebean, pecuk, atau janggan.
Hanya dengan surga di ujung layangan.
Kutarik hingga rapat ke bumi,
dalam pelukanmu.
Thursday, May 04, 2006
Tanpa helaian
Dimana kamu?
Yang bisa meyakinkan,
adalah tidak apa-apa,
tidur hanya berselimutkan langit.
Menerpa dingin dengan semangat esok,
dan jadikan tanah tumpuan yang kokoh.
Dimana kamu?
Yang bisa meyakinkan,
adalah tidak apa-apa,
tidur hanya berselimutkan langit.
Menerpa dingin dengan semangat esok,
dan jadikan tanah tumpuan yang kokoh.
Tuesday, May 02, 2006
Mimpi-mimpi
Ada mimpi,
di telinga kiri.
Bekas semalam,
saat cerita disulam.
Kubisikkan,
pelan saja.
Masih tersisa,
lelerannya pada dagu,
atau di sudut bibir tepatnya.
Yang datang darimu,
dan mampir di mulutku.
Kubisikkan,
cukup pelan saja.
Ada mimpi,
di telinga kiri.
Bekas semalam,
saat cerita disulam.
Kubisikkan,
pelan saja.
Masih tersisa,
lelerannya pada dagu,
atau di sudut bibir tepatnya.
Yang datang darimu,
dan mampir di mulutku.
Kubisikkan,
cukup pelan saja.
Monday, May 01, 2006
Kini
Tidak perlu ada lama dan baru.
Dahulu dan sekarang,
lalu buanglah penanggalan.
Semua tak penting,
apalagi yang tak pasti,
kalau sekarang ada kamu.
Tepat di pelukku,
di rangkum mata hatiku.
Tidak perlu ada lama dan baru.
Dahulu dan sekarang,
lalu buanglah penanggalan.
Semua tak penting,
apalagi yang tak pasti,
kalau sekarang ada kamu.
Tepat di pelukku,
di rangkum mata hatiku.
Sunday, April 30, 2006
Janggal
Ada yang tersiksa.
Pada tiap ingin yang tercekat,
bahkan belum sampai kelu lidah.
Bukannya kau tak bisa,
tapi kau tak mau.
Ada yang tersiksa.
Pada tiap ingin yang tercekat,
bahkan belum sampai kelu lidah.
Bukannya kau tak bisa,
tapi kau tak mau.
Saturday, April 29, 2006
Ajaib
Ingin sekali bisa merangkum kamu,
dalam satu pelukan dan ribuan ciuman.
Yang ceritakan perjalanan singkat,
kalahkan empat musim sekaligus.
Ingin sekali bisa merangkum kamu,
dalam satu pelukan dan ribuan ciuman.
Yang ceritakan perjalanan singkat,
kalahkan empat musim sekaligus.
Thursday, April 27, 2006
Pelihara hujan
Masih kurasa basah,
tidak pada pelupuk mata.
Tetap sama resah,
dengan gemerisik air mata.
Ku pelihara hujan,
dalam benak.
Sekedarnya.
Masih kurasa basah,
tidak pada pelupuk mata.
Tetap sama resah,
dengan gemerisik air mata.
Ku pelihara hujan,
dalam benak.
Sekedarnya.
Pembatas
Carikan aku penjara,
yang lebih dari kolong meja,
lubang di tanah,
dan spasi di bulan.
Bukan karena malu,
atau harus mengaku salah.
Aku tidak ingin menahan,
atau tepatnya tak bisa menahan.
Merindu mu, mengingini kamu.
Carikan aku penjara,
yang lebih dari kolong meja,
lubang di tanah,
dan spasi di bulan.
Bukan karena malu,
atau harus mengaku salah.
Aku tidak ingin menahan,
atau tepatnya tak bisa menahan.
Merindu mu, mengingini kamu.
Wednesday, April 26, 2006
Kartu absen
Pada vibrasi handphone,
pertanda sms dan telepon masuk.
Pada pagi yang berganti siang,
agar cepat senja lalu malam.
Hingga menu-menu makanan,
kembali digantikan kamu.
Pada tiap pikiran di alam sadar,
bawah sadar dan tak sadar.
Ah, sungguh ketergantungan itu,
benar-benar telah hadir.
Pada vibrasi handphone,
pertanda sms dan telepon masuk.
Pada pagi yang berganti siang,
agar cepat senja lalu malam.
Hingga menu-menu makanan,
kembali digantikan kamu.
Pada tiap pikiran di alam sadar,
bawah sadar dan tak sadar.
Ah, sungguh ketergantungan itu,
benar-benar telah hadir.
Sunday, April 23, 2006
Natural instant-nity
Merindukan mu,
sampai titik koma kata,
dan keringat dingin ku.
Begitu kilat dan natural,
serupa gejala alam.
Yang mendobrak hening langit.
Merindukan mu,
sampai titik koma kata,
dan keringat dingin ku.
Begitu kilat dan natural,
serupa gejala alam.
Yang mendobrak hening langit.
Daya tarik mu
Gravitasi bumi itu jelas ada.
Menarikku kesana dan kesini,
kian kemari dan tak henti.
Tapi dia adalah seorang,
yang dilahirkan, tumbuh mengagumkan,
dan kini memutarbalikkan duniaku!
Gravitasi bumi itu jelas ada.
Menarikku kesana dan kesini,
kian kemari dan tak henti.
Tapi dia adalah seorang,
yang dilahirkan, tumbuh mengagumkan,
dan kini memutarbalikkan duniaku!
Saturday, April 22, 2006
Discovery
Mencoba melacak kebosanan.
Pada tebal alis dan merah bibir,
putih kulit dan seluruhmu.
Kembali pada raut muka dan mata,
namun masih tak ada yang nyata.
Mencoba melacak kebosanan.
Pada tebal alis dan merah bibir,
putih kulit dan seluruhmu.
Kembali pada raut muka dan mata,
namun masih tak ada yang nyata.
Taman khayalan
Hanya disini,
sebuah cafe disulap jadi taman.
Lengkap semua,
hanya tanpa kupu-kupu.
Dengan sepasang aku dan kau,
yang duduk di sudut ruang.
Tak hanya diam, kita berpolusi.
Rupanya terlalu banyak khayal,
yang melompat dari benak.
Membuat mereka sibuk menangkapnya,
dengan jaring kupu-kupu.
Hanya disini,
sebuah cafe disulap jadi taman.
Lengkap semua,
hanya tanpa kupu-kupu.
Dengan sepasang aku dan kau,
yang duduk di sudut ruang.
Tak hanya diam, kita berpolusi.
Rupanya terlalu banyak khayal,
yang melompat dari benak.
Membuat mereka sibuk menangkapnya,
dengan jaring kupu-kupu.
Friday, April 21, 2006
Bicara hujan
Hujan,
gemerisik yang menggoyah konsentrasi,
sedikit mengganggu telinga,
tapi tidak basah.
Hujan,
dingin di balik kaca jendela,
menggetarkan jemari yang bersandar,
masih tidak basah.
Adalah menyatu,
saat ku menginjak rumput,
biarkan ratusan tetes mendentam kepala.
Mencuci habis semua khawatir ini.
Hingga basah.
Akhirnya.
Hujan,
gemerisik yang menggoyah konsentrasi,
sedikit mengganggu telinga,
tapi tidak basah.
Hujan,
dingin di balik kaca jendela,
menggetarkan jemari yang bersandar,
masih tidak basah.
Adalah menyatu,
saat ku menginjak rumput,
biarkan ratusan tetes mendentam kepala.
Mencuci habis semua khawatir ini.
Hingga basah.
Akhirnya.
Thursday, April 20, 2006
Dialog mata
Waktu masih malu-malu,
kita jarang bicara.
Hanya ada tatap mata.
Sekarang masih sama.
Seakan tidak ada yang saingi,
pembicaraan tanpa kata itu.
Mungkin bila semua dicatat,
kita sudah bisa buat trilogi buku,
hanya dari dialog dua pasang mata!
Waktu masih malu-malu,
kita jarang bicara.
Hanya ada tatap mata.
Sekarang masih sama.
Seakan tidak ada yang saingi,
pembicaraan tanpa kata itu.
Mungkin bila semua dicatat,
kita sudah bisa buat trilogi buku,
hanya dari dialog dua pasang mata!
Scent II
Pagi menyambut dengan aroma embun,
dan malam dengan sejuknya rumput basah.
Bisa ditambahkan bau selembar toast,
coklat hangat di mug tanah liat,
atau mungkin nanti sabun mandi,
yang menggelitik hidung dengan kesegaran.
Tapi aku masih kebingungan,
karna cinnamon jelas bukan,
kopi juga kurang kentara.
Bisa jadi bau alami kamu,
ya tidak lain dari rumah.
Lengkap dengan halaman rumput,
pagar kayu warna putih setinggi pinggang,
dan perapian yang selalu hangat.
Pagi menyambut dengan aroma embun,
dan malam dengan sejuknya rumput basah.
Bisa ditambahkan bau selembar toast,
coklat hangat di mug tanah liat,
atau mungkin nanti sabun mandi,
yang menggelitik hidung dengan kesegaran.
Tapi aku masih kebingungan,
karna cinnamon jelas bukan,
kopi juga kurang kentara.
Bisa jadi bau alami kamu,
ya tidak lain dari rumah.
Lengkap dengan halaman rumput,
pagar kayu warna putih setinggi pinggang,
dan perapian yang selalu hangat.
Scent I
Kemarin seperti butuh tidur yang panjang,
atau malahan tidak sama sekali.
Rupanya sekarang xanax berbentuk aroma,
melekat disana sini mu.
Atau bisa jadi telah larut dalam saliva.
Kemarin seperti butuh tidur yang panjang,
atau malahan tidak sama sekali.
Rupanya sekarang xanax berbentuk aroma,
melekat disana sini mu.
Atau bisa jadi telah larut dalam saliva.
Satu warna
Tiga hari yang lalu,
aku berkebaya hijau,
di sebuah mimpi tengah malam.
Merah, kuning,
biru, jingga,
dan hitam sekalipun.
Tapi mungkin takkan pernah,
dalam balutan putih,
dan yang ini mimpi siang hariku.
Tiga hari yang lalu,
aku berkebaya hijau,
di sebuah mimpi tengah malam.
Merah, kuning,
biru, jingga,
dan hitam sekalipun.
Tapi mungkin takkan pernah,
dalam balutan putih,
dan yang ini mimpi siang hariku.
Wednesday, April 19, 2006
Ingatan akan sudut
Astakona,
keluar istilah itu.
Terlalu banyak sudut di bibir kamu,
belum sampai di ujung,
aku sudah lupa rasa di titik awal.
Atau mungkin kesalahan di neuron.
Amnesia selektif yang menyenangkan.
Jadinya aku harus kembali mengulang.
Dan lagi....dan lagi.....
Astakona,
keluar istilah itu.
Terlalu banyak sudut di bibir kamu,
belum sampai di ujung,
aku sudah lupa rasa di titik awal.
Atau mungkin kesalahan di neuron.
Amnesia selektif yang menyenangkan.
Jadinya aku harus kembali mengulang.
Dan lagi....dan lagi.....
Si bulan
Sepasang malam ini,
yang hadir si bulan separuh.
Sisi yang satu berselimutkan awan,
dan yang lain mencuri terangnya bintang.
Mungkin untuk ingatkan,
ada aku tapi juga ada dia.
Dan tetap,
indah merajai malam.
Sepasang malam ini,
yang hadir si bulan separuh.
Sisi yang satu berselimutkan awan,
dan yang lain mencuri terangnya bintang.
Mungkin untuk ingatkan,
ada aku tapi juga ada dia.
Dan tetap,
indah merajai malam.
Tuesday, April 18, 2006
Bibir rasa kopi karamel
Hanya karna kamu,
starbucks bisa tutup.
Pernah dengar kampanyenya?
Lip locking love of caramel,
savor the gooey,
buttery sweet...
Kalimat ajaib itu jadi basi,
habis sudah kamu tandingi.
Untung cuma aku yang tahu.
Hanya karna kamu,
starbucks bisa tutup.
Pernah dengar kampanyenya?
Lip locking love of caramel,
savor the gooey,
buttery sweet...
Kalimat ajaib itu jadi basi,
habis sudah kamu tandingi.
Untung cuma aku yang tahu.
Monday, April 17, 2006
Hanya diam
Malam ini aku ingin tidur tenang.
Tanpa harus menautkan jari,
lima jadi sepuluh.
Mau mimpi indah,
tidak pakai taman bunga,
hanya ada kedamaian.
Malam ini aku ingin tidur tenang.
Tanpa harus menautkan jari,
lima jadi sepuluh.
Mau mimpi indah,
tidak pakai taman bunga,
hanya ada kedamaian.
Sunday, April 16, 2006
Insomnia
Mulai merindukan insomnia itu.
Bukan, tentu bukan padaku.
Melainkan padamu,
yang kerap menggangguku,
tengah malam saja.
Tidak ada keengganan,
pengusik tidur di awal,
hanya ada pembuahan rindu di akhir.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih sakit?
Sepertinya aku,
yang mencari-cari kamu.
Mulai merindukan insomnia itu.
Bukan, tentu bukan padaku.
Melainkan padamu,
yang kerap menggangguku,
tengah malam saja.
Tidak ada keengganan,
pengusik tidur di awal,
hanya ada pembuahan rindu di akhir.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih sakit?
Sepertinya aku,
yang mencari-cari kamu.
Saturday, April 15, 2006
rindu hari ini
ada kamu pada tiap kata kata
kata di dinding putih
dinding merah hangat
dinding yang dekat pintu
dinding pembatas rindu
untuk meluruhkan itu
pasti sedikit sulit
apalagi di tanggalan merah begini
aku bisa saja mengelupas semua cat
bisa jadi nanti sampai semennya
dan tetap tidak habis rasa rasa itu
tapi kan malam harus sudah jadi lagi
apa itu rumah lalu kamar dan aku tanpa dinding
pasti mati kedinginan nanti
kecuali ada kamu disini..
ada kamu pada tiap kata kata
kata di dinding putih
dinding merah hangat
dinding yang dekat pintu
dinding pembatas rindu
untuk meluruhkan itu
pasti sedikit sulit
apalagi di tanggalan merah begini
aku bisa saja mengelupas semua cat
bisa jadi nanti sampai semennya
dan tetap tidak habis rasa rasa itu
tapi kan malam harus sudah jadi lagi
apa itu rumah lalu kamar dan aku tanpa dinding
pasti mati kedinginan nanti
kecuali ada kamu disini..
Super sonic out of you!
Semua kegilaan ini,
roller coaster tiket terusan,
sampai terlontar ke atas,
dan nyaris tak kembali.
Bawa pulang jutaan bintang,
hingga langit turunkan pagi,
karna kehilangan hiasan malamnya.
Semua kegilaan ini,
roller coaster tiket terusan,
sampai terlontar ke atas,
dan nyaris tak kembali.
Bawa pulang jutaan bintang,
hingga langit turunkan pagi,
karna kehilangan hiasan malamnya.
Sunday, April 09, 2006
Di suatu senja
Nanti saja.
Bukan tak lelah otak ini,
sama halnya pegal betis.
Hampir semua,
dan mungkin sudah semua.
Sampai-sampai hilang semua.
Tapi belum ada senja yang cukup indah,
tuk hentikan langkah kecil ini.
Dengan kehebatan rangkum mata,
dan selembar saja papan tuk rebahkan beban.
Nanti saja.
Bukan tak lelah otak ini,
sama halnya pegal betis.
Hampir semua,
dan mungkin sudah semua.
Sampai-sampai hilang semua.
Tapi belum ada senja yang cukup indah,
tuk hentikan langkah kecil ini.
Dengan kehebatan rangkum mata,
dan selembar saja papan tuk rebahkan beban.
Friday, April 07, 2006
Warna
Mirah merah matamu,
ingatkan haru biru hatiku,
hingga palsu jadi beku.
Mirah merah matamu,
ingatkan haru biru hatiku,
hingga palsu jadi beku.
Wednesday, April 05, 2006
Berbagi langit
Setelah malam ini,
kita pasti jadi buron.
Seenaknya membagi dua langit,
lengkap dengan bintang dan arakan awan.
Diliputi nafas setipis angin mati.
Untuk kamu disana dan aku disini.
Tinggal rindu yang hangatkan kita.
Setelah malam ini,
kita pasti jadi buron.
Seenaknya membagi dua langit,
lengkap dengan bintang dan arakan awan.
Diliputi nafas setipis angin mati.
Untuk kamu disana dan aku disini.
Tinggal rindu yang hangatkan kita.
Tuesday, April 04, 2006
Frame senja-mu
Seperti aku,
dengan sepasang mata,
jemari dan lensa.
Bagaimana bisa,
kau ciptakan sempurna itu,
sungguh adanya dalam rekaman otak.
Frame yang luar biasa, sayang.
Luruh semua sisakan bangga untukmu.
Seperti aku sendiri saja...
Seperti aku,
dengan sepasang mata,
jemari dan lensa.
Bagaimana bisa,
kau ciptakan sempurna itu,
sungguh adanya dalam rekaman otak.
Frame yang luar biasa, sayang.
Luruh semua sisakan bangga untukmu.
Seperti aku sendiri saja...
Saturday, April 01, 2006
Zoentjes
Ada hangat di balik renik hujan yang mengganas,
nyaris selembut awan yang kutarik jadi kapas,
dan kecup rindu jadi sayang jadi lepas...
Ada hangat di balik renik hujan yang mengganas,
nyaris selembut awan yang kutarik jadi kapas,
dan kecup rindu jadi sayang jadi lepas...
Thursday, March 30, 2006
Ciuman senja
Gurat merah di langit senja,
sedari awal bukan sandyakala.
Hanya bisa dijabarkan perlahan,
bukan sekedar aksara yang terserak,
dari nama seorang kamu.
Gurat merah di langit senja,
sedari awal bukan sandyakala.
Hanya bisa dijabarkan perlahan,
bukan sekedar aksara yang terserak,
dari nama seorang kamu.
Tuesday, March 28, 2006
Apa yang bersisa
Menulis kata beraroma cinta,
dengan ujung jemari,
dan juga tinta.
Tapi tidak lagi dengan hati,
tidak untuk malam hari ini.
Menulis kata beraroma cinta,
dengan ujung jemari,
dan juga tinta.
Tapi tidak lagi dengan hati,
tidak untuk malam hari ini.
Monday, March 27, 2006
Kata bermakna
Semua bisa tidur beralaskan kantuk,
tapi tidak bertangan kosong.
Karna tajam lidah siap sedia,
berdaya musnah pada harap seketika,
terutama saat bangun tidur.
Semua bisa tidur beralaskan kantuk,
tapi tidak bertangan kosong.
Karna tajam lidah siap sedia,
berdaya musnah pada harap seketika,
terutama saat bangun tidur.
Sunday, March 26, 2006
Gila dan cinta
Seperti gajah meta,
yang jatuh gila,
karna tersingkir,
dari kawanannya.
Dan kamu,
adalah se kawan ku,
satu-satunya.
Seperti gajah meta,
yang jatuh gila,
karna tersingkir,
dari kawanannya.
Dan kamu,
adalah se kawan ku,
satu-satunya.
Friday, March 24, 2006
Akhir yang menetap
Pada tiap qafiyah,
yang kutulis dan kau baca...
Biar lega menetap, karna hangatnya hati,
hindarkan malam pada pagi.
Pada tiap qafiyah,
yang kutulis dan kau baca...
Biar lega menetap, karna hangatnya hati,
hindarkan malam pada pagi.
Wednesday, March 22, 2006
Dejavu
Ingin kembali meramu masa depan,
dengan tawa, tangis, dan peluh asa.
Denganmu di tiap senja yang usai,
dan malam yang kian merajuk.
Rupanya aku jatuh cinta lagi,
padamu seorang.
Ingin kembali meramu masa depan,
dengan tawa, tangis, dan peluh asa.
Denganmu di tiap senja yang usai,
dan malam yang kian merajuk.
Rupanya aku jatuh cinta lagi,
padamu seorang.
Tuesday, March 21, 2006
Bias lama perempuan
Membakar dunia,
sepertinya percuma.
Dari dulu sudah penuh asap,
polusi dari kekayaan duniawi,
yang katanya dikerubuti perempuan.
Kamu hidup di duniamu sendiri,
yang rupanya jauh dari kesadaran.
Membakar dunia,
sepertinya percuma.
Dari dulu sudah penuh asap,
polusi dari kekayaan duniawi,
yang katanya dikerubuti perempuan.
Kamu hidup di duniamu sendiri,
yang rupanya jauh dari kesadaran.
Monday, March 20, 2006
Pilih dan jumlah empat
Pilih bobot,
gajah saja kalah,
mata yang merangkum semua.
Pilih kasih,
masih ada bunda,
yang tak pernah turun tahta.
Pilih tandhing,
siapa pula yang wicara,
lebih baik ku jadi penengah.
Pilih lalab,
paras rupawan bukan jaminan,
ranum usia masih bualan,
sepertinya butuh novena 7 x 7 !
Pilih bobot,
gajah saja kalah,
mata yang merangkum semua.
Pilih kasih,
masih ada bunda,
yang tak pernah turun tahta.
Pilih tandhing,
siapa pula yang wicara,
lebih baik ku jadi penengah.
Pilih lalab,
paras rupawan bukan jaminan,
ranum usia masih bualan,
sepertinya butuh novena 7 x 7 !
Thursday, March 16, 2006
Kini dan lalu
Kenapa turun hujan malam itu,
tanpa gemerisik daun menyela hening,
tidak penting lagi bagiku.
Semua telah basah,
benar-benar basah,
sedalam-dalamnya.
Kenapa turun hujan malam itu,
tanpa gemerisik daun menyela hening,
tidak penting lagi bagiku.
Semua telah basah,
benar-benar basah,
sedalam-dalamnya.
2 in 1
Kalau sudah habis tertawa,
sampai mengering air mata,
segera tarik nafas.
Dua hal yang penuh kesadaran,
dan satunya lagi sebuah kebiasaan.
Kalau sudah habis tertawa,
sampai mengering air mata,
segera tarik nafas.
Dua hal yang penuh kesadaran,
dan satunya lagi sebuah kebiasaan.
Saturday, March 11, 2006
Titik koma
Dia terus saja berlari,
sembunyi di dalam saku kemeja,
di balik lidah sepatu boot ayah,
menyatu padu di bawah lembaran karpet.
Dia terus saja berlari,
sembunyi di dalam saku kemeja,
di balik lidah sepatu boot ayah,
menyatu padu di bawah lembaran karpet.
Saturday, March 04, 2006
Up and Down
Seperti perjalanan balon udara,
yang ada di iklan-iklan.
Adrenalin naik seiring mengudara,
harum putik tertiup angin senja,
silau matari sedikit pedihkan mata.
Ah, ataukah itu embun di mata,
yang tak kuakukan air mata?
Hangat dekapmu ada,
saat telapak kaki kembali ke gelitik rumput.
Dan aku sudah belajar,
tidak ada masa depan yang pasti.
for my dearest Andry Dilindra
Seperti perjalanan balon udara,
yang ada di iklan-iklan.
Adrenalin naik seiring mengudara,
harum putik tertiup angin senja,
silau matari sedikit pedihkan mata.
Ah, ataukah itu embun di mata,
yang tak kuakukan air mata?
Hangat dekapmu ada,
saat telapak kaki kembali ke gelitik rumput.
Dan aku sudah belajar,
tidak ada masa depan yang pasti.
for my dearest Andry Dilindra
Masa depan
Untuk apa buang tenaga,
bergulat dengan ngeri,
untuk jatuh karna berlari,
sedang berjalan saja,
aku belum bisa.
Untuk apa buang tenaga,
bergulat dengan ngeri,
untuk jatuh karna berlari,
sedang berjalan saja,
aku belum bisa.
Kamu dalam pikiranku
Rontok rambutku,
komedo membandel di kelopak mata,
sembelit yang tak kunjung menghilang.
Itu kamu,
atau hanya pikiranku tentang kamu?
Yang awalnya begitu menyenangkan,
dan semakin dalam,
masih menyenangkan,
dan semakin dalam,
puncak menyenangkan,
dan semakin dalam,
hingga efeknya berbalik,
dan yang semakin dalam itu,
menjadi sedahsyat kanker!
Rontok rambutku,
komedo membandel di kelopak mata,
sembelit yang tak kunjung menghilang.
Itu kamu,
atau hanya pikiranku tentang kamu?
Yang awalnya begitu menyenangkan,
dan semakin dalam,
masih menyenangkan,
dan semakin dalam,
puncak menyenangkan,
dan semakin dalam,
hingga efeknya berbalik,
dan yang semakin dalam itu,
menjadi sedahsyat kanker!
Saturday, February 25, 2006
Dots in spot
Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.
Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.
Friday, February 24, 2006
Obrolan senja hari
Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.
Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.
thanks to badai..
Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.
Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.
thanks to badai..
Empty room
Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.
Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.
Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.
Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.
Thursday, February 23, 2006
Pasir dalam mata
Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.
Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.
Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.
Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.
Wednesday, February 15, 2006
Minimum
Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.
Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.
Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.
Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.
Sebuah papan selancar
Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.
Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.
Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.
Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.
Monday, February 06, 2006
Tidak beranjak
Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.
Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.
Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.
Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.
class; 21:05
Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.
Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.
Tuesday, January 31, 2006
Gurauan sebuah lagu
Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.
Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.
Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.
Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.
Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.
Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.
Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.
Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.
Saturday, January 28, 2006
Part III
Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.
Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.
Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.
Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.
Part II
Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.
Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.
Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.
Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.
Part I
Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.
Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.
Sunday, January 22, 2006
Foreplay
Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.
Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.
Wednesday, January 18, 2006
Spasi
Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.
Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.
Wednesday, January 11, 2006
Duple
Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.
Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.
Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.
Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.
Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.
Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.
Thursday, January 05, 2006
i don't know!
Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.
Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).
Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.
Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).
Wednesday, January 04, 2006
eyes for you
Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.
Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.
Monday, January 02, 2006
Dini hari
Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.
Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.
Seluas langit
Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.
Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.
Wednesday, December 28, 2005
Untuk indera
Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.
Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.
Tuesday, December 27, 2005
White Christmas
Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.
Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.
Thursday, December 22, 2005
Beda yang indah!
Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.
Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...
Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.
Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...
Wednesday, December 21, 2005
Twins
Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.
Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.
Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.
Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.
Sunday, December 18, 2005
Isi cerita sebuah rumah
Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.
Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.
Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.
Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?
Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.
Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.
Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.
Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?
Thursday, December 15, 2005
Pararel
Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.
Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.
Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.
Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.
Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.
Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.
Moon River
Dream maker,
you're heart breaker...
Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.
Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.
Dream maker,
you're heart breaker...
Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.
Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.
Tuesday, December 13, 2005
Bulan bulanan
Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.
Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.
Monday, December 12, 2005
piracy
Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...
Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.
Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...
Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.
Thursday, December 08, 2005
Cinta Sabun Cuci
Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?
Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.
Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.
Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?
Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.
Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.
Wednesday, December 07, 2005
Ah, bullshit!
Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...
Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...
Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.
Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...
Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...
Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.
Tuesday, December 06, 2005
Ingatan tak pernah larut
Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?
Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.
Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.
Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?
Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.
Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.
Monday, December 05, 2005
Alkisah Mahaguru
Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?
Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.
Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?
Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.
Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?
Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.
Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?
Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.
Sunday, December 04, 2005
Pada hidup kali ini
Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.
Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.
Monday, November 28, 2005
Zat fikir (bukan zat hijau)
Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.
Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.
Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.
Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.
Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.
Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.
Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.
Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.
Sunday, November 20, 2005
Cook Book
Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,
"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu
Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.
Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,
"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu
Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.
Thursday, November 17, 2005
Re-learning
Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.
Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.
Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.
Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.
Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.
Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.
Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.
Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.
Subscribe to:
Posts (Atom)