Image hosted by Photobucket.com

[Aku]




Other Side
Of Yore
Off Colour
Frames


[Mereka]

Abang
Anakecil
Andry
Aram
Boby
Buyung
Chia
Cipluk
Didit
Dork
DRM
Egobot
Fivda
Heru
Iqbal
Jelly
Jokpin
Mita
Nabil
Nyala
Olil
Ook
Raden
Rethar
Rya
Shofa
Sireum
Smara
Sukab
Terbang
Tiara
Titik Nol
This Boy
Wafie
Wiku
Wira
Yo
Zubia

[Media Seni]

10dencies


[Kalian]

Name :
Web URL :
Message :

Lay Out - [andry|dilindra] © 2005
 

 

Thursday, July 02, 2009

: Puisi di Hari yang Aneh :

Mimpi di kotak suara,
diam tanpa hembusan nafas.

Terlahir tanpa simbiois mutualisme,
terbentuk karna desakan waktu.

Tidak ada selamat pagi,
tanpa tidur yang terusik.

Tidak ada akhir kalimat,
sepanjang masa panen koma.

(Terusik, Juli 2009)


Seorang Sendja @ 2:20 AM
______________________________________________________________

 

Friday, May 01, 2009

Dongeng Ibukota

Adalah satu dongeng sederhana yang mematikan lampu-lampu di kamar tidurku,
menyulap pintu lemari jadi pintu gerbang kastil yang kokoh,
begitu megah dan tak tersentuh, mirip gedung-gedung tinggi ibukota,
yang membuatku silau bukan hanya karna kaca-kacanya,
tapi begitu banyak ambisi dan kesombongan,
mengutamakan kantong pribadi dan menenggelamkan kata rakyat,
yang seharusnya satu, yang seharusnya utama,
atau paling tidak diusahakan pertama.

Adalah satu dongeng sederhana yang menidurkan anak-anak bangsa,
dengan kelelahan mata dan jari akibat games elektronik,
melupakan lompat karet, gangsing, petak umpet,
membenci aktivitas outdoor dan mencintai keautisannya,
bukannya belajar berkawan, lebih suka melawan,
sama seperti suara-suara mereka yang berdemo,
satu stereo, tapi tak betul-betul mengerti maknanya,
bukankah komunikator yang salah bila pesan tak sampai.

Adalah satu dongeng sederhana yang membius kita semua,
mnghadirkan sejuta tanda tanya, ada apa setelah ini dan itu,
sehingga mau tak mau, semua turut serta,
membunuh pagi dan siang, menghapus sore hari,
supaya jutaaan tanda tanya tak beranak pinak,
atau jangan-jangan walau dipotong dengan pedang Lancelot,
tumbuh kembali seperti ekor cicak,
atau lebih parah cacing tanah yang mengganda.

Marilah kita lari pada malam,
begitu nyaman rasanya dalam gelap,
supaya siapa saja dapat mendongeng,
ganti-berganti menjadi pelaku dan korban.

Para pendengar selamat datang!
Setelah cuci tangan kaki dan sikat gigi,
layar panggung kembali terangkat,
untuk sebuah dongeng sederhana.

Djakarta, 30 April 2009


Seorang Sendja @ 12:41 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, April 22, 2009

Pengakuan yang Sederhana

Dia selalu mampir ke telinga mereka,
mengorek dosa-dosa yang tiba-tiba terlalu besar,
untuk keluar dari liang telinga.

Dia selalu menggedor hati kuat-kuat,
seperti ibu kos menagih uang bulanan,
menyebut anak kosnya ATM gedor.

Dia selalu terselamurkan nafsu,
membuat kita buta, hanya tahu hujan lebat,
dan embun di kaca jendela.

Kita menjadi mengkilat karena kesombongan diri,
memantulkan semua yang datang menyerang.

Bahasa kebenaran itu sederhana....

Ataukah kita yang terlalu rumit untuk mengakui kebenaran?

Cirendeu, April 2009


Seorang Sendja @ 3:01 AM
______________________________________________________________

Ciuman Rindumu

Kemaslah ciumanmu kecil dan rapat,
agar tak tercecer dan tak jatuh ke tangan yang salah.

Kemaslah ciumanmu kecil dan rapat,
agar bisa kusimpan di balik tempat foto pada dompetku.

Kemaslah ciumanmu kecil dan rapat,
agar tidak ada bibirbibir yang mengendusnya,
meraungraung minta dikasihani.

Tolonnnngggg..tolooooonnngggg,
mampirlah barang sejenak!

Perduli setan suara tak bertuan itu,
telinga ini sendiri haus ciumanmu.

Ciuman rindu yang kau kemas kecil dan rapat,
sebelum kau peras kuat-kuat..
amboiiii basahnya!

Cirendeu, April 2009


Seorang Sendja @ 2:50 AM
______________________________________________________________

Di Belakang Bangku Penonton

Tanpa gelap,
dalam keheningan,
bermodalkan empat jemari,
dua kanan dan kiri,
kuciptakan lorong panjang.

Memutarkan film hitam putih,
bisu, masih dalam keheningan,
trrrrssstttt...trrrrsssstttttttt..
begitu banyak titik hitam,
yang malah membuatku mengingat.

Hidup itu luka yang menganga!
Hidup itu diam terpana!

Itu sebabnya aku melupakan luka,
bukan terluka karena lupa.

Cirendeu, April 2009


Seorang Sendja @ 2:43 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, January 04, 2009

Kompleksitas Rasa

Kamu;
teka teki silang kehabisan tempat,
daun pintu tanpa gagangnya,
rajutan tak disimpul mati,

Membuatku..
tak butuh merokok setelah seks,
menikmati puding tanpa vla,
lupa diri di bawah hujan lebat..

Kamu
dan
aku,

komposisi warna tanpa rumus,
karna tidak pernah ada pengulangan yang sukses,
hanya sekali itu saja.

BV, Januari 2009


Seorang Sendja @ 12:29 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, January 03, 2009

Jari Kaki Ukuran Dominasi

Aku berusaha fokus,
pandangan lurus ke depan.
Mencari hal-hal tidak penting,
yang harus kubombardir biar terlihat penting.

Jari telunjuk kakimu,
tidak lebih panjang dari jempolmu.

Harusnya aku bersyukur,
kamu tidak seperti mereka.

“Hitler begitu, Mussolini juga. Siapa yang tahu Tse-tung tidak begitu?”

Aku tahu teori itu pasti salah.

Kamu sudah mendominasiku,
paling tidak pikiranku.

me-time, Januari 2009


Seorang Sendja @ 2:56 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 18, 2008

Draft II November

Bukan yang pertama,
tapi mungkin yang utama.

"Mungkin nanti kata-kata itu akan sekedar mengumpar di udara,
tapi kuharap kau masih mendengar nadanya."

sms tidak tersimpan rapih di draft,
mudah-mudahan tepat sasaran.


Seorang Sendja @ 3:03 AM
______________________________________________________________

Draft Bulan November

Ada yang terpampang,
imaji berselamur lampu,
entah siapa memburamkan apa.

Ada yang merasa,
hati kian memanjang,
sepanjang harapan,
sepanjang akal yang dicelup doa.

Ada yang tak bisa kulihat,
rasa dibalik imaji,
rasa yang ciptakan imaji,
click! click! click!

Mencuri jiwa dalam tiap frame,
membuat distorsi semakin buas.

Hati-hati,
kalau hatimu cuma satu.
Hati-hati gunakan hatimu.

:: dari sebuah "film' yang melintas di depan mata,
melompati hati dari belakang ::


Seorang Sendja @ 3:01 AM
______________________________________________________________

Sehitam Sapu Tangan

Kopi hitam,
sehitam-hitamnya.

Menghapus merah menganga,
sampai tuntas!
Hingga buram saja,
sehitam jelaga.

Kopi hitam,
kopi sapu tangan.

Menghapus gelisah,
sampai air mata.

Seperti amarah yang jebol,
seperti cokelat,
seperti seks.

Nowhere, Desember 2008


Seorang Sendja @ 2:55 AM
______________________________________________________________

Rumahku Nanti

Rumahku,
bukan sebuah bangunan megah,
bukan pula sekumpulan orang berpakaian mewah..

Rumahku,
adalah sebuah sinar yang hangat,
namun menyejukkan..

Memberiku petunjuk seperti bintang di langit yang gelap,
menuntunku pulang tepat pada tiap langkah,
menyambutku dengan sebuah rengkuhan.

Rumahku,
adalah tempatku berpulang.
Suatu hari nanti.

Dan sekarang hanyalah fatamorgana,
yang riuh rendahnya kadang memekikkan telinga.

Cirendeu, Desember 2008


Seorang Sendja @ 2:54 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 27, 2008

Perjalanan Rindu Antar Kota

aku benci merindukanmu
sambil menyetir sepanjang jalan tol
di bawah jejeran lampu yang sengaja dipadamkan
sekedar untuk penghematan
tanpa memikirkan keselamatan jiwa
hei malam ini saatnya rasa
perduli setan dengan nyawa

aku masih benci merindukanmu
dan selalu gatal untuk bertanya
adakah kau disana
di ujung jalan tol
yang sepertinya mulai terang
setelah berbelas kilometer
dan beberapa kelokan tajam?

aku makin benci merindukanmu
ternyata hanya gardu tol
dengan petugas tol bermuka kantuk
dan tangan yang terulur malas
dua puluh ribu sekian untuk antar kota katanya
memangnya aku ini supir bus
pakai instilah antar kota

itu itu yang buatku benci
bukan sekedar kesal
apalagi aku kembali sendiri
di tengah kota ini
masih saja bodoh untuk merindukanmu
mungkin baru selesai kalau lampu kota ikut dipadamkan..


Seorang Sendja @ 2:21 PM
______________________________________________________________

Diam yang Absah

Terkadang ada luka yang membekas lama,
walau perih baru terasa.

Membuat mulut gamblang berkata,
walau bukan hal yang biasa.

Kata yang tak tertata,
menggunungkan rasa murka,
menghilangkan semua suka.

Haruskah kita tak bicara?
Atau sekedar tak punya wacana?

Cirendeu, Oktober 2008


Seorang Sendja @ 2:21 PM
______________________________________________________________

Today oh Today

Yesterday is late,
tomorrow is too damn far..

Today is right now,
make the right decision,
and be consistent.

Because today is a gift,
that's why we call it PRESENT.

Cirendeu, October 2008


Seorang Sendja @ 2:20 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, October 15, 2008

! Kemungkinan

Mungkin ada...

setitik,
seberkas,
sekilat.

Seperti kilat,
yang menghabiskan semua,
menyerukan titik!

Dan meninggalkan berkas,
mungkin.

Titik Poentjak (Rasa), Oktober 2008


Seorang Sendja @ 10:37 PM
______________________________________________________________

A Champ is a Man of Wisdom

Getting close is a distance,
getting far is a trial,
with a big possibility you'll win the game.

When you think you already have it,
and you act like one,
that's the point where you're gonna lose it.

Be a winner,
act like one,
but don't get too comfy,
that's a loser's behavior.

Poentjak, Oktober 2008


Seorang Sendja @ 10:21 PM
______________________________________________________________

Cermin Harapan

Dia adalah cermin,
dengan lorong pantul yang panjang,
yang membalas satu kebaikan,
beribu kali lipat..

Yang mengembalikan tunas harapan,
dengan pucuk ranting setinggi tepian langit,
dan tentunya lebat hijau daun.

Tidak seperti manusia,
harapan yang kita letakkan,
seperti nafas yang terlalu dekat dengan cermin,
mengembun dan memburamkan pandang.

Mengandalkan manusia,
adalah suatu pilihan.
Mengandalkan-Nya,
adalah satu-satunya jalan keluar.

Cilandak, Oktober 2008


Seorang Sendja @ 10:08 PM
______________________________________________________________

 

Friday, October 03, 2008

Usiaku dan Seleramu

Gadis-gadis sekarang,
mati aku bersaing warna,
sesak karna usia tengah hari.

Kegirangan itu sudah berganti,
pijar lampu malam sudah meredup,
bukan karna semangat menghilang,
tapi karna tugas esok pagi.

Masih ada hari-hari lain,
yang bisa diakhiri tawa.
Denting gelas di balik lirikan mata,
senyum simpul dan beberapa persen alkohol.

Nanti kalau kau lelah,
dan ingin berbagi cerita.
Meminta sedikit perspektif dunia,
kita bisa berbagi kesenangan,
dengan cara kita sendiri.

Terbang ke Cilandak, Oktober 2008


Seorang Sendja @ 3:45 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, September 21, 2008

Sebuah Keluarga

letaknya hanya beberapa kaki,
dan ingatan masih lekat di hati,
hanya saja terlihat buram..

(meja makan, memakan kenangan)


Seorang Sendja @ 3:10 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 20, 2008

Pengantin dan Puisi

Untuk pernikahan Tiara & Bugie


Atas izin Sang Pencipta, puisi mengharapmu sebagai pengantin

Dua belahan hati saling mengikat diri, mewujud satu makna:

Sepasang mempelai yang dinobatkan dalam pelaminan agung

Kepada mereka diserahkan batang-batang pelangi

Untuk menggambar kanvas kehidupan dengan sesuka warna


Atas izin Pemberi Hidup, pengantin menyalinmu menjadi puisi

Baris-baris aksara seumpama langkah pembelajaran seluruh cinta

Seperti sedang mengisi bejana yang tak kunjung penuh

Dengan kata yang semula rahasia, dan selamanya rahasia

Menjadi paragraf serupa ombak, dibaca sepanjang hayat


Atas izin Sumber Gagasan, puisi dan pengantin itu berpadu anggun

Jadilah pengantin yang menumbuhkan pepucuk rumput di tepian gurun

Menghadirkan cahaya saat memasuki relung-relung tak berlampu

Menggubah nyanyian di tengah orkestrasi sedih tanpa selembar pamrih

Berperan sebagai matakata untuk percakapan dua hati yang terpatri


Tiara dan Bugie memahat hari pertama sebagai awal keluarga

Cerita yang berbeda setelah sepakat menempuhnya bersama

Separuh jiwamu milik pasanganmu, temali yang terulur dan terhela

Jalan di ujung pandangan mungkin rerumpun fatamorgana

Hanya dengan cinta, setiap harapan akan menjadi buah kenyataan


Jakarta, 16 Agustus 2008, pukul 15:20 WIB

Salam,

Kurnia Effendi



Seorang Sendja @ 1:04 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 07, 2008

Halaman yang Berbeda

aku di halaman dua
kamu di halaman tiga

sehebat apapun kita mencoba
tak pernah ada percakapan
di satu halaman yang sama

aku mendahului
kamu tertinggal
begitu juga sebaliknya
kala waktu merotasi plot kita

tapi di penghujung hari
setelah semua selesai dibaca
kita selalu bertemu
saat buku kembali ditutup
bertemu tanpa pernah bersama

perenungan dua yang berbeda, Agustus 2008



Seorang Sendja @ 3:24 AM
______________________________________________________________

Siang yang Pecah

aku masih teringat siang itu
tidak ada yang bergerak
hanya alis dan keruh mata bercerita
semuanya diam
mungkin kita lupa bernafas
tapi bagaimana hati ini
degupnya mendominasi kebisuan

siang yang nahas itu
mana kutahu kau akan begitu
raut mukamu terlihat kaku
seperti awal kita bertemu

hari ini juga aku berhenti
melepas cinta di ujung lensa
menuang warna di klise film
katamu pecah

tidak mau lagi mengabadikan momen
kalau harus melihatmu begitu menawan
tapi jatuh di tangan lawan

aku masih teringat siang itu
mataku panas
mungkin aku yang harus berhenti
membuatmu gila seperti ini

mengenang cerita, Agustus 2008


Seorang Sendja @ 2:29 AM
______________________________________________________________

 

Friday, July 25, 2008

Seputaran Mimpi

Gelisah malam kali ini.

menderu-deru
angin
berpusar-pusar

Mimpi, mimpi....!!
Kata pucuk langit yang jadi persinggahan.

Tidurlah lelap,
pagi masih lama menarik kekangnya.
Ringkikannya yang nanti kan bangunkanmu.

Bandung, Juli 2008


Seorang Sendja @ 12:36 AM
______________________________________________________________

Menangisi Rindu

Matanya kabur.
Hujan lebat pagi ini,
di balik kelopaknya.

Kemana manis?
Kemana kau pergi?

Aku sudah lama kehilangan masa lalu,
apalagi sekedar selasa ungu.

Mereka pecah dan buyar!
Di tiap pucuk pagi,
menanamkan rindu entah dimana.

Aku kehilangan rinduku.

Bandung, Juli 2008


Seorang Sendja @ 12:33 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, June 14, 2008

Bukan Sekedar Halaman

Halaman ini tidak akan pernah kusapu,
atau sekedar kurapihkan.

Biar semua begini adanya,
dengan cerita kita yang kian banyak,
dan senyummu yang jadi tepinya.

Halaman ini tidak akan pernah kuubah,
apalagi kujadikan mati.
Semuanya harus tumbuh,
kenangan kita, seiring dengan sesakku.

Biar semua begini adanya,
aku mati pelan-pelan,
dan halaman ini hidup selamanya.


Kenangan blogsite tua, Juni 2008


Seorang Sendja @ 1:32 AM
______________________________________________________________

 

Friday, June 13, 2008

Sanctuary Love

My sanctuary,
that's who you are..

Safest place in this whole wide world,
where I can be kind-hearted,
or even play another dark round.

Acting with free will,
be whoever I wanna be.
The ability to do,
or not to do anything.

My sanctuary,
where I search for a peace of mind..

You're my final destination,
what could I ask for more.

Cirendeu, Juni 2008


Seorang Sendja @ 4:37 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, May 20, 2008

Malam Bercerita

ada cerita tentang kamu

yang mengusik sunyi senyap
gelap yang melindap

membuat ku tak sadar
meraih gitar yang lama terlantar
memainkan cerita yang mirip sebuah kelakar

ada cerita tentang kamu

dengan aku di dalamnya
tapi masih saja ku tertawa
dengan tiga belas otot muka
yang tak pernah berhenti bekerja

sampai waktu habis lalu aku berair mata
semalam suntuk dari rasa lega

ada cerita tentang kamu

belum selesai ditulis
takkan habis dibaca

Cirendeu, Mei 2008


Seorang Sendja @ 2:22 AM
______________________________________________________________

 

Friday, May 16, 2008

Apakah Rindu

Rindu.
Seperti badai yang datang tiba-tiba.
Tanpa gejala, lalu membawa segala.

Rindu.
Seperti kematian yang menyergap.
Saat nafas kehidupan masih berderap.

Jack House, Mei 2008


Seorang Sendja @ 6:50 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, May 13, 2008

Nada Cerita Lama

Sebuah buku, dengan lembar-lembar yang menua,
warna kuning menyatakan usianya.

Hanya saja aku tak pernah kesulitan membacanya,
walau kata-kata yang memudar selalu melemahkan akalku.

Aku masih tertawa karna gurauan yang sama,
dengan ujung halaman terlipat,
bercak disana-sini.

Aku masih menangis pada titik koma yang sama,
bukan serupa tapi lagi-lagi sama.

Cerita yang itu-itu saja,
menjadi tempatku mereka ulang petaka,
sembari sesekali mengaku dosa.

Cilandak, Mei 2008


Seorang Sendja @ 2:07 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, May 10, 2008

Tengah Agustus

Waktu lebih giat dari usia.
Di suatu senja merah dadu,
dengan bahagia aku berhenti menua,
karna telah hidup bersamamu.

Cirendeu, Mei 2008


Seorang Sendja @ 2:49 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, April 08, 2008

Pencurian Besar-Besaran

Kembalikan mimpiku, hai pencuri!

Malam baru tiba, mata belum merapat,
kau ingin aku mengingat lekat-lekat.

Pada mimpi yang kuloloskan dari kedua belah paha,
yang kugantungkan di balik pintu,
dan mimpi yang kujahit kembali karena bolong.

Mimpi yang bisa kau curi begitu keluar dari cucian,
sebelum kurapihkan dengan beban hidupku,
dan keringat mataku.

Dasar penjahat!

Cirendeu, April 2008


Seorang Sendja @ 12:41 AM
______________________________________________________________

 

Friday, March 28, 2008

Foto Biru Kesukaanmu

Kau menggenangkan sejarah di biru fotomu,
membiarkan kunang-kunang terpatri dalam pigura,
dengan sinarnya yang berpendaran.

Mereka basah,
berkerlip gelisah.

Entah apa yang hendak kau pegang,
kami buram, karna jelas ingatanmu.

I believe, you're better than that =)

Cirendeu, Maret 2008


Seorang Sendja @ 1:27 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, March 25, 2008

Sepatu dan Kesetiaanku

Dengarkan aku,
lewat derap kaki yang sama.

Saat gembira, gelisah,
marah ataupun bergairah,
bunyinya terdengar sama.

Hanya terkadang lebih cepat,
atau sesekali melompat-lompat.

Tetap sama karna sepatu darimu,
yang berkali-kali kuganti solnya,
yang tetap pudar walau baru disemir.

Aku tetap setia padamu.
Lewat sepatu tuaku,
aku selalu ingat padamu.

Cirendeu, Maret 2008


Seorang Sendja @ 12:36 PM
______________________________________________________________

Pertanda Datangnya Hujan

Aku tidak pernah tahu,
kapan kau akan menangis.

Ketika kau resah,
bergulung-gulung menjadi gelisah,
lalu akhirnya berujung air mata,
aku tak pernah tahu.

Aku hanya tahu kau pernah meminjam renyai hujan,
dari lembaran buku puisi yang entah,
lalu kau sembunyikan baik-baik,
tanpa ijin dan lengkap kalimat,
hanya kau yang tahu dimana.

Untuk hari besar itu, hari baik katamu,
hari yang paling pas suasana hatimu,
dimana kau rebahkan kepalamu,
dan memulai renyai hujanmu.

Aku basah, tidak hanya kemejaku,
tidak karna air matamu.

Cirendeu, Maret 2008


Seorang Sendja @ 12:30 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, February 20, 2008

Rasio Menyesatkan

Lama betul aku tidak menulis,
seperti lupa pada jalan pulang,
gerimis menghapus jejakku,
dan burung gereja memakan remah rotiku.

Lama betul aku tidak menulis,
seperti perempuan separuh abad,
yang duduk bersandar kekenyangan,
setelah memakan satu dunia.

Lama betul aku tidak menulis,
ataukah dunia tlah menjelma sepotong roti,
yang kukunyah perlahan sampai habis,
membuat manusia paling rakus,
ada di seberang cerminku ini?

Cirendeu, Februari 2008


Seorang Sendja @ 1:40 AM
______________________________________________________________

 

Monday, February 18, 2008

Kembali Benar

Hanya orang besar,
yang berani dua kali berputar,
untuk kembali ke jalan yang benar.

Cirendeu, Februari 2008


Seorang Sendja @ 7:33 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, February 07, 2008

Hanya Satu Arah

Sebanyak apapun kau menangis,
biar bulan habis dimakan malam,
kau hanya bisa menyusuri tepian sungai.

Berjalan bolak balik pun,
takkan mengubah arah alirannya.

Barito, Februari 2008


Seorang Sendja @ 1:05 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 23, 2008

Fotografer Tanpa Kamera I

Kalau kau urai benang raja dengan ketujuh warnanya,
mungkin masih kalah dengan tujuh kali tujuh kali tujuh,
kombinasi warna milikmu yang tak luntur usia.

Bintaro, Januari 2008


Seorang Sendja @ 1:03 AM
______________________________________________________________

Reuni Imaji-Rasa

Kulihat kau melihat dunia dilihat telanjang,
lengkap sempurna tanpa penglihatan,
tanpa terang yang kerap mencipta bayangan.

: pn

Bintaro, Januari 2008


Seorang Sendja @ 12:54 AM
______________________________________________________________

 

Friday, January 18, 2008

Merasai Rasa

Kau bisa tumbuh semakin tinggi,
dengan mengacuhkan semua rasa.

Jadi perempuan memang harus perasa,
bukan berarti membuang fungsi otak.

Rasa-rasanya, ini saat yang paling tepat,
untuk sedikit saja merasai.

Tebet, Januari 2008


Seorang Sendja @ 1:11 AM
______________________________________________________________

Nikmatnya Semalam

Cemburu itu nikmat,
seperti kulit gatal kena garuk.

Cirendeu, Januari 2008


Seorang Sendja @ 1:03 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 27, 2007

Setengah Pencuri

Kali ini aku kehilangan siang hari,
setelah kemarin malam yang jadi sasaran.

Aku juga kerap meluputkan hari-hari genap,
bahkan hari Sabat termasuk di dalamnya.

Lima belas hari tiap bulannya,
juga pada mereka yang tak bulat sempurna,
semua hilang.

Bagi dua saja keseluruhanku,
itu akan menghemat kerjamu.

Saat kau pergi dariku,
kenangan dan setengah usiaku,
turut kau kemas dalam kopermu.

for my long lost partner, cmy..

Cirendeu, Desember 2007


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 26, 2007

Inti Diri

Kunyalakan pijar tanpa sumbu,
yang kerap bermain,
melayang-layang diayun bayu.
Kenapa kini harus kupendam,
ditimbun dan dilupakan,
mati tanpa udara?

Cirendeu, Desember 2007


Seorang Sendja @ 2:30 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 12, 2007

Sewindu Katamu

Kata-katamu awalnya berbaris rapat,
lalu dengan cepat membentuk koloni,
berhamburan keluar dari layar monitor.

Kata-katamu membuat mataku kesemutan.
Bukan karna tak tahan membacanya,
tapi karna membuatku sulit saat berjalan.

Kata-katamu,
buat mata-mataku,
nyaris-nyaris buta!

Cirendeu, Desember 2007


Seorang Sendja @ 1:35 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 11, 2007

Terpisah

Aku tidak mencari ketenangan lonceng gereja,
pun ketujuh sakramennya.

Aku mencari ketenangan yang rasional,
tanpa kau tarik garis batas,
dan menyebutnya sakral.

Cirendeu, Desember 2007


Seorang Sendja @ 7:43 AM
______________________________________________________________

 

Friday, December 07, 2007

Merdeka

Aku tidak pernah mau dan merasa harus menghapus jejakmu dari tubuhku.
Seperti sekarang kubiarkan keringat dari pori kepalaku,
bertemu di tengah batang, dengan milikmu yang tersisa di ujung rambutku.
Biar nanti mereka berkibar kuat-kuat,
menandakan kemerdekaanmu atasku.

Beverly, Desember 2007


Seorang Sendja @ 2:51 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 04, 2007

Tanda Baca Baru

Jangan salah sangka, jangan salah duga,
jangan salah tebak, kalau lama-lama aku jadi kamu.
Membaca kamu jauh lebih mudah dari merasaimu.

Kata-katamu lembut menyusup,
dibacakan oleh angin yang sembari lewat.
Berdiam di lekuk telingaku lama sekali,
sampai tak larut-larut,
berapa lama pun waktu mengaduknya.

Kalau kau sejujur kata-katamu, mungkin kamu bukan kamu,
aku bukan aku, dan kita sudah menjadi kita.
Kau itu tanda baca, yang menghentikan kalimat-kalimatku yang memburu.
Kau mengisi jeda, tanpa perduli betapa kosongnya dirimu.
Seharusnya tidak begitu, kamu seharusnya tidak begitu.

Tebet, Desember 2007


Seorang Sendja @ 11:22 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 02, 2007

Berkala

Pernah kusiakan masa kini yang berbaris,
karna suatu hal yang kutakuti di masa depan.
Takkan lagi kugerogoti pancang masa depanku,
hanya karna gema masa laluku.

Cirendeu, Desember 2007


Seorang Sendja @ 11:47 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, November 27, 2007

Kehangatan Air Mata

Waspada selama berjam-jam,
membuat malam begitu asing.
Tak bisa lagi kukenali baunya,
sudah hilang aroma khas itu..

Kuulurkan tangan hendak meraba,
hanya hangat yang terasa.
Menggelincir cepat dari pelupuk mata,
bersama satu, dua tanda tanya yang tersisa.

Cirendeu, November 2007


Seorang Sendja @ 12:47 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 29, 2007

Memaknai Hujan

Mereka takut pada hujan,
bergairah pada saat yang sama.

Begitu menikmati atmosfer yang ditiupkannya,
tapi tak berani terlalu dekat,
hanya sekedar pandangan lekat.

Hujan seperti dosa,
baunya melekat di rambut dan pakaian,
walau sudah lama mengering.

Tak seperti mereka,
kau mirip aku.

Tak perdulikan basah tubuh,
tak merasa harus mengusap rambut,
dan sembunyikan basah yang menggairahkan.

Samarinda, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 6:44 PM
______________________________________________________________

Sebait Kata

: sederhana

Mengeja lisanmu,
seperti menghafal resahmu.

Terima kasih untuk pernah menjawab,
semua pertanyaan yang tak masuk akal,
dengan kalimat sederhana;
aku cinta padamu.

Medan, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 6:38 PM
______________________________________________________________

Percakapan Sore Hari

Perempuan itu banyak,
cantik itu biasa.

Tapi menjadi perempuan yang setia,
aku tengah mempelajarinya.

Karawaci, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 6:35 PM
______________________________________________________________

Sebait kata

: memori hujan

Suara hujan,
selalu terdengar seperti nyanyian,
buat telingaku yang mengenangmu.

Kadang lebat begitu menghantam,
kadang ringan begitu menggoda,
seperti pribadimu; hujanku,
yang pernah kukenal dalam.

Biar malam ini banjir,
saat ku dijadikan kekasih hujan,
menghancurkan tubuhku,
tapi mengisi jiwaku.

Medan, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 6:24 PM
______________________________________________________________

Sebait Kata

: spesial

Begitu mudah kau tata kata,
takaran yang tak masam di lidah,
saat ku mengejanya..

Tak pernah kutimbang kata,
lebih berat dari tindak.
Kecuali berlembar-lembar surat cinta,
yang masih melekat di benak.

Tergaris dan tercoret oleh air matamu,
kuingat betul rasanya.

Medan, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 6:10 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, October 16, 2007

Mata Cermin


Mendekatlah,
hampiri terang mata(ku) yang kian memudar..

Bersabarlah,
tetap pandangi lekat-lekat..

Sebentar lagi kau bisa berkaca,
setelah embun usai membayang,
hanya sisakan hitam pekat..

Bintaro, Oktober 2007



Seorang Sendja @ 4:13 PM
______________________________________________________________

 

Monday, October 15, 2007

Lukamu Untukku

Satu kali saja,
aku terluka.

Berulang kali, belasan bahkan puluhan,
kucoba mengisinya dengan air mata.

Habis milikku,
kubuat kau terluka.

Biar lukamu berair mata,
agar sembuhkan lukaku.

Aku tak pernah tahu,
luka adalah pusaran air,
yang tak pernah bisa dipenuhi.

Cirendeu, Oktober 2007


Seorang Sendja @ 2:59 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 26, 2007

Sulitnya Jadi Senja

senja yang sempurna
berkeluh kesah tentang privasinya yang terganggu
segerombolan orang selalu datang dan menelanjanginya
tidak tahu malu bahkan tanpa permisi

senja yang sempurna
selalu khawatir
akan surai keemasan
yang rontok lantaran digapai
diturunkan secara paksa

senja yang sempurna
tak lagi bahagia
ingin jadi rombeng
berwarna putih butek
yang tak pernah diandaikan
sbagai wajah mulus ala iklan kecantikan

Karawaci, September 2007


Seorang Sendja @ 3:05 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, September 16, 2007

Nyala mu

Adalah api,
yang lekat pada sumbu,
tanpa harus dinyalakan..

Yang berdiam,
tak kenal waktu,
berpijar menuntunku pulang..

Yang tak pernah sekalipun,
membakar rumahku,
selagi ku pergi bersama angin..

Adalah kamu,
di mata dan hati ku.

Cirendeu, September 2007


Seorang Sendja @ 9:42 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 05, 2007

Come Sail the Love

I always to figure it out,
where the wind is coming from..
but I do need a windex,
it is the sound of your needs..

Let the wind blow onto our back,
and feel it by turning our head left to right and back..

You will know the direction,
you will feel the love..

Loving you is plain sailing..

for my love,
happy anniversary..!

Cirendeu, September 2007


Seorang Sendja @ 11:53 AM
______________________________________________________________

 

Monday, September 03, 2007

Gambaran Sempurna-Nya

Bukalah mata,
kedua jendela.
Mungkin masih tak sampai,
secerah langit tinggi makamnya,
berjingkatlah sedikit,
meningkap kehebatan-Nya.
Mengelir padang jadi hijau,
dengan bias pelangi di sudutnya,
ditanamkan-Nya guci tanah liat,
berisi harapan yang pekat.

Cirendeu, September 2007


Seorang Sendja @ 2:09 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 01, 2007

Suara Hati

Lonceng tua berkarat,
berat karna dosa usia,
dilupakan bunyi begitu saja.

Sedang apa kau di bawah sana,
mengayun tali, mengharap dentang?

Biar saja mengalir deras,
dari luka keluar merah setelah hitam,
menyisakan kuning keemasan.

Bebaskanlah kami dari yang jahat,
yang teramat sangat jahat,
dari dalam hati ini.

Hati yang murni,
menyempurnakan nada,
jelas dan jernih...
untuk diperdengarkan kembali.

Cirendeu, September 2007


Seorang Sendja @ 2:21 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 30, 2007

Hilang Kata

Kemana kata,
yang biasa menemani senja hari,
membuat secangkir teh semakin manis,
larut disesap oranye langit?

Kemana kata,
yang selalu mampir,
di malam dingin,
jadi mantel berkerah bulu cerpelai?

Kemana kata,
mungkin ada di kedua sudut bibir,
melengkung turun,
berduka karna basah mata?

Aku rindu,
kemana kata?

Bintaro, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 5:22 PM
______________________________________________________________

 

Monday, August 27, 2007

Tentang Kekasihku

Semalam suntuk aku bersamamu,
untuk bisa menulis lewat mata,
genangan yang mengering,
menyisakan sedikit noda.

Tapi untuk bercerita tentangmu,
waktu akan habis,
sampai kerak tak tersisa,
dan masih belum selesai.

Bintaro, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 10:11 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, August 11, 2007

SMS

Mataku tertinggal cepat jari,
mencari nama menyusul angka,
kukirimkan! Wush...!!

Sudah, lebih susah mengirimkannya,
ketimbang merekonstruksi ingatan tentang kamu,
dan membuat ratusan bait indah karnanya.

Cirendeu, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 1:40 AM
______________________________________________________________

Kisah Mimpi

Mengasuh mimpi dalam palungan,
lebih sulit ketimbang melahirkannya.
Sekarang bagaimana caranya,
agar tidak tercecer dan dimakan hewan ternak.

Cirendeu, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 1:28 AM
______________________________________________________________

Panas Dingin

Penetrasi panasmu,
membekukan ingatanku.

Bandung, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:23 AM
______________________________________________________________

Serangkai Tiga

Rambutmu kelambu yang merapal wajah semakin manis saja,
hitam membingkai putih menyesatkan mataku tak tahu tujuan..

Matamu sebuah jawaban, dari pertanyaan sepenuh bulat matahari,dan kalimat yang menggantung resah seperti awan putih kebiruan..

Bibirmu cawan yang menampung semua jenis anggur lezat tak bernama,
yang juga tak berkawan dengan hari dan usia,
hingga tetap matang dalam manis tiap reguknya..

Cirendeu, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 1:20 AM
______________________________________________________________

Jejak Basahmu

Aku terbata-bata membaca jejakmu,
tanpa tahu kapan kau pulang.

Selepas gerimis waktu nampak begitu serasi,
hanya di sendu kedua bola matamu.

Lari-lari kecilmu tak meninggalkan basah disana-sini,
tapi masih belum mampu selamatkan aku dari jatuh (cinta) kepadamu.

Yang tak sekali,
pun tak habis berkali-kali.

Bandung, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:01 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, August 05, 2007

Pencuri Start

mencuri dengar tiap kali hening berdentang
menyapu gerimis sebelum merah hijau dikelir pelangi
dasar tak tahu malu
selalu datang tak sopan waktu

Cirendeu, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 11:25 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 02, 2007

Pemikir Sepi

Kembalikan sepi,
dia yang tak jemu berdiam diri.

Resah betul aku,
dengan ramai ini..

Ada apa pula dengan para jemari,
sibuk meracau sendiri?

Cirendeu, Agustus 2007


Seorang Sendja @ 10:21 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, July 31, 2007

Repetisi

Kudengarkan lagu yang sama,
dengan derita berbeda.

Seperti pengulangan tanda tanya,
di genap air mata.

Bandung, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:47 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, July 05, 2007

Sudah bersihkah Anda?

Mirip orang berpuasa,
air mukanya tak bercerita.

Putih walau tidak bersih,
tampilannya seperti malaikat.

Tidak ada guratan sedih,
kerutan gelisah, apalagi amarah.

Semua sudah dicuci habis,
sebelum masuk ruang sidang.

Lewat lubang wastafel mereka dibuang,
dekat kaca bertuliskan, "Sudah bersihkah Anda?"

thanks to Danarto

TIM, Juli 2007


Seorang Sendja @ 10:05 PM
______________________________________________________________

Serigala Rupawan

semakin kau rapihkan alis itu
hitam berkelir
meneduhi sepasang mata
yang membekukan gerak
meledakkan sensasi

semakin aku curiga
sekujur tubuhmu berbulu
rupanya kau termasuk di dalamnya
sekawanan serigala yang rupawan

Cirendeu, Juli 2007


Seorang Sendja @ 9:58 PM
______________________________________________________________

Kejujuran Sepasang Mata

Tak perduli sial tujuh turunan,
kupecahkan kaca di segala penjuru rumah.

Aku hanya ingin keyakinan,
bukan keraguan setiap kali ku berkaca.

Cirendeu, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:46 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, July 04, 2007

Senjata dan Pena

aku tak hidup di jamanmu
belum mampu merasuk ke lengan dan ototmu
yang dirupiahi entah berapa

aku hidup di jamanku
hampir tak penuh gelisah karna amarah
kau buruh mereka kapitalis

aku tak pernah benar-benar hidup
bila tidak bisa menyumbang sebuah kalimat
penyemangat yang kau tukar dengan darah dan air mata

Bukan Kata Baru (WT) sebagai inspirasi..

Cirendeu, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:49 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, July 03, 2007

Bercerita Luka

Sepanjang sore madu dalam secangkir teh tak terbaca,
kalimat yang kudengar panjang pahitnya..

Coffee Club, Juli 2007


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, June 16, 2007

Mata Baca(ku)

Dari tadi lari kemana?
Ingin jadi titik fokusmu,
walau sebelah mata saja.

Kemang, Juni 2007


Seorang Sendja @ 1:22 AM
______________________________________________________________

Pencuri Usia

Kau memakan garis usia di telapak tanganku,
meninggalkanku tua sebelum waktunya.

Cirendeu, Juni 2007


Seorang Sendja @ 1:16 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, June 13, 2007

Air mata

Dia mencuci hati yang dendam,
dengan mata tetap terpejam.

Cirendeu, Juni 2007


Seorang Sendja @ 12:19 PM
______________________________________________________________

 

Monday, June 11, 2007

Perubahan Arah Angin

Kapal yang terbakar,
tidak membutuhkan dermaga baru.

Cirendeu, Juni 2007


Seorang Sendja @ 3:12 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, May 31, 2007

Hitungan Minggu

Aku ingin bersamamu tujuh hari seminggu,
tak hanya pekan lalu atau lain waktu.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 11:12 PM
______________________________________________________________

 

Monday, May 28, 2007

Sakit Ingatan

Hidungku buntu,
apalagi otakku.
Hanya ada sedikit kenangan,
yang buatku tersungkur.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 12:02 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, May 27, 2007

Mata(mu) Kompas

Malam itu kau telanjang.

Kukira di balik kemejamu,
ada jawabnya.

Atau paling tidak ada petunjuk,
di dalam celanamu.

Seharusnya aku kembali ke titik awal,
mata yang memerangkapku,
dalam.

Aku pulang,
tiada tersesat.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 11:53 AM
______________________________________________________________

 

Monday, May 21, 2007

Aku Tak Bersyarat

Dengannya kubangun pasir jadi istana.
Biar dikoyak angin, malam-malam betul,
disandera tanpa jaminan dan waktu.

Dengannya bunga jadi beku.
Diam tak lekang waktu,
dalam sebuah lagu.

Dengannya kusaksikan matari malu-malu,
turun dari tahtanya,
setelah setengah hari dirayu.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 11:49 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, May 19, 2007

Sebuah Nama

: Daddy

Bapakmu punya anak-anak lain untuk dikawinkan,
tapi bapakku hanya punya satu anak untuk diantarnya.

Berilah kehormatan itu,
seperti dia memberi nama untukmu,
yang menjadikan kita saudara.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 10:31 AM
______________________________________________________________

Judulku Belum Datang

Selepas peron mata tak bisa diam,
seperti gelisah dalam dudukku.
Sebuah perjalanan untuk apa dan bagaimana,
kembali menjadi tanda tanya.

Kenangan yang kuselipkan dalam ransel menguap tanpa permisi.
Mengusik sekumpulan cita yang kubangun di tengah riuh rendah.

Berkendara selayang pandang,
aku seperti tak tahu mau dibawa kemana.
Masih buram dan pucat warna,
seperti asap lokomotif di ujung sana.

Mungkin nanti ada jawab,
dijajakan dengan harga bervariasi,
di tiap stasiun pemberhentian.

Tinggal baik-baik aku memilih,
syukur-syukur bisa menawar.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 10:15 AM
______________________________________________________________

Penanggalan Terbaik

akan kusisakan malam yang keramat untukmu
tepat di tanggal delapan belas
akan kumandikan bunga panjang kali lebar tegel batu itu
masih dengan merah mawar yang pernah kau sebar
akan kuurapi bangunan satu setengah level
yang membuat kamu lelah naik turun
menyiapkan gantungan lampu temaram katamu

akan kusisakan malam yang keramat untukmu
biar mabuk yang ciptakan euphoria
menemaniku berkhayal
seakan ada kamu dan mereka
sumber bahagiaku

sampai akhirnya
malam keramat
tak bisa diritualkan lagi

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 3:15 AM
______________________________________________________________

Kata-kata Busuk

aku benci puisi
yang mati tertusuk duri
diam mencekam
nyaris berbau sampah
teronggok begitu saja

aku benci kata
yang sekarang mengambang
sekenanya
mengosongkan toples
mengiris belahan fikir
tapi hampa
percuma

aku benci semua
yang indah jadi buruk
aku yang ikut mati
karna kenangan sepanjang tahun
membuat kelu lidahku
memenuhi lembar putih
dengan sumpah serapah
tak lagi melahirkan
kata bahagia
yang beranak pinak

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 2:52 AM
______________________________________________________________

Sinopsis

setelah kau pergi
datanglah serombongan orang
yang lalu duduk berkeliling
putar memutar gelas seng
isinya riak bercampur darah
karna air mata sudah berkerak

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, May 17, 2007

Yang Jadi Perkara

Lapar dan haus tak pernah jadi perkara.
Rasa menggumpal seperti darah mati ini,
yang menyurutkan langkahku.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 12:40 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, May 15, 2007

Jatuh Tak Mau Bangun

Jatuh kali ini terasa melegakan,
tanpa ada usaha melawan gravitasi.

Aku menikmati
jatuh (cintaku) lagi
padamu..

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 12:04 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, May 12, 2007

Kata Berhambur Makna

Pertemukan aku dengan kejujuran,
bukan di malam-malam bias.
Yang gelap, memabukkan,
dan bertanda tanya.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 3:07 PM
______________________________________________________________

 

Friday, May 11, 2007

Kalimat Terakhir

Akan kupinjamkan banyak pupur,
lengkap dengan concealer.

Boleh kau buang hari-harimu,
hingga habis tanggalan di dinding,
mencoba perbaiki air muka yang hancur.

Aku akan tetap disini.
Menghidupi hari-hariku,
menghapus eyeliner,
yang berulang kali rusak,
karna air mata kujadikan make up remover.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 11:31 AM
______________________________________________________________

Satu Pesan Masuk

Perih mampir ke kotak pesanku.
Saat kukibas malahan terlempar telepon genggamku.

Lokananta, Mei 2007


Seorang Sendja @ 11:27 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, May 10, 2007

Perjalanan Mata

Sepasang mata kecil,
berlarian menangkap cahaya.

Sampai akhirnya terantuk kerikil,
bayangan jadi kenangan.

Menemukan kembali rumah,
dalam rongga milik tetangga.

Kemang, Mei 2007


Seorang Sendja @ 3:30 AM
______________________________________________________________

Makan Malam

Ambil, makan, dan habiskan mataku.

Biar kegelapan menemani,
menidurkan rindu malam ini.

Kemang, Mei 2007


Seorang Sendja @ 3:28 AM
______________________________________________________________

 

Monday, May 07, 2007

Pukul(an) Pagi

Semalam tak kupasang weker pagiku.
Mati hatiku yang tergerak mengguncang tidurku.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 10:27 AM
______________________________________________________________

Mabuk Kata dan Anggur

I.

Biar kubuat kau mabuk,
supaya kata keluar masuk.

Dari kata lari ke rasa.
Menggelitik perutku,
mirip sayap kupu-kupu.

II.

Jangan kau diam,
nanti aku curiga.

Lewat mana anggur menyelinap masuk?
Jelas tak mungkin kau larikan,
di balik lengan kemeja.

Coba ulangi sekali lagi.
Kamu yang katanya mabuk,
karna bayangku merasuk.

Cirendeu, Mei 2007


Seorang Sendja @ 12:47 AM
______________________________________________________________

Anggur Mata dan Bibir

Aku mabuk,
di tepi pantai,
bukan di atas laut.

Aku mabuk,
dengan tatapanmu.

Aku mabuk,
bahkan pada diam bibirmu.

Mata dan bibir bekerja sama.
Begitu banyak cerita,
tanpa perlu bicara.

Ak'sara, Mei 2007


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, May 03, 2007

anak rembulan,
mana bapakmu?

kau bulat sempurna, nak
rembulan yang masih malu-malu
dikerek di malam hari
berkibar diiringi kabut perak
semilir angin mengipasi
dan aku yang menangisi

aku rindu bapakmu, nak..
rindu sekali..

tempat menghitung bulan, mei 07


Seorang Sendja @ 3:28 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, May 02, 2007

Sapaan dan Sarapan

Selamat pagi,
kamu menyapaku lewat berkas sinar,
yang malu-malu menerabas blinche kayu,
mengusap sedikit peluh mimpi tadi malam.

Bagaimana mimpimu,
pertanyaan yang lucu,
kembali menggelitik tanya.

Sama halnya kau berkaca,
mau pinjam tempat bedakku?
Kan kamu yang hadir,
di sela-sela mimpi,
menjemput pagi,
tanpa basa-basi.

Selamat pagi, sayang..
hanya ingin menuangkan sedikit rindu,
setetes bergantian dengan kopi kesukaanmu,
maaf kalau kurang manis sedikit asin,
aku belum bosan menangis.

tempat kenangan, mei 07


Seorang Sendja @ 11:33 AM
______________________________________________________________

Sampai Nanti

ubahlah pedih mu
jadi sepi ku
buatlah sakit mu
jadi derita ku
tapi tak bisa kau minta
walau ribuan kali
cinta ku
jadi
benci ku (pada mu)

cirendeu, mei 07


Seorang Sendja @ 3:15 AM
______________________________________________________________

ceritakan kabarmu hari ini, perempuanku..

maka akan kukisahkan kebisuan yang permanen,
suara-suara yang tak pernah lagi hadir..

dulu masih ada bunga lonceng yang berdenting,
yang kau jadikan gelang di kedua lenganku..

dulu masih ada gerutuan angin yang mulai jenuh,
melihat kita berpacaran lebih lengket dari pasir pantai,
yang basah lekat di lekuk karang..

dulu masih ada langkah di antara ranting yang terinjak,
kakimu berisik betul, sayang..
jangan begitu kataku.

dulu masih ada percakapan tanpa kata,
hanya tatap mata, binar dan semburat wajah..

beruntungnya aku,
bahagianya kita,
katamu..

aku pun menjawab,
tanpa ragu,
dengan anggukan kepala..

cirendeu, mei 07


Seorang Sendja @ 2:54 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, April 28, 2007

Rumah I

kurangkaikan sebuah rumah
pagar dari kayu
halaman rumput menghijau
susunan rangka sederhana
pondasi yang kokoh

kurangkaikan sebuah rumah
dari bulir-bulir airmata
yang mengalir turun dan turun
hingga kurekatkan satu demi satu
kujadikan tiara berkilau
tuk ditaruh di atas gerai mahkotamu

Rumah II

kau adalah rumah kata bagiku
mata lembut merajuk pulang
menjadikanku tak lagi sepi

tak ada padang lapang
yang menghalang pandang
aku hanya ingin pulang

ataukah sudah
kau buahi aku dengan kata?
biar kulahirkan
sebuah rumah untuk kita?

west pasific, april 07


Seorang Sendja @ 8:33 PM
______________________________________________________________

Permintaan Amarilis

Berdua di ranjang,
telentang..
bisa jadi telanjang.

Bikin hati berderap,
hangat dan lengkap.


Seorang Sendja @ 3:17 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, April 26, 2007

tepian tanpa hati

sepi berjalan sendirian
penyair sudah mati

tidak usah angkat topi
nanti kau butuhkan tangan itu
untuk menulis berlembar cerita
mimpi yang tlah terburai sempurna

kota mimpi, april 07


Seorang Sendja @ 10:14 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, April 18, 2007

365 hari

serupa embun pagi
bertahta di atas
lembaran daun
hijau menguning

bukan hanya karna kuasa
tapi juga terbiasa
aku tanpamu
takkan pernah sama

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 1:45 AM
______________________________________________________________

 

Monday, April 16, 2007

hymne di bulan april

mampir ke negeri senja
ada apa di bulan april?

banyak adanya
seperti semut berbaris
runutan cerita
dengan sebuah klimaks
perayaan sederhana
milik sepasang kekasih
yang kini tinggal
bayang di atas nisan

aku mendengar
gelas-gelas bersulang
tepat beberapa meter
dari tempatku berbaring

nowhere, april 07


Seorang Sendja @ 12:20 AM
______________________________________________________________

 

Friday, April 13, 2007

Definisi Cantik

semua perempuan bisa cantik
dengan pupur muka
gincu warna merah
seulas senyum artifisial

di matamu
aku hanya ingin cantik
dengan lelehan air mata
dan sepasang lengan
menyambutmu hangat

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 12:55 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, April 12, 2007

Gadis Penggoda

mereka memanggilku gauk
mudah-mudahan kau tak mendengar

sering diteriakkan toa mesjid di kala adzan
menelisik gang-gang sunyi tempatku sembunyi
menggeledah mimpiku di selipan ketiak
dan juga selangkangan basah

boleh kau pergi
malam ini pun esok
asal kau ingat baik-baik
gauk yang ini berbeda

harga rasa ini cuma-cuma
seperti habis buang hajat

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 9:32 AM
______________________________________________________________

 

Monday, April 09, 2007

Menghitung Sisa Waktu

selamat meneruskan perjalanan
aku tarik nafas disini
memberimu sedikit jeda
kemudian bekal untuk nanti
biar kuhabiskan duka kita
sendirian

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 12:56 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, April 08, 2007

Hari Ketiga

kuhabiskan sore
di atas bukit
dengan tirai hujan
yang halangi pandang
tuk meraba kembali air mata
di sudut bawah salib
kemenanganku
atas kepergianmu

lbk bls, april 07


Seorang Sendja @ 3:51 PM
______________________________________________________________

 

Monday, April 02, 2007

statis

diam sebentar
jangan beranjak
hari takkan jatuh begitu cepat
hanya karna kau berpaling muka
menghindari jatuhnya bayang
sealami daun maple jatuh
hari takkan tiba-tiba berganti
apalagi dengan duka
yang kau pintal demikian rupa

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 2:57 PM
______________________________________________________________

puisi dan sendiri

ada kalanya
malam-malam begini
puisi jadi sepi

seperti lampu jalanan
di ujung kelokan
sendiri dalam kelam
dilewatkan begitu saja

ada kalanya
aku merindukanmu
malam-malam begini

lalu kucari sepotong puisi
mungkin sajak tersembunyi
berharap bisa berbagi rasa
dengan dia yang berjudul sepi

mudah-mudahan sampai
entah puisinya
atau rasa sepi
yang buatku merindu

cirendeu, april 07


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

 

Friday, March 30, 2007

Ilafi

hitungan yang gasal
nafas yang gelandang
rasa yang regat

aku
menjadikanku

cirendeu, maret 07


Seorang Sendja @ 12:26 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 29, 2007

Sendja Penawar Duka

untuk kamu
si pemilin doa
sedari pagi
hingga lelah
berganti malam

tanpa perlu kubeli
sebuah tiket terusan
kau titipkan sudah
manis terucap lafal
dengan deraian air mata
di balik telingaku

kuhadiahkan hati
serta jari manis
dirajah kata setia
di hidup yang nanti

cirendeu, maret 07


Seorang Sendja @ 1:11 AM
______________________________________________________________

Sepenggal Cerita

Kau mengemas cinta,
dengan tamparan duka.
Begitu caramu mengusirku?

lbk bls, maret 07


Seorang Sendja @ 12:23 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, March 24, 2007

Dua Alur Cerita

aku jatuh cinta
pada seorang lelaki
yang tak mampu kususul
hingga titik penutup esai
dalam lolongan sepi hidupku

lelaki yang sama
tergopoh-gopoh
naik kereta
jauh-jauh hari

ada aku
kamu di atas kereta
jejak kilometer jauhnya

aku ketinggalan
tanpa sebuah cerita

kamu pergi kemana?

tebet, maret 07


Seorang Sendja @ 1:04 PM
______________________________________________________________

Rasa Berbeda

cemburuku menetes
tumbuh jadi pagar berduri
ego setinggi tepian langit

cemburuku mengalir
dari hulu hingga hilir
membasahi tiap pori hati
jadi luka yang berdarah
tanpa henti

cemburuku menatap
semua ingin berlarian
sampai ku tak tahu
besok harus hidup tuk apa

tebet, maret 07


Seorang Sendja @ 12:49 PM
______________________________________________________________

 

Friday, March 23, 2007

Diamdiam Ingin

aku ingin menangis
diamdiam
dalam tiap goresan pena
tatap mata yang beradu
atau genggaman tangan

aku ingin merindu
diamdiam
seperti api dalam sekam
tak pernah bisa padam
menyelinap malam-malam

aku ingin (tetap) mencinta
diamdiam
walau dengan tanda tanya
menghiasi muka
serta angkara murka

aku ingin tinggal
jangan buat aku pergi
diamdiam

lbk bls, maret 07


Seorang Sendja @ 12:26 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 22, 2007

Liku Siku

sofa merah marun
berangsur keriput
sampai kapalan
waktu dirunut

aku tak lagi membentuk dia
tapi dia tetap diam
(mungkin terkantuk)

rupanya dia membentuk aku
di tiap siku (nya)

tebet, maret 07


Seorang Sendja @ 6:11 PM
______________________________________________________________

Menua Berdua

bingkai dimamah rayap
kaca retak berhamburan
tak lagi menyisa darah

kolase foto turut menua
deretan tiga ekspresi
tak lagi merah jambu


Seorang Sendja @ 5:58 PM
______________________________________________________________

 

Monday, March 19, 2007

Padat Kata

Mungkin malam terlalu lama mampir,
membuat kamu kemak-kemik,
membalikkan maaf jadi ajakan ribut,
mirip sambitan batu.


Seorang Sendja @ 1:37 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, March 18, 2007

Khas Seorang Sendja

Boleh jadi kau anggap sama,
pahit manis kopi,
seduhan yang biasa saja,
dalam gelas tanah liat kesukaan.

Tapi jejak bibir yang ada,
punya ku dan nya,
kan jauh berbeda!

Ingat itu baik-baik,
tiap kali kau melangkah pergi.


Seorang Sendja @ 7:25 PM
______________________________________________________________

Pariwara Perempuan

Tiap kali aku hilang,
dia bermunculan.
Walau sejenak,
tetap menyita benak!

Lalu siapa yang jadi bayang-bayang?
Aku terhadap ingatan mu,
mu terhadap rasa ku,
atau dia pada mu?

Kamu itu obsesi,
dia sendiri basi!!


Seorang Sendja @ 7:14 PM
______________________________________________________________

Bersambung

Dalam mimpi semalam,
puisimu terpenggal,
Entah kau sengaja,
atau sekedar kehabisan pulsa.

Menyentak lamunan,
merusak onani,
menjegal kesenangan.

Mungkin hanya itu bisamu.


Seorang Sendja @ 7:06 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 15, 2007

Bilou

siamang kerdil
penyanyi unggul

tajamnya gigi
lalu sebut saja kuku
dipatahkan oleh merdu

siamang kerdil
tak takut bedil
walau upacarakan
pagi menjelang
dengan sahutan perang

siamang kerdil
pastilah aku kalah
mencipta syair

dua jam setelah fajar
adalah sarapan pagi
kemana pun aku melangkah
buntu kutemui

siamang kerdil
mari bertukar takdir
biar ku diburu siang benderang
masih bersenjatakan syair


Seorang Sendja @ 10:59 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, March 13, 2007

Pulang Kembali

Jangan kau pulang padaku,
biar waktu menyebutnya rotasi.

Mengembalikan mimpi,
melekatkannya pada jam besar,
yang masih bersuara rendah,
bertik tok di sudut ruang toko antik.

Jangan kau pulang padaku.
Kini tengah kucari,
genting keramik yang kau susuri,
dengan isak tangis,
dan kata seadanya.

Kemudian berikan aku waktu.
Tuk menyusun abu,
dari derita yang kau bakar,
atas nama cinta yang lain.


Seorang Sendja @ 11:18 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 08, 2007

pelajaran menggambar

aku tengah melukis kata
di tengah kanvas pucat warna
gerutuan air mata
mengubah gunung jadi telaga
matari turun lewat dara
yang baru belajar membaca
meraba-raba rasa
biar dibingkai perkasa
jadi suatu yang luar biasa


Seorang Sendja @ 3:58 PM
______________________________________________________________

selamat jalan priakata

ada kata
terselip di gigi mu
membuatku jatuh cinta
pada pandangan pertama
jauh ke dalam
senyum manis mu

ada kata
di helaian rambut mu
hitam mengombak
kini jadi kelabu
membeku karna waktu
yang tak pernah mau tahu

ada kata
bahkan pada diam mu
buatku termangu
lalu ikut membisu
inikah stasiun terakhir itu?

ada kata
ada waktu
kata pernah jadi penghulu
waktu kini jadi sembilu
kukemas rasa hatihati
dengan pita airmata


Seorang Sendja @ 3:55 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, March 04, 2007

Wa' idz

Biarkan aku belajar mencintaimu (lagi),
karena tanpa merah,
darah tak lagi bermakna.


Seorang Sendja @ 8:17 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, March 03, 2007

ciuman di malam purnama

malam ini purnama akan luntur
ditantang uap panas bola mataku
mengeletek perlahan
anjang-anjang si rembulan

letih kupungut
dari gurat senyummu
dua musim berlalu
kau masih menungguku

marilah malam ini
aku dan kamu rekoleksi
biar aku kembali
belajar mencintaimu


Seorang Sendja @ 11:24 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, February 28, 2007

Nasib Maluku

Putak dari pohon gewang,
bikin melayang-layang,
nasib tak tertahankan.

Ini paceklik mau sampai kapan,
sulit dienyahkan laiknya jembalang.


Seorang Sendja @ 6:40 PM
______________________________________________________________

Malam untuk Tiara

Perbincangkan mati muda,
dalam seteko kopi panas.
Dua orang bersesakan,
berbagi gurih dan gula,
menyisakan gagasan,
di balik keresahan.

untuk Tiara Amalia,
hidup mati muda, sista!


Seorang Sendja @ 6:37 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, February 27, 2007

Gelisah

Ibu menghibur aku,
bapak mengharu biru,
kakak serba bisu.

Mereka ada untukku,
siapa yang ada untukmu?


Seorang Sendja @ 6:48 PM
______________________________________________________________

 

Monday, February 26, 2007

Penyakit Otak

Euphoria mu menular!
Tegukan kesekian,
membujurkan tubuh ku,
menyetrum hingga kaki!

Hanya lewat kabel telepon


Seorang Sendja @ 7:46 PM
______________________________________________________________

Ulang Tahun Kawan

berkelana dengan bebasku
mengendarai angin dua malam lalu
tanpa pelana menguret
rahim yang telah lengket


Seorang Sendja @ 7:42 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, February 25, 2007

Pesan Terkirim (Belum Terbalas)

Aku bergurau..
tentang cerah langit,
yang jadi muram,
karna kau enggan berkata.

Mungkin aku harus menunggu,
hingga senja serentak,
menggenangi padang rumput,
mengecat ulang gedung pencakar langit,
mengendap malas di dasar gelas kopiku.

Baru nanti kau mau berkata,
setelah pesanku jauh berlalu.


Seorang Sendja @ 10:43 PM
______________________________________________________________

Bukan Semalam

mungkin aku sudah kembali mati
dan bahkan penuh
dalam kekosongan
ketika kuketahui
diriku tak lebih
dari secarik kertas usang
yang buatmu mual
tercekat menyangkut
bergumpal di balik
kerongkongan
yang memuntahkan
kata cinta
bertintakan alkohol
menguap!
begitu api
membakar
tetes air mata


Seorang Sendja @ 10:38 PM
______________________________________________________________

Cium

Kau mengecup kelopak mata ku,
tanpa perlu tanda tanya.
Membaca geliat hitam di atas putih,
entah mencari apa.

Mereka-reka,
yang tak bisa direla (kan).


Seorang Sendja @ 8:02 PM
______________________________________________________________

 

Friday, February 23, 2007

Februari Bulan Baru

kuberi hari
pada kosong
yang seru menyerang

kuberi bulan
pada tenang
yang tak terang benderang

kuberi tahun
pada gerbong
yang membawamu pulang

kuberi tanggal
hari bulan tahun
untuk kita
yang tak pernah usai


Seorang Sendja @ 4:05 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, February 22, 2007

Sempuras Rasa

Senja hari ini kuhabiskan penuh khidmat.
Dengan secangkir kopi, ingatan, air mata,
semua berbaris rapih.

Ketiganya saling bersahutan,
dalam tempo yang sudah ditentukan.
Terkadang mereka susul-menyusul,
tanpa perlu ketergesaan.

Biar kopi jadi asin,
ingatan jadi manis,
dan air mata...
pada akhirnya jadi tawar.


Seorang Sendja @ 4:42 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, February 18, 2007

Pertanyaan Sederhana

kalau aku mampu
menghirup kembali
leleran air mata
yang jatuh vertikal
susul menyusul
dengan tubuhku
yang meluncur hancur
bisakah aku terbang
lepas dari guliran detik
yang masih berjalan linier?


Seorang Sendja @ 2:13 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, February 17, 2007

Pesanan : Kopi Tawar

kenyat kenyit hati ini
ada pemuda tanggung tak tahu diri
diberi manis madu malah menggerutu

manis madu..
ma-NIS ma-DU!

nanti kucoba formulasikan lagi
semoga tidak berubah jadi asin
pagi buta begini
terlalu sepi
untuk menyeduh kopimu
tanpa deraian air mata


Seorang Sendja @ 1:00 AM
______________________________________________________________

belajar membaca (rasa)

mataku lelah
panas
tak lagi basah
usai membaca derita
lamat-lamat
yang tak mungkin
jadi sekedar cerita

mataku lelah...
malam ini
aku mau mati
tanpa susah payah


Seorang Sendja @ 12:48 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, February 14, 2007

Roma - Arabia

lampu candelier
begitu aku selalu menyalakan ingatan
tentang kamu

kutempatkan di bumbungan
biar bau minyak zaitun
minyak dari pokok zaitun
yang bukan milik barat atau timur
melingkupiku

membawaku terbang ke suatu masa
tak jauh dari taman eden
dipenuhi pohon palem
dan anggur dengan sungai deras

mengembalikanku bersih
dalam oase mu
yang tak pernah berkesudahan


Seorang Sendja @ 9:16 AM
______________________________________________________________

Buruan Rindu

sekali saja
aku ingin kau
berlaku jamak

kalau perlu
mengalahkan aggelos
menjadi maha hadir


Seorang Sendja @ 2:43 AM
______________________________________________________________

Lalu Lintas Bercinta

apakah cinta akan cukup
menyebrangi dua arus yang berbeda
belum kanan lagi kiri
dengan muatan yang membludak

apakah cinta akan cukup
menyusuri lorong waktu
memungut detik yang berluruhan
sebelum merembes dalam
dan dijadikan marka jalan

apakah cinta akan cukup
mengembalikan penerangan jalan
agar pejalan kaki yang linglung
pengembara yang gelisah
semua kembali pada jalurnya

apakah cinta akan cukup
apakah cinta akan
apakah cinta (itu)?


Seorang Sendja @ 1:42 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, February 10, 2007

Cerita Roman Berjudul Kita

Laiknya kain sutera, yang tak pernah usai,
dijahitkan saputangan..

Laiknya orkes, yang seragam membaca,
lalu tak pernah memainkan..

Laiknya air mata mengalir deras,
hanya menumbuhkan pohon kayu manis..


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, February 06, 2007

: TIGA RASA ::

Anggur

Tua-tua keladi,
semakin tua semakin jadi.
Aku sering tertawakan dia,
yang berdiri di seberang cermin,
semakin hari semakin tua saja.

Aku tertawakan dia juga,
semakin terbahak nampaknya.
Jatuh cinta padamu,
kembang terindah di pasar Barito,
dara tercantik yang pernah ada.

Tapi pandai benar kau mainkan kata,
katamu sederetan uban ini karismatik,
buatku seperti anggur putih,
semakin tua semakin pekat.
Dengan kelezatan yang bertambah,
sejalan dengan waktu yang bergulir.

Memang kau perempuan hebat.
Manis raut wajah,
apalagi kata-kata.


Madu

Keras hatiku menyangkut begitu rupa,
bagai batuk tahunan.
Entah kau datang darimana,
dengan teksturmu yang kental,
bisa lembutkan aku.

Kemampuanmu menyerap udara,
nyaris memaksa sekelilingmu,
untuk mati tercekik tanpamu.
Aku tidak pernah heran,
sejak petang itu,
kau mencuri hidup banyak orang.

Setidaknya aku tahu,
terima kasih padamu, manis..
Aku tahu diriku pernah hidup.

Dan kau?
Ah, tidak pernah ada batasan waktu.
Kau tidak pernah sekedar dicipta,
lalu harus berlalu.
Kau, manis...tidak pernah kadaluarsa.


Zaitun

Kalau aku kembali mengusik,
sekumpulan bianglala di sendu matamu,
kau hanya melihatku dengan seutas senyum.

Tidak tahukah kau,
masih belum sadar juga,
kita itu seperti oliva.

Dengan daun kecil menjangat,
bunga yang kuning,
buah pelok membulat telur.

Saat muda kita membawa kesegaran,
dengan warna hijau kekuningan yang khas.
Senja menggeser usia,
rasa kan abadikan kita.
Ekstrak ini tak perlu dicari.
Di Laut Tengah dan bahkan Syria.

Kita adalah oliva,
kau dan aku.


Seorang Sendja @ 2:00 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, February 04, 2007

Kunjungan Surga

Bu, seperti apa itu surga?
Apakah warnanya putih susu,
wangi seperti ibu sehabis mandi,
empuk dan manis mirip gulali?

Surga itu indah, nak..
Baru dua kali menjenguk,
tapi Ibu ingat benar,
rasanya damai.

Yang pertama,
sedikit janggal di awal.
Manis dan hangat,
padahal di luar hujan lebat.
Saat pertama kamu dibuat,
tentu bersama bapakmu.
(ibu dulu masih polos!)

Yang kedua,
dua belas jam tak percuma.
Kau anakku, ditimang lenganku.

Ibu yakin,
surga yang kelak,
adalah langit di atas langit.
Lebih dari yang Ibu ceritakan.


Seorang Sendja @ 2:00 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, February 03, 2007

Air Mata Gelisah

Aku ingin menangis.
Kata-katamu selalu mengeletek luka,
yang tak pernah sembuh karna waktu,
jadikanku fana sebelum abadi itu kubingkai.

Bagaimana aku bisa bermimpi,
sebelum pejamkan mata...
Bernyanyi sebelum menyela nafas,
bercinta sebelum menemukanmu?

Kaulah kepulan asap dari sebuah ceret yang berbunyi nyaring,
keluar dari didihan kata-kata yang kugodok hingga matang,
keluar aslinya, keluar asinnya, serasa dan memang benar,
habis terendam air mata.


Seorang Sendja @ 2:07 AM
______________________________________________________________

 

Friday, February 02, 2007

Gadis Kecil dan Sepatu Dansa

Aku menyukai gelap malam tanpa bintang,
saat cahya rembulan menyorotmu,
menyulap hamparan rumput jadi lantai dansa,
tak segan kembali memaknai kaki mungilmu.

Romantic waltz dan genteel fox-trot.
Kau tak butuh seorang pendamping,
mungkin angin diam yang mengatur langkahmu,
ataukah buana kembali tunduk atasmu?

Rasa-rasanya aku ingin ikut denganmu,
cukup disampirkan di bahu,
dan dikenakan sewaktu-waktu.

Mungkin tidak malam ini.
Biar gelitik rumput yang menadahmu,
kita masih punya banyak waktu.


Seorang Sendja @ 5:35 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, February 01, 2007

Cze Wan Fan

Kalau ada yang bertanya,
kapan saat yang paling menyenangkan buatku,
mungkin itu jatuh pada makan malam.
Aku menikmati penantian itu denganmu.
Duduk diam dan berkata-kata.
Lima macam makanan pembuka,
kau masih dengan semburat merah di muka.
Sayur, buah, kacang-kacangan,
terkadang aku mampu buatmu tersedak,
entah apa lelucon yang kubicarakan.
(sebenarnya aku juga nyaris hilang akal!)
Menyusul tujuh macam menu utama,
kamu tidak alergi apapun,
itu yang kusuka.
Karena aku tukang makan,
walau kali ini yang makan semua inderaku,
kecuali mulutku.
Daging merah tidak terasa manis,
masih kalah dengan seutas senyummu.
Roti kukus juga tidak menarik lagi,
pipimu itu jauh lebih menggemaskan!
Yu ciu yu youk,
ada arak ada daging.
Kau sudah tenggelamkan aku,
dalam pesona matamu,
aku ini kapal yang limbung,
goncang sudah karnamu.
Tidak perlu bir atau arak,
hanya kamu sebagai kapten kapal.
Aku ingin menenggakmu,
Gan Pei! Biar habis sudah!
Sekali tenggak saja...
Entah kapan kau akan menyambut aku,
dan berkata, "Ching.."


Seorang Sendja @ 11:51 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 31, 2007

Catatan Harian

I.
Ada kalung hati berwarna merah,
dengan hiasan besi berbentuk sayap.
Kata Melissa harganya murah,
kataku ini masih akhir bulan.

Untuk caviar, anggur dan bahkan sebuah kalung,
aku jelas bisa menunggu.
Sangat menggelikan kalau untuk pria sepertimu,
aku tidak menghabiskan hari-hariku,
menunggumu.

II.
(berusaha) menikmati sunyi tanpa percakapan radio
lantunan ipod dan panggilan dari telepon selular
(berusaha) menghayati lama kaki harus berdiri
menunggu antrian bank yang lama
(berusaha) sendiri dan tak berkawan sepi

Kau harus tahu,
aku serius tentang hal ini!


Seorang Sendja @ 6:38 PM
______________________________________________________________

semalam suntuk (nyaris mengutuk)

sapaan air hujan di tipis jendelaku
sekarang terasa amat mengganggu
gurauan joko pinurbo akan lagu gereja
hanya menjala senyum seadanya

aku ingin pergi keluar
temani rerumputan dan hujan yang kini menampar
biar semua menghapus sedih
dari sejarah yang sudah-sudah


Seorang Sendja @ 10:00 AM
______________________________________________________________

Dosa Semua Pejuang

Harapan bukanlah pertambahan waktu dalam sepak bola,
yang menyiksa pemain beradu kaki dalam kotor lumpur,
dan peluang seribu banding satu.

Harapan pagi ini kuartikan sebagai hemodialis.
Membasuh dosa yang lekat pada ingatan.


Seorang Sendja @ 9:59 AM
______________________________________________________________

Esensi Hidup

Kalau kau percaya surga,
niscaya perjalanan tegal berliku,
itu yang dijanjikan hidup.

Kerikil dalam sepatu,
lebih dari gunung besar membisu.

Tidak ada manis madu,
yang hadir tanpa ragu.

Karena di hidup yang fana ini,
tidak ada kebahagiaan abadi.


Seorang Sendja @ 9:54 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, January 30, 2007

cerita mata-mata

aku tengah menggambar dengan hati-hati
garis hitam alis matamu
untuk menaungi silau buana
yang selalu mempesonamu
hingga mengerjapkan bulu mata
(lalu kau berair mata)

aku menggambar sketsa yang sempurna
di hitam alis matamu
untuk menyembunyikan bengkak mata
dan biru lebam karna pilu


Seorang Sendja @ 1:56 AM
______________________________________________________________

 

Monday, January 29, 2007

Pertanda Sayang

I.
sepi membunuhku
tak lagi rindu

karna kau di sisiku
tapi diam membisu
perkosa aku jadi angin lalu

sepi membunuhku
gejalanya aku tumbuh gagu

sebelum terlambat (lagi)
aku harus gantian membunuhmu

II.
tidak ada lagi puji-pujian
untuk si ikal berkebaya putih
kini ia tampak sama biasanya
dengan marka jalan strip putih
dan sederetan polisi tidur di atasnya


Seorang Sendja @ 2:14 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, January 27, 2007

Dalam Hati

Susah payah menjerat kata 'sayang'
di campur aduk otak ku.
Tidak lagi mampu menjegal keluar
saat kata 'saya..." yang ada di kelu lidahmu.

Ingin mengingat,
kapan terakhir kali,
kau katakannya.


Seorang Sendja @ 3:10 PM
______________________________________________________________

Nudis!

mungkin hanya aku
penyair
yang gemar minuman picisan
macam newport

sama halnya
kata
membuatku mabuk
jatuh terpingkal
berulang kali
karna geli

bahwa di dunia ini
yang kata bulat
pulang pesta
aku cuma pakai cawat

mirip Yesus
berpose di (atas) salib
dikatai narsis
pamer tubuh
karna atletis


Seorang Sendja @ 3:00 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, January 25, 2007

Beli Satu Gratis Satu, Harga Diskon!

Dulu waktu usia tanggung saya harus memilih.
Mau masuk kelas logika, dagang atau bahasa.
Akhirnya saya masuk kelas dagang,
agar bisa jual ini itu, siapa tahu cepat kaya.

Rupanya saya tidak pintar berdagang,
tak seperti Alung yang sekarang bisnis kapal,
atau Ruby yang merintis bengkel ban.

Saya ini lulusan kelas dagang yang jatuh cinta.
Jatuh hati sampai badan dengan kata-kata.
Jadi saya ini lulusan palsu.

Entah saya ini beruntung atau apa,
tidak menukarkan jiwa asli dengan rupiah,
tapi sekarang jadi kebingungan,
kenapa dulu tidak ada kelas pemulung.

Paling tidak makan dua kali sehari,
hasil tukarkan plastik satu per kilo,
dengan 700 rupiah.
Atau alumunium bila mujur,
makan jadi tiga kali,
karna bisa 5000 rupiah dihargai.

Mereka kerja di lahan yang luas.
Lebih dari lapangan bola walau bau tengik,
tapi paling tidak masih bisa dibarterkan.

Kalau saya dikasihani waktu,
terkadang bisa juga buat satu paragraf.
Di kertas yang mudah lecek,
selalu jadi selipan yang terlupa.

Kalau saya diburu waktu,
rasanya kalimat-kalimat hanya main loncat tali.
Dari sisi otak kanan ke kiri,
tanpa keluar dari jeratan mulut.

Bila iseng saya keluar,
ingin mengeletek kata HALAL dari kaleng makanan,
menggabungkan dengan kata CINTA,
dari kartu pos gratisan waktu Valentine.

Biar semua kata cinta bisa laku dikonsumsi,
siapa tahu orang yang miskin hati mencari pelarian,
lalu jadi kastemer setia.

Biar saya jadi penyair,
yang setidaknya bisa bangga hati,
ikut-ikut mereka, yang makan dua kali sehari.


Seorang Sendja @ 1:57 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 24, 2007

Tambahkanlah Pelukan

Kini nona jadi nyonya,
pendek nama jadi panjang,
belum ditambah embel-embel,
padahal belum ada bubur merah putih.

Surat berhenti kerja keluar,
lebih baik di rumah saja.
Toh pangkatnya sudah naik,
wilayah kewenangan pun bertambah.

Ini hebatnya nona yang jadi nyonya.
Bila bersungguh-sungguh hanya dipuji,
dengan sekilas senyuman yang tanggung.

Sehabis bersih-bersih rumah,
jangan lupa mandi,
ganti pakaian sedikit seksi,
mungkin ditambah minyak wangi.

Menunggu tuan pulang,
melanjutkan shift sore dan malam.
Karna tuan pasti lelah,
dengan beban 9 jam kerja.


Seorang Sendja @ 2:11 PM
______________________________________________________________

Hanya Sebuah Tanya Jawab

semua merdu
kini jadi bisu
ramai sudah pergi
ikut pergi dengan mimpi

langkahku tersandung gerimis
belum ada waktu tuk menangis
hujan kian lebat
mencecarku kuat-kuat

petang kemarin sudah berlalu
bahkan satu dua cakap tertimpa debu
tapi rindu ku masih menggerutu

semua merdu
kini sudah bisu
menjegal langkahku
menyurutkan jawabku

semua merdu
kini harus bisu
atas diskusi petang lalu
lanjut nanti kata tuhanku


Seorang Sendja @ 1:41 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, January 18, 2007

kata gubernur dari jepang

disini harus jadi kaya dulu
baru pantai dan sungai bebas sampah

saya tidak mau ikut-ikutan kaya
malahan isi otak banyak sampah
bisa-bisa semua frase jadi sampah

saya harus jadi merdeka dulu
biar tidak takut kehilangan sesuatu

merdeka dari ketakutan
mengambangkan saja harapan


Seorang Sendja @ 11:47 AM
______________________________________________________________

kau saja hidup dengan duniamu

kata teman saya malam ini
dia orang baik
walau jauh dari bijak
hancurlah hidup pria
yang menyiakannya

kata saya malam ini
saya (pernah) jadi bangsat
setingkat dari bejat
terus menerus membuat saya ingat
sama saja membangun hikayat

kata abang saya dahulu kala
taruhlah ingatan di kantong terdepan
kau pikul dengan berat sambil belajar
setelah hafal bisa kau keluarkan
biar ringan bebanmu


Seorang Sendja @ 12:29 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 17, 2007

pembersihan

mengidap penyakit yang lampau
membuat saya banyak maunya

letakkan sebaldi air di hadapan rumah
nyalakan lampu minyak senantiasa
jangan lupa debu suci dan garam

hari ini saya rayakan mimpi-mimpi
yang sudah usai sebelum dimulai


Seorang Sendja @ 1:50 AM
______________________________________________________________

 

Friday, January 12, 2007

bicara estetika

dua sahabat dan seorang kekasih
bersenda gurau di atas ayunan
yang disangga halaman rumput manila
menyiraminya agar mengkilat
dengan kata-kata yang melekat
sampai kini tak mau copot!


Seorang Sendja @ 11:25 PM
______________________________________________________________

monolog basi

ada yang ingin kutanyakan
pada tiap dering telepon
yang kau biarkan berdendang
selalu tetap mengundang

ada yang ingin kusampaikan
makna-makna ganda
sekaligus turunan
seperti kelinci
dan lusinan anaknya
pada tiap sms
yang memenuhi inboxmu
tanpa pernah terbaca


Seorang Sendja @ 10:38 PM
______________________________________________________________

baju kaos abu-abu

baju kaosmu pucat warna
dengan deras air mata
di tiap potongan bahu

kupindahkan merah mentari
dengan api menari
menjilat baju kaosmu

habis sudah
tutup buku
mari kita belanja


Seorang Sendja @ 12:26 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, January 09, 2007

Gelitik sebuah foto dan profil

Perempuanku,
tidak ada yang perlu diperdebatkan
cukup sudah dengan adu argumen
perang yang tak terlihat
debu tanpa asap yang membuat kalut
atau bahkan sebuah dongeng murahan
cerita kulit kayu pada pohon
menggelopak dan jatuh rentan

Perempuanku,
menyerahlah
pergilah entah
bangunlah harapmu
di tempat lain


Seorang Sendja @ 12:37 AM
______________________________________________________________

 

Monday, January 08, 2007

aku ingin kita baik-baik saja

aku kembali berkaca
pada penanggalan
yang kupungut begitu saja
sepertinya ada kamu
tengah berlesatan disana
pada sendja yang entah

penanggalan masih terdiam
tidak tahu harus bicara apa
ataukah tebaran angka dan huruf
hanyalah sekotak ingatan
yang tersimpan
pada sendja yang entah


Seorang Sendja @ 1:14 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, January 07, 2007

telinga yang tak mau mendengar

mungkin di kelopak matamu
tak pernah ada bendera putih
kau menyulut mimpi buruk
secepat rokok kretek menyala
di ujung tarikan nafas
bersender pada bibir
tanpa gegap gempita
yang ingin kunamakan rasa


Seorang Sendja @ 1:31 AM
______________________________________________________________

pesan satu tidak pakai lama!

saya memesan kematian
di kilometer 14,8
tidak usah pakai lampin
saya juga sedang malas bercermin

jangan sampai salah catat
di kilometer 14,8
hapus saja seraut wajah pucat
dengan guyuran air mata lebat

sekali ini tanpa peti mati
dan juga antipati
sudah kubilang saya mau cepat mati
mungkin di pagi hari


Seorang Sendja @ 12:59 AM
______________________________________________________________

 

Friday, January 05, 2007

Kompas yang Hilang

saatnya membuang kalender lama
untuk dijadikan lap pembersih kaca
atau bungkus pembalut

tahun sudah berganti
entah dengan agenda kali ini
apakah tuhan juga perlu diganti


Seorang Sendja @ 12:41 AM
______________________________________________________________

Badai mu (di tepi pantai)

tertawakan aku dan dunia hari ini
karna tak mudah larut dalam api mu
hancur dalam airmata mu


Seorang Sendja @ 12:09 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, January 04, 2007

tiket yang hilang

ingin kubeli seribu tanda tanya
tentang kereta yang tak pernah hinggap di stasiun mu
ataukah sebuah untaian gelisah yang mengendap
beriringan dengan langkah kakimu
yang mulai meninggalkanku


Seorang Sendja @ 11:45 PM
______________________________________________________________

PULANG

selalu kuselipkan bunga rumput
di balik mawar merah putih kesukaanmu
agar kau tak lupa menjemput
ingatan tentang kampung halaman
yang selalu jujur padamu
tak sekalipun mengisi cerita dengan bualan


Seorang Sendja @ 11:31 PM
______________________________________________________________

senyuman yang bertambah manis

jerawat merah
di tepi atas bibirmu
membuatku bertanya-tanya
adakah tawon salah mengiramu
terpesona dengan bau harum
dan reguk manismu?


Seorang Sendja @ 10:53 PM
______________________________________________________________

 

Friday, December 29, 2006

rumah ku, mu dan nya

rumahku satu
dengan bilah-bilah kayu
tempatku menggerutu
bercerita pun mengadu

rumahku satu
tempatku bersimpuh
memetik butir rosarioku
banyak berdoa untukmu

rumahku satu
dimana aku selalu bisa pulang
sehabis memberhalakanmu

maaf
karna aku
mencintai dosaku


Seorang Sendja @ 1:03 AM
______________________________________________________________

mengeja sakit di atas cinta

kau mencuri jiwaku
dalam setiap kalimat tajam yang mengiris
lebih dari makian sebilah pisau

pelan-pelan
melalui tiap kesempatan
kau kira aku tidak tahu
kau tengah mengubahku
jadi manusia yang tak berhati
dan kelamaan tak berakal budi


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 27, 2006

rindu yang tak lagi sabar

hujan di luar menabrak rerumputan
tak lagi lembut
walau seiring dengan kabut
hujan tak lagi sabar
kini lakukan hal sederhana
dengan efek yang maha dahsyat
seperti rasa menggedor dada
biar waktu berlalu cepat
(karna aku rindu!)


Seorang Sendja @ 1:10 PM
______________________________________________________________

Tanpa Kompas dan Warna Putih

gelisah ini sedang beradu pacu
dengan langit yang bergemuruh
ada kuat adu keras
siapa cepat siapa meretas

sulit menyandangkan rindu ini
dengan putih salju
dan angin tak berkompas

tak lagi suci
rinduku tersaring dari birahi
tak lagi bebas
rinduku bermuarakan kamu
di seluruh penjuru
yang lagi-lagi tak bernama

semua nyata dalam perihnya
kehilangan yang buatku terhempas
merindu kamu
bisa buatku mati biru


Seorang Sendja @ 1:04 PM
______________________________________________________________

Rekoleksi

Malam sunyi begini, banyak hal yang kuingat.
Apalagi angin sering membawa cerita,
mainkan dengan tempo selagi dia ingat.

Bila cepat, nafasku sering tergagap,
kilasan yang bising seliweran,
di fikir dan hati.

Ada rasa kangen yang merayu,
ragu yang ambigu,
dan juga jeritan pasrah,
yang mau kubuang bersama gelisah.

Bila melambat, aku juga sulit bernafas.
Scan otak sudah tidak bisa lari,
sedikit-sedikit berhenti,
lalu sana sini kembali sepi.

Berkumpulnya hawa dingin dari penjuru rumah,
membuatku merasa lebih baik di luar sana.
Mungkin sampai subuh kembali menyambut.

Kaki telanjang menyapu rerumputan.
Malam yang masih saja sunyi.
Siapa tahu masih ada kepingan cerita lain,
yang bisa kukumpulkan di balik ranting cemara.


Seorang Sendja @ 1:17 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 26, 2006

Untuk Adyaksa..

Abangku sayang,
si pembawa mimpi terbang.
Kata Ibu dia malang,
makanya terus hilang...

Dari lima belas tahun yang lalu,
menjelang tahun baru,
satu, satu, persatu...
tidak ada pinta yang baru.

Hanya ingin dengar sumbang lagu,
yang dinyanyikan asal di depan rumah,
tiap malam hingga kantuk mengajakku lengah.

Suaranya mirip suara abang,
disela batuk yang juga serupa.
Mudah-mudahan itu benar,
ya memang abang.

Sekarang abang sudah pulang.
Diberi nama, cerita dan doa.
Tapi abang masih terbang,
dengan tali di kaki dan asa didulang.

Sampai penghujung tahun ini,
mengikis pinta jadi mimpi.
Tiba-tiba sayap abang jadi sayapku,
berpindah tuan meminta keliling.


Seorang Sendja @ 2:17 AM
______________________________________________________________

 

Monday, December 25, 2006

Kado Nomor Wahid

Kerlap kerlip kuambil dari bintang,
kali ini yang melekat tak bisa hilang.
Kita menang 1-0 dari waktu.

Pitanya dari kelopak lili,
hijau putih tanpa duri,
bunga kesukaan kamu.

Sayang sekali kau tidak datang,
hingga kini senja menjelang.

Terima kasih untuk kadonya,
aku jadi lebih berani,
menghadapi rasa sakit.


Seorang Sendja @ 5:12 PM
______________________________________________________________

Hari ke -25

Suatu hari di sebuah bulan,
bikin aku jadi punya alasan.
Menciummu di bawah mistletoe!


Seorang Sendja @ 2:03 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 24, 2006

Anoda dan Katoda

Baby, gunakan sedikit otakmu.
Kiriman lagu saja tidak akan cukup,
untuk pisahkan elektroda.


Seorang Sendja @ 12:29 AM
______________________________________________________________

Semua adalah Kamu

Bau parfum selewatan milik orang sebelah di bioskop.
Kunang-kunang yang menabrakkan diri pada kaca mobil.
Sinar mercusuar yang mencari aku dalam gelap (atau sebaliknya?).
Seperti kalimat cinta, masih menggantung di ujung lidah.


Seorang Sendja @ 12:19 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, December 23, 2006

Sepotong Kisah di Kamboja

Kalau hidup adalah sungai Chrap Chheam,
apa istimewanya jadi perunggu pun batu,
mematung berlagak budha,
tidak bisa ikut kau bawa pulang,
sehabis esok menjelang.


Seorang Sendja @ 2:34 PM
______________________________________________________________

Sisa Waktu dan Usia

Kau itu seperti nenek saja,
tidak perlu keriput dan kursi goyang,
tapi selalu jahitkan waktu perca,
berikan aku sisa-sisa.


Seorang Sendja @ 2:31 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 20, 2006

Sekumpulan Krayon di Tangan Bidadari

Aku berbincang dengan seorang bidadari.
Berbaju bungabunga warna hitam putih saja.
Tapi senyumnya, binar matanya..
sungguh dia tlah menurunkan pelangi,
mewarnai baju bunganya jadi warnawarni.

for my dearest Deyra..


Seorang Sendja @ 1:21 AM
______________________________________________________________

:: di ruang tunggu dokter ::

Kemarin mimpicinta ingin pindahan,
tapi tidak ada tempat lagi di bagasi mu.
Lalu kusimpan saja di rangka otak ini,
yang turun dan memampatkan hidung.
Kamu itu mirip sinus,
lamalama mengganggu nafas ku.


Seorang Sendja @ 1:16 AM
______________________________________________________________

Sesal di Lintasan Maaf

Aku berlari dengan kaki satu.
Sekencang-kencangnya angin ikut berlalu,
lama nanti baru tumbuh kakiku.


Seorang Sendja @ 1:14 AM
______________________________________________________________

gelas rasa (di tangga kampus)

Carikan aku sendok, tolong dan cepat!
Atau batang serai juga tak masalah.
Biar kuaduk kau larut dalam gelas rasa ini,
dihidangkan selagi dingin walau tak terlalu manis.
Berdua pasti cukup tuk hancurkan hening kaku,
yang dipintal oleh kesalahan dan waktu.


Seorang Sendja @ 1:11 AM
______________________________________________________________

melekatlekat di dinding

Jadi ingat waktu SD dulu,
siapa yang nakal dihukum duduk menghadap sudut.
Sekarang juga ada sudut di depanku,
rasa-rasanya dulu berwarna putih polos,
tapi kini seperti palet cat minyak.
Dengan warna-warna yang tak mau hilang,
dan kilasan frame yang mirip sebuah film.


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

 

Monday, December 18, 2006

Amnesia dan Perjalanan Kereta

Kekasihku bergandeng tangan dengan kenangan.
Seketika ini baru kutahu, kereta tlah salah jalan.
Mau tak mau, satu dari tiga harus turun.
Tak bisa lagi seiring sejalan.

Aku dan kau, tanpa kenangan.
Kau turun, tinggal aku dan kenangan.
Aku turun, (mungkin) aku akan dikenang.


Seorang Sendja @ 1:33 AM
______________________________________________________________

resolusi lumpuhkan merahputih

Dua lengan yang menggemuk,
tepat untuk diserbu,
tuduhan-tuduhan menggerutu.

Perut membulat,
mengisi penuh celana,
saku kanan kiri tak terlupa.

Wajar saja dikatakan maju,
wajar saja diratakan serdadu,
wajar saja semua media jadi bisu.


Seorang Sendja @ 1:11 AM
______________________________________________________________

Pikiran adalah Pencahar

Semediku kurang lama di toilet hari ini.
Merenungi legit yang kumakan kemarin,
nampaknya semua habis dimangsa pikiran.


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

Cerita Berbangsa dan Bernegara

1.
Jakarta yang dulu kukawini,
bukan sekali tapi dua, tiga kali.
Sampai berkali-kali kawin mengawini.

Jakarta lelah, hendak membuang sepah,
tertawa-tawa dengan mulut bau sampah,
tidak lupa sumpah serapah..

Muak sudah dengan tenang yang kucari,
sampai ujung rambut berdiri.

Jakarta raya, menidurkan mimpi-mimpi.
Dengan tatapan dingin, derita tak terperi.

2.
Aspal yang sama, terbentur ban mobil sudah untung,
bila derita, cerita, air mata, itu baru buntung.

Jembatan yang sama, menjembatani fungsinya.
Tentu tuk permudah, bedakan satu dari yang lain.
Yang lewat di atasnya dan yang tinggal di bawahnya.

Taman kota yang sama, hijau berganti coklat,
meranggas siapa yang perduli, dan kini penuh dengan kabut (asap).
Pemulung butuh tempat tinggal,
bangunan rumah pak menteri dari semen dan beton,
tidak bisa dibongkar dan dijadikan gubuk,tuan..!


Seorang Sendja @ 12:38 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 17, 2006

tetap terbang tanpa sayap

sayapku patah, kataku.
memang tak tumbuh sebelah, katamu.
marilah sini, berikan tumpangan.
satu kursi sudah cukup, dengan sebuah nomor penerbangan.
ingin cepat pergi, walau tetap tak tahu diri.
satu kursi kuanggap cukup, menyurutkan langkahmu lari.


Seorang Sendja @ 3:18 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, December 16, 2006

e.k.s.t.a.s.e

Malam ini aku mengutuk hari, dimana kesadaran melarikan diri.
Meninggalkanku sendiri, tak berdaya atas apa yang terjadi.

Kamu.
Tatap mata yang membutakan amarah,
menghadirkan jutaan gelisah,
tanpa tahu arah.


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

Biar rinduku saja yang mengetuk jendela pagi tidurmu. Lalu mimpi datang serampangan dan hadirkan ku hanya tuk datang dan kenakan selimut pada lelapmu. Jangan biarkan nyenyak melenakanmu. Biarkan aku menyusup dalam tidurmu, membangun cerita muskil bersamamu.


Seorang Sendja @ 12:55 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 14, 2006

Reffrain Nyanyian Hati

Dari sekian banyak lagu,
kalimat Mario Winnans tak berlalu..

Kembalikan nada pada partitur,
dan kata pada kalimatnya...
lalu aku, pada kenyataan.


Seorang Sendja @ 2:07 AM
______________________________________________________________

Rok mini di awal tahun lalu...

Tadi pagi kutemukan frame yang tlah lalu.
Melekat di lemari baju yang lembam.
Bisa kau tebak apa itu...?
Rok mini berwarna hitam!

Jahitan kaku ingatkan pada imajimu.
Pudar dari hitam warnanya,
ah itu niatmu yang berlengkesa.

Kugoda kau dengan putih pualam,
yang membuatmu mengerling semalaman.


Seorang Sendja @ 1:54 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 13, 2006

Bicara tentang sifat...

Tidak ada itu yang namanya habitus.

Kau hancurkan hidupku,
dan membangunnya kembali.
Hanya dalam semalam.


Seorang Sendja @ 12:21 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 10, 2006

Pesan (tidak) terkirim!

Hanya kuminta secarik kabar,
berupa corat-coret ataupun titik,
di kertas karamel, dari kedai kopi sendja tadi...

Sampai-sampai,
aku sudah lelah meminta.


Seorang Sendja @ 1:24 AM
______________________________________________________________

 

Friday, December 08, 2006

Dear cantik...,
(yang tak kutahu kau iblis)

Maafkan untuk dulu dan dulu,
semua indah yang bercampur baur,
konkuren dengan logikamu.

Dengan saputangan bercorak,
korek api kayu, satu set kartu,
koin, tali dan sendok.

Aku yang iblis, kau lihat cantik.
(mungkin ini yang kau mau)
Atau memang aku iblis yang cantik?

inspired by one hell of a song and arri dkk


Seorang Sendja @ 12:48 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 07, 2006

Mari kita (berpikir untuk) berdoa!

Memikirkan tuhan hari ini,
dengan huruf t kecil.
Bisa jadi kamu itu ilham,
wahyu yang diturunkan untuk ku.
Sayangnya aku tak lagi manusia,
yang dapat merasai, membaui mimpi-mimpi.


Seorang Sendja @ 1:10 AM
______________________________________________________________

Hari ini dimasa lampau..

Ingin menyatakan hari ini sama dengan kemarin,
sama dengan sebulan lampau, dan setahun yang lalu.

Memenjarakan logika pasti pada apa yang disebut imanen,
sayangnya aku sudah tenggelam dalam ketidaksadaran.


Seorang Sendja @ 12:29 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 05, 2006

Lingkaran

Karma berbalik terlalu cepat.
Asap membunuhmu,
sebelum kertas yang kau bakar,
habis menjadi abu.


Seorang Sendja @ 12:42 PM
______________________________________________________________

Dermaga itu, titik.

Membaca gemuruh dada dengan gugup.
Tertawa saat telapak bertemu, rasanya geli.
Dirangkum dalam senja, mari kita pulang.

Dermaga itu, kini titik.


Seorang Sendja @ 2:00 AM
______________________________________________________________

Mencoba menyusun kata bosan di sela alismu yang kian menghitam, merujuk pada sepasang mata yang sudah lama menjadi bayang tanpa sinar adanya.


Seorang Sendja @ 1:47 AM
______________________________________________________________

Here, there and everywhere...

Ungu masih melekat di ujung bianglala,
walau nyaris tak pernah menyapa si merah.


Seorang Sendja @ 1:30 AM
______________________________________________________________

 

Monday, December 04, 2006

Mata Kaca dan Beling Cinta

Maafkan aku, air mata..
Kaca yang jadi beling,
tlah melukai hatimu.
Tak hanya sobek tanganmu.

Kaca yang jadi beling,
mencuciku bersih...
hingga hilang sembilan puluh sembilan,
kepribadian buruk lainnya.


Seorang Sendja @ 3:46 AM
______________________________________________________________

Gubahan tanpa cerita..

Aku yang entah,
kau yang kini terserah.

Katakan caranya,
agar rasa tak pernah punah.
Atau setidaknya kita berhenti bertukar resah.


Seorang Sendja @ 3:44 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, November 28, 2006

Melihat dan Bertanya

Diberikan anugerah, nyaris seperti diuapi,
dengan mahkota aura yang luar biasa,
agar penglihatan jujur adanya, dan baik.

Untuk memudahkan, dan tak berlaku Tuhan.
Untuk membahagiakan, dan tidak menelanjangi.
Untuk menguasai rasa, dan tidak berburuk sangka.
Untuk mengajak bicara, karna dua arah adalah baik adanya.


Seorang Sendja @ 12:40 PM
______________________________________________________________

Doa Buku Telepon Saku

Hari ini setelah sekian lama aku berdoa,
hanya satu kata yang singkat,
yaitu bahagia.

Untuk Allah,
buat kamu,
dari aku.

Isi doa mirip buku telepon saku magnetik. Pada cover depan, hanya digantungkan satu kata. Tapi begitu kau membukanya, ada satuan..belasan..dan kalau bicara tentang pinta, ya aku maksud puluhan.

Bahagia.
Bila mendungnya hari membuat kau susah.
Bila kopi nikmat disajikan pada gelas styrofoam.
Bila aku ada dan tidak membahagiakanmu.
Bila...bila...bila...

Aku masih berat tuk mengatakan,
Auf Wiedersehen, Lieber.


Seorang Sendja @ 12:13 PM
______________________________________________________________

 

Friday, November 24, 2006

Dalam hujan renik aku melunturkan air mataku jauh sebelum maskara cokelat karamel terduduk lemas di tepian pipi yang kini sudah jauh dari semu merah seperti saat kita pertama bertemu..


Seorang Sendja @ 1:22 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, November 18, 2006

Semua adalah Anjing

Katanya semua orang itu anjing.
Anjing pada kaki yang mudah berlari,
lidah yang suka menjilat,
gigi tajam yang mampu menggigit,
anjing, anjing, anjing!!

Dan pernah memang ada satu anjing,
yang bersabda bahwa tulang tidak baik.
Untuk kesehatan, apalagi hawa nafsu.

Malam ini teman anjingku yang sama,
bilang dia doyan tulang! Sial!


Seorang Sendja @ 1:03 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, November 15, 2006

Aku ingin habiskan hari-hariku sampai tua dengan percintaan denganmu. Di dalam cangkir, hangat sudut perapian, lampu neon pada teras rumah, dan kerlingan pohon bambu yang beradu tatap mesra dengan angin malam. Dalam sunyi pun riuh gemuruh, mungkin cinta kita bisa seperti lampu kristal.


Seorang Sendja @ 7:31 AM
______________________________________________________________

Rinduku Semalam

Seperti paruh bulan yang dimakan gelap malam,
sebuah mimpi yang terbang jauh tanpa sayap.


Seorang Sendja @ 7:27 AM
______________________________________________________________

Kamar Lima

Diam saja, jangan bicara cinta.
Sedari tadi kamar merah berceceran kata.
Ada yang menyangkut di bawah pintu,
di kolong sofa, pada kaca jendela,
dan cermin yang nyaris runtuh.

Ada bekasku padanya,
ditulis dengan gincu merah,
diakhiri tanda seru.


Seorang Sendja @ 7:19 AM
______________________________________________________________

Mungkin pangeran tampan dengan kuda peraknya mulai lelah berhenti di ujung gang, karna takut peri malam kan mengubahku jadi semangka lewat tengah malam, yang tak bisa kuakali lagi dengan tali rambut tuk naik ke atas menara.

Kalau kau tahu betapa besar cintaku,
ribuan kastil bisa kau bangun dengannya.
Sayang cintaku tak bisa dinominalkan,
apalagi dibeli.


Seorang Sendja @ 7:08 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, November 11, 2006

Kemeja Pelangi

Pak guruku yang berwarna.
Beda hari beda emosi beda warna kemejanya.

Tempo hari pak guru kenakan biru langit,
yang kutebak dicurinya dari kanvas matari pagi,
diam-diam dengan kecepatan tinggi.

Seminggu yang lalu merah muda warnanya,
seharum gulali di pasar malam dekat rumah,
semesra senyuman gadis perawan dikala jengah.

Hari ini tidak tahu kenapa, pak guruku nampak murung,
bukan hanya warna kemejanya yang abu,
mukanya pun jadi seperti batu.

Tapi tak mengapa,
kata ibuku tidak ada yang lebih menyedihkan,
dari mereka yang berpakaian putih-putih.


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

Mataku yang tertusuk pulpen menghisapnya dalam hingga mataku yang buta kemudian mengajarkanku tuk menulis dengan pulpen bertinta air mata.
Kamu adalah baris, gerutuan titik dan tanpa tanda tanya.


Seorang Sendja @ 12:39 AM
______________________________________________________________

 

Friday, November 10, 2006

Kaki Empat Penyaru

Kamar tidurku tidak terlalu kecil,
namun entah kenapa sekarang terlihat mungil.
Ada sebuah tempat tidur yang maha tahu,
yang punya telinga, mata dan mulut dia mengaku.

Subuh aku bangun karna gemerisik,
heran kebingungan lalu semua orang turut menilik.
Atas dasar apa aku terusik.

Malam, pulang karna lelah,
masih saja dia cari celah.
Mengeluarkan bunyi-bunyi aneh.

Tertidur entah posisi apa,
tempat tidurku selalu merasa esa.
Saya paling tahu dia sedang apa,
mimpi apa dan bersama siapa.

Mungkin besok harus kupotong kaki tempat tidurku,
biar kuyakin dia tidak lebih dari benda mati yang menyaru.


Seorang Sendja @ 12:57 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, November 09, 2006

Lirih Ketiga

Ingin jadi kalajengking itu,
yang kau bunuh dengan setengah kaleng baygon.

Tidak ada ruang gerak lagi,
mati terpojok.

Nyatanya hati ini berontak,
masih mau mencintai dengan bebas.

Selamat menikmati,
kita semua menderita.


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

Kontras

Kalau para pembaca lebih suka foto daripada kata,
padahal mereka bukan penikmat cahya...

Dimana letaknya aku,
yang bisa bercerita tentang lelucon selembar daun,
dalam perseteruan pohon dan ranting,
tanpa harus perlihatkan pagi pun malam?

Aku tidak suka menggambarkan bentuk,
mungkin aku tidak bisa...
aku hanya ingin merasakannya.


Seorang Sendja @ 1:06 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, November 07, 2006

Tiga Persamaan

Aku temukan kata cinta,
di balik bantal guling,
selimut perca,
dan seprei yang masih hangat.

Aku temukan kalimat rindu,
saat kantuk menyerang,
mata memerah,
dan kuap sesekali menyela perbincangan.

Terakhir dan nyaris sama,
pembicaraan nurani dengan nurani,
di akal yang nyaris mabuk,
oleh segelas campuran nuport.

Kejujuran meluncur begitu saja di balik sumpah serapah.
Dalam aura pagi hari, kantuk malam hari,
dan diri yang setengah sadar karna alkohol.

Terima kasih untuk sebuah kejujuran.


Seorang Sendja @ 5:52 PM
______________________________________________________________

Loncat Pagar

Tidur yang nyenyak.

Ingin bisa gantikan lelah hari ini,
turunkan purnama di sebelah wajahmu,
biar kau tahu hari sudah larut.

Sembari pandangi sinarnya yang jatuh,
menepiskan semua lingkar gelap di bawah mata,
tinggalkan jernih retina yang jadi canduku.

Tidur yang nyenyak,
kalau perlu kubawa pergi matari pagi,
agar tidurmu bisa sedikit tenang.


Seorang Sendja @ 1:38 AM
______________________________________________________________

Request by sms

Mari sini kugantikan lampu kamar mandi mu,
kuhilangkan pegal-pegal setelah kau fitness,
dan kubunuhkan kalajengking yang buatmu takut!

Lalu nanti gantian kau bunuh mimpi-mimpiku,
apa yang seharusnya tidak pernah tumbuh,
tapi kini aku bersyukur memilikinya.


Seorang Sendja @ 12:57 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, November 05, 2006

Empat Keajaiban

Bagaimana melukiskan langit,
dalam kanvas putih kapur?
Dan definisikan oranye senja,
yang mampir di bias matamu?


Seorang Sendja @ 10:11 PM
______________________________________________________________

Separuh Minggu

Tidak ada yang sama lagi.
Bahkan kadar gelisah yang mengganggu,
benar-benar melonjak tinggi,
seperti kolesterol bulan lalu.


Seorang Sendja @ 9:57 PM
______________________________________________________________

Two sides of a coin

Cinta yang membuatku ingin mati muda.
Ingin melepas semua mimpi yang menyiksa bangunku.

Cinta yang menghidupkan,
dan kini sewaktu-waktu bisa membunuhku.


Seorang Sendja @ 9:50 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, November 04, 2006

Kesal dan Sesal

Nyaris tak tertahankan,
aku hampir menuhankan kau,
yang kini tak lebih dari serpihan mimpi,
layaknya remahan di tepi bibirku.
Sayangnya bukan aku yang mengecap,
mengunyah dan nikmatinya.


Seorang Sendja @ 1:52 AM
______________________________________________________________

Satu-Dua

Katakanlah yang benar di atas yang baik,
pun jangan lupakan yang baik di sela benar mu.
Sebuah pelajaran yang menyakitkan buatku.


Seorang Sendja @ 1:45 AM
______________________________________________________________

Pilihan

Mencintai diriku,
berujung kehancuran.
Mencintai dirimu,
memberiku hidup.

Mencintaimu dan bersamamu adalah surga.
Tidak bisa bersamamu adalah neraka,
padahal belum saatku untuk mati.


Seorang Sendja @ 1:36 AM
______________________________________________________________

Sebutan Baru

Adalah suatu hukuman.

Untuk menghirup udara pagi,
dan merasakan panas matari,
yang suam-suam kuku...

Untuk menikmati air hujan,
yang menerpa wajah perlahan,
renik demi renik membasahi kening...

Hari yang tetap menjadi hari,
indah yang selalu indah,
walau kurang esensinya.

Dan aku dipaksa, terpaksa,
menikmatinya sendiri.


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

 

Friday, November 03, 2006

Perfect Match

Aku itu seruas buluh yang berlubang,
diam saja tak pergi kian kemari,
menunggu selintasan angin yang bertiup,
hingga BUNYI!


Seorang Sendja @ 12:54 AM
______________________________________________________________

Time After Time

Terlalu banyak tatap mata,
dengan artian sebesar jagad raya.
Terlalu panjang daftar lagu,
yang dijadikan cerminan rasa.


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, November 02, 2006

Cerita Siapa

Dulu aku bercerita tentang gajah meta,
dia mengamuk dan jatuh gila,
karna dibuang oleh kawannya.

Mungkinkah gajah meta tengah berkata,
ada seorang dalang yang digelar oleh wayangnya.

Pementasan yang bodoh,
karna dialah satu-satunya,
yang empunya cerita.


Seorang Sendja @ 12:15 PM
______________________________________________________________

Kejujuran Kalimat Picisan

Dulu aku menunggu hari ini,
dimana temanku hanya lantunan frase,
terngiang-ngiang dan dalam keheningan suara.

Pagi, siang dan malam,
saat tak kurasakan lagi lidah yang ingin mengecap,
rangkum tangan yang ingin memeluk,
dan berharap inilah mati rasa.

Nyatanya aku tetap hidup.
Mungkin compang camping,
kurus kering nantinya,
dan bersin ratusan kali sehari.

Tapi tetap hidup,
untuk (menunggu) kamu.


Seorang Sendja @ 11:44 AM
______________________________________________________________

Sebuah Renungan Bau

Hari ini aku terbangun,
dan nafasku bau kamu.

Masuk ke kamar mandi,
tidak ada lagi bau karbol,
baunya berganti kamu.

Lewat lemari baju,
pewangi melatinya sudah habis.
Tersisa bau kamu.

Mungkin hari ini aku pergi.
Atmosfer mobil masih sama,
dan abu rokokmu yang biasa menempel,
pastinya akan bau kamu.


Seorang Sendja @ 11:32 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, October 31, 2006

Api dan Air,
tanpa abu

Hitam jelaga,
api yang singkat,
kobaran nan dahsyat...

Ingin gumpalkan awan sesal di benak,
lalu turun luruh jadi hujan di sudut mataku,
hapus sisa abu di wajah dan hatimu,
saat aku memelukmu.


Seorang Sendja @ 12:43 AM
______________________________________________________________

Healing

Tidak akan pernah sama,
bahkan bila benangnya adalah sutera.

Rindu sekali beradu bibir di balik pagar rumahku,
spontanitas percintaan yang meletup-letup.

Senyumanmu, kudambakan sangat!


Seorang Sendja @ 12:39 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 30, 2006

Adrenalin Tak Henti

Bak kuda yang berpacu kencang,
menuju garis finish yang bergerak terus,
berlawanan dengan angin yang menerpa wajah.
Semua terasa lebih memburu, biru.


Seorang Sendja @ 10:05 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, October 29, 2006

Satu-satu

Tidak usah bicara cinta hari ini,
aku ingin berikanmu nyaman,
setingkat rasanya dengan aman.


Seorang Sendja @ 5:14 PM
______________________________________________________________

Ngilu

Rasa yang kuat ini,
pilu jantungku.
Lebih baik kehilangan diriku,
daripada kehilangan kamu.


Seorang Sendja @ 5:09 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, October 25, 2006

Kepemilikan

Aku ini pencuri,
sejak enam bulan yang lalu.

Kini tengah membuat NPWP,
supaya tidak ada yang aku-mengaku.
Atau seyogyanya, hak paten itu perlu?

Ah, matilah aku dalam kekhawatiran.


Seorang Sendja @ 7:02 PM
______________________________________________________________

Walk on by...

Entah menahannya dengan apa lagi,
sepertinya lengan ini sudah mau patah.

Berdiri dengan kuda-kuda, sudah.
Menguatkan bisep trisep, sudah.
Memusatkan konsentrasi, sudah.

Pergilah sana, bila ingin.
Sepasang tangan saja tak mampu menopang,
suatu hubungan yang selalu di ambang batas.


Seorang Sendja @ 6:55 PM
______________________________________________________________

Setipis Benang

Tolong berhenti disana,
persis di belakang garis.
Dan tolong berhenti mencintai aku.

Bukan mencintai yang selewatan angin,
atau saat matari sedang indah-indahnya.

Tapi mencintai yang satu paket,
lengkap dengan emosi-emosi ajaib itu.
Aku tidak menyukainya,
sungguh!

Cintai saja seadanya aku,
ala kadarnya, tanpa lebih-lebihan.

Terlalu mencintai aku,
akan menggusurnya menjadi benci,
sewaktu-waktu,
semau-mau kamu!


Seorang Sendja @ 6:52 PM
______________________________________________________________

 

Monday, October 23, 2006

Nada Kata Rasa

Akan kutuliskan sebuah lagu,
tentang keriap di pagi hari,
tanpa terusik seharian yang menanti,
dalam beragam ketukan mimpi...

Mungkin tidak rapih,
selalu sulit kompak nada,
atau mungkin menggesa.

Hanyalah sebuah tanda,
terkadang alam turut bercanda.


Seorang Sendja @ 2:45 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, October 19, 2006

Finished

Malam ini kutemui mimpimimpi jatuh,
pada tangan yang terbuka lebar,
nyaris memeluk sebuah keajaiban.


Seorang Sendja @ 2:06 AM
______________________________________________________________

Kabar Hari Ini

Bila hidup lebih menakutkan daripada kematian,
hidup tanpamu jauh lebih mengerikan lagi...


Seorang Sendja @ 1:19 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, October 14, 2006

Kalian yang satu...

Coba tolong dengarkan,
sekali ini saja.

Jangan biarkan cerita yang tak utuh mengempa,
sebarkan prasangka dan emosi yang tak bijak.

Dengarkan saja,
hati nurani yang bicara.


Seorang Sendja @ 1:18 AM
______________________________________________________________

Catatan pantai

Kembalikan aku April tahun lalu,
dengan genggaman aroma laut di pangkal hidung,
dan senja yang surut seiring dengan khawatirku.


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, October 11, 2006

Cinta dan zina

Aku ingin disebut durjana,
satu-satunya yang mencuri tenang,
di kala diam hadirkan degup jantung.
Aku ini durjana yang jatuh cinta,
sungguh tak sama seperti dukana.


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 09, 2006

Fitnah

Katakan padaku,
apalah arti sebuah penghinaan,
atau malah hanya prasangka,
di atas sebuah foto bukan hitam putih,
satu-satunya firasah aku sedang tersenyum?


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Friday, October 06, 2006

Equal

Kalau air mata sama berharganya dengan minyak,
sesak dan pilu akan sama dicarinya seperti kemiri.


Seorang Sendja @ 12:18 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, October 03, 2006

Beranjak

Aku takut hari-hariku akan segera habis.

Layaknya rokok filter yang tertiup angin,
pun cerutu yang dinyalakan,
dan dibiarkan menahun.

Bulan-bulan yang luar biasa ini,
masih tetap dihitung hari per hari,
dan nyatanya adalah berjalan setahun.

Aku masih belum mendengar bunyi keretamu.


Seorang Sendja @ 1:23 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 02, 2006

Sebatas senja

Aku ingin cintaku serupa sinar matari.

Yang menyambut pagi tanpa kekesalan kemarin.
Yang undur diri karna tidak ingin merusak kenangan indah.

Yang kau tahu akan tetap ada di luar sana,
walau tengah berlindung di balik payung,
pun awan yang bergerak.

Yang menghangatkan dan cenderung bermusim.
Kadang lembut menyapa bangun pagimu,
kadang pula bisa merah memanas karna emosi.


Seorang Sendja @ 2:14 AM
______________________________________________________________

Story book children

Aku ingin menulis sebuah cerita,
tapi yang indah-indah saja.
Yang tidak tragis, tidak ironis,
walau sedikit miris.

Bila terpaksa, dibuat saja cerita tanpa tanda titik.
Biar tidak ada akhir yang menyedihkan.
Atau tanda koma, yang membuatmu bertanya,
ada apa setelah itu.

Mungkin lebih baik, aku diam saja.
Biar burung gereja yang cerita...
Nanti di suatu pagi, yang aku sebut beruntung.


Seorang Sendja @ 1:53 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, September 28, 2006

...

Tuhan, aku lelah.
Tidak bolehkah aku menyerah,
dan tak sekedar berlaku pasrah?


Seorang Sendja @ 1:51 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, September 26, 2006

Time after time

Sudah lama aku tidak mengucapkan kikilauan.

Sama seperti kilau lampu di pohon cemara,
bintang jatuh serupa meteor di langit gelap,
dan matamata yang membuatku tersenyum malu.


Seorang Sendja @ 1:21 AM
______________________________________________________________

 

Monday, September 25, 2006

Semua bisa menulis

I.
Sebutlah karya itu menentukan,
lalu kau boleh menjual lebih dari yang ada,
delapan cerpen dan sepuluh puisi.

Apa itu bunga, jamur dan petir,
yang kau lukiskan diantara kata,
menghias amarah dan sumringah,
di atas sebuah pohon,
(dan masih angin membuaimu).

Maafkan aku yang telah merusak sebuah cerita.
Tapi tolong buatkan tanda titik,
jangan biarkan kata jadi kalimat,
dan terbuang pada kertas buram saja.

II.
Mari hari ini aku berikan waktu,
membaca sebuah buku milikmu.

Mungkinkah ada namanya,
seorang yang mencintaimu sangat,
tapi kau sia-siakan begitu saja?


Seorang Sendja @ 11:59 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 23, 2006

Rindu membaui kamu

Nyaris kucium bau hujan,
walau langit gelap tiada merah,
dan keretamu masih lama tiba.

Ataukah itu, air mata yang mengembang,
tak kunjung jatuh hingga nanti?


Seorang Sendja @ 12:26 AM
______________________________________________________________

 

Friday, September 22, 2006

Prakarya

Tutup saja matamu.
Biar angin membawamu pergi,
merepih mimpi yang tak kunjung usai.

Seharusnya ini malam kita,
merajut bulan dan langit,
bisa juga sekumpulan bintang,
dari bayangan air kolam,
tanpa tepian rumput sekalipun,
tanpa mereka.


Seorang Sendja @ 1:05 AM
______________________________________________________________

I.

Bisakah sekali ini tidak usah pakai meteran,
penggaris, timbangan, dan bahkan pengukur suhu?

Lelah sekali rasanya bila selalu melihat ke cermin.
Mencari aku yang lebih baik disana,
atau pembanding yang tiada pernah surut.

II.

Kamu kan tidak tahu,
ini kerut dekat mata ada karna kau,
membuatku sering tersenyum.
Berat badan naik lima kilo juga karna kau,
bahagia membuatku menelan semuanya.

Kalau nasi sisa kemarin saja jadi enak,
tahu kan betapa mudahnya aku gemuk karna kamu?

Setelah itu, mari kita bicara mengenai kecantikan.


Seorang Sendja @ 12:47 AM
______________________________________________________________

Siapa yang tahu?

Di balik kuning kamboja,
yang indahnya nyaris seperti senja,
kau pastikan itu bukan bunga palsu.

Tercium wangi semerbak,
keningmu lalu berkerut.
Tatap mata bertanya padaku,
apakah hendak membuatmu bersin.
Lupakah aku pada alergimu?

Belum sampai semenit,
aku tahu kau pasti tanyakan.
Apakah itu tulen atau persilangan,
akar tempel atau tanam.

Semua ada untuk dipertanyakan,
entah kenapa juga untuk diragukan.
Sama seperti hati dan perilaku aku.


Seorang Sendja @ 12:38 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 20, 2006

Cerita lain

Jelaskan pada logika,
bagaimana bisa aku terbakar,
dan tak jadi serupa arang.

Asap dan abu sedikit pun tak ada,
padahal aku tahu cerita itu.

Kisah usang rama dan shinta,
yang rupanya bualan belaka.
Api tak melahapnya,
tapi dia tetap terbuang.

Denganku,
rupanya nasib berkata lain.


Seorang Sendja @ 12:55 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 16, 2006

Cetusan

Ingin sekali bisa berkata,
tutup mata dan anggaplah ini semua mimpi,
yang indah pada percikan kembang api,
balon udara yang membumbung tinggi,
dan mungkin bau cendana yang merasuk.

Ingin sekali,
bisa berkata...

Aku sudah berhenti mencintaimu.


Seorang Sendja @ 1:16 AM
______________________________________________________________

Tanpa huruf UN

Aku bisa salah kata,
salah ucap, salah aksi,
dan salah waktu.

Tapi tidak mungkin salah rasa.
Memujamu setinggi ayunan bintang di langit!


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 09, 2006

[kosong]

Tidak ada tulisan hari ini.

Sebagaimana kamu tidak lagi mengotori dinding kamarku,
dengan bayang muka bayang tubuh bayang rasa,
dan juga suara berat milikmu,
ataukah ini sumpah serapah ku,
yang sudah menyerupai dendangan.

Sebagaimana aku ingin berhenti merindukanmu.
Maka hari ini aku harus konsisten!


Seorang Sendja @ 2:00 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, September 07, 2006

Alokasi

Dimana itu bintang jatuh.
Katamu, tidak pernah ada lagi.

Kau pasti salah.
Maaf sayang, salah ya salah.

Tiap hari ada bintang jatuh,
tepat di tempat tidurku.

Karna tiap malam aku tidur,
berselimutkan mimpi tentang kamu,
dengan lengkung senyum sempurna,
karenamu jua.

Apalagi namanya,
kalau bukan bintang jatuh?


Seorang Sendja @ 11:26 PM
______________________________________________________________

Hari ke 8

Tiap hari kau buatku mati kebingungan,
tak tahu harus menjawab apa.

Tentu hari ini lebih dari kemarin,
lebih manis, lebih berkenan,
lebih lengkap, lebih bahagia,
nyata adanya.

Apa pertanyaan kamu tadi?
Hari mana yang paling indah?


Seorang Sendja @ 11:20 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 06, 2006

Mutlak

Oh, waktu yang licik,
menikamku dari belakang,
dan bahkan dari penjuru arah.

Meninggalkanku lelah,
tak berdaya dan tua,
pada akhirnya.


Seorang Sendja @ 10:44 AM
______________________________________________________________

Hari ini dan nanti..

Selamat siang, Bu...

Aku baru saja pulang.
Katanya hari ini kaos kakiku belang sebelah,
kelerengku tidak genap selusin,
dan bajuku lusuh sekali.

Esok nanti apakah sama Bu,
rok yang kupakai terlalu panjang,
baju ini kekecilan,
make up luntur sebagian,
terutama mannerku berantakan.

Apakah benar Bu,
aku terlahir tak sempurna,
dan mati sama adanya?


Seorang Sendja @ 10:38 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, September 05, 2006

Shock

Rupanya sudah tidak kuat.
Dada kiri semakin lemah,
entah sisi otak mana yang lalim.


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

Sembilan dan lima

Maafkan untuk lima meter jarak yang ada.
Tengah mengecilkannya dengan air mata.
Yang entah mengapa enggan mengalir perlahan.


Seorang Sendja @ 12:40 AM
______________________________________________________________

 

Monday, September 04, 2006

Suara hati(ku)

Ada nyanyian di balik angin,
hembusan sama yang kerap mati,
mungkin karna usia.

Bunyi rindu yang teramat sangat,
sama kencangnya dengan debar jantung,
saat nanti kita bersatu lagi.


Seorang Sendja @ 11:33 PM
______________________________________________________________

p u l a n g

Rindu sekali.
Tak hanya puluhan kali.

Mungkin sama banyaknya,
dengan jumlah pasir di dalam botol,
yang kau beri tempo dulu.

Lelah berhitung,
kukeringkan saja air mata.
Yang dalam perjalanan,
mengering kemudian mengkristal.

Kuletakkan di atas langit,
untuk menjadi pijarmu saat pulang.


Seorang Sendja @ 1:18 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 02, 2006

Anekdot yang janggal

Ceritakan aku mimpi burukmu.

Saat hijau tak lagi bersanding dengan rumput,
halus pergi jauh dari kain sutera,
dan semua merepih begitu saja.

Kamu tidak pernah tahu,
aku tertawa diam-diam.


Seorang Sendja @ 1:23 AM
______________________________________________________________

 

Friday, September 01, 2006

Sebuah balasan

Tinggallah selama yang kau mau,
di bawah temaram alis mataku.

Biar hujan reda barang sejenak,
tak membawamu pergi dari ingatan.

Hentikan sembunyi itu,
tawa ini tidak hadir untuk tutupi rindu.

Biarkan bebas, lepas, berkendara angin,
nikmati waktu yang tersisa.


Seorang Sendja @ 12:55 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 30, 2006

Matari (ku)

Siapa yang mematikan lampu?

Ataukah di luar sana ada gerhana?

Semua tiba-tiba menjadi gelap,
nyata adanya saat kau menutup mata.

Mereka pasti mencari kamu,
karna matari yang kau sembunyikan,
tepat di balik kelopak mata.


Seorang Sendja @ 1:13 AM
______________________________________________________________

 

Monday, August 28, 2006

I.

Sulit sekali mengeja mu,
ujung rambut hingga kaki,
dirangkum jadi satu nama,
dengan ribuan definisi.

Dan kelas berhitung yang selalu gagal,
dengan angka nol yang luput,
digantikan oleh satu sampai sembilan.

Selalu banyak,
dan melelahkan.

Menghitung gembira ku,
atas mu.


Seorang Sendja @ 12:27 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, August 26, 2006

Runaway tripper

Kamu yang kesepian,
lalu salahkan satu kota bertajuk sepi,
dan membakar-NYA hidup-hidup.

Padahal kamu yang lari dariku,
lengkap dengan satu ransel kekhawatiran.

Memberi KO pada bahagia,
hanya karna masa lalu.


Seorang Sendja @ 11:42 AM
______________________________________________________________

Cinta yang mengkhawatirkan!

Sesuatu yang lebih ajaib dari topi tukang sulap.
Bukan merpati atau kelinci yang meloncat keluar.
Tapi rasa terdalam yang sangat rentan.

Hari ini merah jadi hitam,
esok putih jadi kelabu.

Katanya itu semua gara-gara cinta.

saya mulai berpikir adanya, cinta itu benar-benar tai kucing!


Seorang Sendja @ 11:39 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 23, 2006

Katakan, dimana pentingnya sepasang mata?

Perduli setan dengan lampu merah,
aturan tertulis di belakang kotak obat,
novel percintaan yang terbaik.

Saya tidak butuh mata,
bahkan sepasang mata.

Karna mata hanya datangkan pilu.


Seorang Sendja @ 1:02 AM
______________________________________________________________

 

Monday, August 21, 2006

Memar

Hati-hatiku entah tertinggal dimana,
mungkin dibalik cucian hari ini,
atau jatuh pada kerlingan mata,
berbulan-bulan yang lampau.


Seorang Sendja @ 12:21 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, August 20, 2006

Pure heart

Putih, bersih, sama saja dengan salju,
karna kamu sendiri adalah kemurnian itu.

Tanpa mata, tanpa telinga,
dan jemari yang mengayun mesra.

Murni dalam fikirku,
lewat mata hatiku saja.


Seorang Sendja @ 12:53 PM
______________________________________________________________

Sebuah hadiah panjang

Bukan hari-hari gemerlap,
suka yang berlebihan,
hingga tumpah ruah,
melebihi kadar seorang saja.

Bukan sehari, seminggu, sebulan,
yang bersinar seperti hiasan pohon natal,
dengan bintang di puncaknya,
bagai sebuah pencapaian.

Aku hanya ingin bersamamu,
walau mungkin jauh dari kerlap-kerlip itu.


Seorang Sendja @ 12:47 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 16, 2006

1.)
Rebahkan sayap imajinasimu,
tancapkan kuat-kuat kesepuluh kuku jemari,
peganglah seluruh dunia tuk bersandar,
tapi rasa itu tlah jauh dan bahkan tlah lama pergi.

2.)
Hari ini kau tanyakan kenapa hujan harus turun,
lalu rumput yang tlah susah payah kau keringkan,
kembali basah dan sedikit kotor.

Itu adalah pembelajaran cuma-cuma dari alam,
agar kau tahu garis lurus dari pensil itu,
bisa dihapus olehNya.

3.)
Bahwa perempuan dan lelaki yang baik-baik,
belum tentu yang terbaik bagi kita,
sungguh pelajaran terakhir yang utama.

sebuah perenungan di bawah langit bandung...


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 09, 2006

Probabilitas esok

Mungkin pelangi esok takkan muncul tujuh lapis,
matari terbit sekenanya dari utara,
dan semua indah menjadi berkurang,
sedikit pun banyak.

Mungkin.


Seorang Sendja @ 12:57 AM
______________________________________________________________

You can run, but..

Bersembunyi di balik missed call,
menghapus sms tanpa membalasnya.

Rupanya tidak mengubah rasa,
yang semakin nyata saja.


Seorang Sendja @ 12:34 AM
______________________________________________________________

Kebenaran ekspresi

Aku ingin menangis yang bukan menangis,
tanpa tetesan air mata karna sudah tak ada lagi,
hingga berubah menjadi darah kata,
yang tidak dapat sembuh melalui operasi.

Aku ingin tertawa yang benar tertawa,
bukan meringis dengan segukan pedih perih,
dan perut sedikit kram karena kontraksi,
bukan karna maag yang parah melanda.

Aku ingin tidak merasa ini.
Entah....maka kemari lah,
kembali lah!


Seorang Sendja @ 12:29 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, August 06, 2006

Tidak berpulang

Mengikhtisarkan pilihan,
sampai detik hilang dibilas resah.

Dan hujan renik tidak tentu arah,
sebagaimana angin belum ada di tempat.


Seorang Sendja @ 12:33 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, July 23, 2006

Who's turn?

Hitam dibalik jadi putih,
dan putih menggeser hitam,
berganti warna, bertambah sesak.

Mungkin sudah bukan giliranmu.
Sudahlah sana, mengaku kalah.
Walau ini bukan sekedar permainan domino.


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

Banyak mata

Dia mendaki langit per lapisan,
dari tangga pepohonan hijau,
dan menggali hingga air tanah,
yang menyambung hingga muara.

Mencoba berbagai gatra,
atau apa yang disebut orang aspek,
tak lain dari sudut pandang.

Bagaimana bisa lemah adanya,
mengungguli sempurna nampaknya?


Seorang Sendja @ 12:44 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, July 22, 2006

Learn and try to understand

Belajarlah pada padi yang nampak terlalu sederhana,
atau teratai yang selalu terlihat kumuh...
Dan mungkin saja pada kismis,
sebuah transformasi alami,
yang menaikkan nilai pribadi.

Pelajari saja,
apa yang tak terdapat pada not balok,
dan untaian nada klasik.
Siapa tahu kali ini berguna.


Seorang Sendja @ 1:05 AM
______________________________________________________________

Dia yang mengaku nasib

Rupanya perempuan itu dinamai nasib,
yang hendak memburuku kesana kemari.

Menguntitku laiknya bayangan,
menyerupaiku pada bidang putih,
yang tak mungkin hitam.

Tidak tahukah engkau?
Bunga dinamai tak hanya karna warna,
harum, penempatan, kekaguman,
dan pemujaan gadis-gadis padanya?

Mimpi sudah kau manusia ciptakan bunga,
lebih dari sebatas silang menyilang,
walau kau telah adopsi bentuk dan rupa,
bau yang nyaris sama dari pewangi paling mutakhir.

Sayangku, nasibku tercinta...
kau boleh mengaku bunga,
hujankan perhatian,
dan ucapkan kalimat resah,
dalam nada yang terindah...

Tapi kau bukanlah aku,
sebagaimana kata adalah nafasku,
dan bukan untuk menguasai mayapada.

Satu hal yang tak bisa kau curi,
tak bisa kau tiru,
duniamu mencintaiku,
apa adanya aku!


Seorang Sendja @ 12:52 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, July 13, 2006

Foto bicara

Kini bicara tentang kelamnya malam,
yang benar-benar surut terang bintang.
Hanya karna binar mata penuh cahya,
dua pasang dalam sebuah frame hitam putih.


Seorang Sendja @ 10:54 AM
______________________________________________________________

 

Monday, July 10, 2006

Spektrum warna baru

Sebut saja hitam muda,
putih tua dan ungu silver.
Selalu diciptakan dalam kita.

Sebuah spektrum warna baru,
dari tiada yang ada,
hingga terbaca nyata.


Seorang Sendja @ 4:17 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, July 04, 2006

Singkat dan padat

Kau sederhanakanku.

Untuk menyebut gelap yang berbulan,
atau sesekali berbintang,
dengan sebutan malam.

Tapi entah mengapa,
24 jam ini sungguh tak sederhana,
bila dipenuhi denganmu.

Yang lebih kaya dari ledakan jutaan meteor.


Seorang Sendja @ 12:38 AM
______________________________________________________________

 

Friday, June 30, 2006

Di langit bintang

Komet kembar yang berpacu bersama,
tengah berlarian kalahkan matari,
nyaris muskil dengan kecepatan cahaya.

Lewati satu titik, belasan bulan,
dan titik lagi, belasan tahun,
hingga titik lagi, sebuah ikatan,
yang tak dilingkari hitungan jarak.


Seorang Sendja @ 11:56 AM
______________________________________________________________

m a t i k a n waktu

Waktu luangku tak kuisi dengan kamu,
tidak pula dengan pikiran tentang kamu.
Denganmu, sang detik kalah pamor,
dan menit jadi kurang percaya diri,
atas hitungan jam yang mati,
berhenti total atas rotasi padamu.


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, June 27, 2006

Cerita

Pegasusku ketukkan langkah di ujung pelangi,
hentikan waktu pun detiknya yang bergulir,
pindahkan mejikuhibiniu pada surai menjuntai,
tinggalkan aku merasai mimpi siang hari ini.


Seorang Sendja @ 2:11 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, June 24, 2006

Barter

Mata kaki yang lecet,
macaroni yang hangus,
hati yang nyaris compang camping,
adalah sepadan bila kita bersama,
nanti.


Seorang Sendja @ 2:02 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, June 22, 2006

Lagu dansa

Mari berdansa,
lengkap dengan alunan hening,
biar aku yang berkata-kata.

Pelan kubisikkan,
seirama kaki kanan dan kiri,
tentang matari yang mencuri sinarmu,
dan bintang yang leluasa sembunyikanmu.

Hingga pagi datang mengusik,
dan kosa kata menipis,
aku masih bicara.

Bahkan lantai yang penuh,
tapak di atas kata-kata,
oh biar saja.

Semua tengah berhamburan,
dari benaknya rasa, melewati lingua,
berlarian keluar lewat frase dan kalimat.

Nanti lantai dansa kan dibersihkan,
bahkan sampai titik koma yang sulit hilang
(sudah tidak ada tanda baca yang tersisa)


Seorang Sendja @ 2:11 AM
______________________________________________________________

 

Monday, June 12, 2006

Pelangi

Kukenakan pelangi di hak sepatuku,
kuning, coklat hingga oranye.

Sampai nanti kupinjamkan untukmu,
sabar-sabar saja kau di atas sana.
Isi penuh dulu mimpi-mimpiku.


Seorang Sendja @ 1:18 AM
______________________________________________________________

 

Friday, June 09, 2006

Toples warna-warni

Tolong kemarikan yang itu,
yang bundar dengan tutup plastik.
Memang tidak kedap udara,
tapi pasti anti aging.

Satu lagi kumasukkan ke dalamnya,
atas malam kerlip dan langit teduh yang kau cipta.
Selembar bahagia kusimpan baik-baik,
dalam toples warna-warni.


Seorang Sendja @ 12:07 AM
______________________________________________________________

 

Monday, May 15, 2006

Tawa untuk malam nanti

Malam nanti kuharap lebih,
dari hangat genggam tangan.
Warnai saja atmosfer suara,
belah langit yang sempurna itu,
dengan cabikan tawa mu.

Gembirakan aku malam nanti,
tanpa usungan mimpi buruk,
dan hymne duka cita.


Seorang Sendja @ 6:59 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, May 10, 2006

Percaya tidak percaya

Boleh kau percaya,
pada sejuknya embun pagi,
teriknya siang hari,
dan malam yang membutakan.

Karena kau pernah disana,
pernah melihat, merasa,
dan dirasai.

Kau pernah juga tahu bahwa api itu panas,
saat es batu di genggaman mulai meleleh,
dan tanganmu nyaris ikut terbakar.

Tapi bagaimana bisa kuminta kau percaya?
Bahwa apa yang ada di hati ini adalah nyata,
saat kau tak bisa memegangnya?

Dan ketika kata-kata tidak absolut lagi,
bahkan yang hitam di atas putih,
bagaimana bisa aku tega,
sekedar buatmu percaya?

Aku tidak mau berjanji,
karena aku tidak bisa.
Aku hanya minta kau percaya,
pada detik ini saja.

Bahwa aku benar-benar cinta.


Seorang Sendja @ 12:48 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, May 06, 2006

Hebatnya rasa

Tidak ingin meniti awan,
menebak ringan tubuh hingga nanti.

Enggan bernafas dari celah lapisan air tanah,
terlindungi dan bebas dari mahkluk besar saja.

Hanya mau stabil,
biasa-biasa saja,
jadi manusia normal.


Seorang Sendja @ 12:22 AM
______________________________________________________________

 

Friday, May 05, 2006

Bermain layangan

Tidak perlu kau tunggu bayu,
langkahkan kaki ke atas bukit,
sebisa mungkin saat senja.

Tak perlu juga kau tabung amal,
harap-harap cemas kan capai surga.

Hari ini juga, aku berikan layang-layang.
Bukan yang di ujungnya beragam,
dengan jenis bebean, pecuk, atau janggan.

Hanya dengan surga di ujung layangan.
Kutarik hingga rapat ke bumi,
dalam pelukanmu.


Seorang Sendja @ 12:19 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, May 04, 2006

Tanpa helaian

Dimana kamu?
Yang bisa meyakinkan,
adalah tidak apa-apa,
tidur hanya berselimutkan langit.

Menerpa dingin dengan semangat esok,
dan jadikan tanah tumpuan yang kokoh.


Seorang Sendja @ 11:18 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, May 02, 2006

Mimpi-mimpi

Ada mimpi,
di telinga kiri.
Bekas semalam,
saat cerita disulam.

Kubisikkan,
pelan saja.

Masih tersisa,
lelerannya pada dagu,
atau di sudut bibir tepatnya.

Yang datang darimu,
dan mampir di mulutku.

Kubisikkan,
cukup pelan saja.


Seorang Sendja @ 11:21 PM
______________________________________________________________

 

Monday, May 01, 2006

Kini

Tidak perlu ada lama dan baru.
Dahulu dan sekarang,
lalu buanglah penanggalan.

Semua tak penting,
apalagi yang tak pasti,
kalau sekarang ada kamu.

Tepat di pelukku,
di rangkum mata hatiku.


Seorang Sendja @ 12:18 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, April 30, 2006

Janggal

Ada yang tersiksa.
Pada tiap ingin yang tercekat,
bahkan belum sampai kelu lidah.

Bukannya kau tak bisa,
tapi kau tak mau.


Seorang Sendja @ 12:45 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, April 29, 2006

Ajaib

Ingin sekali bisa merangkum kamu,
dalam satu pelukan dan ribuan ciuman.

Yang ceritakan perjalanan singkat,
kalahkan empat musim sekaligus.


Seorang Sendja @ 3:11 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, April 27, 2006

Pelihara hujan

Masih kurasa basah,
tidak pada pelupuk mata.
Tetap sama resah,
dengan gemerisik air mata.

Ku pelihara hujan,
dalam benak.
Sekedarnya.


Seorang Sendja @ 7:21 PM
______________________________________________________________

Pembatas

Carikan aku penjara,
yang lebih dari kolong meja,
lubang di tanah,
dan spasi di bulan.

Bukan karena malu,
atau harus mengaku salah.

Aku tidak ingin menahan,
atau tepatnya tak bisa menahan.
Merindu mu, mengingini kamu.


Seorang Sendja @ 3:07 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, April 26, 2006

Kartu absen

Pada vibrasi handphone,
pertanda sms dan telepon masuk.

Pada pagi yang berganti siang,
agar cepat senja lalu malam.
Hingga menu-menu makanan,
kembali digantikan kamu.

Pada tiap pikiran di alam sadar,
bawah sadar dan tak sadar.

Ah, sungguh ketergantungan itu,
benar-benar telah hadir.


Seorang Sendja @ 12:23 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, April 23, 2006

Natural instant-nity

Merindukan mu,
sampai titik koma kata,
dan keringat dingin ku.

Begitu kilat dan natural,
serupa gejala alam.
Yang mendobrak hening langit.


Seorang Sendja @ 10:07 PM
______________________________________________________________

Daya tarik mu

Gravitasi bumi itu jelas ada.
Menarikku kesana dan kesini,
kian kemari dan tak henti.

Tapi dia adalah seorang,
yang dilahirkan, tumbuh mengagumkan,
dan kini memutarbalikkan duniaku!


Seorang Sendja @ 9:54 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, April 22, 2006

Discovery

Mencoba melacak kebosanan.
Pada tebal alis dan merah bibir,
putih kulit dan seluruhmu.

Kembali pada raut muka dan mata,
namun masih tak ada yang nyata.


Seorang Sendja @ 3:21 AM
______________________________________________________________

Taman khayalan

Hanya disini,
sebuah cafe disulap jadi taman.
Lengkap semua,
hanya tanpa kupu-kupu.

Dengan sepasang aku dan kau,
yang duduk di sudut ruang.

Tak hanya diam, kita berpolusi.
Rupanya terlalu banyak khayal,
yang melompat dari benak.

Membuat mereka sibuk menangkapnya,
dengan jaring kupu-kupu.


Seorang Sendja @ 3:12 AM
______________________________________________________________

 

Friday, April 21, 2006

Bicara hujan

Hujan,
gemerisik yang menggoyah konsentrasi,
sedikit mengganggu telinga,
tapi tidak basah.

Hujan,
dingin di balik kaca jendela,
menggetarkan jemari yang bersandar,
masih tidak basah.

Adalah menyatu,
saat ku menginjak rumput,
biarkan ratusan tetes mendentam kepala.
Mencuci habis semua khawatir ini.
Hingga basah.

Akhirnya.


Seorang Sendja @ 12:34 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, April 20, 2006

Dialog mata

Waktu masih malu-malu,
kita jarang bicara.
Hanya ada tatap mata.

Sekarang masih sama.
Seakan tidak ada yang saingi,
pembicaraan tanpa kata itu.

Mungkin bila semua dicatat,
kita sudah bisa buat trilogi buku,
hanya dari dialog dua pasang mata!


Seorang Sendja @ 11:59 PM
______________________________________________________________

Scent II

Pagi menyambut dengan aroma embun,
dan malam dengan sejuknya rumput basah.

Bisa ditambahkan bau selembar toast,
coklat hangat di mug tanah liat,
atau mungkin nanti sabun mandi,
yang menggelitik hidung dengan kesegaran.

Tapi aku masih kebingungan,
karna cinnamon jelas bukan,
kopi juga kurang kentara.
Bisa jadi bau alami kamu,
ya tidak lain dari rumah.

Lengkap dengan halaman rumput,
pagar kayu warna putih setinggi pinggang,
dan perapian yang selalu hangat.


Seorang Sendja @ 11:34 PM
______________________________________________________________

Scent I

Kemarin seperti butuh tidur yang panjang,
atau malahan tidak sama sekali.

Rupanya sekarang xanax berbentuk aroma,
melekat disana sini mu.
Atau bisa jadi telah larut dalam saliva.


Seorang Sendja @ 11:16 PM
______________________________________________________________

Satu warna

Tiga hari yang lalu,
aku berkebaya hijau,
di sebuah mimpi tengah malam.

Merah, kuning,
biru, jingga,
dan hitam sekalipun.

Tapi mungkin takkan pernah,
dalam balutan putih,
dan yang ini mimpi siang hariku.


Seorang Sendja @ 1:39 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, April 19, 2006

Ingatan akan sudut

Astakona,
keluar istilah itu.

Terlalu banyak sudut di bibir kamu,
belum sampai di ujung,
aku sudah lupa rasa di titik awal.

Atau mungkin kesalahan di neuron.
Amnesia selektif yang menyenangkan.

Jadinya aku harus kembali mengulang.
Dan lagi....dan lagi.....


Seorang Sendja @ 4:16 AM
______________________________________________________________

Si bulan

Sepasang malam ini,
yang hadir si bulan separuh.

Sisi yang satu berselimutkan awan,
dan yang lain mencuri terangnya bintang.

Mungkin untuk ingatkan,
ada aku tapi juga ada dia.

Dan tetap,
indah merajai malam.


Seorang Sendja @ 4:11 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, April 18, 2006

Bibir rasa kopi karamel

Hanya karna kamu,
starbucks bisa tutup.

Pernah dengar kampanyenya?

Lip locking love of caramel,
savor the gooey,
buttery sweet...


Kalimat ajaib itu jadi basi,
habis sudah kamu tandingi.

Untung cuma aku yang tahu.


Seorang Sendja @ 12:54 PM
______________________________________________________________

 

Monday, April 17, 2006

Hanya diam

Malam ini aku ingin tidur tenang.
Tanpa harus menautkan jari,
lima jadi sepuluh.

Mau mimpi indah,
tidak pakai taman bunga,
hanya ada kedamaian.


Seorang Sendja @ 11:18 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, April 16, 2006

Insomnia

Mulai merindukan insomnia itu.
Bukan, tentu bukan padaku.

Melainkan padamu,
yang kerap menggangguku,
tengah malam saja.

Tidak ada keengganan,
pengusik tidur di awal,
hanya ada pembuahan rindu di akhir.

Jadi sebenarnya siapa yang lebih sakit?
Sepertinya aku,
yang mencari-cari kamu.


Seorang Sendja @ 12:54 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, April 15, 2006

rindu hari ini

ada kamu pada tiap kata kata
kata di dinding putih
dinding merah hangat
dinding yang dekat pintu
dinding pembatas rindu

untuk meluruhkan itu
pasti sedikit sulit

apalagi di tanggalan merah begini

aku bisa saja mengelupas semua cat
bisa jadi nanti sampai semennya
dan tetap tidak habis rasa rasa itu

tapi kan malam harus sudah jadi lagi
apa itu rumah lalu kamar dan aku tanpa dinding
pasti mati kedinginan nanti

kecuali ada kamu disini..


Seorang Sendja @ 12:08 PM
______________________________________________________________

Super sonic out of you!

Semua kegilaan ini,
roller coaster tiket terusan,
sampai terlontar ke atas,
dan nyaris tak kembali.

Bawa pulang jutaan bintang,
hingga langit turunkan pagi,
karna kehilangan hiasan malamnya.


Seorang Sendja @ 1:06 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, April 09, 2006

Di suatu senja

Nanti saja.
Bukan tak lelah otak ini,
sama halnya pegal betis.

Hampir semua,
dan mungkin sudah semua.
Sampai-sampai hilang semua.

Tapi belum ada senja yang cukup indah,
tuk hentikan langkah kecil ini.
Dengan kehebatan rangkum mata,
dan selembar saja papan tuk rebahkan beban.


Seorang Sendja @ 6:44 PM
______________________________________________________________

 

Friday, April 07, 2006

Warna

Mirah merah matamu,
ingatkan haru biru hatiku,
hingga palsu jadi beku.


Seorang Sendja @ 11:47 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, April 05, 2006

Berbagi langit

Setelah malam ini,
kita pasti jadi buron.

Seenaknya membagi dua langit,
lengkap dengan bintang dan arakan awan.
Diliputi nafas setipis angin mati.

Untuk kamu disana dan aku disini.
Tinggal rindu yang hangatkan kita.


Seorang Sendja @ 10:04 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, April 04, 2006

Frame senja-mu

Seperti aku,
dengan sepasang mata,
jemari dan lensa.

Bagaimana bisa,
kau ciptakan sempurna itu,
sungguh adanya dalam rekaman otak.

Frame yang luar biasa, sayang.
Luruh semua sisakan bangga untukmu.

Seperti aku sendiri saja...


Seorang Sendja @ 11:22 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, April 01, 2006

Zoentjes

Ada hangat di balik renik hujan yang mengganas,
nyaris selembut awan yang kutarik jadi kapas,
dan kecup rindu jadi sayang jadi lepas...


Seorang Sendja @ 9:03 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 30, 2006

Ciuman senja

Gurat merah di langit senja,
sedari awal bukan sandyakala.
Hanya bisa dijabarkan perlahan,
bukan sekedar aksara yang terserak,
dari nama seorang kamu.


Seorang Sendja @ 11:17 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, March 28, 2006

Apa yang bersisa

Menulis kata beraroma cinta,
dengan ujung jemari,
dan juga tinta.

Tapi tidak lagi dengan hati,
tidak untuk malam hari ini.


Seorang Sendja @ 11:55 AM
______________________________________________________________

 

Monday, March 27, 2006

Kata bermakna

Semua bisa tidur beralaskan kantuk,
tapi tidak bertangan kosong.

Karna tajam lidah siap sedia,
berdaya musnah pada harap seketika,
terutama saat bangun tidur.


Seorang Sendja @ 10:37 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, March 26, 2006

Gila dan cinta

Seperti gajah meta,
yang jatuh gila,
karna tersingkir,
dari kawanannya.

Dan kamu,
adalah se kawan ku,
satu-satunya.


Seorang Sendja @ 8:40 PM
______________________________________________________________

 

Friday, March 24, 2006

Akhir yang menetap

Pada tiap qafiyah,
yang kutulis dan kau baca...
Biar lega menetap, karna hangatnya hati,
hindarkan malam pada pagi.


Seorang Sendja @ 8:54 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, March 22, 2006

Dejavu

Ingin kembali meramu masa depan,
dengan tawa, tangis, dan peluh asa.
Denganmu di tiap senja yang usai,
dan malam yang kian merajuk.
Rupanya aku jatuh cinta lagi,
padamu seorang.


Seorang Sendja @ 11:17 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, March 21, 2006

Bias lama perempuan

Membakar dunia,
sepertinya percuma.

Dari dulu sudah penuh asap,
polusi dari kekayaan duniawi,
yang katanya dikerubuti perempuan.

Kamu hidup di duniamu sendiri,
yang rupanya jauh dari kesadaran.


Seorang Sendja @ 10:59 AM
______________________________________________________________

 

Monday, March 20, 2006

Pilih dan jumlah empat

Pilih bobot,
gajah saja kalah,
mata yang merangkum semua.

Pilih kasih,
masih ada bunda,
yang tak pernah turun tahta.

Pilih tandhing,
siapa pula yang wicara,
lebih baik ku jadi penengah.

Pilih lalab,
paras rupawan bukan jaminan,
ranum usia masih bualan,
sepertinya butuh novena 7 x 7 !


Seorang Sendja @ 10:58 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, March 16, 2006

Kini dan lalu

Kenapa turun hujan malam itu,
tanpa gemerisik daun menyela hening,
tidak penting lagi bagiku.

Semua telah basah,
benar-benar basah,
sedalam-dalamnya.


Seorang Sendja @ 11:29 PM
______________________________________________________________

2 in 1

Kalau sudah habis tertawa,
sampai mengering air mata,
segera tarik nafas.

Dua hal yang penuh kesadaran,
dan satunya lagi sebuah kebiasaan.


Seorang Sendja @ 1:14 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, March 11, 2006

Titik koma

Dia terus saja berlari,
sembunyi di dalam saku kemeja,
di balik lidah sepatu boot ayah,
menyatu padu di bawah lembaran karpet.


Seorang Sendja @ 1:36 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, March 04, 2006

Up and Down

Seperti perjalanan balon udara,
yang ada di iklan-iklan.

Adrenalin naik seiring mengudara,
harum putik tertiup angin senja,
silau matari sedikit pedihkan mata.

Ah, ataukah itu embun di mata,
yang tak kuakukan air mata?

Hangat dekapmu ada,
saat telapak kaki kembali ke gelitik rumput.
Dan aku sudah belajar,
tidak ada masa depan yang pasti.

for my dearest Andry Dilindra


Seorang Sendja @ 9:39 AM
______________________________________________________________

Masa depan

Untuk apa buang tenaga,
bergulat dengan ngeri,
untuk jatuh karna berlari,
sedang berjalan saja,
aku belum bisa.


Seorang Sendja @ 9:36 AM
______________________________________________________________

Kamu dalam pikiranku

Rontok rambutku,
komedo membandel di kelopak mata,
sembelit yang tak kunjung menghilang.

Itu kamu,
atau hanya pikiranku tentang kamu?

Yang awalnya begitu menyenangkan,
dan semakin dalam,
masih menyenangkan,
dan semakin dalam,
puncak menyenangkan,
dan semakin dalam,
hingga efeknya berbalik,
dan yang semakin dalam itu,
menjadi sedahsyat kanker!


Seorang Sendja @ 9:35 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, February 25, 2006

Dots in spot

Setidaknya matari pernah kulihat bulat sempurna,
yang rupanya terlalu terang tuk sepasang mata ini,
tidak kini yang penuh bercak hitam kosong.


Seorang Sendja @ 9:29 PM
______________________________________________________________

 

Friday, February 24, 2006

Obrolan senja hari

Terima kasih,
pada nyaris birunya langit,
patahnya tangkai anggrek bulan,
yang membuatku belajar.

Daya manusia begitu kecil,
dan dunia ini begitu luas,
sampai-sampai rasa saja,
bisa berbalik memakan kita.

thanks to badai..


Seorang Sendja @ 12:32 AM
______________________________________________________________

Empty room

Selamat pagi,
katakan saja pada gorden,
yang bergayut mesra,
pada sekotak dua jendela mu itu.

Sudah tidak ada lagi,
kecup pipi dan peluk mesra,
lewat sinar mata di balik frame,
yang entah kau sembunyikan dimana.


Seorang Sendja @ 12:28 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, February 23, 2006

Pasir dalam mata

Dari ribuan, jutaan pasir di pantai,
kenapa cuma satu partikel,
yang hinggap di mata.

Aku menikmati kelilipan itu,
mata berair, sedikit perih kurasa.
Tak melempar pandang pada lain,
tak pula mengusapmu pergi.


Seorang Sendja @ 1:11 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, February 15, 2006

Minimum

Ada tanya, pada setiap kata,
yang mungkin tak dilafalkan,
melalui setipis kalimat.

Mereka titik, mungkin juga garis,
yang menjelma luas permukaan danau,
dengan kejernihan serupa kristal air mata.


Seorang Sendja @ 12:31 AM
______________________________________________________________

Sebuah papan selancar

Terkadang aku datang bersama rasa,
yang kau larikan saja dibalik ombak,
serta arus yang luputkan debaran jantung.

Sama seperti masa yang lain,
kan kupergi lekatkan satu-satu,
pada helai hijau kuning,
bisa jadi nyaris coklat,
dan hanya abu-abu.


Seorang Sendja @ 12:26 AM
______________________________________________________________

 

Monday, February 06, 2006

Tidak beranjak

Bukan terlena mendengar teori,
yang bisa jadi benar adanya,
atau rintik yang mengotori bahan suede,
sepatu kesayangan di luar nanti,
dan juga tidak adanya tumpangan pulang.

Aku hanya tidak tahu,
harus pulang kemana.


Seorang Sendja @ 10:46 PM
______________________________________________________________

class; 21:05

Saat dingin masih kalah ngilu,
beku di dalam merajai,
bukan hawa yang panaskan,
tapi sakit yang lebih sakit,
sendiri yang lebih dari,
sebuah kata kesepian.


Seorang Sendja @ 10:42 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, January 31, 2006

Gurauan sebuah lagu

Mendengarkan serangkaian lagu,
lalu deras kenangan menyapu,
tipiskan sel otak,
suburkan gairah pemimpi.

Sama dengan tangan,
dan gerakan memutar sendok,
atas partitur bernada jemu,
yang entah terdengar tak semu.

Kulelerkan pada tepi cangkir,
hingga kata per kata berhamburan,
lalu kuaduk lagi agar tidak menggumpal,
larut saja dalam cairan.

Kuteguk bersama angin sore,
dan senja yang masih usang.


Seorang Sendja @ 9:24 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, January 28, 2006

Part III

Saat tiada kabar,
mungkin kau tertidur,
maka terbius pula sebuah harap.

Ego mu,
mampu membunuhku,
dan terlebih tlah mengoyak rasa mu.


Seorang Sendja @ 12:21 AM
______________________________________________________________

Part II

Katanya pacaran adalah terlibat,
seperti ayam dan butir telur.
Lalu pernikahan adalah komitmen,
tepat contohnya babi yang menjadi bacon.

Rupanya aku salah,
dalam libatkan diri berkomitmen.
Lalu sibuk bicara,
tentang isi setangkup sandwich.


Seorang Sendja @ 12:15 AM
______________________________________________________________

Part I

Hujan di luar deras,
tapi tak begitu menggetarkan.
Bumi tengah berontak,
karna akar hati menggeliat,
menjejak sejuk berujung laut mati,
yang sanggup apungkan patah hati.


Seorang Sendja @ 12:11 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, January 22, 2006

Foreplay

Selamat pagi canda,
dan percakapan malu-malu.
Nampaknya semburat merah sudah kembali,
berlabuh di tepian bibir.


Seorang Sendja @ 9:39 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 18, 2006

Spasi

Ada rasa sendiri,
Pada derai air hujan,
yang keliru artikan warna langit.
Mereka luruhkan emosi,
yang tak semata lekat otak.


Seorang Sendja @ 10:55 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 11, 2006

Duple

Kemarin lusa,
dan mungkin hari ini,
saat kita bersama,
aku sedang menyanggam waktu.

Mungkin milik bunda,
bisa jadi kakak,
atau siapa yang terlintas benak.

Bukan untuk aku,
tapi untuk satu dan satu,
yang adalah dua.


Seorang Sendja @ 9:33 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, January 05, 2006

i don't know!

Aku memang bukan siapa-siapa,
yang hanya ingin membuatmu semuanya,
ya semuanya di depan mataku,
di hati dan pikirku.


Selamat mengarungi emosi mu,
yang entah apa,
bisa jadi aku tunggu,
atau entah apa (lagi).


Seorang Sendja @ 10:28 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, January 04, 2006

eyes for you

Rupanya kamu juga narsis,
sibuk menciumi diri sendiri,
di pelupuk mata ku.


Seorang Sendja @ 11:17 PM
______________________________________________________________

 

Monday, January 02, 2006

Dini hari

Aroma kopi mengental dalam nafas,
dan cinta dalam genggaman tangan.
Indah dunia tanpa ramai,
terbangun aku di peluk mu.


Seorang Sendja @ 10:48 PM
______________________________________________________________

Seluas langit

Sinar mata mu adalah kerlip bintang,
yang menjadi rangka sebuah kubah,
atas apa yang nanti kunamakan rumah.


Seorang Sendja @ 10:39 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 28, 2005

Untuk indera

Parapati jago reinkarnasi,
buat torehan isikan enderia,
sampai sekarang bebas parodi.


Seorang Sendja @ 8:06 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 27, 2005

White Christmas

Ada serpihan rindurindu jatuh,
sepasang mata berkerlipan,
rasanya dingin dan lumerkan air mata,
rinduku bernama rintik salju.


Seorang Sendja @ 10:53 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 22, 2005

Beda yang indah!

Bentangan biru yang sedikit kelabu,
seperti ditambatkan di hijauhijau,
begitu kontras dalam kealamiannya.

Seperti putih kulit di legam rambut,
cemerlang mata mu...


Seorang Sendja @ 7:25 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 21, 2005

Twins

Psst, kata mereka aku ini gemini.
Bahaya, dengan kepribadian ganda.
Ah, itu hanya bisa-bisaan saja.

Aku memang gemini,
dengan kepribadian ganda,
tapi sungguh tak bahaya,
asal aku tahu dimana remote nya.


Seorang Sendja @ 5:45 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 18, 2005

Isi cerita sebuah rumah

Kemarin aku cerita padamu,
tentang meja yang baru kubeli.
Hari ini celoteh tentang lukisan,
bergambar burung kenari,
kau bantu aku gantungkan disana.

Besok, aku mau ke pramuka.
Mau temani aku?
Kau kan yang jago menawar.
Nanti kita sama-sama isi rumah.

Hingga nanti, setahun lagi,
lengkap sudah cerita tentang rumah.
Yang isinya ada aku, kau,
dan mereka itu semua.

Masa aku mau buang-buang waktu,
untuk cerita lagi ke orang baru?


Seorang Sendja @ 11:41 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 15, 2005

Pararel

Kamu itu juaranya lompat jauh,
dan aku hanya sekedar perak,
itu pun pada lari estafet.

Apa gunanya bertaruh,
pertarungan pun sama bodohnya.

Jelas jelas kita itu beda,
cinta pun tak kenal kompetisi.


Seorang Sendja @ 11:36 PM
______________________________________________________________

Moon River

Dream maker,
you're heart breaker...

Oh bukan, bukan untuk kamu.
Petikan lagu itu, bukan tentang remuk hatiku.

Tidak pernah aku takut kehilanganmu,
tapi sungguh mati aku tak mau,
surutkan rasa di degup jantungku.


Seorang Sendja @ 12:24 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 13, 2005

Bulan bulanan

Mimpi ada mimpi jatuh,
di bulan madu bulan desember,
jatuh kita jatuh cinta jatuh penanggalan.


Seorang Sendja @ 10:52 AM
______________________________________________________________

 

Monday, December 12, 2005

piracy

Jantungmu berdebar-debar,
dag dig dug..........
Tenang saja, itu tadinya milik ku,
tadinya tempo ku, tadinya detak ku...

Sudah kau cabik hati ini,
kau curi pula nafasku,
mentang-mentang gak ada hak cinta.


Seorang Sendja @ 12:56 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, December 08, 2005

Cinta Sabun Cuci

Aku sudah minta tolong,
sekarang bandi sedang ke warung.
Beli sabun batangan yang biasa,
yang warna biru kan?

Mencuci kotornya pakaian mu,
agar kau selalu terlihat bersih,
Tentu mesin cuci tak bisa tolong aku.

Untuk noda khusus,
butuh penanganan khusus.
Sedikit pemutih bisa membantu,
tapi selamat tinggal deterjen warna.


Seorang Sendja @ 8:31 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, December 07, 2005

Ah, bullshit!

Dimana kata sederhana itu,
saat cinema 21 digantikan layar tv,
dengan gambar sedikit buram,
dan juga noise...

Dimana kata sederhana itu,
saat caviar dan makanan rumah,
digantikan junk food,
hanya fries berkawan pasta...

Dimana kata sederhana itu,
saat cinta masih cukup,
untuk bertahan hidup.


Seorang Sendja @ 9:49 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, December 06, 2005

Ingatan tak pernah larut

Masa sih harus kembali ke kamu,
tiap kali kaki terantuk batu dan jatuh,
lalu kamu kamu lagi yang mengobati aku?

Tiap kali kamu ingatkan aku,
sama seperti suara guntur dan petir,
yang ujung-ujungnya selalu jatuh hujan.

Bosan rasanya,
tapi aku selalu ingat rumah,
walau tak harus (hari ini) pulang ke rumah.


Seorang Sendja @ 11:00 AM
______________________________________________________________

 

Monday, December 05, 2005

Alkisah Mahaguru


Dari awal hingga sekarang,
yang namanya anjing itu,
membaui sebelum kencing,
jadi siapa yang berani bilang,
anjing suka kencing sembarangan?


Jaman dulu juga, dan kalau sekarang ada,
peternakan sapi tak pernah mau rugi,
beri stempel dari besi panas,
pada satu, dua, semua sapi miliknya.


Bisa jadi mereka belajar dari kita,
atau manusia yang meniru si anjing,
lalu akan disebut apakah ilmu itu?


Kebetulan kemarin aku bertemu,
dengan keturunan seberang,
yang mahaguru dari anjing.


Seorang Sendja @ 10:35 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, December 04, 2005

Pada hidup kali ini


Nafas tinggal sepenggal,
sudah panjang sederet antrian.
Dua yang tak pernah sama,
kulipat rapih dan selipkan,
pada kantung yang gombal,
kulemparkan ke negri kenangan.


Seorang Sendja @ 1:19 AM
______________________________________________________________

 

Monday, November 28, 2005

Zat fikir (bukan zat hijau)


Dari sinarmu, aku tumbuh.
Ke kanan dan kiri,
juga banyak ke atas.
Kata mereka, aku menjalar.


Biar saja, asal bukan pengikut.
Tidak seperti si kuning itu,
kemana kau berada,
dia menghadapkan mukanya.


Nanti bila aku tinggi,
kau tak meraihku.
Karna aku ya aku.


Jadi tolong ya,
jangan cabut akarku,
tidak sekarang.


Seorang Sendja @ 12:16 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, November 20, 2005

Cook Book


Kulihat malam itu seramai pasar pagi,
dengan lusinan kaki yang berpasangan,


"yang ini berapa? itu? lalu yang ini?",
apa itu tudingan apa itu tunjukan apa itu


Bisa jadi hanya sebuah pertanyaan,
dia jual aku beli,
sampai rumah kumasak parsi.


Seorang Sendja @ 4:54 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, November 17, 2005

Re-learning


Dia seperti tertatih,
dengan mata yang terlalu,
awasi jalan setapak.


Menyolok sekali,
karna dia bungkuk,
semata beban di punggung.


Tapi tentu dia tidak bodoh.
Masa lalu tak ditinggalnya,
tapi dibungkus rapih,
dan dimasukkan ke dalam backpack.


Katanya,
aku yang sekarang ada karna masa lalu,
entah yang kelam atau cahaya,
tapi terus kubawa di punggungku,
agar aku bisa terus belajar,
dan tidak lagi jumawa.


Seorang Sendja @ 11:39 AM
______________________________________________________________

 

Monday, November 14, 2005

Fixed!


Puluhan ribu kaki,
jarak merekatkan kita.


Dan kini, di bawah satu atap,
kita bersiteru dengan senada.


Aku, kamu, aku, kamu,
dan tidak pernah kita!
Lebih ini dan itu, lalu nanti..
apapun juga, tetap bukan kita.


Seorang Sendja @ 12:18 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, November 09, 2005

"..."


Coba carikan alasan yang lebih baik,
kalau sudah bosan menatap senja,
yang sampai kapan warnanya tetap oranye.


Seorang Sendja @ 11:39 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, November 06, 2005

Primer


Cukup kirim sms,
atau angkat telpon,
minta ini dan itu,
lalu kau dapat teman,
berangkulan suka di luar sana.


Tapi yang sulit adalah rasa itu,
tepat pada (se)orang,
hanya sepasang tangan,
dan cukup sebuah hati,
untuk turut berdiam di rumah.


Seorang Sendja @ 11:16 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, November 02, 2005

Santap sederhana


Seribu siang aku bertemu.
Dengan seribu lebih dan juga tawa.
Silih berganti tetap menyimpan malam,
tapi kemudian membuang kelam.


Hitungan satu jatuh padamu,
dan kan selalu untukmu.
Lalu bintang dan bulan jadi santap malam,
kita berdua di meja dengan tikar rumput hijau.


Seorang Sendja @ 4:17 PM
______________________________________________________________

Kanan kiri


Aku sudah minta,
pada malaikat tak berkelamin.
Agar yang pria menjaga kemudi mu,
dan puan merawat dek mu.


Nanti kita kemudikan bersama,
dengan bisik ku di telinga mu.


Seorang Sendja @ 4:11 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, November 01, 2005

Ara dan api


Bunga api,
tak sembarang.


Bunga api,
dari api unggun,
yang disisakan hangat malam,
walau matari datang menyapu.


Bunga api,
hiru biru hati.


Seorang Sendja @ 9:20 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, October 26, 2005

Bernada saja


Eulogi untuk masa,
atas sebuah titik,
dan juga akhirnya.


Tidak perlu renyah nada,
cukup merangkum indera,
kau adalah efeufoni telingaku.


Seorang Sendja @ 10:46 PM
______________________________________________________________

Satu testamen


Ibu suka membuang tatap,
dan ayah tertawa kecil,
waktu aku bicara tentang mati.


Disain nisan dengan hiasan di sudut,
bernuansa abu tapi jangan terlihat muram.
Kita semua pasti mati kan?


Jangan lupa kau ambil testamen,
sepucuk surat dalam brankas.
Tertera namamu di amplop.


Bukan kepada yang terhormat suamiku,
tapi untuk yang tercinta bekas pacarku.


Seorang Sendja @ 11:22 AM
______________________________________________________________

Kalimat pendek


Ego menyusun kata,
lalu merangkai kalimat.


Bila aku adalah masa lalu,
siapa lah aku yang sekarang.


Seorang Sendja @ 1:36 AM
______________________________________________________________

Waktu dan ruang


Sekarang sayap mengepak,
dan senyum diterpa angin,
begitu bebas.


Hanya saja aku rindu satu kata,
perbendaharaanmu seorang,
'pulang'.


Seorang Sendja @ 1:31 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 24, 2005

Bukan surat cinta


Penaku patah, tintanya buyar,
dan sisanya menguap entah kemana.


Imajinasiku tumpul,
lembar kata berlepasan,
mungkin aku impoten.


Hanya karna kata,
tak pernah cukup.
Tak juga kabut mata,
teriak dan keringat.


Manik jiwa masih menanti,
dengan waktu yang semakin menipis.


Seorang Sendja @ 9:22 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, October 22, 2005

Demam sebutan


Jangan samakan rusa dengan karibu,
hampir serupa bukan berarti sejenis.


Juga gandewa dan gandi,
yang sama-sama busur panah,
tapi jelas beda karna aksara.


Lalu apa jadinya bila nanti,
brahma bertitah malam itu siang,
dan awal itu akhir.


Aku tertawakan kau,
kau pada mereka,
dan mereka karna kita.


Seorang Sendja @ 1:10 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, October 18, 2005

Pencarian


Alasanku hari ini adalah enggan.
Tatap muka sungguh berat,
bahkan lebih dari sekarung bara.


Rupanya kita terserok,
lalu ramai-ramai masuk kotak.
Keluar saat malam tiba,
dan kelir terpasang rapih,
dengan berpuluh mata siaga.


Dari dulu sudah begitu,
kita hanya lakon belaka.
Iku ularana den kepanggih,
tahukah apa yang kau cari?


Seorang Sendja @ 11:05 PM
______________________________________________________________

Idan idan iking rat


Dia sudah ada,
sebelum aku ada,
bahkan juga sebelum kau.


Pada susah dan beban,
kau hendak kelanakan diri.
Tundukkan kepala,
tengadahkan telapak,
cari mencari kemana-mana.


Tidakkah kau tahu,
Tuhan sudah mati.


Kau tidak temukan dia saat kau hidup,
tuk sekedar jawab semua tanya.
Dia mati saat kita hidup,
jadi kau tidak dapat temukan Tuhan.


Seorang Sendja @ 10:23 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, October 15, 2005

Kekuatan rasa


Tiupkan mantra,
pada kelopak yang berat,
ucapkan aku sayang kau,
dan dunia kembali berwarna.


Dan bangun saja taman bunga,
di sisiran pantai penuh karang,
lalu di balik telinga puan,
tersiar indah seantero buana.


Pernah percaya,
hati keras dan mata hati,
pada kekuatan cinta.


Yang memang ampuh,
untuk semua kecuali satu,
dan itu urusan vertikal.


Seorang Sendja @ 11:40 PM
______________________________________________________________

Anak harapanku


Hari ini tanaya mati,
melompat keluar dari rahim,
dengan jantung tak berdenyut.


Terlalu penuh sesak,
asa tak lagi leluasa.
Tak cukup banyak oksigen,
untuk bilik harap yang kecil.


Seorang Sendja @ 11:29 PM
______________________________________________________________

Manusia hari ini


Lelap, rebahkan syak,
sinar matari pasti datang,
itulah pagi yang kutahu.


Menyesakkan nafas,
hawa yang terlalu panas,
ah..siang hari yang wajar.


Senja, dengan merah-ungu,
heningkan fikir,
sejenak dan dua.


Lalu malam,
kembali lagi,
senyap dan sepi.


Aku begitu mengenalmu,
sama seperti empat cuaca,
pada panjang hariku.


Bahkan seperti garis tangan,
jumlah helai rambut putih,
dan gelisah milikku.


Seorang Sendja @ 12:06 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, October 13, 2005

Independensi


Alur mundur,
sepertinya tepat.


Biar wacana tak lagi bicara,
dan semuanya jadi bisu.
Tak lagi kata,
bunyi dan suara.


Agar semua neuron efektif,
menjelmakan inti masing-masing,
tak sekedar menghirup uap,
yang kebetulan lewat.


Seorang Sendja @ 10:52 PM
______________________________________________________________

Sebuah keluh kesah


Bayu daksina terlampau kencang,
menggulung semangatku serta,
dengan resah, debu, pilu...


Seorang Sendja @ 9:49 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, October 11, 2005

Get well soon, champ!


Ingin berada disana,
menyeka peluh dan nyeri,
dengan saputanganku,
yang dirajut dari asa,
berbordir kesturi.


Kutiup sakitmu jauh,
hinggap saja di aku,
bila perlu.


Seorang Sendja @ 11:51 PM
______________________________________________________________

Lafal, terlalu


Gilang gemilang,
dengan wangi cendana.
Nestapa dalam balutan sutera.


Pengarang bunga kata,
karamkan jantung hati.


Seorang Sendja @ 12:10 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 10, 2005

Sudut


Terang terang laras,
saat semua lengkap.
Sampai muncul riak,
dan itu menggangguku,
tapi tidak untukmu.


Matari jatuh,
kau sembunyikan cahya,
di kantung celana,
semua masih terang terang laras.


Seorang Sendja @ 10:08 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, October 09, 2005

Sadagati


Rindu bercermin,
pada diri yang berontak,
bukan berarti tak berotak.


Dahaga rasa,
tuangkan pada lensa,
pun kanvas manusia.


Seorang Sendja @ 11:35 PM
______________________________________________________________

Samara


Sempurnakan strategi,
buat seribu alasan untukmu.
Dari terik hingga senyap,
embun sampai resah.


Seorang Sendja @ 11:24 PM
______________________________________________________________

Kau (juga) sebuah mimpi


Selamat pagi,
udara dingin,
secangkir kopi.


Kau masih melesak,
terlelap di sofa sebelah.
Rampai-rampai mimpi,
berserakan di baju.


Selamat pagi,
percakapan beku,
secangkir pupur.


Seorang Sendja @ 10:52 AM
______________________________________________________________

Panggung air sungai


Linang, berkilau-kilau.
Bulan penuh lampu sorot,
hulu ke hilir, melincir perlahan.
Bukan musim limbat,
tapi malam ini digelar satu judul,
tentang ceraian mimpi.


Seorang Sendja @ 10:29 AM
______________________________________________________________

 

Friday, October 07, 2005

Purnama dan aku


Seribu malam kau tunggu bintang jatuh,
dan satu akhirnya tiba,
dengan kedua lengan mendekap.


Kau tata sinar perak,
serupa tiara di kepala,
resapi arti indahnya,
sebelum hari beranjak terang.


Seorang Sendja @ 11:00 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, October 05, 2005

Beberapa untuk satu


Ingat kesan pertama itu?
Begitu dingin, tak tersentuh.
Sampai detail wajah terlupa,
nama lalu jadi ingatan tunggal.


Waktu bisa menelan kebekuan,
dan juga buyarkan mimpi.
Lupakan itu, kau lah mimpiku,
yang kurajut dengan kesabaran.


Seorang Sendja @ 6:49 PM
______________________________________________________________

Buruknya kemegahan


Masih sama, lensa cekung di matamu,
jadikan ulat itu kupu-kupu,
jauh sebelum waktunya.


Dimana tak disusuri halus aspal,
warna mega tak terhalang gedung,
membuatmu bernafas lega.


Indahkah aku di bias lensa cekungmu,
atau burukkah aku dipantulkan disana?


Seorang Sendja @ 6:22 PM
______________________________________________________________

Sekalimat janji


Kuseka pilu di lembar akhir,
buku-buku susuri tangga kata.
Kutemui sepasang telinga di baliknya,
kudekati dengan debar jantung berlomba.


Terima kasih tuk malam tadi,
aku rupanya tak merekayasa kerlip mimpi,
yang kubangun di langit orang lain.


Itu mimpi kita,
milik kita.


Seorang Sendja @ 9:30 AM
______________________________________________________________

 

Monday, October 03, 2005

Melukis langit


Seharian ini hujan tak jadi mampir,
sekedar renik di ujung rumput pun tidak.
Bisa jadi senyum dan tawa kita bergema,
dipantulkan dan diperkuat oleh awan.


Mendung ditiup angin,
disapu biru muda,
tak hanya di kanvas langit.


Seorang Sendja @ 10:56 PM
______________________________________________________________

Untuk penulisku


Jika memori dapat membunuh,
dia dapat hidupkanku lagi,
bahkan ratusan kali,
karna indah ingatan tentangmu.


Seorang Sendja @ 10:45 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, October 02, 2005

Natural


Mencintaimu apa adanya,
semudah terbangun di pagi hari,
karna matari yang mulai mengusik,
menerpa berat kelopak,
dengan sejuk butiran embun.


Sama alaminya dengan malam hari,
yang pusatkan dingin di sekeliling,
membuat kita ciut seketika.


Begitulah terjal, diinginkanmu,
dimilikimu, dan dicintaimu,
apa adanya aku.


Seorang Sendja @ 9:17 AM
______________________________________________________________

Tujuh samskara


Samskara, inginku dekati sempurna,
bulat hingga hitungan ketujuh.
Mungkin itu hanya ingin-inginan,
angan yang lebih-lebihan.


Kau mimpiku,
jadi bolehkah aku lelap,
dan bermimpi lagi?


Seorang Sendja @ 9:12 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, September 29, 2005

Tiket satu arah


Nanti kita pasti bersama,
duduk bergelung rapatkan kaki,
mungkin dengan secangkir kehangatan,
yang selalu kubuatkan untukmu,
dan kau bagi dua denganku.


Di suatu fajar, entah di bukit yang mana,
di suatu senja, entah di semburat yang mana,
mungkin juga suatu malam,
entah di khayal atau bukan.


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

Penghormatan


Aku merindumu,
juga pernik kecil darimu,
yang kusematkan pada topi,
buatku merunduk,
dan bukan tunduk,
lebih dalam dan dalam lagi.


Seorang Sendja @ 12:40 AM
______________________________________________________________

Langit kosong


Semua kembali berjatuhan,
dari secarik dua penanggalan,
tak luput dari ingatan.
Semua kecuali satu.


Jika mendung bisa tergusur,
oleh bayu semudah kapas muka,
ku ingin resah digulung langit,
tak apa walau nanti tanpa bintang,
dan juga sinar bulan.


Seorang Sendja @ 12:13 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, September 27, 2005

Rindu yang sederhana

Aku rindukan kau,
saat pandang melayang,
usik malam yang senggamai bulan.


Bahkan pada letupan air mendidih,
yang lukai punggung tanganku.
Menyaru rasa yang menggedor dada,
perih dan begitu melegakan.


Aku rindukan kau,
sesederhana itu.


Seorang Sendja @ 9:45 AM
______________________________________________________________

Abhiniwesa

Pagi tak usah lagi kupungut kau,
yang berlepasan dari mimpi semalam.
Kau tlah lekat di dalam benak,
pun tiap inci ku memandang.


Seorang Sendja @ 9:32 AM
______________________________________________________________

 

Monday, September 26, 2005

Bagi dua

Masukkan citarasaku dalam papir di sakumu.
Yang kau gulung itu adalah rasa,
dari aku yang berdetak karenamu.
Candui aku, nikmati tiap sesapmu,
karna aku adalah kamu.


Bernafaslah dengan lega, dariku.
Mari kita bagi dua, tiap-tiap hari,
yang tersisa untukku.
Sehingga tak pernah kudengar lagi,
satu pergi tinggalkan kosong.


Seorang Sendja @ 10:17 PM
______________________________________________________________

 

Friday, September 23, 2005

Refleksi oasis


Masih ingat di suatu fajar,
saat kubiarkan kau membilas penat,
hamburkan mimpi tentang kita?
Rasanya tak ingin beranjak,
hangatkan saja dengan mayarupa.
Dekapan resah masih terlalu dingin.


Seorang Sendja @ 8:39 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 17, 2005

Malam bagi kita


Nanti, saat bumi tak lagi bundar,
penuh koyak dan atmosfer beku,
aku ingin tetap disini.


Atau mungkin disana,
terlelap selagi menanti,
menggenggam erat jemarimu.


Satu dan dua, untuk kerut di dahi,
dan juga lipatan di bawah dagu.
Takkan ada yang luntur darimu,
sama seperti rasa tak dicuri waktu.


Seorang Sendja @ 8:46 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 14, 2005

Asamadhi


Buyarkan sampai kerikil,
tanah pecah jadi debu,
dan angin membawa pergi.


Setinggi menara,
sekokoh benteng,
depa demi depa,
meranggas.


Semadinya buyar,
pisah raga dari rasa,
mati dalam perang.


Seorang Sendja @ 9:49 AM
______________________________________________________________

Terang, sinar bulan


Jalan bintang-bintang,
yang tak ranum jelaga,
jenuh dengan kilat.


Sinar matahari, fajar,
api, halilintar, dan kau.


Kau yang jyotimaya,
bukan sekedar serat belaka,
nanti kita lahirkan jyosna.


Seorang Sendja @ 9:31 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, September 10, 2005

Delapan putaran bulan


Nyaris jadi majenun.
Untung saja aku diingatkan,
tuk menyapu serambi kalbu,
lalu dicuci bersih-bersih,
sampai kalis kembali.


Seorang Sendja @ 10:06 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, September 08, 2005

Humor


Sekali ini lelucon sebuah kata.
Membuatku tertawa,
entah di kilasan yang mana.


Malam itu aku dan kau,
di tengah kerumunan para absurd.
Serasi nampaknya, begitu adanya,
macam titik dirunut garis.


Aku mulai merindu,
masih kau dan populis itu,
yang tlah bergandeng mesra,
bahkan sedari awal.


Sungguh janggal,
aku dan kau,
bahkan rasa ini.


Seorang Sendja @ 11:11 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, September 07, 2005

Jari jemari


Aku benci telunjuk kananmu,
main tuding sana sini,
ikuti letupan emosi sesaat,
dan licinnya kata karna lingua.


Mungkin tidak telunjuk kirimu,
yang saling silang, enggan nodai janji.
Kukira nanti kita kan beralih posisi,
pada hati yang tak lagi merasa.


Seorang Sendja @ 10:59 PM
______________________________________________________________

Mata kanan dan kiri


Menyapa kerinduan yang bergulir masuk,

lebih cepat dari terbilasnya perih,

dan sisa gulatan imaji.


Bahkan saat detik meretas menit,

kita kian dirunut beku,

pada diam yang tak bisa lagi bisu.



Seorang Sendja @ 9:50 AM
______________________________________________________________

Daya Buana


Dunia berputar,
tanpa pedulikan keriangan dalam,
kericuhan bahkan,
dan pembantaian hingga.


Dunia berputar,
hanya melewatiku.


Seorang Sendja @ 9:04 AM
______________________________________________________________

 

Monday, August 29, 2005

Dearest champ...


Nampaknya ini putaran terakhir.
Entah dengan urutan pelari,
hanya kau yang kulihat,
di tengah debu dan strip putih itu.


Aku tunggu di garis akhir ya!
Siap memelukmu seutuhnya.
Dengan peluh dan rasa kecewa,
pun air mata serta medali.


Seorang Sendja @ 12:25 AM
______________________________________________________________

Rasionalitas bercinta


Sebidang angan masih tepat di jantung hati,
masih gembur dan siap tuk ditanami.
Dalam partikel halus dan kasar,
mereka bukan sasaran tembak.
Air mata pun bukanlah skor di papan,
yang digurat dengan kapur.


Sedetik, dua tuk lengkung senyum,
menit dengan gerik perlahan dan tawa,
hitungan jam larut dalam hangat pelukan,
yang kesemuanya dilalui bersama.


Hanya frame-frame milik kita berdua,
dan itu satu-satunya yang penting buatku.


Seorang Sendja @ 12:01 AM
______________________________________________________________

 

Friday, August 26, 2005

RIP; for perversion


Aku jatuh cinta,
pada tatapan yang tajam,
menusuk hati, sebuah hanya,
koyakkan daging dari tulang,
campakkannya.


Sekejap aku tak mampu berdiri,
kehilangan penopang,
lebih dari sekedar kruk kaki,
masih karna sepasang mata,
piawai mencabut sukma kah?


Seorang Sendja @ 9:22 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 25, 2005

Dua puluh enam


Pertaruhkan semua isi kantung,
sampai secarik yang melekat akhir.
Untuk satu kesempatan.


Takkan kusesali, takkan kupungkiri,
sakit membuatku lebih dalam,
disetubuhi perih kata setia.


Sudah lewatkah kereta itu?
Kenapa aku masih tetap bernafas?


Seorang Sendja @ 9:35 PM
______________________________________________________________

Menjawab [...]


Hampir lupa rasanya perih ini,
kita semua memang pelakon belaka.


How could you?!


Seorang Sendja @ 9:32 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, August 24, 2005

Satu, satu


Aku baru saja jatuh tuli,
lorong buntu tak bervibrasi,
pada gendang telingaku.


Dan kini sadar bertanggalan,
dalam utuhnya tongkat jalanku,
sarungkan aku dalam hampa.


Seorang Sendja @ 8:41 PM
______________________________________________________________

 

Monday, August 22, 2005

Luka dalam diam


Mematuk langkah,
hentikan ucap dan laku.


Sungguh definisi yang salah,
karena sepasang ini masih terus menjejak,
bahkan tak hanya berderap, tidak lagi.


Percikan kecil muncul dan membesar,
karna senyawa bagian hawa ini dan dunia.


Aku berlari, dan masih akan terus,
walau sadar betul rasa hampir tak sanggupi,
bersamaan dengan raga yang telah rontok.


Seorang Sendja @ 9:11 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 18, 2005

Esok


Bila nanti kau ditikam rindu,
sampai-sampai habis nafasmu,
ketahuilah bahwa aku sudah menjelma,
menjadi serpihan kristal yang mengering,
di sudut matamu...


Seorang Sendja @ 1:10 AM
______________________________________________________________

Percakapan dan malu


Mengetuk pintu tuk sekedar menyapa,
bukan hanya menjenguk hingga mata bertemu mata,
dibatasi jingkatan pada jendela berkusen kayu...


Apa kabar kamu hari ini?
Kau rindukan aku?


Hanya ingin curi beku pada waktu,
telusuri retinamu yang berkobar api,
dan dia tak mampu membakar,
tidak untuk sekarang.


Ciptakan alasan lain pada petang nanti,
mungkin sekedar mengatakan,
"Lihat, sayang..hari telah senja,
kali ini kau kalahkan guyuran malu-malu matari,
pada kuncup bunga setaman..."


Seorang Sendja @ 1:07 AM
______________________________________________________________

 

Monday, August 15, 2005

Proletarian


Kita berdiri di persimpangan jalan,
di bawah temaram lampu,
di sela ricuh lautan pejalan kaki.


Suara kita tak terdengar,
hanya berdecap-decap,
tertelan bising bunyi mesin mobil,
serta knalpot dan rongrongan vespa butut.


Mulut ku dan mu bergerak,
buka dan tutup,
mata dan jemari bertaut,
suara kita masih tak terdengar.


Sampai sepi nanti,
bulan ditelan gelap malam,
jalanan tiba lengang,
kita masih disini,
tak berkata-kata.


Seorang Sendja @ 10:26 AM
______________________________________________________________

Waktu dan aku


Kau dan kata-kata,
luluh lantak aku dibuatnya.


Kau dan frame, refleksi,
dan jangan lupakan bayangan,
parafrasekan aku sebagai maharani.


Kau dan waktu,
untuk yang satu ini,
aku tak bisa kompromi...


Seorang Sendja @ 1:18 AM
______________________________________________________________

 

Friday, August 12, 2005

Hening yang kubenci


Sebut mereka sederhana,
dalam senyap yang lengkapi suara jangkrik,
telah lelap tertidur di atas dipan,
berselimutkan simpul di bibirnya.


Malam ini kita kembali diam,
semata lelah berargumen.
Hanya kerudung ingatan yang lingkupi,
satukan kita di dalamnya, masih bisu.


Seorang Sendja @ 11:54 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 11, 2005

Dilema


Kau menyemat rindu di telinga kanan,
selusin hari lamanya kita tak jumpa.
Malam ini hujan badai rupanya,
gemerisik tawa miris mencuri start,
cumbui yang sebelah kiri!


Seorang Sendja @ 12:42 AM
______________________________________________________________

 

Tuesday, August 09, 2005

Rumah dan pulang


Kucari kau kemana-mana,
pagi saat kulelap tak sambut matari,
malam kian kentara kubaru terjaga.


Kucari kau kemana-mana,
bahkan dalam dekap kicau kenari,
yang kukenal hampir belasan tahun,
nyaris seusang sepatu tua di sudut kamar.


Seorang Sendja @ 2:03 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, August 07, 2005

Soliter


Rintik di sudut mata,
menghambur begitu saja.
Rupanya duka dan suka cinta,
seiring sejalan dalam tiap tarikan nafas.


Terang sebelum mendung,
renik sebelum lebat,
sepanjang jalan.


Seorang Sendja @ 11:57 AM
______________________________________________________________

Akhir persinggahan


Kumulai dengan sederhana,
bahkan dalam yang tak terkira.


Pada hal remeh yang dibuang mereka,
daun yang disiakan pohon yang semakin menua.
Ah, perjalanan yang melegakan,
di suatu sore hari, masih terik.


Terdengar ricuh di ujung gang,
arak-arakan semalam suntuk,
lampion warna jingga sayup-sayup cahaya.


Mungkin akan menghibur, tapi jelas tak melarutkan.
Masih mencintaimu, dalam hati,
di tempat kenangan kita.


untuk sahabat-sahabatku...


Seorang Sendja @ 12:18 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, August 06, 2005

Putih kebiruan


Deras air menyelak bebatuan,
mata ku bertemu mata mu.


Menjalin percakapan tanpa berlemparan kata,
bukan keheningan yang ingin dipecahkan.


Seorang Sendja @ 2:33 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, August 04, 2005

Diam


Gerhana tak kunjung datang,
rotasimu salah hitungan...


Dan aku, tak bisa berkata-kata.


Seorang Sendja @ 1:21 AM
______________________________________________________________

Dua dalam satu, Bercinta


Gombal gambil dengan kata,
mereka adalah mati,
tak sisakan debat kusir,
bahkan bila nyawa bertahta.


Teriak spontan pada kertas buram,
coret dan tambahkan awalan,
maka kini resmi kita tlah pisah.


Ah, bukan frase sesendok teh,
pun segunung kalimat retoris banyaknya.


Karna kita adalah kita!
Tak pernah merasa dikalahkan,
apalagi merasa menang mutlak,
pun bersyarat.


Cinta adalah rasa,
yang tak bernominal.
Satu-satunya di dunia (ku),
paling tidak.


Seorang Sendja @ 12:46 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, July 31, 2005

Pasir dan harapan


Adalah merah yang mencapai puncak,
dan putih menua di ujung cakrawala,
saat degup jantung berdebat lebih keras.


Pada tekanan kaki (dan) kaki atas pasir,
juga rebah karna sukarku,
kau rupanya lantang menjawab.


Senja dalam senandung matari terbenam,
adalah derai air mata, yang datang dari hati.


Seorang Sendja @ 12:52 AM
______________________________________________________________

 

Friday, July 29, 2005

Puisi angin malam


Sulit mengeja huruf per huruf,
apalagi lafalkan satu kata.


Letih tangan menepis angin lalu,
jenuh otak mencerna jutaan alasan,
dan peluh dalam diam pun wicara.
Mereka ramai teriakkan namamu!


Bisa jadi aksara yang kuayak adalah cinta.


Seorang Sendja @ 10:20 PM
______________________________________________________________

Cinta bukan strata


Pandangku tinggi, pegal leher dibuatnya.
Bintang gemerlap yang erat pada matari,
oh, kujadikan dia langitku.


Bunga setaman terkikik,
pelanduk menatap bingung,
dan mereka terpana..


Ada angsa rupawan yang jatuh gila,
mengapa, aku bertanya.


Dia berkaca pada muka laut,
dengan riak ombak dan halus pasir.
Keliru dan percaya,
semua bintang bertempat di langit,
oh, junjunganku...


For my bestfriend, D.S


Seorang Sendja @ 10:09 PM
______________________________________________________________

 

Thursday, July 28, 2005

Selintas lalu


Aku ini hanya mimpi,
yang ditenunkan olehnya,
pada selembar kesabaran.


Mungkin nanti, dingin mendesakku,
aku tersebar antara batu-batu jalanan.


Tak usah dicari,
aku ini sebuah mimpi.


Seorang Sendja @ 11:57 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, July 27, 2005

Pulang (sekali lagi)


Sekeping saja, disembuhkan sudah retakan yang ada.
Benang sutera tenggelam dalam bilur sepanjang bulan juni,
aku pernah berlabuh, dan kini aku istirahatkan berontakku.


Aku pungut rasa yang tak terbilang,
dalam kotak kenangan yang kau berikan.


Indah buah rasamu, hidupkan aku kembali.
Karna janjimu, yang tetap ada dan cintaiku,
di kenangan akan kita...


Seorang Sendja @ 10:49 AM
______________________________________________________________

Dejavu


Membayang di balik mata ini,
lembaran memori setumpuk tebalnya.


Sungguh ingat genggam tangan,
lewati penggalan arus lalu lintas,
dan aku, percaya.


Kupetakan jingkat kaki dalam tari unicorn,
dalam sinar rembulan dan tampias air,
kakiku basah, mataku basah..


Sematkan ini pada telinga kananmu,
aku telah jatuh lagi dalam rasa,
kepadamu.


Seorang Sendja @ 2:12 AM
______________________________________________________________

Esensi manusia


Aku lantunkan keriaan dalam hati,
akan suka dan pujian pada sang waktu.


Dia tinggalkan kita disana,
isolasi rasa dan mungkin memori,
lewat puluhan frame tak tergantikan.


Semu yang bertik tok,
bergema layaknya tawa,
merasa paling kuasa.


Nyaris subuh saat kutarik nafas dalam-dalam,
hari ini aku tak boleh luput mencintaimu.


Barang sedikit pun, sedetik pun,
seinci pun meleset dan tak melesat,
sampai ke jantung hatimu.


Seorang Sendja @ 1:56 AM
______________________________________________________________

Tinggal diam


Aku rindu penjajahan oleh waktu,
serakahnya detik mencumbui usia.


Kita tak pernah beranjak, hanya nikmati hari.
Menjaring tiap fajar dan senja yang berpamitan,
dengan satu, dua semburat bertanggalan.


Membeku, seperti batu,
gravitasi bahkan tak berlaku.


Seorang Sendja @ 1:49 AM
______________________________________________________________

 

Friday, July 22, 2005

Malaikat dalam frame


Lembar menguning, dengan hiasan buram.
Mungkin debu selamatkannya dari ngengat.


Butuh lebih dari belasan tahun,
atau bisa jadi gegar otak ringan,
agar aku lupa akan figurmu.


Ajaran yang tak pernah usang,
dan kompas penunjuk arah paling tepat.


Kau lekat permanen dalam benak dan hati,
bersanding dekat nuraniku.


Dedicated to B.W,
my grandfather.


Seorang Sendja @ 1:26 AM
______________________________________________________________

Finale


Sumbu yang terakhir,
aku adalah satu antara tiga.


Kujaga baik-baik terangnya,
karna ini rumah tuanku.


Berbilik kecil dengan bau harum,
wangi bersahaja melati putih.
Rupa sederhana nyaris tertutup kilau,
yang tak lain dari remah-remah mimpi.


Aku adalah satu antara tiga,
pertahankan sampai redup menjelang,
walau gelap memangsaku perlahan.


Karna dua lain adalah angin,
dan benih prasangka.


Seorang Sendja @ 12:58 AM
______________________________________________________________

 

Thursday, July 21, 2005

Limitasi


Benang sari dan putik,
kumpulan rumput liar,
kau petik satu persatu,
dari purnama semalam...


Kau manjakan aku,
dengan deras kata,
yang dulu pernah kupinta,
dalam tiap untaian doa...


Seorang Sendja @ 9:56 PM
______________________________________________________________

 

Monday, July 18, 2005

Putaran rasa


Keluhan rutin pada hari-hari hujan,
betapa kami benci pada kilat,
yang awali serentetan larangan.


Berlari ke balik punggung bunda,
berlindung dari gaduh guntur,
diakhiri dengan lebat hujan.


Beberapa jenak tuntas sudah tangis langit,
tinggalkan becek lumpur tuk bermain.


Kau pun menyambarku bagai kilat,
sekelibatan mata namun dahsyat.
Dalam hitungan detik aku terpaku,
singkat kemudian hatiku digedor kuat.


Nanti kita kan berlari kecil saat hujan renik,
berteduh di kala lebat, nikmati indah bianglala,
dan jejakkan kaki telanjang di rumput yang basah.


Begitulah dunia, ikatan ini,
dan keseluruhan dinamika.
Kita jelang sama rata,
sampai nafas tak lagi sama.


Seorang Sendja @ 1:05 AM
______________________________________________________________

Benih pikiran


Sekali lagi mencoba tuk erat,
tenggelam dalam rasa.
Dimana pelabuhan sejuta rona,
tak mampu sadarkan kita.


Aku hanya ingin satu, lekat.
Tak sekedar mengenang,
masturbasi imajinasi,
setubuhi rasa yang kosong..


Seorang Sendja @ 12:53 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, July 16, 2005

Vows


Pucat wajahmu tak redupkan aura,
genggaman tangan dan tautan rasa lekat,
mengusung frase batas usia,
tenggelamkan di dasar samudera.


Keringat basahi keningmu,
lengkapi sekotak nyeri di hatiku.
Kupungut sejumlah asa baik-baik,
tanpa satu yang tertinggal.


To have and to hold,
from this day forward,
for better, for worse,
for richer, for poorer,
in sickness and in health,

to love and to cherish...


Seorang Sendja @ 12:24 AM
______________________________________________________________

 

Friday, July 15, 2005

My call


Ada denyut yang tertunda,
detak yang berganda,
dan nafas yang terus memburu...


Aku, kau,
dan kita...


Seorang Sendja @ 12:16 PM
______________________________________________________________

Titisan


Siapa kau?
Panjang rambut, jernih mata,
tinggi badan dan putih kulit,
kau yang kini,
aku asing.


Ah, kau rupawan,
menitis angsa ketika purnama,
tanggal kostum dan lekatkan indah.


Hanya saja sinar matamu beda,
tak lagi menghujam bertabur renjana,
siap luluhkan aku habis-habisan...


Kita hilang kekang,
akan serbuan waktu,
tinggalkan jemu,
dan candu.


Seorang Sendja @ 12:13 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, July 13, 2005

Utuh


Beku atmosfer malam itu,
kau membakarku.


Ingin mencampakkan segera,
semua basa basi itu,
dan selimut yang menutupimu..


Masuki labirin sunyi,
entah kaki-mu atau -ku,
terlalu gemetar,
kita buat gaduh saja..


Malam terusik, gelap melindap,
sinar matari agak jengah,
mengintip malu-malu..


Fajar itu,
kita satu.


Seorang Sendja @ 3:24 PM
______________________________________________________________

 

Wednesday, July 06, 2005

4/4 dan staccato


Pianoku uzur penuh debu,
esok kan kukibas bersama kelu tangan,
sudah lama kaku,
terlalu.


Perlahan jari satu hingga lima,
kanan dan kiri ketukkan tempo baru.
Mainkan lagu cinta dengan nada riang,
sedikit staccato disana sini.


Buyar sudah birama yang tersusun rapih,
perduli tak aku pada kaku garis batas,
hadirnya mereka hanya tuk jenuh.


Dan rasa tak kenal kata itu,
jabat tangan tak pernah mereka lakukan.


Seorang Sendja @ 10:43 AM
______________________________________________________________

 

Monday, July 04, 2005

Manisnya rasa


Kubangun harga manusia dari janji.


Bagaimana lekuk lidah muntahkan frase,
kubangun puri megah dari kata per kata.
Walau ringkihnya bagai pasir,
tetap perisai kokoh milikku.


Diri ini, sepanjang jengkal tubuh,
utuh milikmu.


Bernafaslah dengan janjiku,
selama ruh melekat di raga,
aku setia pada rasa ini.


Seorang Sendja @ 11:09 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, June 26, 2005

Sinonim


Lingkup gerikmu, luruh langkahku,
dalam bentengi hasrat, sebut gejolak itu cinta!


Seorang Sendja @ 10:15 PM
______________________________________________________________

Kami adalah saya


Kursi sutradara itu untuk kau,
bukan untuk si manis berambut ikal,
dengan kostum minimnya.


Bukan pula punguk perindu rembulan,
yang lengkapi fabel pengantar tidur dari bunda.


Aku dan mereka hanyalah figuran,
kalaupun masih adu pendapat,
paling tidak kami hanya bisa ikuti skenario.


Karna kaulah sang sutradara,
pencanang semua adegan,
dari titik dan koma,
hingga mati ekspresi.


Daya minimal ini,
kami hanya bisa maksimal.


Seorang Sendja @ 9:50 PM
______________________________________________________________

Vibrasi


Getar itu masih sama,
terkurung dalam kotak,
dari tiap pijar imaji.


Resah digenggam,
buat khawatir asa kecilku.


Mataku merangkum seorang,
yang tak pernah lari,
dari mimpi di malam sepi.


Getar itu masih sama,
pada kelopak mata, pada bibir,
pada lemah jemari, pada degup jantung,
padaku, karnamu.


Seorang Sendja @ 5:15 PM
______________________________________________________________

 

Saturday, June 25, 2005

Penulisan Ulang


Loteng tua berdebu,
tinggi dalam sendiri dan sepi,
bertahan pada jingkatan kaki,
telanjang tanpa kasut.


Tirai selubungi lantai kayu,
tenggelamkannya dalam suram.
Indah kisah jadi lapuk kayu.


Hingga waktu hadirkan rapuh,
dan koyak membuka tabir.


Entah bagaimana dengan nasib,
yang selalu permainkan kita.


Seorang Sendja @ 11:26 PM
______________________________________________________________

Kelahiran Asa


Pada air mata yang nyaris menetes,
di petang yang begitu mendung,
kuseka dengan keratan mantel lusuh,
yang penuh bercak mimpi...


Tuk menyesap perih,
agar tak mengalir dalam vena,
dan rupanya berujung pada asa,
yang kau jatuhkan dalam genggamanku.


Kembali,
ya kembali.


Seorang Sendja @ 11:19 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, June 21, 2005

Stepping stone


Menuding waktu,
memoles ego,
dan salahkan aku.


Nanti kau rasakan,
sepinya sampai di sebrang,
dan tak bisa kembali.


Seorang Sendja @ 11:22 AM
______________________________________________________________

Definisikan ini!


Partitur yang rapih,
dengan garis dan spasi,
petakan do sampai si...


Selalu ada cerita di balik itu,
milik belasan kertas buram,
yang diremas dan dicampakkan...


Seorang Sendja @ 11:12 AM
______________________________________________________________

 

Sunday, June 19, 2005

Seharian sendja


Aku pamit,
tanpa cium di kening,
peluk hangat abaikan hasrat,
dan ikat kain di pergelangan tangan.


Seorang Sendja @ 11:24 PM
______________________________________________________________

 

Tuesday, June 07, 2005

Sembilu


Rembulanku kau guyur warna pucat,
mengusir kerlip perak di seantero langit,
kau teriak mati, mati dan mati!


Percuma sekali, karna sudah ribuan kali,
dan maaf baru kukatakan padamu malam ini.
Telah kau turunkan indah nyata bulan,
dan panas terang matari.
Kau rotasikan semaumu,
pada pucuk kepala hingga tapak kaki.


Seorang Sendja @ 10:55 PM
______________________________________________________________

Tanggal


Menghitung singgungku...
Setelah ratusan jam kudaki terjal bukit,
sampai hilang panjang rambutku,
berkikisan dengan angin lereng...


Ah, memang aku salah menembus kabut,
yang gelap sandarkan pada limbungku,
hingga aku mengaku manusia,
padahal mereka mengaku aku..


Perih karna sedih, tawa karna suka,
manusiawi sekali, siklus kehidupan.
Tapi kan kucari merah meradang,
dalam tiap susuran pilu per meter,
karna mudahnya pengajaranmu.


Seorang Sendja @ 10:52 PM
______________________________________________________________

 

Sunday, June 05, 2005

Akirih


Letakkan sebelah kiri perlahan,
dengan deras dan hening suara,
tanpa perlu mengusik sebelah kanan.


Aku bermakam bukan karna lirih,
hanya kaca gerutuan kirik pada ngilu,
di sela hujan bertalu dalam bisu.


Gelap gulita suarakan kata rumah,
dalam pelukannya, tanpa kata pulang.


Seorang Sendja @ 9:23 AM
______________________________________________________________

 

Saturday, June 04, 2005

jeda lari jeda


Kita salah kolom,
seharusnya garis titik garis stop,
dan bukan sebaliknya.


Entah mata hati yang tumpul,
atau suryakanta yang bias,
rupanya memang harus diganti.


Titik garis titik stop
jeda lari jeda kosong


Seorang Sendja @ 2:56 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, June 01, 2005

Prolog dan epilog


Malam singgah pada kelopak mata,
menyulap letup harapan embun pagi.
Tak mengubah adanya fajar di suatu masa,
dengan gulungan cerita yang nihil tanda titik.


Seorang Sendja @ 11:35 AM
______________________________________________________________

Akhir Mei


Gelarkan mimpi,
berbahan perca memori,
dengan ratusan payet,
berwarna perada,
sebagai pemanis resah,
dari tusukan ilalang liar,
yang jauh terserak,
di dasar fondasi kata kita.


Seorang Sendja @ 10:51 AM
______________________________________________________________

 

Friday, May 27, 2005

Makam sebuah dongeng


Menggubah lirih malam,
lengkap dengan notasi,
jadi soneta peluruh sukma.


Dahaga sepanjang sahara,
jadi dataran es tak bertepi,
dengan musim semi di tengah.


Kau, menghuni lubuk hati,
tertera pada ratusan lembar ingatan,
tanpa bisa kucoret dengan darah.


Seorang Sendja @ 10:05 AM
______________________________________________________________

Bersenyawa


Menyerap sari,
mendaulat peluh,
dan noda senggama.


Dalam hujan tak lagi renik,
bercampur lumpur tanah,
disela rumput hijau.


Kita,
menautkan jemari,
seraya bertukar ruh.


Seorang Sendja @ 9:38 AM
______________________________________________________________

 

Wednesday, May 25, 2005

Simponi duka cita


Malam labu pakai kostum,
bawa topeng lalu berandai-andai.


Aku ini apolo, tak kalah tanding dengan idas,
atau setidaknya aku bersenjatakan lira...


Seorang Sendja @ 12:36 AM
______________________________________________________________

Malam dan Merah


Dua kali aku tidur bergincu merah jambu,
dengan kilap ulasan senyum masih merona.


Malam ini merah darah, dalam lelapku.
Kenapa harus gigi gemertak menahan pedih,
mencabik dan buahkan tangis...


Seorang Sendja @ 12:29 AM
______________________________________________________________