Thursday, December 21, 2017

Kilas Balik Musim Panas



Bukannya aku adiktif, pada mata dan tatapan hangatmu,
bukan juga pada lengkung senyum dan tawamu yang renyah,
atau sekedar pada pundak yang merayuku untuk menjadi lebih lemah,
sama sekali bukan ..

Apa itu rindu, ah tidak pernah mampir barang sejenak,
pada piring santapan harianku, atau sekedar pada titik sela rambutku,
begitu ringan dan mengganggu mirip si putih bandel,
aku tidak tahu, tidak juga mau merasa, tapi apalah rindu itu,
aku seperti lupa apa pernah bercandaan sang pencipta macam itu,
mampir ke benak dan rongga dadaku.

Sungguh menyulapku, kembali setinggi 125 centimeter,
berkuncir dua dengan bau bedak dan gulali musim panas,
dengan sepasang mata almond yang menanti hadiah Natal,
tapi pasti, dan aku yakin pasti…ini bukan rindu,
mungkin ini yang dinamakan sekedar euphoria?

Aahhh, menegang neuron otakku, tidak terima begini rasanya,
begitu alaminyakah melesak masuk dan membuyarkan semua pertahananku,
sehingga nyaris semua hal ingin kubagi denganmu, ingin menyertakanmu,
atau sekedar ingin menikmati keberadaanmu dan sesekali mendengar nafasmu,
sejak kapan hal ini masuk ke dalam prioritas hariku,
tidak bisakah aku kembali menjadi aku yang adalah aku,
atau sudah terlambat untuk memperkuat keping pertahanan domino,
yang berisikan kewarasan, kemandirian, dan …..

Sungguh entah, mungkin sekali ini,
hanya sekali ini ya... 
aku harus mengaku ka-lah ..

You know, I don’t have to say it right …m’kay?

Pencekam Hari Dan Kewarasanku


Sepasang mata menyala, bukan dalam gelap malam,
tapi mulai dari tepi dan awalan hari.
Di antara kabut dan ketebalan udara, dia mengintai,
dengan sinar dan kilat yang tidak besar tetapi runcing.
Seperti pantulan gundu dan bintang, membedakan, menakutkan.

Mengikuti setiap gerak gerik dan helaan nafas,
seperti menanti, untuk menyerang dan memporak porandakan.
Membuat takut setiap langkah, ingin siaga ingin selalu terjaga,
tapi senja sudah mendekat dan segala sesuatu kian jadi sunyi,
pelan, dan pelan..semua mulai mati dan bertumbangan,
ingin beristirahat melewati hari..

Sampai akhirnya aku menyerah, dan tidak kuasa menahan,
seketika itu pula sepasang rin- dan –du menyergap,
BLAAAARRRRRRRR DRRRRRRRRRR, dengan guncangan hebat seperti erupsi,
merasuk ke tiap pori, membanjiri keenam indera memaksakan mereka untuk mengingat,
menggoncang sukma dan mengkonsumsi candu kegilaan lamat-lamat,
nikmat merindukanmu, tanpa harus lagi bersembunyi….dan berlari.

Begitulah aku sempat membunuh untuk sekedar tak merindukanmu,

Dansa dan Benak #1


Aku mencari jejak perjalanan semalam,
siapa tahu ada satu dua bekas di sepanjang jalan.
Genggaman tanganmu lalu menyadarkanku,
sebelum terbeku pada sepasang mata yang mematrikan kunangkunang,
satu peranakan dengan yang semalam, yang lahir dari neuron otak dan rasa,
menciptakan prolog sebuah cerita yang entah bagaimana dan berapa lama.

Lost in your eyes, then the night falls

Friday, October 20, 2017

Sketsa Rasa #3

Perjalanan pergi bersama,
bisa kuubah menjadi perjalanan pulang,
dengan separuh hati yang turut bersisian...

kemana pun ...


My world is in your eyes...





 

Sketch of Feelings #2

The symbol shoudn't be a ring...

It supposed to be home.
A home, not a house.

Or a map, a route; back to home.
With the eagerness, pure intention,
without restriction, without responsibility,
but it is something that we want.

We want it whole heartedly,
to set our foot inside the home,
leaving all the burden outside,
feeding our soul with what's inside.

Home can be everywhere,
within everyone.
Everyone with the correct piece,
that can hold ours.


just too early ...


Sketsa Rasa #1


...

kita menabung rindu pada tiap sekat hari,
hingga tik tok tidak terdengar,
tertutup gelitik di setiap indera,
merambat sampai pangkal hati.

Begitu kian saat, hingga hitungan minggu,
sampai akhirnya waktu memberikan celah,
dan dalam lebur pelukan kita meledak,
tanpa satu kata yang perlu terucap. 


dalam bungkam, ibukota; Oct 20th


Friday, October 06, 2017

Habis Depa Juga Skala

Satu-satunya yang bisa beranak pinak,
tanpa terbagi tanpa berkurang,
tapi melesat berkali lipat jumlahnya,
seperti dipermulus wax perahu kertas,
menyusuri liku tahun kehidupan,
berteraskan kanan kiri pencobaan,
dan akan melabuhkan rasa pada lautan,
yang tak bertepi, juga tak pernah surut.

Selamanya, sampai umur ini masih ada.

Only yours,  my Janna.

Tuesday, October 03, 2017

Stirb Nicht Vor Mir #2

I don't know who he is
In my dreams he does exist
His passion is a kiss
And I can not resist

I wait here
Don't die before I do
I wait here
Don't die before I do

Kemudian pada malam pergantian tahun,
bukan perayaan satu negara, tapi perayaan dua jiwa,
yang tahu kini pasti akan menjadi pernah,
dan mungkin esok tidak akan sama.

Kematian yang kau bayangkan,
berada di atas kapal entah di lautan mana,
mungkin bibir ini akan memberikan senyum dengan derajat lengkung maksimal,
atau sekedar terkulum mengikatkan bendera hitam seperti di pergelangan tanganmu,
bahwa kita (kau) telah melewati sebuah perjalanan kehidupan yang hebat.
Yang membekas, dan patut dikisahkan kembali,
pada anak dan cucu-cucuku.

Ich warte hier
Don't die before I do
Ich warte hier
Stirb nicht vor mir


Stirb nicht
Sometimes love seems so far
Ich warte hier
Your love I can't dismiss




Nomad stays deep in the soul...

Stirb Nicht Vor Mir #1



Die Nacht öffnet ihren Schoß
Das Kind heißt Einsamkeit
Es ist kalt und regungslos
Ich weine leise in die Zeit
Ich weiß nicht wie du heißt
Doch ich weiß dass es dich gibt
Ich weiß dass irgendwann
irgendwer mich liebt

He comes to me every night
No words are left to say
With his hands around my neck
I close my eyes and pass away
I don't know who he is
In my dreams he does exist
His passion is a kiss
And I can not resist

Ich warte hier
Don't die before I do
Ich warte hier
Stirb nicht vor mir

Sebuah siang tanpa kepengangan telinga,
tanpa riuh dengan berang, disertai wangi kopi,
di seluruh apartment, hingga tercampur baur,
kedua puluh hingga setengah abad,
bergumul airmata dan citacita,
apa yang bisa dibagi dan dipintal bersama.


I can still taste the sweetness..

Wednesday, September 20, 2017

Ironic Future 

When you settle for the less,
you cannot get the best.
When you surrender and never try,
you will get what you deserve.


Going through past, 2017

Saturday, September 09, 2017

Drama Lapis Legit

Ricuhnya melekat pada langit-langit,
menggemakan masalah biar lekat,
menginap pada cekung antar jari yang erat mengikat,
meleburkan sejatinya jiwa dan melahirkan gelisah.

Kenapa begitu tidak percaya,
pada kemudahan yang mungkin telah dianugerahkan,
alih-alih kembali mengaduk kenangan lama,
personil usang dan luka yang baru menjadi satu.

Misteri yang tidak ingin dan tak perlu dipecahkan.

(M)bracing my old-one, Djakarta lt.6

Thursday, July 06, 2017

Mati Suri

Adalah harga mati untuk selalu diam,
adalah sebuah impotensi untuk tidak berekspresi,
tapi ada yang lebih menikam dari sekedar hening.
Bisu pikiran, bisu keinginan, bisu bahkan di tempat yang ramai,
seakan tidak ada lagi yang bisa membuahkan rasa.


..., Selatan dan Di Jakarta

Monday, November 21, 2016

Berisik & Senyum Dalam Sunyi

Seperti dinamo kecil yang dirakit pada pelat elektronikku.

Tanpa bunyi tik tok, hanya desisan yang kadang memburu, hampir tidak pernah memelan.

Apa rasanya jadi benih ribut otak gempita hatiku?

Apa rasanya jadi kamu?

-reddish; bilangan November 2016

Thursday, November 10, 2016

Rasa Kalau Jika

Ada lubang yang perlu ditelisik sepasang tali. Mengukuhkan langkah, membuat jarak mampu ditempuh dan hati berayun gempita.

Aku lemah pada dosa yang satu ini,
dosa yang mencandumu,
dosa yang menyenangkan kita,
dosa yang memakanku.

Selalu, nikmat rasa di saat yang salah.

Rasa yang melibatkan kamu.

-623 is not just a number

Wednesday, November 02, 2016

Pampering Senses

Is it fading,
or it has been justified already?

How can we build path to our future,
clearly by dream of it, night by night.

How can we change our perspective,
easily by doing the impossible thing.

Is it fading,
or extending day dreams?

Is it,
inside of me..
or growing beneath our noses,
smells odd feels familiar
and warm!

As warm as the summer,
and the snow melt in the tip of our toes,
I can't describe but my feeling can.

It can easily feels, again.

Sunday, June 12, 2016

Relativitas Mimpi Indah

Perkara sederhana awalnya,
lalu bergulung jadi ombak,
efek bola salju,
meninggalkan kita jadi penimbang sejati.

Lebih baik,
lebih berhak,
lebih mampu,
lebih suci,
lebih layak,
dan seratus tiga puluh tiga,
lebih lainnya.

Hidup itu bukan satu tambah satu,
bukan lagi selalu hitam dan putih,
bicara soal keadilan adalah kita berharap;
singa tidak memakan kita seperti kita tidak demikian.

Begitu kita merasa paling pintar,
paling hebat, paling tahu kebenaran.
Sedangkan yang berlaku di dunia ya cuma satu,
bagaimana menjalankan peran terbaik,
bukan dengan seribu topeng seratus niat,
tapi apa adanya tidak perduli semak belukar.

Sehari semalam, sebulan setahun,
menggapai titik ikhlas hanya bisa dengan pencerahan.
Tidak lain bahwa kita bukanlah satu-satunya di dunia,
bukan satu-satunya manusia, bukan satu-satunya yang ...
penting.

Membuang jauh ke-aku-an, bermain dengan ilmu dasar,
aku, me, ego, diri sendiri, kita hirup dan kita hembus,
lepas bergegas meraih bebas.

Semoga setiap langkah adalah langkah yang menggembirakan,
bukan mencari hiruk pikuk dunia, tapi terkadang diam,
tenggelam dalam sebuah perengungan sederhana,
makna kehidupan (pribadi), perduli setan dengan yang lain.

Membantu lebih baik dari dibantu,
mencinta lebih baik dari dicinta,
merelakan lebih baik dari direlakan,
tangan di atas, tidak saling kenal bersuara,
membiarkan Dia jadi saksi untuk amal ibadah kita.

Dan ikhlas, berapapun timbangannya,
ikhlas dengan secercah harapan,
lengkung senyum di akhir nafas,
sama seperti tiap fajar yang kita sambut.

 #celotehsubuh #seorangsenja

Saturday, March 26, 2016

Waktu Adalah Pelarut

Ajaibnya mimpi beralih biasa terbilas waktu,
euphoria digerus logika hingga kian surut,
hingga muncul rasa yang membulat jadi asa,
menggantikan apa yang ada sebagai naturalnya manusia.

Tuesday, March 15, 2016

Runut Lalu

Lalu semua yang jauh terasa dekat,
seperti nafasmu di gelung rambut seinci dari leherku,
aroma jeruk dari tembakau favoritku,
yang membuatku selalu memanjangkan mimpi dan meneruskan tidur malamku.

#lalusatu

Thursday, September 04, 2014

Canang Canang Agia

Ada yang membuncah.
Menggetarkan menggerakkan seluruh neuron untuk berceria,
beriya kata orang-orang hari ini, bersenandung tanpa alasan,
bergumam tanpa gerutuan, indahnya indah lalu kata indah tidak cukup lagi.

Karena Engkau besar dan besar pun tidak lagi bisa menampung berkat-Mu.
Mengatakan bulir keagungan seperti titik yang merangkai garis,
sempurna yang harus disempurnakan.

Adiksi yang tidak dapat dijelaskan karena tidak jelas mana kepala mana ekor,
mana telor mana ayam, mana sebab dan akibat, mana alpha mana omega.

Lepas itu melegakan, lepas itu membahagiakan, lepas itu mengembalikan.

Yours, Wijaya 4 Sept 2014

Murid Tahun Ini

Siapakah kita mengusung judul percobaan?
Pernahkah kita belajar, berhemat waktu dengan fikir,
mencoba menjadi lebih pintar, hingga patut untuk dicoba?

Ke gereja jarang-jarang, sholat bolong-bolong kayak muka abg,
berbagi, beramal, bercerita tentang kebesaran-Nya dan alam,
mungkin juga nyaris tidak pernah.

Jadi siapa kita hingga kita menyebut diri kita sedang dicoba?
Muridkah kita? Pantaskah kita?
Sepertinya guru manapun belum tentu mau mengangkat kita jadi muridnya,
jadi mari kita copot tuduhan percobaan itu,
dan berlaku baik sesederhana mungkin.

Karena alam semesta tak pernah meluputkan satu pun juga,
kita dan perbuatan kita selalu masuk dalam hitungannya.

nam myoho renge kyo, 4 September 2014

Monday, April 28, 2014

Sekali Bercela Terlalu Kian

Ada tawa meriah di lipatan bajunya,
yang ternoda dengan keringat oleh cita-cita,
sekedar ingin hidup lega sebebas-bebasnya,
bermahkotakan kehormatan selepas pintu kamar.

Ada marah membuncah di sela erangannya,
bukan suatu hal yang ditutupi atau ditakuti,
menggelegar ketika berjaya di atas,
meneriakkan seribu tanya akan kejamnya dunia.

Ada sisa gelisah di ujung kukunya,
tersembunyi jorok menggaruk isi otak yang bersih,
manusia tidak lebih dari binatang,
ketika tidak dapat mempercayai hari esok yang baru.

God and His Glory, Cipete 2014

Saturday, March 15, 2014

Merayu-Mu kekasihku...

Perih meluruh seiring waktu, tapi ingatan tidak memudar semudah warna pakaian telah menahun.

Kalau bisa memilih, seharusnya aku bertanya susah saatnyakah, ketimbang apa yang lamat-lamat kita nikmati di lorong detik dan menit kini?

Bagaimana caraku yakinkan Dia bahwa inginku karena butuh dan hanya melalui Dia lah semua bisa terjadi?

Renon, 15 Maret tahun keajaiban.

Tepat Rasa Dalam Tabung Masa

Ketika tanda bahaya satu, dua berdering gelisah, kuikuti hati yang berlari kecil menuju entah.

Haruskah sekarang kuulangi lagi pembelajaran tiada akhir, tanpa boleh menutup kisah dengan seulas  cerita baru?

Sekali aku beranjak, kembali akan kiamat dalam pandangan mata.

Jayagiri, 15 Maret 2014

Saturday, January 25, 2014

Renikmatsa

Kata mereka betapa indah surya dan mega, warna yang terlihat dan bisa dilukis di kanvas hari. Betapa megah mimpi di balik cerminan sikap dan lemah lembutnya tutur yang dirasa hati dan dicerna indera .

Tapi betapa jauh lebih indahnya sebuah kedamaian. Bertukar nasib dengan mereka yang buta dan tuli ketika faktafakta menggerus kewarasan otak. Nikmatnya kealphaan dalam lorong keheningan.

Lalu bergerak maju kepada apa yang dikatakan Soe Hok Gie sebagai anugerah.